Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Minggu, 11 Maret 2012

Aku Bukan Aku



Dalam malam sebelum penghabisan.
Tinggal aku, cicak, nyamuk, kecoak, laba-laba.

Akan aku memulainya.
Sekedar karena inginku,
Atau bisik perintahmu yang dahulu,
Engkau dengungkan di kupingku.

Cicak turut rembuk:
"Tak mungkin kamu bisa, dengan apa?"
"Tanganmu tak kan berdaya, lalu apa?"

Aku hisap rokokku dalam-dalam.
Perlahan aku semburkan.
Nyamuk jadi menggurutu: "Edan!"
Aku ingin cepat-cepat lepaskan.
Dia-mereka menjeratku tajam.

Biar aku menjauh.
Kata benakku: aku bukan aku.
Dan terus berkata: aku bukan aku.
Biarkan aku menjauh.
Karena inginku, terlebih karena perintahmu.

Datang kecoak mencela:
"Tanganmu mungkin bisa, kakimu bagaimana?"
"Hatimu juga takkan kuasa, lalu apa?"

Di sudut ruang kulihat laba-laba.
Menyulamkan benang-benang halus bak sutera.
Bagian demi bagiannya mendekat bentuk jantera.
Terseok-seok ia karena panjangnya.

Oh.. seberapa jauhnya?
Dapatkah aku menjangkaunya?
Serabut otakku penuh tanya.

Tinggal seteguk kopi, aku sruput juga pelan.
Berikan setitik kesegaran.
Ah iya, toh itu cita-cita.
Akan aku mulai saja.
Hanya karena perintahmu.
Dengan menyebut namamu.


Saifuddin Du
Kalimongso 09/03/2012 05:48

0 komentar:

Posting Komentar