Tinggal aku, cicak, nyamuk, kecoak, laba-laba.
Akan aku memulainya.
Sekedar karena inginku,
Atau bisik perintahmu yang dahulu,
Engkau dengungkan di kupingku.
Cicak turut rembuk:
"Tak mungkin kamu bisa, dengan apa?"
"Tanganmu tak kan berdaya, lalu apa?"
Aku hisap rokokku dalam-dalam.
Perlahan aku semburkan.
Nyamuk jadi menggurutu: "Edan!"
Aku ingin cepat-cepat lepaskan.
Dia-mereka menjeratku tajam.
Biar aku menjauh.
Kata benakku: aku bukan aku.
Dan terus berkata: aku bukan aku.
Biarkan aku menjauh.
Karena inginku, terlebih karena perintahmu.
Datang kecoak mencela:
"Tanganmu mungkin bisa, kakimu bagaimana?"
"Hatimu juga takkan kuasa, lalu apa?"
Di sudut ruang kulihat laba-laba.
Menyulamkan benang-benang halus bak sutera.
Bagian demi bagiannya mendekat bentuk jantera.
Terseok-seok ia karena panjangnya.
Oh.. seberapa jauhnya?
Dapatkah aku menjangkaunya?
Serabut otakku penuh tanya.
Tinggal seteguk kopi, aku sruput juga pelan.
Berikan setitik kesegaran.
Ah iya, toh itu cita-cita.
Akan aku mulai saja.
Hanya karena perintahmu.
Dengan menyebut namamu.
Saifuddin Du
Kalimongso 09/03/2012 05:48


0 komentar:
Posting Komentar