Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 18 September 2015
Selasa, 12 Maret 2013
Puisi Malam
Senja ketika tak menjelma kata-kata.
Sebilah pena tak mampu lagi melukis bahagia,
Bahkan tak kuasa menyematkan duka.
Malam pun tiba berselimutkan hampa.
Entahlah, malam menjadi bisu benar.
Kekosongan membaur dalam semesta rasa.
Setitik asa pun turut tenggelam sirna.
Kuping telah bising oleh janji-janji.
Mulut berbusa tanpa makna.
Hati penuh sangka kian gemuruh.
Lelaku hanya berlalu, tiada tertuju.
Sebilah pena tak mampu lagi melukis bahagia,
Bahkan tak kuasa menyematkan duka.
Malam pun tiba berselimutkan hampa.
Entahlah, malam menjadi bisu benar.
Kekosongan membaur dalam semesta rasa.
Setitik asa pun turut tenggelam sirna.
Kuping telah bising oleh janji-janji.
Mulut berbusa tanpa makna.
Hati penuh sangka kian gemuruh.
Lelaku hanya berlalu, tiada tertuju.
Selasa, 17 Juli 2012
Selamat Pagi
Dengan namamu.
Aku berucap sapa mengawal dininya waktu.
Melalui namamu,
Pagi mendendang irama sunyi dalam kalbu.
Puji syukur pada-Mu Illahi.
Atas anugerah senyum yang menari-nari,
Bersama curahan demi curahan hangat sinar mentari.
Segar nafasmu berhembus menyokong lemahnya hati.
Selamat pagi perjalanan.
Bersamamu aku mengecap sejuta kahanan.
Menapaki hari-hari temui pengalaman demi pengalaman.
Aku berucap sapa mengawal dininya waktu.
Melalui namamu,
Pagi mendendang irama sunyi dalam kalbu.
Puji syukur pada-Mu Illahi.
Atas anugerah senyum yang menari-nari,
Bersama curahan demi curahan hangat sinar mentari.
Segar nafasmu berhembus menyokong lemahnya hati.
Selamat pagi perjalanan.
Bersamamu aku mengecap sejuta kahanan.
Menapaki hari-hari temui pengalaman demi pengalaman.
Rabu, 04 Juli 2012
Hampa Sunyi
Ketika pagi mulai bersua,
sungguh malam telah tiada.
Kekosongan pun menemukan isinya,
usai bergelut dengan hampa.
Kosong dan isi dapat bertemu.
Begitu pula dengan cinta dan benci,
yang disatukan oleh rindu.
Saat rindu berkuasa,
adakah dapat mengurai benci dalam kehadiran cinta?
Tidakkah benci telah remuk, cinta hilang bentuk?
Dalam perpisahan.
Cinta adalah kesunyian.
Benci itu kehampaan.
Sedang rindu jarak antara hampa-sunyi yang memisahkan.
Dalam pertemuan.
Cinta menjelma kesyahduan.
Benci menyematkan kegelisahan.
Pada rindu laksana dahaga terpuaskan oleh hujan.
Akhirnya semua berujung pada kesejatian.
Dimana cinta telah melebur dalam keindahan.
Benci dalam kedamaian.
Dan rindu tenang dalam kebijaksanaan.
Jalan Kayoon 28
04 Juli 2012 10:55
Sumber Gambar
Kamis, 10 Mei 2012
Di Atas Pusara
Aku tulis ini untuk mengenang seorang teman yang telah lebih dulu berpulang,
Abdullah Faqih (Mbah).
Belum sempurna malam melukis gelap.
Suara di kejauhan datang mengusik.
Melontar seuntai khabar.
Sungguh pahit melilit menghimpit.
Kapala tak henti-henti kenangkan kisah:
Derai canda, semangat juang, luapan keluh.
Yang dahulu telah tergoreskan.
Bersanding rajutan mimpi untuk hari depan.
Engkau telah berpulang, teman.
Terlampau cepat rasanya.
Belum lagi aku sempat bersua.
Kita teguk secangkir kopi berdua.
Kamis, 26 April 2012
Minggu, 11 Maret 2012
Selasa, 14 Februari 2012
Sabtu, 04 Februari 2012
Selasa, 24 Januari 2012
Aku Adalah Apa yang Ada Di Hatiku
Selepas malam suguhkan mimpi.
Runtuhkan segala keteguhan hati.
Hilangkan beribu rajutan mimpi.
Aku terkekang dalam sepi.
Pergi mencari seorang diri.
Aku mengembara dalam angan.
Duduk bersiul merindu hujan.
Di tengah lapang kering kerontang.
Akankah kan kudapat jawaban?
Ketika awan hitam pun enggan.
Rintikkan tetes demi tetes kasih sayang.
Rabu, 18 Januari 2012
Malam Kebersamaan
Oleh: Saifuddin Du
Puisi ini terinspirasi oleh teman-teman kelas 3Y Akuntansi STAN. Secara khusus saya ucapkan terima kasih untuk saudara Lutfil Hakim.:)
Tentangmu...
Aku teringat saat-saat telah berlalu.
Saat pertama dipertemukan waktu.
Saat menapaki tangga samester baru.
Kini, kita di sini, Teman.
Puncak bogor menjadi saksi di kebisuan.
Berkisah bocah 3Y menyusun impian.
Di keheningan malam kebersamaan.
Jumat, 13 Januari 2012
Mencari Tau
Oleh: Saifuddin Du
Dalam malam sepi.Ketika angan hendak menuntun ke dunia mimpi.
Tampak olehku secercah cahaya menyinari.
Semakin elok bersandingkan kenangan dalam hati.
Hingga ingin rasanya tangan ini segera menggapai.
Dan lalu.
Angin malam pun bertanya padaku.
Siapakah gerangan cahaya elok itu?
Aku jawab, “dialah kamu.”
Yang sedang di sana dinina-bobokan waktu.
Selasa, 10 Januari 2012
Selamat Jalan
Oleh: Saifuddin Du
Kembali mengisak dalam ingatan.
Saat kota pahlawan menyeru mengundang.
Secara perlahan berikan harapan.
Tak berwujud di kenyataan.
Kembali kuharus yakinkan.
Duniaku sebatas angan.
Harapku hanya lamunan.
Yang tak kutau sampai kapan?
Senin, 09 Januari 2012
Untukmu di Tahun yang Berganti
Oleh: Saifuddin Du
Saat malam terhenti di permulaan pagi.
Seberkas sinar terbit membuka hari.
Secara perlahan sinar itu beranjak tinggi.
Menjadi sempurna ketika di tengah hari.
Ke ufuk barat ia lalu jalan menghampiri.
Hingga maghrib mengusirnya menghilang-pergi.
Senin, 12 Desember 2011
Bocah Penuh Luput
Oleh: Saifuddin Du
Aku mendengar suara itu sayup-sayup
Kau bisikkan di kupingku dengan lembut
Seuntai harapan keindahan hari esok
Berkisahkan bocah menapak tangga nirwana
Dalam alunan sepi berirama sajak cinta
Di balik indah bisikan itu
Kembali kau tanyakan kesungguhanku
Aku lihat lalu ragu
Seorang bocah penuh luput
Berarakkan ketekunan semakin surut
Di senja hari yang larut
Aku putuskan untuk menunggu
Bertahan di jalan yang dulu
Tempat sepintas kau berlalu
Bertelanjang kaki
Menentang gunung menjulang tinggi
Menanjak bebatuan penuh duri
Kau paksa aku mengerti
Mengenalmu adalah mimpi
Bersamamu berarti sepi
Jejak-langkahku telah pasti
Aku bertelanjang diri
Pondok Aren
12 Desember 2011
Blogspot | Kompasiana
Minggu, 27 November 2011
Nyanyian Sepi
sendiri
kuingin nyanyikan sajak sepi
setelah dalam mimpi kau mengisi
pada lamunan kau menghampiri
seakan kembali
kau telah lama pergi
kau pun di sana kini
namun tak kumengerti
kau melekat erat dalam hati
sampai kini tak terganti
aku menjadi tau
bukan soal aku dan kamu
tetapi hatiku dan hatimu
tentang rasa yang satu
di balik jarak dan waktu
barangkali kau tiada rasa padaku
tak apa, itu hanya soal waktu
atau mungkin kau masih ragu
biarkan nantinya kekuatan kalbu
kan buktikan padamu
kuikhlaskan direnggut dariku
bahgia itu
biar kepercayaan yang berkata
bukan saatnya rasa
kini yang ada tinggal keberanian-pengorbanan
demi sampainya sepucuk harapan
Pondok Aren
26 Nopember 2011
16:45
kuingin nyanyikan sajak sepi
setelah dalam mimpi kau mengisi
pada lamunan kau menghampiri
seakan kembali
kau telah lama pergi
kau pun di sana kini
namun tak kumengerti
kau melekat erat dalam hati
sampai kini tak terganti
aku menjadi tau
bukan soal aku dan kamu
tetapi hatiku dan hatimu
tentang rasa yang satu
di balik jarak dan waktu
barangkali kau tiada rasa padaku
tak apa, itu hanya soal waktu
atau mungkin kau masih ragu
biarkan nantinya kekuatan kalbu
kan buktikan padamu
kuikhlaskan direnggut dariku
bahgia itu
biar kepercayaan yang berkata
bukan saatnya rasa
kini yang ada tinggal keberanian-pengorbanan
demi sampainya sepucuk harapan
Pondok Aren
26 Nopember 2011
16:45
Jumat, 25 November 2011
Mencari Arah
ah, tak akan!
kupikir kau hilang
ku tak rasakan kau selalu datang
dari secangkir wedang atau rokok sebatang
dari arah pandang atau mimpi saat petang
tak akan,
tak kubiarkan
ku hanya mencari arah
mengekang angan tak bertuah
menentang jalan tuk peroleh berkah
tapi akankah?
saat yakin merengkah,
pecah
tinggal gelisah
maksud hati menggapai mimpi,
tinggi nan sejati
tapi angan bukan tangan
mimpi tidaklah kaki
sampai kapan?
hanya kerinduan
dan kau semakin hilang
Pondok Aren
25 Nopember 2011
02:44
kupikir kau hilang
ku tak rasakan kau selalu datang
dari secangkir wedang atau rokok sebatang
dari arah pandang atau mimpi saat petang
tak akan,
tak kubiarkan
ku hanya mencari arah
mengekang angan tak bertuah
menentang jalan tuk peroleh berkah
tapi akankah?
saat yakin merengkah,
pecah
tinggal gelisah
maksud hati menggapai mimpi,
tinggi nan sejati
tapi angan bukan tangan
mimpi tidaklah kaki
sampai kapan?
hanya kerinduan
dan kau semakin hilang
Pondok Aren
25 Nopember 2011
02:44
Senin, 14 November 2011
Dengan Rindu
Tiada beda
Selangkah atau dua
Secangkir atau bejana
Datangmu membuat lupa
Bersandingmu ku tiada
Engkau saja
Dengan rindu kau hujani aku
Kau hantam dadaku dengan peluru
Kau menikam tepat pada kalbu
Siapa kau?
Bahkan aku tak juga mengenalmu
Kau diam begitu lama
Lalu bilang tak ada
Kau jawab aku tak tahu
Saat kutanya maksudmu
Tapi, kenapa?
Bukankah ini soal rasa?
Kau sebut bukan tentangku
Hanya kamu
Tak mampu kuucap rasa perasaanku
Mulut hanya membisu
Lidah pun membeku, kaku
Tapi tak apa, akan kusimpan saja
Biar kau sendiri menjawabnya
Kau yang kuasa mengerti-membaca
Pondok Aren
14 Nopember 2011
09:59
Selangkah atau dua
Secangkir atau bejana
Datangmu membuat lupa
Bersandingmu ku tiada
Engkau saja
Dengan rindu kau hujani aku
Kau hantam dadaku dengan peluru
Kau menikam tepat pada kalbu
Siapa kau?
Bahkan aku tak juga mengenalmu
Kau diam begitu lama
Lalu bilang tak ada
Kau jawab aku tak tahu
Saat kutanya maksudmu
Tapi, kenapa?
Bukankah ini soal rasa?
Kau sebut bukan tentangku
Hanya kamu
Tak mampu kuucap rasa perasaanku
Mulut hanya membisu
Lidah pun membeku, kaku
Tapi tak apa, akan kusimpan saja
Biar kau sendiri menjawabnya
Kau yang kuasa mengerti-membaca
Pondok Aren
14 Nopember 2011
09:59
Kamis, 10 November 2011
Tujuh Arti Cinta
Oleh: Saifuddin Du
Cinta itu keindahan.
Seindah cakrawala yang sedang dihinggapi biang lala.
Seperti bidadari tatkala mandi telanjang saat senja.
Tak ayal ia mempesona dan selalu dipuja.
Cinta itu kelembutan.
Karenanya, tak jarang ia dirasa tiada.
Namun ia sanggup menjangkau bagian terdalam hati manusia.
Yang pasti ia tak pernah terhalang dinding-dinding realita.
Cinta itu ketulusan.
Itu membuatnya tiada bisa dipaksa.
Ia sanggup memberi tanpa pernah meminta.
Ia rela direndahkan-diremehkan tanpa mengurangi cinta.
Cinta itu keberanian.
Ia akan berteriak lantang ketika bergelora.
Ia mampu berlari kencang laksana kilat di angkasa.
Keraguan tak akan kuasa menyurutkan tekadnya.
Cinta itu kekuatan.
Kulit yang tipis akan mengeras seumpama baja.
Sedang hati menjadi kuat dari segala derita.
Maka, Rama pun mampu menghancurkan Alengka demi Shinta.
Cinta itu kesunyian.
Saat sendiri, ia rasakan kebersamaan yang nyata.
Di balik sepi terselip di dalamnya kelapangan dada.
Ia dekat, bahkan sedekat urat nadi cinta.
Akhirnya, cinta itu keabadian.
Itulah ia dalam kesejatian dzat-nya.
Ia ada sebelum keadaan bermula.
Tak dapat binasa dan tak lekang oleh masa.
Pondok Aren
Langganan:
Postingan (Atom)







