“Amal” secara etimologi (bahasa) sering diartikan sebagai perbuatan, tingkah laku atau lakon dalam bahasa jawa. Adapun secara terminologi (istilah), amal ialah gerak badan yang disertai gerakan hati yang mana apabila gerak tersebut sesuai dengan syari’at maka disebut ibadah, dan apabila tidak sesuai dengan syari’at maka disebut maksiat. Dari pengertian tersebut, tulisan ini kemudian mengkhususkan pada amal yang sesuai dengan syari’at.
Berbicara mengenai ibadah (amal yang sesuai dengan syari’at), dalam keilmuan islam sering disebut juga istilah yang mengacu pada pengertian yang sama yaitu amal saleh (laku becik). Sedangkan pelakunya disebut orang saleh. Catatan ini akan menerangkan orang saleh tersebut berikut amalnya, bukan hanya dalam konteks lahiriyah (dzohir) tetapi juga rohaniah (bathin).
Jika sekilas diperhatikan nampaknya mudah memperoleh derajat kesalihan. Hal tersebut dapat digambarkan demikian: ketika seseorang telah melakukan sholat, puasa atau amal saleh yang lain sesuai dengan syari’at yang ditentukan, maka gugurlah kewajiban itu. Dengan demikian orang yang bersangkutan telah dapat dikatakan beramal saleh. Itu jika yang dijadikan acuan sah atau tidaknya suatu amal. Akan tetapi, jika yang dijadikan acuan adalah diterima atau tidaknya, tentu persoalanya menjadi lebih sulit. Itulah sedikit gambaran mengenai perbedaan antara amal dalam konteks lahir dan dalam konteks batin. Sedangkan pada hakikatnya yang dimaksudkan amal saleh itu ialah yang dilakukan dalam konteks lahir maupun batin. Amal itulah yang disebut sholeh dzohiron wa bathinan.
Ada tiga dimensi terkait pencapaian derajat kesalihan: badan (ragawi), hati (kalbu) dan nyawa (ruh). Hal tersebut mengandung pengertian bahwa derajat kesalehan hanya akan dicapai ketika ketiga dimensi tersebut telah menjiwai setiap amal perbuatan manusia. Upaya mencapai derajat kesalehan akan berhubungan erat dengan keilmuan akidah yang didalamnya meliputi maqom iman, islam dan ihsan. Selain itu, hal tersebut juga erat kaitannya dengan keilmuan tasawuf yang antara lain meliputi syari’at, thoriqot dan haqiqot. Berikut adalah sedikit keterangannya:
1. Syari’at
Hubungan ini juga semakna maqom islam dalam keilmuan akidah. Adapun yang dimaksudkan dengan syari'at dalam istilah tasawuf ialah mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya atas dasar mengetahui dan faham terhadap ketentuan-ketentuan hukumnya. Dengan demikian, pengertian tersebut - dalam kaitannya dengan pencapaian derajat kesalehan, mengandung pengertian bahwa seseorang yang melakukan amal, ia hanya memandang telah melakukan amal tersebut sesuai dengan kaidah hukumnya, ia tidak memandang penting khusuk atau tidaknya, hadir atau tidak hatinya, atau juga sampai atau tidak ruh kehadirat-Nya. Inilah yang dimaksud amal perbuatan pada dimensi badan.
2. Thoriqot
Kaitannya dengan keilmuan akidah, hubungan ini semakna dengan maqom iman. Menurut keilmuan tasawuf, thoriqot adalah menjalankan syari’at dengan penuh kehati-hatian. Hal ini mengandung makna bahwasanya seorang yang melakukan amal telah mengetahui tujuannya. Ia tidak sekedar mengerjakan suatu amal dengan anggota badannya saja, tetapi juga menghadirkan hatinya pada kehadirat Allah swt. Inilah yang dimaksud amal pada dimensi hati.
3. Haqiqot
Hubungan ini semakna dengan maqom ihsan dalam keilmuan akidah. Haqiqot menurut tasawuf ialah memandang atau melihatnya hati pada sifat ketuhanan Allah terhadap semua ciptaan-Nya. Terkait dengan amal perbuatan, pengertian ini mengandung makna bahwasanya suatu amal yang dilakukan manusia, secara dzohir sudah tepat, hatinya telah hadir kehadirat Allah, dan juga ruhnya telah naik menghadap-Nya. Inilah yang dimaksud amal pada dimensi ruh, yang mana pada tingkat ini telah sempurnalah derajat kesalihan seorang hamba.
Kemudian pada prakteknya, derajat kesalehan akan dapat dicapai apabila suatu amal telah dilakukan dengan beberapa jalan (cara) yang menjadi syaratnya. Jalan tersebut terbagi dalam dua kategori: jalan secara dzohir dan jalan secara batin. Secara dzohir jalan tersebut antara lain adalah:
- Taubat
Suatu amal saleh tentu akan lebih khusuk dan penuh kehati-hatian ketika dilakukan dalam rangka bertaubat kepada Allah swt. Seorang hamba tentu akan mengingat-ingat kesalahannya, membayangkan dosa-dosanya, sehingga timbul pengakuan betapa kotor dan hina dirinya di hadapan Tuhan penguasa alam semesta. Dengan demikian akan lebih sempurnalah amal itu karenanya. Jadi, yang dimaksudkan dengan taubat sebagai jalan mendapatkan derajat kesalehan yaitu dengan cara demikian suatu amal yang dilakukan manusia menjadi lebih hati-hati dan mengilhami keadaan manusia yang hina-dina. - TakwallahAmal saleh yang dilakukan atas dasar takwa (takut) kepada Allah akan didasari kepasrahan akan kebesaran dan keagungan-Nya. Yang juga perlu diperhatikan dalam hal ini adalah masalah husnu an-niat (suatu amal dilakukan dengan niat yang baik dan mulia).
- IstiqomahIstiqomah yang dimaksudkan di sini, setidak-tidaknya merupakan salah satu dari tiga macam: istiqomah bacaan, istiqomah tempat atau istiqomah waktu. Tentang istiqomah Rasulullah saw pernah bersabda, “Sesungguhnya amal yang paling disukai Allah ialah istiqomah walaupun itu sedikit.”
Sedangkan yang dimaksud jalan secara batin antara lain meliputi:
- Estu (pasti atau temen)Seorang manusia dalam melakukan amal perbuatan haruslah dengan kesungguhan hati tanpa ada sedikitpun keraguan bahwa ia menjalankan perintah Allah; dan kalaupun ia telah melakukannya, ia menyadari dan megakui bahwa itu atas dasar pertolongan dari pada-Nya.
- IkhlasAmal perbuatan yang dilakukan manusia haruslah tulus semata-mata karena mengharapkan ridho dari Allah swt. Kaitannya dengan estu, Kiai Asrori mendawuhkan: orang yang estu sudah pasti ikhlas, sedangkan orang yang ikhlas belum tentu estu.
- Tuma’ninahKadangkala suatu amal perbuatan dilakukan dengan tidak sempurna, yaitu telah selesai amal tersebut sebelum dilakukan sampai pada tujuannya, menghadirkan hati kehadirat Tuhan, atau ruhnya belum sampai menghadap-Nya. Di sinilah peran tuma’ninah dalam suatu amal perbuatan. Adapun makna dari tuma’ninah sendiri adalah menyempurnakan laku dzohir karena adanya ketenangan kalbu di dalamnya.
Wallahu a’lam
(Catacan ini dirangkum dari pengajian KH Asrori Al-Ishaqy berjudul “Istighfar” dengan beberapa tambahan penulis. Pengajian kiai Asrori dapat didownload di sini)
Pondok Aren
24 Oktober 2011
20:06

0 komentar:
Posting Komentar