Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Tampilkan postingan dengan label Buah Pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buah Pikiran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 November 2012

Guru dalam Ranah Moral-Spiritual


Seorang guru dapat diibaratkan sebagai setetes pewarna yang dijatuhkan ke dalam suatu genangan air. Perlahan-lahan sejumlah air tersebut akan terkontaminasi oleh pewarna. Air akan berubah menjadi merah, kuning, hijau, atau mungkin hitam. Secara ilmu tampak, hampir pasti sejumlah air akan dipengarui oleh pewarna yang diteteskan ke dalamnya, walau tidak sampai mengubah sifat dasarnya. Pewarna yang hanya setetes itu, mampu menguubah air yang berkubik-kubik, walau tingkat pengaruhnya tergantung jumlah air dan konsentrasi pewarnanya.

Analogi ini bukan tanpa cela. Setidaknya tidak setiap pewarna yang diteteskan ke dalam air akan dapat mengubah sejumlah air tersebut secara keseluruhan. Air yang mengalir contohnya, amat sulit setetes pewarna mengubahnya. Pun demikian dengan air laut, air hujan sebelum tergenang di tanah, dan beberapa macam air lain yang penulis belum mengetahuinya.

Tapi tidak. Penulis tidak ingin membahas guru pada tataran filosofis. Filsafat memanglah dasar kehidupan, tetapi ia hanya tulang-belulang. Penulis di sini lebih tertarik membahas kulit luarnya yang tampak dan dekat dengan realita kehidupan. Yakni guru sebagai sosok yang sejak dini mengarahkan pendidikan bagi murid-muridnya, yang menunjukkan ilmu pengetahuan baik itu yang bersifat umum maupun agama, serta yang menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual pada generasi muda.

Jumat, 09 Maret 2012

Mendaki Gunung Kehidupan


Oleh: Saifuddin Du

Aku sudah memikirkannya masak-masak, pelan-pelan ia telah dapat kuterima sepenuhnya. Bukan sebuah kebetulan, tetapi memang karena telah ada sekenario yang pasti. Aku pun mulai meyakini tak ada satu kejadian pun di jagad raya ini tanpa campur tangannya. Betul adalah benar, maka kebetulan sama halnya dengan kebenaran. Sekarang aku mencoba untuk menuliskannya, untuk sedapatnya memetakan isi dalam kepalaku. Memang tak akan pernah ada rumusan yang pasti, tapi paling tidak menulis itu untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang, yang hanya lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran, yang menyapa di lembutnya perasaan, yang kemudian secara perlahan membentuk suatu keyakinan. 

Paling tidak itulah bunyi gejolak hatiku sebelum mulai menulis catatan ini. Catatan ini sendiri berawal dari sebuah testimoni

Minggu, 18 Desember 2011

Manusia dan Puasa

Segala kejadian di alam semesta selalu sarat makna bagi siapa saja yang bersedia merenungkannya. Barangsiapa yang mau memaknai setiap torehan dan liku dalam hidup, seremeh apapun kejadiannya dan sekecil apapun pengaruhnya, maka hal tersebut akan mengantarkannya pada tataran nilai dan hikmah. Bukankah tiada secuilpun ciptaan Tuhan di jagad semesta yang sia-sia? Dan jika demikian maka kehidupan manusia di dunia ini sejatinya adalah sebuah pencarian yang tidak akan ada sudahnya.

Salah satu kejadian alam yang patut dijadikan pelajaran di dalamnya adalah fenomena metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu. Seekor ulat yang setiap hanya bisa berjalan dengan merangkak, yang setiap harinya makan dedaunan, nilai apakah yang membuatnya mempunyai nilai dan hikmah dalam kehidupan? pada saatnya ulat akan bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, akan dapat terbang bebas di udara, akan dapat menikmati manisnya madu dan indahnya bunga-bunga.

Kamis, 15 Desember 2011

Manusia Dalam Sungai – Part II

Sebuah sungai dapat dipahami sebagai sebuah mata air. Ia mengalir, tetap mengalir, dan terus mengalir. Adakalanya arusnya menantang ganasnya air terjun, terjalnya pegunungan dan bukit, namun suatu ketika juga dengan damainya mengarungi sawah-sawah, lembah dan hutan belantara. Ia berjalan dari tempat ke tempat, desa ke desa, kota ke kota. Dan nantinya ia berhenti di ujung hamparan luas samudera. Sebuah sungai dapat menjadi sarana bagi siapa saja yang ingin berjalan seirama dengan alam raya, namun juga dapat menghanyutkan bagi siapa saja yang kurang hati-hati dan waspada. Sungai bisa menjadi tempat bercermin bagi manusia dan bahkan langit di angkasa.

Catatan ini sebenarnya terinspirasi dari dua hal, yaitu pengajian salah seorang budayawan, Emha Ainun Nadjib, dan buku salah seorang pujangga, Sindhunata. Dari keduanya yang saya dapatkan adalah sebuah hikmah, yang terkandung dalam salah satu fenomena alam yang dalam bahasa sehari-hari disebut “sungai”. Sungai ternyata memiliki rahasia-rahasia yang menarik dan sarat makna, baik itu dari arusnya, isi di dalamnya, atau hulu dan hilirnya, yang dapat digunakan sebagai bekal oleh manusia dalam menjalani kehidupan.

Sabtu, 10 Desember 2011

Syeikh Siti Jenar Versus Bhiksu Tong - Part II

“Segala sesuatu berpasang-pasangan adanya, dan dalam kenyataan seringkali ia tak pernah berpisah jauh dari apa-apa yang menjadi pasangannya itu.” Ungkapan tersebut agaknya sedikit demi sedikit mulai mengakar dalam keyakinan saya. Beberapa saat sebelum saya tuliskan catatan ini, entah dari mana datangnya, saya dihadapkan pada pemikiran yang mampu mengerutkan kening saya. Pada mulanya, karena merasa berat, saya enggan untuk menuliskan pemikiran itu. Akan tetapi, tiba-tiba dalam benak saya terlintas sesuatu yang menggelitik, yang mampu meringankan beratnya pikiran saya, untuk kemudian membuat saya tertarik menuliskannya. Itulah sedikit kisah tentang proses saya menemukan “judul” yang saya gunakan dalam catatan ini.

Kata “versus” yang saya gunakan disini tidak saya artikan “melawan” seperti yang terdapat dalam kamus bahasa Inggris, tetapi “memperbandingkan”. Maksud saya adalah memperbandingkan ajaran Syeikh Siti Jenar dengan ajaran Bhiksu Tong. Semoga saja bisa diterima.

Supaya jelas, ada baiknya terlebih dahulu saya tuliskan sedikit catatan tentang Syeikh Siti Jenar dan Bhiksu Tong:

Syeikh Siti Jenar merupakan salah seorang tokoh fenomenal masa lalu di pulau jawa, khususnya dalam proses penyebaran agama islam. Tokoh ini, menurut riwayat, disebutkan dihukum mati oleh walisongo karena ajarannya yang dianggap meresahkan. Orang awam yang belum sampai tingkat tauhidnya bisa jadi tersesat oleh karena ajarannya. Ajaran tersebut sampai saat ini pun masih terkenal dan banyak diyakini dan diikuti masyarakat, yaitu ajaran tentang “manunggaling kawula gusti” atau bersatunya hamba dengan Tuhannya.

Lain halnya dengan Syeikh Siti Jenar, Bhiksu Tong (Tong Sam Cong) merupakan seorang tokoh Budha. Ia, meski hanya sebuah legenda yang belum tentu benar atau tidaknya, juga membawa ajaran yang tak kalah terkenal. Salah satu ajaran yang dibawanya (yang barangkali juga ajaran Budha) adalah: “kosong adalah berisi, berisi adalah kosong.” sebuah ajaran yang sederhana, akan tetapi memiliki makna yang begitu dalamnya.

Kedua Tokoh di atas, sama-sama merupakan tokoh spiritual meskipun berbeda keyakinan. Selain itu keduanya juga membawa ajaran masing-masing yang tersurat berbeda. Di sini saya tidak akan menilai benar dan salah, karena bukanlah kapasitas saya untuk melakukan itu. Lagi pula, dalam pandangan saya urusan benar dan salah itu sejatinya ada individu masing-masing, bukan pada orang lain siapapun di dunia ini. Dari kedua ajaran tersebut, disini saya hanya akan mencoba menggali maknanya untuk kemudian memperbandingkannya.

Seperti yang telah saya kemukakan di atas, tulisan ini bermula dari suatu gejolak dalam pikiran saya. Untuk itu, terlebih dahulu akan saya tuliskan kerangka pemikiran tersebut:

Dalam salah satu video Harun Yahya yang pernah saya lihat, disebutkan sebuah analisis ilmiah tentang panca indra manusia. Salah satunya dijelaskan bahwa ketika manusia melihat suatu benda, maka yang terjadi selanjutnya adalah bayangan dari benda tersebut akan ditangkap oleh retina mata. Kemudian retina akan menyampaikan apa yang ditangkapnya itu ke otak. Ketika telah sampai di otak, bayangan benda yang disampaikan itupun dalam keadaan terbalik dari aslinya. Setelah itu, otak akan mengolah dan menerjemahkannya, sehingga bayagan yang diterima itu akan berbentuk benda seperti yang tampak dalam penglihatan.

Dari pemahaman tersebut, terdapat suatu kejanggalan. Salah satu proses menyebutkan bahwa benda yang tampak dalam penglihatan merupakan hasil olahan dan terjemahan dari otak manusia. Otak manusia itu sangatlah terbatas adanya. Dengan demikian, berarti benda yang tampak tersebut bukan wujud yang sebenar-benarnya, karena hanya merupakan olahan dan terjemahan dari otak manusia yang terbatas. Kerangka itu pun juga berlaku sama ketika manusia mendengar, menyentuh, mencium, atau aktifitas indra yang lain, karena sama-sama melibatkan proses pengolahan dan penerjemahan otak di dalamnya.

Pemahaman tersebut sekarang akan coba dikaitkan dengan ajaran “manunggaling kawula gusti” dan “kosong adalah berisi, berisi adalah kosong.” Dari pemahaman di atas, ketika telah diakui ketiadaan semua benda yang dilihat, didengar, disentuh manusia (termasuk manusia sendiri), yang kemudian menjadi pertanyaan adalah apakah yang sebenarnya dilihat, didengar, disentuh manusia itu? Seperti apa juga wujud aslinya? Tentu saja dalam menjawabnya harus dikaitkan dengan Syeikh Siti Jenar dan Bhiksu Tong sendiri sebagai tokoh spiritual yang meyakini ilmu ketauhidan.

Pemahaman tersebut menunjukkan ketiadaan manusia dalam keadaannya. Ketika manusia (juga seluruh alam semesta) tiada, maka yang ada tinggallah Tuhan yang Esa. Jika demikian, manusia dalam keadaannya telah melebur dalam keadaan yang satu, dalam wujud yang satu, Tuhan yang Esa. Itulah makna “manunggaling kawula gusti.” Bahwa manusia telah bersatu dengan Tuhannya.

Sementara itu ketiadaan manusia (seluruh alam semesta) dalam keadaannya juga menunjukkan kekosongan dalam diri manusia yang isi. Inilah yang dimaksudkan dengan “berisi adalah kosong.” Kemudian akan timbul pertanyaan juga, siapakah yang ada mengisi kekosongan itu? Jawabnya tentu Sang Hyang Widi atau Tuhan yang satu penguasa tempat dan waktu. Itulah makna dari “kosong adalah berisi.”

Sampai di sini saya ingin mengatakan, bahwa dengan pemahaman yang digunakan, perbandingan ajaran Syeikh Siti Jenar dan Bhiksu Tong, menghasilkan makna yang terkait dan sama. Tentang dua tokoh yang jauh berbeda - kepercayaannya, zamannya, asal-usulnya, dan masih banyak lagi, akan tetapi membawa ajaran yang mengarah pada hakikat makna yang sama. Kedua ajaran berbicara mengenai tauhid dan sama-sama menunjukkan makna keesaan sang Pencipta alam semesta.

Di sini saya hanya sekedar menyuarakan kebenaran yang ada pada diri saya, yang itu mungkin benar atau salah menurut orang lain. Saya tidak dalam rangka mempengaruhi siapapun. Kedua ajaran dan bahkan keyakinan, boleh jadi benar menurut pola pikir dan sudut pandang masing-masing pembawa dan penganutnya. Yang lebih ingin saya katakan adalah bahwa perbedaan bukanlah semata-mata sebagai sarana pembuktian benar atau salah, tetapi lebih pada pembuktian akan arti kebesaran sang Pencipta. Dan Tuhan memberikan ilmu dan rahasia-Nya kepada siapa-siapa yang dikehendaki-Nya.


Pondok Aren
16 Juni 2011
Diperbaiki pada 05 Desember 2011
Blogspot | Kompasiana

Kamis, 08 Desember 2011

Sendiri, Sepi dan Sunyi

“Sendiri itu belum tentu sepi, bisa juga sunyi.” Kalimat tersebut beberapa kali saya ucapkan kepada beberapa orang teman. “Sunyi” dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan dengan: tidak ada bunyi atau suara apapun; hening; senyap; kosong; atau sepi. Saya sendiri lebih senang mengartikannya (bersumber dari salah satu forum diskusi) keadaan dimana seseorang yang dalam keadaan sendiri tidak merasakan lagi kesendiriannya. Kalau merujuk pada salah satu puisi Amir Hamzah berjudul “sunyi itu duka”, “sunyi” dapat berarti pergulatan batin seorang yang berduka (sunyi itu duka), yang merasakan kesatuan dirinya dengan Tuhannya (sunyi itu kudus), yang menjadikan dirinya sendiri lupa (sunyi itu lupa) dan lampus (sunyi itu lampus). Kedua arti terakhir inilah yang akan terus saya gunakan dalam tulisan ini selanjutnya.

Dari kedua arti terakhir kata “sunyi” di atas, saya kemudian menggunakannya untuk membedakan “sunyi” dan “sepi”. Kalau “sunyi” mengarah pada perasaan hati seseorang yang berduka, “sepi” lebih pada kegelisahan hatinya akan kesepian. Dalam realitas, ”sunyi” lebih pada tindakan tenang dalam merespon keadaan dirinya yang sendiri, sedangkan “sepi” mengutamakan amarahnya dalam menanggapi kesendirian. Dan yang lebih penting ialah ketika “sepi” berimplikasi pada hilangnya keyakinan dan arah, “sunyi” lebih terkait pada kedekatan batin seseorang dengan Tuhannya.

Sunyi dan sepi mempunyai hubungan erat dengan kesendirian. Keadaan diri yang sendiri akan mengundang datangnya sepi, itulah realitas hidup yang akan dialami manusia untuk pertama kali. Manusia kebanyakan akan takut dengan kesendirian, takut kehilangan orang-orang yang mencintai dan/atau dicintai, takut kehilangan harta benda, takut kepada sepi. Ketika kaya manusia akan takut kehilangan harta bendanya, ketika berpacaran ia takut kehilangan kekasihnya, ketika punya keluarga ia takut kehilagan keluarganya. Itu semua boleh jadi merupakan kodrat hidup manusia, namun demikian bukan berarti manusia harus kalah dengan kodrat hidup tersebut. Bahkan manusia dalam kapasitasnya dituntut untuk berlatih menghadapi segala sesuatu yang menjadi kelemahannya.

Ketakutan manusia akan kesendirian memang suatu hal yang wajar. Pada hakikatnya Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan lemah (dlo’if), yang membuatnya selalu membutuhkan orang atau sesuatu selainnya. Hanya saja yang jadi persoalan, seringkali ketergantungan manusia kepada selainnya itu menjadikannya melupakan Tuhan, yang seharusnya merupakan satu-satunya tempat bergantung. Kemudian yang jadi persoalan lagi, ketergantungan manusia kepada selainnya seringkali membuatnya takut pada selainnya itu yang notabene makhluk Tuhan, bukan Tuhan sendiri. Itulah kenapa dipandang penting bagi manusia untuk melatih kesendirian. Berikut ini juga merupakan beberapa alasan yang menunjukan arti penting manusia untuk melatih kesendirian dalam menjalani hidupnya:

Kesendirian dalam banyak keadaan termasuk perkara yang dibenci manusia. Kesendirian melahirkan sepi yang boleh jadi merupakan salah satu ujian hidup baginya. Banyak manusia menjadi putus asa dalam menghadapi sepi, yang diwujudkannya dengan mabuk, narkoba, atau bahkan dengan menghabisi nyawanya sendiri. Bisa juga sepi menyebabkan manusia kehilangan harga dirinya. Karena ketakutannya akan kesepian ia rela merendahkan dirinya kepada orang lain yang tidak semestinya, ia menjual dirinya sendiri. Dalam hal ini melatih kesendirian terkait dengan upaya manusia dalam mendewasakan hidup. Yang mana kedewasaan salah satunya dapat diukur dari kesediaan seorang untuk melakukan sesuatu yang tidak disukai. Kedewasaan menuntut seorang untuk bisa menerima segala keadaan, bukan hanya kesenangan tapi juga penderitaan.

Dilihat dari sudut pandang lain, kesendiriran yang telah terwujud dalam sepi, setelah direnungkan dan dirasakan dapat membuahkan kesunyian. Sunyi berawal dari keadaan sendiri dan sepi itu, yang dalam ukuran tertentu karena sepinya, ia tidak merasakan sendiri dan sepi lagi, itulah sunyi. Dengan bersunyi-sunyi manusia akan banyak melihat dan bicara pada dirinya sendiri. Ia akan mengukur, mengkaji dan mengintrospeksi dirinya. Bisa jadi ia nantinya akan menemukan Tuhannya, yang ia rasakan selalu bersamanya. Dalam hal ini, melatih kesendirian berkaitkan dengan usaha manusia dalam mencari jati dirinya, yaitu dalam usaha menemukan Tuhannya.

Kemudian, melatih kesendirian juga berkaitan dengan khusyuk. Kesendirian, seperti telah disebutkan di atas, berhubungan dengan sepi dan kemudian sunyi. Lebih jauh lagi sunyi akan bertalian dengan khusyuk. Khusyuk sendiri merupakan adab seorang muslim dalam berhubungan dengan Tuhannya, entah waktu sholat, berdzikir atau aktivitas yang lain. Jika sunyi diartikan sebagai keadaan dimana seseorang yang dalam keadaan sendiri tidak merasakan lagi kesendiriannya, maka lebih jauh lagi khusyuk berarti keadaan seseorang untuk selalu bisa mempertahankan kesunyiaannya, baik di saat sendiri ataupun bersama orang lain, baik di saat sepi maupun ramai.

Manusia, dalam dengan segala keadaannya, dipandang perlu untuk melatih kesendirian. Selain didasarkan pada beberapa pemahaman di atas, yang juga dapat dijadikan pertimbangan adalah peristiwa-peristiwa terdahulu, yang ada dan diyakini oleh masyarakat. Sejenak saya perhatikan beberapa peristiwa penting di atas bumi manusia. Seorang Muhammad, waktu muda sebelum diangkat menjadi nabi, seringkali melakukan ‘uzlah (menyendiri) di dalam gua Hiro, sampai kemudian beliau menerima wahyu pertama. Kebiasaan itupun, dalam waktu-waktu tertentu juga seringkali dilakukan saat ketika beliau telah menjadi nabi. 

Kemudian, dalam keyakinan masyarakat jawa agar seseorang mendapatkan wangsit (petunjuk), ia diharuskan bersemedi terlebih dahulu. Ia akan menyendiri dari segala keramaian dan hiruk-pikuk untuk mendapatkan wangsit yang diinginkannya. Hal semacam ini juga dianut dan diyakini juga oleh pengikut Hindu, Budha dan agama-agama atau kepercayaan yang lain. Adapun melatih kesendirian disini bukanlah semata-mata dilakukan dengan menghindari orang lain, karena bagaimanapun setiap apa yang telah dihadapkan kepada manusia tidak pernah satu pun sia-sia dan selalu mengandung pelajaran dan hikmah dibaliknya – bagi yang mau berpikir. Berlatih sendiri disini lebih sebagai usaha untuk mandiri (tidak bergantung pada orang lain), menemukan dirinya sendiri, dan kemudian menemukan Tuhannya.

Itulah beberapa pemikiran tentang arti penting melatih kesendirian. Meskipun demikian, yang juga penting untuk dicatat ialah: kepentingan untuk melatih kesendirian itu, sedapat mungkin tidak melalaikan kewajiban manusia dalam bermasyarakat, dan juga sebisa mungkin dilakukan dengan tidak sampai menyakiti hati dan perasaan orang lain. Dan akhirnya, saya tutup tulisan ini dengan mengutip sebuah ungkapan dalam Pramoedya tentang kesendirian, “Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun kembali pulang, seperti dalam pasar malam. Seorang-seorang mereka datang dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas menunggu saat nyawanya terbang entah kemana.” -sai-


Pondok Aren
04 Desember 2011

Senin, 05 Desember 2011

Musa Mencari Keadilan - Part II

Alkisah, Musa mengembara seorang diri di belantara alam raya. Ia melewati hutan-hutan, keluar masuk kampung dan kota. Pengembaraan itu ia rasakan begitu memperkaya batinnya. Kadangkala ia harus menantang alam raya seorang diri, menaklukkan keperkasaan gunung-gunung dan keangkeran hutan belantara. Namun kadang juga ia harus berhadapan dengan berbagai tingkatan masyarakat yang menjadi kaumnya, berikut segala persoalan dan tetek-bengeknya. Pengembaraan itupun lambat laut menuai hasilnya, ia tak lagi mengembara seorang diri, tetapi bersama-sama kaum yang setia menjadi pengikutnya.

Suatu ketika di tengah pengembaraan, Musa dihinggapi kegelisahan hati. Ia menjumpai berbagai fenomena di tengah-tengah masyarakat yang menyesakkan dada. Ia melihat dengan mata kepala sekelompok kecil kemewahan di tengah-tengah hamparan kemelaratan. Ia jumpai juga pemimpin-pemimpin yang bespesta-pora, sedang di sekitarnya banyak anak-anak, janda-janda yang menangis karena lapar dan dahaga. Hati dan pikirnya diliputi berbagai pertanyaan yang tidak ia dapatkan jawabnya.

Jumat, 02 Desember 2011

Sudahkah Kaukenal Namamu?

Setelah mendengar sabda raja semua penghuni singgasana menjadi menjadi gelisah tak karuan. Semua takut kekacauan akan segera menimpa dunia dan seisinya. Kekhawatiran mereka bukan tanpa alasan, pengalaman lah yang membuat mereka berbuat demikian. Jauh sebelum saat itu telah terjadi hal yang mengerikan mereka, ciptaan saat itu merusak segala-gala dan saling bunuh-membunuh. Mereka pun sangat berduka melihat kejadiannya. Dan pada akhirnya sang raja mengutus mereka untuk mengirimkan serangan api dari langit, sehingga luluk-lantaklah semua ciptaan terdahulu itu.

Sekarang kejadian itu akan terulang kembali, sehingga gundah gulana hati mereka. Beramai-ramai mereka menuju balairung istana untuk menghadap sang raja. Mereka ingin menyampaikan persoalannya. Semua dari mereka tidak menyetujui pembuatan ciptaan baru, yang menurut pikir mereka nantinya akan merusak dunia seisinya. Sementara sang raja tetaplah raja-diraja, tentu saja sebenarnya ia telah mengetahui persoalan hambanya berikut solusinya, bahkan ia telah mengagendakan keluh-kesah itu dalam daftar kegiatannya. Dengan tenang dan tersenyum sang raja pun memulai sabdanya:

Selasa, 25 Oktober 2011

Sholeh Dzohiron wa Bathinan

Terlebih dahulu saya awali catatan ini dengan menuliskan pengertian “amal”:
“Amal” secara etimologi (bahasa) sering diartikan sebagai perbuatan, tingkah laku atau lakon dalam bahasa jawa. Adapun secara terminologi (istilah), amal ialah gerak badan yang disertai gerakan hati yang mana apabila gerak tersebut sesuai dengan syari’at maka disebut ibadah, dan apabila tidak sesuai dengan syari’at maka disebut maksiat. Dari pengertian tersebut, tulisan ini kemudian mengkhususkan pada amal yang sesuai dengan syari’at.

Berbicara mengenai ibadah (amal yang sesuai dengan syari’at), dalam keilmuan islam sering disebut juga istilah yang mengacu pada pengertian yang sama yaitu amal saleh (laku becik). Sedangkan pelakunya disebut orang saleh. Catatan ini akan menerangkan orang saleh tersebut berikut amalnya, bukan hanya dalam konteks lahiriyah (dzohir) tetapi juga rohaniah (bathin).

Jika sekilas diperhatikan nampaknya mudah memperoleh derajat kesalihan. Hal tersebut dapat digambarkan demikian: ketika seseorang telah melakukan sholat, puasa atau amal saleh yang lain sesuai dengan syari’at yang ditentukan, maka gugurlah kewajiban itu. Dengan demikian orang yang bersangkutan telah dapat dikatakan beramal saleh. Itu jika yang dijadikan acuan sah atau tidaknya suatu amal. Akan tetapi, jika yang dijadikan acuan adalah diterima atau tidaknya, tentu persoalanya menjadi lebih sulit. Itulah sedikit gambaran mengenai perbedaan antara amal dalam konteks lahir dan dalam konteks batin. Sedangkan pada hakikatnya yang dimaksudkan amal saleh itu ialah yang dilakukan dalam konteks lahir maupun batin. Amal itulah yang disebut sholeh dzohiron wa bathinan.

Ada tiga dimensi terkait pencapaian derajat kesalihan: badan (ragawi), hati (kalbu) dan nyawa (ruh). Hal tersebut mengandung pengertian bahwa derajat kesalehan hanya akan dicapai ketika ketiga dimensi tersebut telah menjiwai setiap amal perbuatan manusia. Upaya mencapai derajat kesalehan akan berhubungan erat dengan keilmuan akidah yang didalamnya meliputi maqom iman, islam dan ihsan. Selain itu, hal tersebut juga erat kaitannya dengan keilmuan tasawuf yang antara lain meliputi syari’at, thoriqot dan haqiqot. Berikut adalah sedikit keterangannya:

1. Syari’at
Hubungan ini juga semakna maqom islam dalam keilmuan akidah. Adapun yang dimaksudkan dengan syari'at dalam istilah tasawuf ialah mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya atas dasar mengetahui dan faham terhadap ketentuan-ketentuan hukumnya. Dengan demikian, pengertian tersebut - dalam kaitannya dengan pencapaian derajat kesalehan, mengandung pengertian bahwa seseorang yang melakukan amal, ia hanya memandang telah melakukan amal tersebut sesuai dengan kaidah hukumnya, ia tidak memandang penting khusuk atau tidaknya, hadir atau tidak hatinya, atau juga sampai atau tidak ruh kehadirat-Nya. Inilah yang dimaksud amal perbuatan pada dimensi badan.

2. Thoriqot
Kaitannya dengan keilmuan akidah, hubungan ini semakna dengan maqom iman. Menurut keilmuan tasawuf, thoriqot adalah menjalankan syari’at dengan penuh kehati-hatian. Hal ini mengandung makna bahwasanya seorang yang melakukan amal telah mengetahui tujuannya. Ia tidak sekedar mengerjakan suatu amal dengan anggota badannya saja, tetapi juga menghadirkan hatinya pada kehadirat Allah swt. Inilah yang dimaksud amal pada dimensi hati.

3. Haqiqot
Hubungan ini semakna dengan maqom ihsan dalam keilmuan akidah. Haqiqot menurut tasawuf ialah memandang atau melihatnya hati pada sifat ketuhanan Allah terhadap semua ciptaan-Nya. Terkait dengan amal perbuatan, pengertian ini mengandung makna bahwasanya suatu amal yang dilakukan manusia, secara dzohir sudah tepat, hatinya telah hadir kehadirat Allah, dan juga ruhnya telah naik menghadap-Nya. Inilah yang dimaksud amal pada dimensi ruh, yang mana pada tingkat ini telah sempurnalah derajat kesalihan seorang hamba.

Kemudian pada prakteknya, derajat kesalehan akan dapat dicapai apabila suatu amal telah dilakukan dengan beberapa jalan (cara) yang menjadi syaratnya. Jalan tersebut terbagi dalam dua kategori: jalan secara dzohir dan jalan secara batin. Secara dzohir jalan tersebut antara lain adalah:
  • Taubat
    Suatu amal saleh tentu akan lebih khusuk dan penuh kehati-hatian ketika dilakukan dalam rangka bertaubat kepada Allah swt. Seorang hamba tentu akan mengingat-ingat kesalahannya, membayangkan dosa-dosanya, sehingga timbul pengakuan betapa kotor dan hina dirinya di hadapan Tuhan penguasa alam semesta. Dengan demikian akan lebih sempurnalah amal itu karenanya. Jadi, yang dimaksudkan dengan taubat sebagai jalan mendapatkan derajat kesalehan yaitu dengan cara demikian suatu amal yang dilakukan manusia menjadi lebih hati-hati dan mengilhami keadaan manusia yang hina-dina.
  • Takwallah
    Amal saleh yang dilakukan atas dasar takwa (takut) kepada Allah akan didasari kepasrahan akan kebesaran dan keagungan-Nya. Yang juga perlu diperhatikan dalam hal ini adalah masalah husnu an-niat (suatu amal dilakukan dengan niat yang baik dan mulia).
  • Istiqomah
    Istiqomah yang dimaksudkan di sini, setidak-tidaknya merupakan salah satu dari tiga macam: istiqomah bacaan, istiqomah tempat atau istiqomah waktu. Tentang istiqomah Rasulullah saw pernah bersabda, “Sesungguhnya amal yang paling disukai Allah ialah istiqomah walaupun itu sedikit.”

Sedangkan yang dimaksud jalan secara batin antara lain meliputi:
  • Estu (pasti atau temen)
    Seorang manusia dalam melakukan amal perbuatan haruslah dengan kesungguhan hati tanpa ada sedikitpun keraguan bahwa ia menjalankan perintah Allah; dan kalaupun ia telah melakukannya, ia menyadari dan megakui bahwa itu atas dasar pertolongan dari pada-Nya.
  • Ikhlas
    Amal perbuatan yang dilakukan manusia haruslah tulus semata-mata karena mengharapkan ridho dari Allah swt. Kaitannya dengan estu, Kiai Asrori mendawuhkan: orang yang estu sudah pasti ikhlas, sedangkan orang yang ikhlas belum tentu estu.
  • Tuma’ninah
    Kadangkala suatu amal perbuatan dilakukan dengan tidak sempurna, yaitu telah selesai amal tersebut sebelum dilakukan sampai pada tujuannya, menghadirkan hati kehadirat Tuhan, atau ruhnya belum sampai menghadap-Nya. Di sinilah peran tuma’ninah dalam suatu amal perbuatan. Adapun makna dari tuma’ninah sendiri adalah menyempurnakan laku dzohir karena adanya ketenangan kalbu di dalamnya.

Wallahu a’lam

(Catacan ini dirangkum dari pengajian KH Asrori Al-Ishaqy berjudul “Istighfar” dengan beberapa tambahan penulis. Pengajian kiai Asrori dapat didownload di sini)


Pondok Aren
24 Oktober 2011
20:06

Minggu, 16 Oktober 2011

Manusia Dalam Sungai

Sebagai pengantar akan saya tuliskan terlebih dahulu sedikit historisitas catatan ini:

Pada mulanya, saya tertarik untuk menuliskan tema tulisan ini selelah membaca salah satu isi dari buku Sindhunata berjudul “Anak Bajang Menggiring Angin”. Tema tersebut menarik hati saya karena berisikan pelajaran hidup yang menurut saya berharga dan berguna. Selain itu, yang menarik juga adalah penyajian penulis yang menggunakan bahasa yang indah dan liriknya yang puitis dan ritmis. Akan tetapi, ketertarikan itu kemudian menimbulkan pertanyaan di hati kecil saya, apakah benar itu ketertarikan yang berasal dari hati sanubari ataukah jangan-jangan hanya sekedar dorongan nafsu yang tak terpuji? Pertanyaan tersebut menjadikan suatu keraguan pada diri saya, sehingga saya putuskan untuk menunda menulisnya. Saya pikir apalah artinya catatan itu nanti kalau hanya sekedar sebagai pemuas nafsu pribadi. Hanya beberapa saat saya terkurung dalam jeruji keragu-raguan itu, karena kemudian tidak lama setelah itu saya dapati juga Emha Ainun Nadjib menyampaikan keilmuan tentang tema yang kurang lebih sama. Mungkin itu suatu kebetulan, tetapi hati dan pikiran saya mengatakan lebih dari itu. Setelah saya pikirkan kembali pada akhirnya saya pun meyakini kalau harus menuliskan catatan ini. 

Berbicara mengenai historisitas sebenarnya saya ingin mengatakan satu hal. Bahwasanya proses seperti inilah yang seringkali saya tafsiri sebagai petunjuk (hidayah). Petunjuk (hidayah) sendiri menurut secuil pengetahuan dan sejejak pengalaman saya, mengandung makna proses, baik itu berupa perbuatan, kejadian alam atau lingkungan, yang meyakinkan hati dan pikiran sehingga menjadikan seseorang melakukan sesuatu tanpa keraguan.

Terkait tema sendiri, ada beberapa hal yang ingin saya catat di sini, baik itu dari bukunya Sindhunata ataupun keterangan Emha. Catatan ini berbicara mengenai fenomena alam yang oleh sebagian penghuni semesta disebut “sungai”. Dalam semesta selalulah terkandung makna dalam setiap peristiwa atau fenomena, termasuk di dalamnya sungai sendiri. Rahasia-rahasia dari sungai itulah yang akan coba saya uraikan di sini: tentang hulu-hilirnya, arusnya, isi di dalamnya, dan lain-lain. Dan tentunya dari rahasia-rahasia tersebut, kemudian sebisa mungkin diambil hikmah dan pelajaran untuk selanjutnya digunakan sebagai bekal dalam kehidupan.

Memahami sungai dapat dibayangkan ketika manusia melihat sebuah mata air. Ia mengalir, tetap mengalir dan terus mengalir. Adakalanya arusnya menantang ganasnya air terjun, mengarungi pegunungan dan bukit, juga mengalir damai di sawah-sawah dan hutan. Ia berjalan, tetap berjalan dan terus berjalan, dari tempat ke tempat, desa ke desa, kota ke kota, tetapi akhirnya ia terhenti di hamparan luasnya lautan. Dari sini seakan tiada beda memahami sungai dengan memahami manusia sendiri. Berlatih mengenal sungai sama artinya pula dengan berlatih mengenali manusia sendiri. Manusia memiliki asal dan tujuan layaknya sungai memiliki hulu dan hilir. Arus adalah layaknya peredaran waktunya dalam kehidupan, sedangkan kawah adalah tempat atau ruang keberadaannya.

Kemudian jika memang sungai itu seperti kehidupan manusia, yang jadi pertanyaan adalah apa hikmah dan pelajaran yang dapat di peroleh darinya? Beberapa hikmah dan pelajaran itu saya rangkumkan sebagai berikut:

Pertama. Sungai berhulu di sebuah sumber air kemudian hilirnya pun ke sumber air. Bermula dari mata airnya ia terus saja mengalir, dari waktu ke waktu ia pun semakin mendekati tujuannya. Pada hakikatnya hulu, hilir dan sungai itupun satu: air juga. Ada kalanya sungai terhenti atau diberhentikan, semisal di sawah-sawah, bendungan atau pemandian penduduk, tetapi justru ketika ia berhenti dan tidak mengalir lagi itu ia tidak disebut sungai lagi. Pun demikian harusnya dengan manusia, ia haruslah berani menjadikan Tuhan sebagai asal dan tujuannya. Pada hakikatnya ia pun satu dengan-Nya. Dari detik, ke menit, ke jam dan seterusnya, ia harus senantiasa mendekat untuk kemudian dapat bersatu dengan Tuhannya. Manusia tidak bisa dikatakan manusia ketika ia terhenti dari usaha bersatu itu.

Kedua. Sungai itu berjalan, tetap berjalan dan terus berjalan, tetapi sungai itu tetap berada di sana dan selalu berada di sana. Ia tetap menjadi sungai yang itu-itu juga. Dalam arusnya sungai telah melanglang buana, mengarungi gunung, bukit, lembah, hutan dan sawah. Tetapi ia tetap sungai yang itu-itu juga. Perihal ini mengandung maksud bahwasanya manusia selayaknya tetap menjadi dirinya sendiri. Dimanapun ia berada dan kemanapun tujuannya, manusia haruslah tetap mempertahankan dirinya. Buah kenikmatan apapun yang telah manusia petik, karang kebahagiaan apapun yang telah manusia dapat, harusnya tidak pernah merubah ia menjadi orang lain dan meninggalkan dirinya sendiri.

Ketiga. Di balik kesuciaannya, di kedalaman sungai terletak berbagai kekayaan: beribu-ribu ikan yang berenang di antara bebatuan juga mutiara, intan dan berlian. Tetapi yang ditampakkannya hanyalah secuil kesederhaan, dan juga arusnya yang hanya berada dalam kekeruhan. Kemudian apa yang ia dapatkan? Langit dan angkasa raya pun berkaca padanya dan udara juga berenang-renang menyelami permukaannya. Manusia pun demikian, ketika ia mampu bertahan dalam kesederhanaan diri, ia sembunyikan segala kekayaan dan kelebihan yang ia punyai, semua penghuni langit pun akan melihatnya, berguru dan menirunya, mendoakannya bahkan iri kepadanya.

Keempat. Sungai senantiasa berjalan, tampak ia seperti mencari dan merindui sesuatu. Akan tetapi justru karena pencarian dan kerinduaannya itu, sungai selalu mendapatkan sesuatu yang baru: teman baru, lingkungan baru, kekayaan baru. Perumpamaan ini paling tidak mengandung dua pengertian. Pertama, manusia haruslah senantiasa berjalan supaya selalu bisa ia dapatkan pengetahuan baru, teman baru dan pengalaman baru yang tak lain semua itu merupakan anugrah dan kekayaan yang dimilikinya. Kemudian yang kedua, manusia harus selalu berhijrah dari keburukan-keburukan yang ada padanya sehingga nantinya akan ia temui kebaikan dan kemulyaan dalam dirinya.

Kelima. Berbicara mengenai sungai tak ubahnya berbicara mengenai air. Sungai itupun dalam kenyataannya memang berupa air yang mengalir. Salah satu sifat yang dimiliki air yaitu mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Ini adalah arti tentang kerendahan hati (tawadhu'). Tetapi kemudian air pun akan menjadi lebih tinggi ketika ia menguap menjadi awan. Ini menunjukkan manusia yang bersedia merendahkan hatinya ia akan diangkat derajatnya oleh Tuhan pencipta alam semesta. Selain dari pada itu, banyak juga istilah-perumpamaan berkaitan dengan air yang dapat kita jadikan pelajaran dari padanya. Oleh karena keterbatasan saya, istilah-perumpamaan itu tidak saya tuliskan di sini.

Tentu masih banyak lagi rahasia-rahasia sungai yang belum saya sebutkan di sini. Paling tidak dari kekurangan-kekurangan tersebut, saya harapkan menjadi api semangat pada diri saya pribadi untuk senantiasa belajar dan belajar, belajar tentang manusia juga belajar tentang alam semesta. Bagaimanapun kehidupan manusia di dunia ini diatur oleh hukum alam (sunnatullah). Ketika manusia ingin memenangkan kehidupan, tentu sebelumnya ia harus belajar tentang alam terlebih dahulu. Kemudian dalam keyakinan saya, ketika manusia telah tinggal bersama alam, belajar tentang alam dan juga merasai alam, betapa akan terbuka sejuta rahasia tentangnya. Wallahu a’lam.


Pondok Aren
15 Oktober 2011
20:21

Sabtu, 08 Oktober 2011

Catatan dari Sebuah Tembang

(Catatan ini secara khusus saya tujukan kepada teman sekaligus inspirator saya, Johnny Wirjosandjojo.)

Berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, catatan ini lebih berisi ulasan saya atas sebuah tembang yang saya temukan di kitab wayang berjudul “Dewa Ruci”, tepatnya Tembang Pocung. Tembang inipun bukan dalam bahasa aslinya, tetapi merupakan terjemahan dari penggalan Tembang Pocung. Secara kandungan isi, memang tulisan ini masih berhubungan dengan tulisan saya sebelumnya, Mengenal Diri Dengan Mengenali Bayi, yaitu berkaitan dengan usaha pencapaian kesempurnaan hidup manusia. Adapun secara kronologis, penggalan Tembang Pocung yang dimaksudkan di sini sebenarnya adalah salah satu nasihat Dewa Ruci ketika Bratasena sedang manunggal dengan tubuhnya.

Dalam usaha memberi ulasan Tembang Pocung, saya membagi terjemahan syairnya menjadi tujuh bait seperti yang akan dituliskan nanti. Dari setiap bait tersebut kemudian saya akan mencoba memberikan ulasan dan pandangan. Berikut ini adalah setiap bait dari Tembang Pocung berikut ulasannya:

Wahai anak!
Hasratmu senantiasa terpengaruh oleh perasaan.
Jika selalu tenggelam di alam kewibawaan yang timbul karena keramat,
tak ada putusnyalah usaha itu.

Bila demikian,
jiwamu masih tersangkar oleh perasaan
yang tak akan melepas kenikmatan untuk seterusnya.
Pengaruh rasa perasaan yang demikian memang benar juga.
Karena ia memang hanya melaksanakan dharma baktinya
untuk mempertahankan surga kedudukannya.

Sebaliknya bagimu.
Jika memang telah puas
karena menemui kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman yang kamu dapat.
Itupun tiada salah.
Bahkan segenap umat dengan ukuran kedewasaan jiwa masing-masing,
Tujuan cita-citanya memang lazim ke arah itu.

Akan tetapi,
Bagimu yang ingin menyatakan kesempurnaan hidupmu.
Pada taraf ini memang masih terkekang oleh pengaruh segan dan gemar.
Memilih dan menolak.

Perhatikanlah!
Memilih dan menolak memang harus terlaksana.
Akan tetapi pelaksanaan itu harus seirama
dengan alam dan tujuannya.

Atas cita-citamu, ingatlah!
Kamu berasal dari ingsun.
Arah cita-citamu hendahlah menyempurnakan hidup tadi.
Tujuan mutlak harusnya hanya kehadirat tuhan.
Dengan demikian, tetap sempurnalah.

Ketahuilah!
Bagi para bijaksana
yang tekun melaksanakan dharma bakti untuk menuju kesempurnaan hidupnya.
Perkembangan budaya yang tercipta di sepanjang usaha
hanyalah menyerah pada purba wasesa Tuhan
(Dikutip dari “Tafsir Kitab Dewa Rutji”, karangan Ki Siswoharsojo)

Agar memudahkan pemahaman, sebelum mulai memberikan ulasan sebaiknya saya sebutkan terlebih dahulu sebab-musabab nasihat Dewa Ruci di atas. Pada saat Bratasena manunggal dengan wadak Dewa Ruci, ia enggan untuk keluar dari padanya. Itu karena ia telah merasakan kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman di dalam wadak Dewa Ruci. Kemudian Dewa Ruci sebagai sang guru sejati pun memberikan nasihat seperti yang tersebut dalam tembang.

[Bait Pertama] Setiap manusia memiliki nafsu yang berwatak selalu ingin mendapat tempat lebih tinggi. Oleh karena itulah manusia memiliki keinginan dan cita-cita. Termasuk di dalamnya adalah Bratasena yang bercita-cita mendapatkan ilmu kesempurnaan hidup (dalam cerita Dewa Ruci dilambangkan dengan tirta pawitradi). Selain dari pada itu, manusia juga memiliki perasaan yang dalam hal ini bertugas merasai setiap tingkat pencapaian cita-cita manusia. Karena hal inilah perasaan mungkin saja memberikan nilai rasa yang tidak tepat. Tingkat cita-cita yang belum sepenuhnya tercapai ia rasai mulya, nikmat dan nyaman. Kemudian ia pun terlena dan tenggelam di alam itu. Ini seperti yang dirasakan Bratasena, ketika ia masih pada tingkatan bersatu dengan wadak bayinya (Dewa Ruci) ia enggan untuk keluar dari padanya.

[Bait Kedua] Berisi penjelasan bahwasanya jiwa yang masih tersangkar di alam perasaan (ditandai dengan terlena dan tenggelam di alam itu) itu tiada salah. Hal ini disebabkan tugas dari perasaan sendiri setelah ia dapat merasai tingkat pencapaian cita-cita ialah mempertahankan kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman yang didapatkannya. Ini adalah pertanda bahwa si manusia masih dihantui rasa takut dalam dirinya. Sejatinya kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman tidak akan selalu didapat ketika manusia masih berada di alam dunia. Itu hanya akan digapai ketika ia telah mati dan masuk surga.

[Bait Ketiga] Lebih menekankan supaya kita mengintrospeksi diri kita masing-masing. Bila kita amati alam sekitar kita, manusia lebih cenderung untuk mencita-citakan hanya sampai pada tingkatan mendapatkan kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman. Pada hakikatnya itu bukanlah cita-cita sejati manusia.

[Bait Keempat] Manusia seharusnya mencita-citakan kesempurnaan hidup. Seperti halnya Bratasena, yang mana disebutkan dalam cerita tiada yang kurang darinya: sebagai kesatria yang sakti mandraguna, juga sebagai putra raja yang kaya dan dilingkupi dengan keluarga dan lingkungan yang menyayanginya. Secara lahir Bratasena memang kaya, tetapi batinnya masih dilingkupi gelisah dan kecewa. Ilmu kesempurnaan hidup itu lebih pada upaya memperkaya batin manusia. Hanya saja untuk menuju ke arah ini manusia masih dipengaruhi rasa malas (segan) dalam dirinya, juga karena kegemarannya pada dunia yang membabi buta. Pilihan ke arah itu menyebabkan manusia menolak cita-cita sejati untuk menyempurnakan hidupnya.

[Bait Kelima] Kehidupan manusia memang memiliki konsekuensi untuk menentukan pilihan (memilih atau menolak). Manusia sendiri dibebani tugas untuk menjadi kholifah di muka bumi (alam semesta). Maka, jangan salahi itu. Seberapa pun kadar kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman yang telah dicapai manusia, jangan sampai dilupakan juga tugas untuk memberikan manfaat pada alam semesta. Itulah yang dimaksud dengan menentukan pilihan yang seirama dengan alam dan tujuannya. Bratasena memang telah mendapat kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman ketika telah bersatu dengan wadak Dewa Ruci, tetapi supaya jangan ia lupa juga tugasnya sebagai manusia.

[Bait Keenam] Asal manusia adalah dari Tuhan, kemudian tujuan hidupnya adalah untuk kembali kepada-Nya. Manusia yang telah mencapai itulah yang telah mendapatkan kesempurnaan hidupnya, yaitu manusia yang telah bersatu dengan Tuhannya. Yang dimaksudkan dengan hidup menuju Tuhan ialah dari setiap tindak-tanduknya, manusia selalu mengarahkan untuk menggapai pada ridlo-Nya.

[Bait Ketujuh] Manusia yang sudah mendapatkan kesempurnaan hidup ketika menjalankan tugasnya sebagai kholifah di muka bumi akan menjadi manusia bijaksana. Ia sadari sepenuhya tidak ada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Tuhan yang Maha Esa. Bratasena pun setelah keluar dari wadak Dewa Ruci demikian, ia menjadi sadar akan tugasnya untuk memberi manfaat pada keluarga, lingkungan dan negaranya. Dari setiap jengkal usahanya, setiap tetes keringat atau darahnya selalu ia sandarkan pada apa yang telah dipilihkan Tuhan untuknya.

Itulah pemikiran sederhana saya dalam memahami sebuah tembang dari dunia pewayangan. Satu hal yang sangat menarik perhatian saya terkait catatan ini, bahwa dari wayang yang notabene termasuk budaya nusantara dapat dipetik sebuah pelajaran yang luar biasa besarnya. Di dalamnya terkandung nilai yang filosofis juga mistis. Namun di balik itu semua, ini juga menunjukkan nilai luhur kita sebagai bangsa yang berbudaya. Sebuah budaya yang patut untuk dikenal dan dilestarikan oleh bangsa dan segenap rakyatnya. Akan sangat disayangkan kalau semua itu nantinya tinggal sejarah yang hilang di telan zaman.


Pondok Aren
08 Oktober 2011
00:57

Selasa, 04 Oktober 2011

Mengenal Diri Dengan Mengenali Bayi

Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Itu salah satu bunyi dari hadits nabi Muhammad saw. Secara umum hadits tersebut mengandung pengertian bahwa ketika baru dilahirkan ke alam dunia setiap manusia adalah suci. Semua manusia terlahir sama, tanpa membedakan agama, suku atau bangsa bapaknya, juga tanpa memandang apakah ia dilahirkan dari hubungan perkawinan yang sah atau bukan. Kata “fitrah” mengandung arti tentang kesucian bayi secara lahir dan batin, sebagai makhluk yang polos dan tanpa dosa. Adapun secara khusus saya juga mempunyai pandangan tentang hal ini, berikut adalah urain saya tentang pandangan tersebut.

Pada mulanya, saya tertarik untuk menuliskan pokok bahasan ini ketika saya mendengarkan pengajian dari salah seorang budayawan, Emha Ainun Nadjib. Dalam sebuah forum beliau mengatakan, “Mendekatlah engkau dengan bayimu, jika engkau ingin mengenali dirimu.” Selain itu, yang juga menginspirasi saya adalah cerita ‘Dewa Ruci’ dalam dunia pewayangan. Dalam cerita disebutkan kisah tentang seorang Bratasena (salah seorang Pandawa) yang mendapatkan kesempurnaan hidup setelah ia mengenal dan bersatu dengan bayinya sendiri. Bayi tersebut dalam cerita dikenal sebagai Dewa Ruci.

Kedua inspirator, baik itu Emha ataupun cerita Dewa Ruci, mengarah pada satu tujuan yang sama yaitu usaha menemukan jati diri. Pun demikian dengan caranya, keduanya berbicara tentang bayi yang tidak lain adalah diri orang yang bersangkutan saat baru saja dilahirkan. Kedua inspirator menyebutkan bahwa jika seseorang ingin menemukan jati dirinya dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup, maka ia harus mendekat atau bahkan bersatu dengan bayinya sendiri. Ia harus mengenal dan kemudian merasai dirinya ketika masih bayi.

Kemudian akan timbul pertanyaan, kenapa untuk menemukan jati diri seseorang harus mendekat atau bersatu dengan bayinya sendiri? Hal ini akan berkaitan dengan kriteria bayi yang akan coba saya sebutkan nanti. Tentu saja mengenali bayi bukan merupakan satu-satunya usaha, tetapi hanya salah satu dari serangkaian usaha pencarian jati diri. Jika merujuk pada cerita Dewa Ruci, mengenal dan bersatu dengan bayi juga hanya merupakan salah satu bagian dari usaha, dimana masih banyak usaha-usaha lain sebelum atau sesudahnya yang tidak saya bahas disini. Demikian juga halnya dengan kriteria bayi yang akan saya sebutkan nanti, itu hanya sebatas usaha yang saya lakukan. Saya pun mengharapkan komentar, masukan atau tambahan dari anda yang membaca tulisan ini.

Pengamatan saya tentang bayi menghasilkan beberapa kriteria tertentu. Kriteria-kriteria tersebut paling tidak akan berubungan dengan salah satu dari tiga hal: tingkah laku, sifat, atau keistimewaan bayi. Berikut adalah beberapa kriteria yang saya dapatkan dari bayi berikut sedikit penjelasan:
  1. Bayi seringkali menangis. Ini merupakan tanda kelembutan hati, dimana semakin lembut hatinya, semakin peka ia. Kemudian jika ia telah peka, semakin mudah baginya merasakan getaran-getaran kelembutan Tuhannya, dan akhirnya semakin mudah pula ia menitikkan air mata.
  2. Bayi merupakan sosok yang lemah. Untuk makan minum ia tidak bisa, bahkan ketika buang air besar atau kecil sekalipun ia membutuhkan orang lain (orang tua atau pengasuh) untuk membersihkannya. Hal ini saya tafsiri dengan bayi sebagai sosok yang merasa dirinya lemah. Ia tiada kuasa (mampu) untuk melakukan apa-apa.
  3. Bayi merupakan sosok yang bodoh. Dengan kata lain, ia merasa dirinya bodoh. Maka ia perlu belajar dan belajar. Mulai dari belajar melihat, minum, berbicara dan lain sebagainya.
  4. Terhadap urusan-urusan dunia, bayi tiada pernah merasa. Oleh orang tuanya, si bayi dibelikan baju, susu, mainan atau yang lain tapi ia tidak pernah merasai itu miliknya. Ketika kehilangan si bayi pun tiada pernah menangisinya.
  5. Bayi mempunyai sifat menerima. Makan dan minum si bayi cukup dengan susu, tidak pernah ia menangis minta selainnya. Dari segi pakaian, bayi selalu menerima apa yang dikenakannya, tidak pernah memilih apalagi memprotesnya.
  6. Dari segi keistimewaannya, bayi merupakan sosok yang paling diperhatikan oleh orang tua. Ketika seorang anak yang masih bayi menangis, orang tua akan sibuk untuk merawat atau menghiburnya. Bayangkan ketika anak tersebut berumur sepuluh tahun atau telah dewasa, orang tua cenderung akan membiarkannya.
  7. Bayi juga selalu dipenuhi semua kebutuhannya. Salah satu contoh real yang ada pada masyarakat asal saya yaitu: setiap ada kelahiran, oarang berbondong-bondong datang untuk menengok. Mereka tak lupa pula membawa bawaan untuk keperluan si bayi, entah itu sabun, minyak telon, detergen atau yang lain. Belum lagi pemenuhan kebutuhan yang dilakukan oleh orang tuanya.

Kritera-kriteria yang saya sebutkan di atas, saya batasi pada kriteria-kriteria yang berkaitan dengan usaha pencarian jati diri. Jika dicermati lagi, selain yang tersebut itu juga akan didapatkan kriteria lain yang merupakan kekurangan si bayi. Akan tetapi, kekurangan itu tidak lain adalah menunjukkan kepolosannya sebagai bayi. Hal ini saya tafsiri sebagai: betapa pun kesempurnaan hidup seseorang masih akan ditemukan kekurangan padanya. Dengan kata lain, kesempurnaan hidup sebagai manusia justru ditunjukkan dengan kekurangan yang dimilikinya.

Sekarang kembali kepada pertanyaan kenapa seseorang harus mengenal atau bersatu dengan bayinya. Pertama, hal ini akan saya hubungkan dengan hakekat kehidupan yang dalam falsafah jawa disebut sebagai “sangkan paraning dumadi” (asal dan tujuan hidup). Istilah tesebut mengandung pengertian bahwa manusia itu berasal dari Tuhan dan kemudian akan kembali kepada-Nya. Dengan kata lain, asal dan tujuan hidup manusia adalah bersatu dengan Tuhannya. Pada saat itulah manusia dikatakan telah menemukan jati dirinya atau telah mencapai kesempurnaan hidupnya. Kemudian akan timbul pertanyaan, kapankah manusia dikatakan paling dekat dengan Tuhannya? Jawabnya tentu ketika masih bayi, ketika seseorang masih dalam keadaan fitrah (suci). Itulah alasan kenapa manusia harus mengenal dan bersatu dengan bayinya sendiri.

Alasan kedua didasarkan pada kriteria-kriteria yang dimiliki si bayi. Jika diamati tingkah laku dan sifat bayi yang telah saya sebutkan, beberapa diantaranya tidak lain merupakan hakekat manusia: fitrah, dlo'if (lemah), jahil (bodoh), dan faqir (membutuhkan pertolongan orang lain). Dengan demikian, mengenali dan merasai sifat dan tingkah laku bayi merupakan jalan untuk mengenali diri sendiri. Setelah dapat mengenali hakekat dirinya sebagai manusialah, baru kemudian seseorang dapat mengenali Tuhannya. Kemudian sebagai akibat dari jalan yang ditempuhnya itu, ketika seseorang telah bersatu dengan bayinya maka ia dapat memperoleh keistimewaan seperti yang dimiliki bayinya itu. Wallahu a’lam.


Pondok Aren
04 Oktober 2011
11:05

Minggu, 17 Juli 2011

Rela Menunggu

Pernahkah terpikirkan dalam benak anda, dalam sudut pandang tertentu pekerjaan yang utama bagi manusia adalah menunggu? Oleh saya sendiri hal ini baru terpikirkan saat akan menuliskan topik tulisan ini. Manusia ketika hendak atau ingin melakukan apapun, baik secara langsung ataupun tidak, lama atau cuma sebentar, disadari atau tidak, dilakukannya dengan menunggu terlebih dahulu. Sebut saja ketika manusia ingin tidur ia menunggu saat ngantuk, ketika akan makan ia menunggu saat lapar, ketika bertanya atau berdoa ia akan menunggu jawabannya, dan masih banyak lagi. Secara lebih luas manusia juga pasti akan menunggu saat izroil datang membawa ruhnya pergi entah kemana. 

Orang bilang menunggu itu membosankan, boleh jadi pernyataan tersebut memang benar. Akan tetapi bosan itu merupakan salah satu bentuk ungkapan perasaan, itu menunjukkan pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar (tidak bernilai benar mutlak). Manusia dengan kriteria tertentu bisa jadi berbeda. Karena sebagian besar orang menganggap menunggu itu membosankan, tentunya banyak orang ingin menghindari pekerjaan tersebut. Manusia lebih suka dengan yang serba tepat waktu, sebagian bahkan menghendaki yang lebih cepat. Sebuah ungkapan “lebih cepat lebih baik” sampai-sampai menjadi jargon dalam kampanye pilpres. 

Tidak dapat disalahkan tentunya orang menghendaki atau mungkin juga menuntut sesuatu yang lebih cepat, hanya saja tidak dapat ditentukan juga kalau dikatakan yang cepat selalu lebih baik. Logika sederhana barangkali bisa menggambarkan pernyataan ini. Ketika seseorang mengendari motor, dia mempunyai pilihan melajukan motornya dengan kecepatan tertentu: cepat, sedang atau lambat. Misalkan orang tersebut berkendara di jalan bergelombang, ia akan lebih aman jika memilih melaju dengan kecepatan sedang atau lambat. Hal ini berarti baik atau tidaknya kecepatan dipengaruhi oleh lingkungan. Lain lagi persoalannya ketika orang tersebut berkendara di jalan mulus tetapi telah ditentukan batas kecepatan maksimalnya, ia tidak diperbolehkan melajukan kendaraannya di atas kecepatan maksimal yang ditentukan. Ini menunjukkan baik atau tidaknya kecepatan dipengaruhi juga oleh aturan. Tentunya akan sangat banyak gambaran yang lain. Ukuran baik atau buruk itu tidak ditentukan oleh cepat atau lambatnya sesuatu, akan tetapi sesuatu itu adalah yang terbaik jika tepat ruang dan waktunya.

Dari gambaran-gambaran di atas, saya akan mencoba menuliskan pemikiran tentang bagaimana mengalahkan kebosanan menunggu. Solusi itu seringkali dekat dengan masalahnya, sedangkan yang dekat dengan suatu permasalahan adalah sebab-akibatnya dan juga masing-masing individunya. Sesuatu yang membosankan akan menumbuhkan sifat mudah mengeluh. Mengeluh sendiri menunjukkan sikap kurang mensyukuri apa-apa yang telah diberikan. Berawal dari pikiran tersebut yang kemudian bisa tumbuh menjadi keyakinan, ditambah juga kesadaran bahwa yang lebih cepat tidak selalu lebih baik, suatu saat akan dapat menumbuhkan kerelaan menunggu.

Ada dua macam perbuatan yang akan dilakukan manusia terkait dengan kegiatan menunggu. Manusia bisa jadi bertahan atau ia akan melampiaskan. Ketika memilih bertahan ia akan tetap dengan penantiannya, sedangkan ketika memilih melampiaskan ia akan beralih kepada kegiatan lain atau dengan menghalalkan segala cara. Manusia dapat saja beralih kepada kegiatan lain sekehendaknya, akan tetapi yang juga perlu diperhatikan dan dipertimbangkan yaitu: sesuatu yang sifatnya bertahan akan lebih dekat dengan kesabaran dan kesabaran akan lebih dekat dengan Tuhan.

Lebih jauh lagi diilhami dari kesadaran akan kebesaran kekuasaan Tuhan atas diri manusia juga keyakinan bahwa apa yang diberikan Tuhan kepadanya adalah yang  terbaik untuknya, kerelaan menunggu manusia akan meningkat dengan sendirinya. Bukan hanya terbatas pada menunggu nasibnya, manusia bisa jadi juga akan menunggu setiap kali akan mulai melakukan suatu pekerjaan tertentu. Hal ini akan memiliki suatu proses, dan tidak dapat dibenarkan jika dilakukan dengan serta merta. Manusia mempunyai pikiran, itu merupakan batas kekuasaannya. Dengan pikirannya ia akan menimbang-nimbang setiap akan melakukan sesuatu, inilah proses menunggu sebelum akhirnya Tuhan menggerakkan hatinya supaya melakukan sesuatu.

Kemudian apa yang menjadi beda antara ketika manusia melakukan sesuatu atas dasar menjemputnya dengan atas dasar menunggunya? Jika diamati ketika menunggu manusia akan melalui proses dimana ia menyadari Tuhan menggerakkan hatinya, maka yang ada pada setiap tindakan yang dilakukannya adalah bukan karena keterpaksaan. Dengan kata lain ia akan melakukan sesuatu didasari keikhlasan. Selain pengakuan atas kebesaran dan kekuasaan Tuhan, hal inilah yang saya rasa tidak tampak jelas pada manusia ketika melakukan sesuatu atas dasar menjemputnya.

Sekarang bagaimana jika dalam proses menunggu Tuhan tidak menggerakkan hatinya, tidakkah manusia hanya akan diam? Jika memang itu yang menjadi pertanyaan, akan dapat dijawab dengan pertanyaan juga: bukankah sebagai makhluk berpikir manusia akan selalu mempunyai tujuan atas setiap yang tindakan dilakukannya? Pikiran itulah yang akan menuntut setiap perbuatan manusia akan dilakukannya atau tidak tindakan itu. Sedangkan bedanya dari proses tadi yaitu: disertai atau tidaknya setiap perbuatan dengan kesadaran dan keyakinan akan ketuhanan. Wallahu a’lam

Ditulis di:
Sarmili

Minggu, 03 Juli 2011

Memandang Perbedaan

Pada tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Jeroan Manusia”, telah disinggung mengenai manusia yang berbeda antara satu dengan lainnya. Perbedaan yang disebutkan antara lain perbedaan sifat dan tingkah polahnya. Selain perbedaan-perbedaan itu, masih terdapat banyak lagi perbedaan-perbedaan lain, diantaranya: perbedaan keyakinan (ideologi), pemikiran, gaya hidup (life style), filosofi kehidupan dan lain-lain. Dari banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut, maka akan dibutuhkan juga cara untuk menyikapinya. Tentunya sikap tersebut bukanlah rumusan yang mutlak, setiap manusia akan berbeda menurut situasi dan kondisi masing-masing, akan tetapi yang menjadi pertimbangan adalah manusia juga dituntut untuk berbuat hati-hati dan bijaksana dalam menyikapi segala perbedaan. Barangkali itulah yang menjadi fokus tulisan ini, pandangan saya mengenai kehati-hatian dan kebijaksanaan itu.

Ada dua kategori sikap yang ingin coba saya tuliskan terkait permasalahan di atas. Pertama, bagaimana seharusnya menyikapi perbedaan antara pandangan (teori) yang fundamental dan urgen dalam masyarakat dengan pandangan golongan-golongan masyarakat tertentu. Pembagian pandangan disini memang bersifat relatif, yang saya maksudkan dengan pandangan (teori) yang fundamental dan urgen yaitu terbatas pada permasalahan ideologi dan halal-haram yang telah terang dijelaskan. Sedangkan pandangan golongan masyarakat tertentu antara lain pemikiran para ahli, life style dan filosofi kehidupan dimana golongan masyarakat tertentu bisa berbeda dan punya alasan masing-masing. Kategori kedua yaitu bagaimana seharusnya menyikapi khilafiyah (perbedaan yang bersifat pilihan) bagi umat muslim.

Manusia itu berbeda-beda. Kebanyakan manusia mengakui dan menyadari hal tersebut akan tetapi tidak siap terhadapnya. Akibatnya karena ketidaksiapan itu sering kali manusia menyalahkan orang lain hanya karena orang tersebut berbeda dengannya. Itulah alasan saya menguraikan kategori sikap yang pertama. Banyak orang menyebutkan orang lain salah atau bisa juga belum mendapat petunjuk (hidayah), ketika orang tersebut masih meyakini dan melakukan pandangan golongan masyarakat tertentu (dalam hal ini: pemikiran para ahli, life style dan filosofi hidup) yang berbeda dengannya. Padahal antara yang satu dengan yang lain atas dasar tertentu tiada yang dapat lebih dibenarkan. Hal ini tentu saja sangat disayangkan karena bisa jadi menimbulkan efek buruk pada dirinya atau orang lain. Permasalahan akan menjadi berbeda ketika pandangan tersebut berkaitan dengan dengan masalah ideologi dan halal-haram yang telah jelas menurut dasar tertentu. Orang bisa saja dikatakan salah atau belum mendapat petunjuk ketika orang lain melanggar atau tidak mengikutinya. Perbedaan cara menyikapi pandangan ini akan bermanfaat pada kesiapan menerima perbedaan sehingga menghindarkan pada perselisihan yang tidak perlu dan penghormatan atas perasaan serta keyakinan orang lain.

Agama islam memang mengenal khilafiyah. Hal ini dikarenakan dasar-dasar dalam islam sendiri (Al-Qur’an dan Al-Hadits), beberapa diantaranya membutuhkan penafsiran dari para ahli yang mana penafsiran itu bermacam-macam. Pun pada salah satu ayat Al-Qur’an menyebutkan bahwa isi dalam Al-Qur’an itu ada ayat-ayat muhkamat (terang dan jelas maksudnya; dapat dipahami dengan mudah) dan ayat-ayat mutasyabihat (mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat menentukan arti mana yang dimaksud kecuali Allah). Ayat-ayat tersebut membutuhkan penafsiran, dan dalam kenyataannya penafsiran para ahli memang berbeda, itulah salah satu contoh khilafiyah. Hanya saja dalam banyak kejadian seringkali terjadi perselisihan terkait masalah khilafiyah ini, antara muslim satu dengan muslim lain saling menyalahkan, membenci, mencemooh bahkan saling mengkafirkan. Kemudian yang jadi pertanyaan adalah, apakah layak perbuatan tersebut dilakukan kepada sesama muslim? Bagaimanapun kebencian merupakan peyakit hati yang harus dihindari. Bahkan, dalam islam kepada binatang pun diperintahkan untuk menyayangi. Dan lagi jika dikaitkan dengan persatuan dan kesatuan, tentu permasalahan semacam ini akan dapat memecah belah umat islam.

Kejadian di atas memang patut untuk disayangkan. Berikut adalah pemikiran yang barangkali bijak terkait hal ini. Ketika ada pertanyaan: doa siapa yang akan diterima Tuhan, doa orang yang merasa salah atau doa orang yang merasa benar?, maka jawabannya adalah doa orang yang merasa salah. Lalu, bukankah suatu hal yang mengherankan apabila manusia mencari-cari dan kemudian menyalahkan orang lain, apalagi sampai membencinya. Itulah, seringkali paradigma yang berkembang adalah belajar itu untuk bisa menyalahkan orang lain, padahal seharusnya untuk bisa menyalahkan diri sendiri. Sebagai penutup, saya teringat dawuhnya KH Asrori Al-Ishaqy dalam salah satu pengajiannya: Khilafiyah itu jangan dilihat hanya dari perbedaannya - tidak akan ketemu, wong punya alasan masing-masing - tetapi lihatlah kepada ada atau tidaknya hikmah dan manfaat yang terkandung di dalamnya.

Ditulis di:
Kalimongso

Kamis, 30 Juni 2011

Jeroan Manusia

Manusia, kata yang memang selalu menarik untuk diamati, dipelajari dan dikaji. Saya pikir hal itu wajar saja, dari manusia selalu bisa didapatkan sesuatu yang berbeda dan baru. Manusia dengan sifat-sifatnya, manusia dengan semua tingkah polahnya, hubungan manusia dengan sesamanya, Tuhannya, alam semesta dan masih banyak lagi. Tentu saja saya tidak akan menuliskan semuanya, sangat kurang ilmu dan pengetahuan saya tentang itu. Disini saya hanya akan menuliskan sedikit catatan saya tentang manusia yang saya dapatkan entah itu dari pengamatan ataupun pergaulan, kemudian nantinya mencoba menghubungkan dengan pengetahuan saya.

Manusia memang diciptakan bermacam-macam, diamati atau tidak saya yakin semua orang akan setuju dengan hal itu. Semakin diamati detailnya, maka akan didapatkan semakin banyak perbedaan. Bahkan ada yang bisa melihat jeroan (pedalaman) manusia dari telapak tangannya, raut mukanya dan lain-lain. Dinilai berdasarkan sifat-sifatnya akan didapatkan manusia penyayang, baik hati, lemah lembut, perasa dan lain-lain. Namun ada juga manusia yang kebalikan dari itu: pemarah, kikir, kasar, kaku dan lain-lain. Dilihat dari tingkah polahnya ada manusia yang banyak bicara tetapi sedikit bekerja dan tidak tau-menau maksudnya; ada lagi manusia yang sedikit bicara, banyak bekerja namun tidak tau-menau maksudnya; ada juga manusia yang sedikit bicara, banyak bekerja dan tau betul maksudnya; dan tentunya masih banyak lagi kemungkinan selainnya. Pengetahuan akan hal itu paling tidak nantinya bisa mempengaruhi pola pikir dan aktivitas manusia entah itu dalam bentuk lebih berhati-hati, peduli atau yang lain.

Dari banyaknya kemungkinan sifat dan tingkah polah manusia, kemudian akan timbul pertanyaan berikut: Tidak adil dong perbedaan-perbedaan itu, kasian mereka yang terlanjur diciptakan dengan sifat-sifat dan tingkah polah yang kurang baik?. Pertanyaan tersebut memang masuk akal, bagaimanapun akan ada banyak sekali yang ikut membentuk kepribadian manusia, sifat dan tingkah polahnya. Sebut saja orang tua, lingkungan, pergaulan dan lain-lain. Sebagai contoh orang yang hidup di Jawa berbeda sifat dan tingkah polah dengan yang hidup di Sumatera, yang orang tuanya maling berbeda dengan yang orang tuanya ulama, dan masih banyak lagi. Padahal orang-orang tersebut tidak ikut menentukan semua itu. Pertanyaan seperti itu dapat dijawab dari beberapa argumen berikut:
  • Manusia telah dibekali dengan hati dan akal pikiran dimana dengan bekal itu ketika telah cukup usia, manusia dapat membedakan, memilah dan memilih mana yang akan dilakukan atau ditinggalkannya.
  • Tuhan tiada menilai perbuatan manusia dari sifat-sifatnya dan baik atau buruk tingkah polahnya, tetapi antara yang diridloi-Nya atau tidak. Berapa besar pun kebaikan yang dilakukan manusia tiada menambah kebesaran-Nya dan berapa besar pun keburukan manusia tiada mengurangi keagungan-Nya.
  • Pada semua manusia akan selalu dijumpai kekurangan dan kelebihan. Itu memang hakikat penciptaannya, dimana manusia yang satu tiada yang lebih segala-galanya dari yang lainnya. Maka tidak dapat dibenarkan manusia yang merasa lebih atau kurang dari sesamanya.

Pengetahuan tentang banyaknya kemungkinan sifat dan tingkah polah manusia akan membawa pada suatu manfaat, antara lain dapat menumbuhkan sifat saling menghormati, menghargai dan ikut berempati kepada manusia lain. Seperi yang dituliskan Chairil Anwar dalam salah satu bait puisinya berjudul “Pemberian Tahu”, manusia memang memiliki nasib yang merupakan kesunyian masing-masing, antara manusia yang satu berbeda dengan manusia yang lain. Ada manusia yang merasa lebih tenang dengan diam, ada yang memang suka bicara, ada juga yang baru merasa senang ketika telah melakukan sesuatu. Dari semua kemungkinan itu tiada yang lebih mulia, kecuali yang lebih banyak kadar manfaat kepada sesamanya. Dan manusia pun tiada berhak untuk menilai itu, semua terserah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Barangkali akan ada juga yang bertanya tentang alasan mengamati manusia yang menghabiskan waktu dan tiada sangkut pautnya diri sendiri itu. Disini yang saya maksudkan mengamati bukan untuk mencari-cari kesalahan orang lain yang kemudian merendahkan atau memfitnahnya, akan tetapi mengamati untuk saling mengenal. Dan ternyata Tuhan pun dalam firmannya mengatakan demikian. Dalam Al-Qur'an Tuhan mengatakan bahwa telah menciptakan manusia itu: Syu'uban wa qabaila lita'arafu (bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal). Yang dimaksud mengenal disini tidak sekedar bersalaman kemudian saling tahu nama masing-masing dan bergaul. Karena ternyata ada juga manusia yang tidak suka dengan proses cepat itu, dan kembali lagi itu kesunyian masing-masing. Yang dimaksud mengenal disini adalah mengenal sifat-sifat dan tingkah polah manusia yang nantinya membawa kepada sifat saling menghormati, menghargai dan ikut berempati seperti yang telah disebutkan di atas tadi. Wallahu a'lam


Ditulis di:
Kalimongso, 28 Juni 2011 11:01

Minggu, 26 Juni 2011

Al-Qur,an, Petunjukkah?

Tuhan memberikan akal kepada manusia untuk berpikir. Begitu agung karunia Tuhan itu. Akal membedakan manusia dengan makhluk Tuhan lainnya. Akal juga yang bisa menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling mulia. Maka, sangat merugi manusia yang tak mau menggunakannya. Terkait dengan itu yang jadi permasalahan adalah apakah manusia telah menggunakan akalnya dengan sebaik-baiknya sehingga mengarahkannya kepada kebenaran, atau jangan-jangan akal malah menjerumuskannya kepada kesesatan? Lalu apakah salah manusia yang telah menggunakan akalnya walau itu untuk menanyakan hal yang tidak seharusnya? Barangkali itulah pokok bahasan yang ingin saya uraikan disini.

Untuk menjawab pertanyaan pertama, saya teringat pemikiran yang pernah disampaikan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam salah satu forumnya, Kenduri Cinta. Barangkali saya kurang cermat mengkajinya maka anggap saja ini versi saya. Dalam pemikirannya Cak Nun menghubungkan akal dengan hati dan mengibaratkannya dengan perumpamaan dalam Al-Qur’an yaitu: Al-misbahu fi zujajah (pelita dalam kaca), gambarannya barangkali mirip lampu bolam. Al-mishbah (pelita atau cahaya) diartikan dengan hati dan zujajah (kaca) diartikan dengan akal atau pikiran. Maksud dari perumpamaan tersebut yaitu: kalau hati merupakan pelita yang terdapat dalam kaca (pikiran), maka hati disini berfungsi untuk menyinari pikiran dan pikiran berfungsi untuk melindungi hati. Sedangkan hati sendiri (dalam hal ini hati nurani) merupakan sumber kebenaran yang berasal dari Tuhan (dengan kata lain hati juga sebagai penangkap cahaya kebenaran dari Tuhan). Hal ini berarti kemampuan hati untuk menangkap cahaya dari Tuhan juga tergantung dari bersih atau tidaknya kaca (pikiran) itu tadi. Jadi, dari perumpamaan tersebut dapat diketahui bahwa agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan dalam berpikir manusia harus mendengarkan suara hatinya. Pikiran juga harus senantiasa dijaga kebersihannya supaya memudahkan hati menerima petuntuk (hidayah) dari Tuhan. Lalu, yang dimaksud dengan pikiran yang kotor itu apa, yaitu apabila dalam berpikirnya hanya sekedar untuk mencari pembenaran, untuk menjelek-jelekkan, untuk merendahkan atau mengalahkan orang lain.

Akal memang diberikan kepada manusia untuk berpikir. Banyak sekali keterangan dalam Al-Qur’an mengenai hal itu. Saya sendiri sangat menaruh hormat kepada manusia yang mau menggunakan pikirannya, apapun yang dipikirkannya itu. Dalam hal ini, memang akallah yang akan mengarahkan kepada manusia supaya memperoleh petunjuk Tuhan, dan peluang untuk mendapatkan petunjuk itu masih akan terbuka selama manusia masih mau menggunakan pikirannya. Bisa jadi atau mungkin juga sering kali petunjuk itu datang setelah manusia berada dalam kesesatan. Hanya saja yang perlu dicermati disini adalah tujuan dari manusianya sendiri dalam menggunakan pikiran itu, tentunya petunjuk itu tidak mungkin datang bagi manusia yang hanya ingin mencari pembenaran, menjelek-jelekkan, merendahkan atau ingin mengalahkan orang lain.

Untuk menggambarkan tetang bermacam-macamnya pikiran saya ingin menuliskan pengalaman yang menurut saya menarik. Selain pengalaman itu sendiri disini saya juga ingin memberikan jawaban atas pertanyaan yang terdapat dalam pengalaman tersebut. Suatu ketika saya berkunjung ke salah seorang teman di Surabaya. Di salah satu pertemuan saya dengan teman tersebut ialah tepat di saat salah seorang temannya bertanya kepadanya. Kurang lebih pertanyaan itu demikian: Benarkah Al-Qur’an itu petunjuk? Kalau iya, bagaimana dengan ayat yang bunyinya alif-laam-miim (ayat pertama surat al-Baqarah, Ali Imran atau yang lain) yang katanya tidak punya arti? Bagaimana mungkin petunjuk itu tak punya arti? Bukankah itu membuktikan bahwa Al-Qur’an tidak bisa dikatakan sebagai petunjuk?

Bagi saya tentu boleh saja bertanya seperti itu selama memang bertujuan mencari kebenaran seperti yang disebutkan dalam keterangan di atas. Saya yang memang sejak kecil diarahkan untuk meyakini Al-Qur’an sebagai petunjuk, terus terang merasa tertunjuk mendengar pertanyaan itu. Tetapi justru hal itu yang membuatnya menarik, rasanya baru pertama kali saya mendengar pertanyaan semacam itu. Setelah mendengar pertanyaan itu, teman saya menjawabnya tetapi tidak memuaskan penanya. Saya sendiri waktu itu juga memberikan jawaban. Barangkali jawaban saya waktu itu juga belum bisa memuaskan penanya. Saya katakan demikian karena setelah menjawab pertanyaan itu saya langsung meninggalkan tempat karena memang ada teman lain yang sedang menunggu. Di sini saya akan menuliskan kembali dan melengkapi jawaban itu. Sebagai gambaran, jawaban yang akan saya tuliskan di sini hanya terkait dengan penggunaan dalil aqli (akal pikiran) bukan dalil naqli (nash Al-Qur’an atau Hadits).

Al-Qur’an secara istilah syari’at (terminologi) diartikan sebagai kalam Allah yang diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad dengan perantara malaikat jibril sebagai pedoman serta petunjuk seluruh umat manusia dan yang membacanya bernilai ibadah. Dari pengertian tersebut didapatkan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk yang berisi surat-surat dari al-Fatihah sampai dengan An-naas, maka secara logika tidak bisa Al-Qur’an dilihat dari satu ayatnya saja. Sebagai perbandingan, Undang-Undang atau buku-buku yang lain juga tidak bisa dinilai demikian. Bayangkan jika Al-Qur’an, Undang-Undang atau buku-buku yang lain itu dilihat dari satu kalimatnya saja, misalkan satu kalimat tentang bersetubuh atau menyusui, tidak bisa kan Al-Qur’an, Undang-Undang atau buku-buku itu sebagai buku porno. Itulah gambarannya.

Dari segi yang lain, pertanyaan di atas juga dapat dijawab demikian: Ayat yang bunyinya alif-laam-miim itu bisa juga dikatakan petunjuk bagi manusia. Petunjuk bahwa Allah mempunyai ilmu yang luas sedangkan manusia berada dalam keterbatasan, ayat itu sebagai bukti bahwa karena luasnya ilmu Allah maka masih ada rahasia yang tidak diketahui manusia. Dan dalam kenyataannya pun memang demikian.

Itulah jawaban dari pertanyaan dalam pengalaman saya. Karena keterbatasan saya, bisa jadi jawaban tersebut juga belum memuaskan penanya. Akan tetapi jawaban dari orang lain yang lebih kompeten saya yakin nantinya bisa memberikan hasil berbeda. Dari situ saya ingin menyimpulkan: Suatu pandangan dalam agama adalah bagian dari pandangan hidup yang memang sangat kompleks, menyangkut orang banyak dan di dalamnya terdapat banyak pertanyaan. Tentunya jawaban yang hanya dari seorang saja (kalau jawaban itu tidak memuaskan atau tidak masuk akal), tidak bisa menyimpulkan bahwa pandangan itu salah atau keliru. Hal ini karena di atas langit masih ada langit. Wallahu a’lam

Minggu, 19 Juni 2011

Puasa, Sarana Menggapai Kesuksesan

Ada banyak sarana untuk menggapai kesuksesan hidup. Beberapa diantaranya berkaitan langsung (merupakan hubungan sebab akibat) dengan yang ingin digapai tersebut dan beberapa yang lain tidak berhubungan langsung. Sebut saja ketika seseorang ingin menjadi dokter, maka yang seharusnya ia usahakan ialah berusaha untuk dapat kuliah di fakultas kedokteran atau (jika sudah) ia harus bersungguh-sungguh dalam belajar. Itulah sarana yang berhubungan langsung dengan kesuksesan yang ingin digapai. Namun ada juga sarana yang tidak berhubungan langsung dengan kesuksesan yang ingin digapai. Dalam hal ini keyakinanlah yang akan berperan dominan. Adakalanya yang diusahakan itu tidak berkaitan langsung dengan kesuksesan, adakalanya juga yang dilakukan memang gak nyambung, tergantung keyakinan itu tadi. Tulisan ini akan mencoba mencermati hal tersebut.

Barangkali ada banyak sekali sarana tidak  langsung untuk menggapai kesuksesan. Ada yang positif ada juga yang negatif. Yang positif contohnya: puasa, berdoa, beribadah, dan lain-lain. Sedangkan yang negatif seperti: minta bantuan dukun, pakai jimat, dan lain-lain. Disini satu hal yang ingin saya cermati, yaitu puasa. Puasa bagi umat muslim, apabila dilakukan dengan ketentuan tertentu, akan bernilai ibadah. Terlepas dari hal itu, puasa juga seringkali dikaitkan tirakat dalam adat masyarakat jawa. Orang-orang tua seringkali menasehati anak-anaknya untuk bertirakat agar dikemudian hari dapat hidup enak, meraih sukses dan lain-lain.

Terdapat sebuah fenomena alam yang mecontohkan kaitan bertirakat (dalam hal ini berpuasa) dengan kesuksesan. Bagi saya, hal ini penting karena memang kehidupan di alam semesta ini berjalan menurut aturan hukum alam (sunnatullah). Untuk itu, selayaknya setiap fetiap fenomena yang terjadi di alam ini dicermati, dihayati yang kemudian diambil hikmah dan pelajaran. Fenomena yang saya maksudkan di sini adalah perubahan ulat menjadi kupu-kupu. Saya sendiri mendapatkan ilmu ini ketika berada di warung kopi. Barangkali agak berlebihan, tapi (terlepas dari madlorot-nya) seringkali saya menyebutkan warung kopi sebagai sumber ilmu pengetahuan. Orang bicara politik (meskipun sebenarnya tidak tau), ekonomi, sosial dan berbagai macam ilmu di warung kopi, hehe. Suatu ketika di warung kopi seorang bapak berbicara dengan saya tentang puasa sunah. Terkait dengan itu, tiba-tiba ia bicara mengenai seekor ulat. Seekor ulat yang setiap hari makan daun dan berjalannya pun merangkak. Lalu ulat pun bertirakat (si bapak tadi menyebutnya berpuasa). Setelah sekian waktu ulat pun berubah menjadi kepompong kemudian kupu-kupu yang dapat tebang dan menghisap madu. Subhanallah, begitu sukses ulat itu. Puasa merubahnya dari yang hanya bisa merangkak manjadi bisa terbang, dari yang hanya makan daun menjadi menghisap madu. Puasa menjadikannya meraih kesuksesan.

Hubungan puasa dengan kesuksesan selain dapat digambarkan dari fenomena ulat di atas juga dapat dicermati dari manfaat-manfaat yang ditimbulkan. Saya mempunyai analisis sederhana mengenai hal ini. Ketika berpuasa, manfaat-manfaat yang ditimbulkan dapat digambarkan dari hal-hal berikut:
  • Orang yang berpuasa (menurut istilah syariat islam) adalah orang yang menahan diri dari makan, minum dan hal-hal yang membatalkan puasa. Dalam hal ini puasa melatih orang untuk menahan diri.
  • Ketika berpuasa, agar orang dapat bertahan (tidak kehabisan energi) sampai bedug maghrib tiba maka ia akan mengatur aktivitasnya. Puasa juga tiada akan bernila ketika orang yang yang berpuasa menggunakan waktunya untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Ini berarti puasa melatih orang untuk mengatur diri.
  • Orang yang berpuasa akan sabar walau dalam himpitan rasa lapar dan dahaga. Ini berarti puasa melatih kesabaran.

Akan ada banyak lagi manfaat-manfaat puasa selain tiga yang saya sebutkan di atas. Tapi, kaitannya dengan kesuksesan barangkali tiga hal di atas menjadi dominan. Bayangkan ketika orang sukses tidak mampu menahan diri. Ia akan berfoya-foya, hidup boros dan pada akhirnya kesuksesan yang diraihnya pun tidak akan tahan lama. Orang yang sukses, maka pastilah ia pandai mengatur waktu dan pandai mengatur dirinya sendiri. Begitu juga, sedikit atau banyak kesuksesan pasti diraih dengan kesabaran dan ketekunan. Dan itu semua dapat dilatih dengan berpuasa.

Ada banyak sekali waktu yang dianjurkan untuk berpuasa menurut islam. Semakin sering berpuasa, maka semakin baik. Nabi muhammad saw sendiri, meski melarang umatnya untuk berpuasa sepanjang waktu, menganjurkan untuk berpuasa tiga hari setiap bulan, jika mampu lagi maka berpuasalah senin-kamis, atau jika mampu lagi berpuasalah nabi Dawud (sehari puasa sahari berbuka). Selain itu dalam islam juga terdapat waktu dimana sebulan penuh diwajibkan untuk berpuasa. Dari keterangan-keterangan di atas, tentulah hal tersebut tidak akan sia-sia baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Itulah sedikit tulisan saya mengenai puasa sebagai sarana menggapai kesuksesan. Seperti biasa, anda juga boleh tak percaya. Wong yang nulis juga bukan ahli berpuasa, hehe.

Kamis, 16 Juni 2011

Syeikh Siti Jenar Vs Bhiksu Tong

Judul di atas tiba-tiba terlintas dalam benak saya terkait pemikiran tentang ketuhanan. Menggelitik memang, jujur saya sendiri menjadi tertarik untuk menuliskan pandangan itu  setelah terlintas judul tersebut. Kata vs (versus) disini tidak saya artikan ‘melawan’ seperti dalam kamus bahasa Inggris tetapi ‘memperbandingkan’ (maksudnya memperbandingkan antara Syeikh Siti Jenar dan Bhiksu Tong), terserah saja bagi yang tidak terima, hehe. Sama halnya dengan tulisan saya yang berjudul ‘ngopi dan ngerokok, adakah hikmahnya?’, tulisan ini juga mengungkapkan sudut pandang saya. Hanya saja barangkali tulisan ini lebih esensial karena berkaitan dengan ketuhanan. Saya yakin banyak ahli yang telah menguraikan panjang lebar pandangannya mengenai pokok bahasan ini, untuk itu saya akan sangat terbuka dengan semua komentar dan masukan.

Syeikh Siti Jenar merupakan salah seorang tokoh fenomenal dalam proses penyebaran agama Islam di pulau jawa. Tokoh ini disebutkan dihukum mati oleh walisongo karena ajarannya yang dianggap meresahkan. Orang awam yang belum sampai tingkat keimanannya bisa jadi tersesat oleh karena ajaran Syeikh Siti Jenar. Ajarannya yang terkenal adalah ‘wahdatul wujud’ atau ‘manunggaling kawula gusti’ (bersatunya hamba dengan Tuhannya). Lain halnya dengan Syeikh Siti Jenar, Bhiksu Tong (Tong Sam Cong), meski cuma legenda yang saya sendiri belum tau kebenarannya, merupakan seorang tokoh agama Budha. Salah satu ajaran yang dibawanya (yang barangkali juga ajaran Budha) adalah teori ‘kosong adalah berisi, berisi adalah kosong’, sebuah ajaran yang juga terkenal tapi seolah tak punya makna jika diamati secara sederhana. Dari kedua ajaran yang telah disebutkan di atas, disini saya akan mencoba menggali maknanya dan kemudian membandingkannya. 

Sebagai gambaran, dalam upaya menggali makna dari ajaran ‘manunggaling kawula gusti’ dan ajaran ‘kosong adalah berisi, berisi adalah kosong’, saya hanya menggunakan satu kerangka berpikir. Hal ini karena kedua ajaran tersebut berdasarkan kerangka berpikir yang saya gunakan akan mengarah pada makna yang sama dan saling berkaitan. Di sinilah yang sebenarnya ingin saya ungkapkan, di mana setelah membandingkan ajaran dari kedua tokoh di atas, ternyata dihasilkan kesimpulan bahwa kedua ajaran mengarah pada makna sama dan saling berkaitan.

Kerangka berpikir yang saya gunakan dimulai dari analisis ilmiah yang pernah saya lihat dalam salah satu video Harun Yahya. Di situ dijelaskan bahwa ketika manusia melihat suatu benda, maka bayangan dari benda tersebut akan ditangkap oleh retina mata. Kemudian retina akan menyampaikan apa yang ditangkapnya ke otak. Ketika sampai di otak, bayangan benda yang disampaikan itu pun dalam keadaan terbalik dari aslinya. Setelah itu otak akan mengolah dan menerjemahkan bayangan yang diterimanya itu sehingga benda tampak seperti yang ada dalam penglihatan.

Dari penjelasan di atas, satu hal yang tampak dan nantinya menjadi pertanyaan. Didapatkan bahwa yang ada dalam penglihatan manusia adalah hasil olahan dan terjemahan otak manusia yang terbatas. Kalau hasil olahan dan terjemahan otak, berarti itu bukanlah wujud sebenarnya dong. Ketika manusia mendengar, menyentuh, mencium atau yang lain dengan kerangka berpikir yang sama nantinya juga akan menghasilkan kesimpulan yang sama pula. Lalu yang jadi pertanyaan, apa yang sebenarnya dilihat, didengar, disentuh manusia itu? Bukankah itu menunjukkan ketiadaan manusia (alam semesta) dalam keadaannya? Bukankah itu menunjukkan kekosongan manusia (alam semesta) dalam keisiannya? Itulah yang dimaksudkan dengan teori ‘berisi adalah kosong’. Lalu akan timbul pertanyaan lagi, siapakah yang ada dalam kekosongan itu? Bukankah selalu ada Dzat yang Maha Menguasai? Itulah yang dimaksudkan dengan teori ‘kosong adalah berisi’.

Dengan kerangka berpikir dan pertanyaan yang sama, akan didapatkan pula makna ajaran ‘manunggaling kawula gusti’. Kerangka berpikir di atas menunjukkan ketiadaan manusia dalam keadaannya. Ketika manusia (alam semesta) tiada maka yang ada hanyalah Tuhan penguasa alam semesta. Jika begitu, maka manusia telah melebur menjadi satu dengan Tuhannya (wahdatul wujud).

Itulah, sebuah pandangan yang barangkali membingungkan. Di sini saya tidak dalam posisi mempengaruhi anda yang kebetulan membaca tulisan ini. Walaupun saya pernah gemetar karena memikirkan hal tersebut, tetapi yang lebih ingin saya ungkapkan berkaitan dengan ajaran ‘manunggaling kawula gusti’ dan ‘kosong adalah berisi, berisi adalah kosong’ adalah maknanya, perbandingannya dan barangkali kesimpulannya. Dua buah ajaran dari Syeikh Siti Jenar dan Bhiksu Tong (meski cuma legenda), dua orang tokoh yang sangat berbeda, bukan hanya dari segi kepercayaannya, tetapi juga asal-usulnya, zamannya dan masih banyak lagi. Dalam kenyataannya (berdasarkan kerangka berpikir dalam tulisan ini tentunya), kedua ajaran mengarah pada makna yang sama dan saling berkaitan. Dan Tuhan memberikan ilmu (rahasia)-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, wallahu a’lam.

Sabtu, 04 Juni 2011

Menjadi Dirimu Atau Bayanganmu

Ketika bercermin, seseorang akan dapat melihat bayangan dirinya. Bayangan tersebut tampak sama dan melakukan hal yang sama pula dengan pemiliknya. Ketika berdiri, duduk, tertawa, menangis atau apapun, bayangan akan melakukan hal yang sama. Berawal dari pemikiran tentang hal tersebut, saya mencoba menuliskan tulisan ini. Saya mencoba menulis tentang cermin, manusia dan bayangannya. Dan nantinya akan saya coba pula menelusuri maknanya dan mengaitkannya dengan kehidupan manusia. Tentu ada banyak dan bermacam-macam pemikiran tentang hal ini, di sini saya mencoba mengungkapkannya dari sudut pandang saya. Sebagian orang mungkin juga menganggap aneh berpikir tentang hal ini. Harapan saya, semoga dari keanehan-keanehan yang ada, nantinya dapat dipetik pelajaran yang membawa pada suatu kemanfaatan.

Pada dasarnya, segala sesuatu ketika melakukan suatu perbuatan akan ada dasar dan orientasi yang akan membawanya pada suatu kebenaran, kebaikan dan keindahan. Itulah yang disebut sebagai kodrat. Hal ini termasuk pada diri manusia saat bercermin, bukan hanya manusianya tetapi juga bayangan dari manusia tersebut. Pada diri manusia, dasar dan orientasi tersebut ada pada hati nuraninya. Kelembutan hati dapat menerima dan menangkap cahaya-cahaya petunjuk dari Tuhan yang bersifat Maha Lembut. Dari situlah dasar dan orientasi manusia sehingga apa yang dilakukanya bernilai benar, baik dan indah. Pada diri manusia yang pada dasarnya telah tertanam nilai-nilai tersebut akan menjadikan apa-apa yang dilakukan benar-benar bernilai (di sisi Tuhan), yaitu ketika ia berjalan sesuai kodrat dengan selalu mendengarkan hati nuraninya. Sementara itu, pada bayangan diri manusia yang menjadi dasar dan orientasi adalah pemilik bayangan itu sendiri. Bayangan tidak punya hati nurani sebagai penangkap dan penerima petunjuk Tuhan. Bayangan walau melakukan hal yang sama dengan pemilik, tapi dia melakukannya hanya untuk menyerupai (tampak serupa) pemilik tersebut. Penilaian di sini tergantung dari apa kata pemilik bayangan atau mungkin manusia lain. Jadi jelas saja yang semacam ini tidak akan punya nilai di mata Tuhan. Kebenaran atau kesalahan, kebaikan atau keburukan, keindahan atau kejelekan, semua tidak akan bernilai apa-apa.

Itulah sekilas tentang diri manusia dan bayangannya. Yang menarik bagi saya untuk diungkapkan disini adalah bagaimana kaitan hal tersebut dengan kehidupan. Sebenarnya telah saya singgung sebelumnya, hal ini akan saya kaitkan dengan nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan. Di sini manusia punya pilihan untuk menjadi dirinya sendiri atau menjadi bayangannya. Kemudian nantinya akan dikaitkan dengan nilainya di sisi Tuhan. Ketika menjadi dirinya sendiri manusia punya dasar dan orientasi akan nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan. Tidak cukup di situ, manusia juga akan berjalan sesuai kodratnya dengan mendengarkan kata hatinya. Dan yang terpenting, hal inilah yang menjadikan apa-apa yang dilakukan manusia menjadi benar-benar bernilai di hadapan Tuhan.

Sementara itu ketika menjadi bayangannya, manusia akan berjalan tanpa dasar dan orientasi. Manusia hanya akan disibukkan dengan sesuatu yang tampak serupa dengan kebenaran, kebaikan dan keindahan. Dalam kaitannya dengan perbuatan, manusia di sini akan selalu diikuti keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain, entah majikannya, atasannya atau mungkin wanita. Dan bahayanya hal semacam ini tidak akan mempunyai nilai apapun di hadapan Sang Pencipta. Semua kebenaran, kebaikan dan keindahan yang diakukan pun akan sia-sia.

Harus diakui memang, permasalahan yang saya ungkapkan di sini adalah sangat berat untuk dilakukan. Saya sendiri menuliskan permasalahan ini sama sekali bukan karena telah bisa menguasainya. Tetapi justru karena seringkali pikiran saya dihantui oleh permasalahan itu. Dan saya yakin Tuhan akan selalu bersama hamba-Nya yang mau berfikir. Permasalahan utama disini bukan tentang perbuatan manusia, tetapi lebih pada rasa dan hati. Perbedaan antara ketika manusia menjadi dirinya atau bayangannya juga sangat tipis, akan tetapi memiliki perbedaan nilai yang sangat besar di hadapan Tuhan. Jika diamati lebih lanjut, akan ditemui juga bahwa permasalahan yang dihadapi manusia di sini adalah tentang keikhlasan. Permasalahan di mana seringkali manusia tidak dapat menguasai rasa dan hatinya ketika melakukan kebenaran, kebaikan dan keindahan. Sementara sumber dari permasalahan itu adalah dasar dan orientasi manusia ketika melakukan kebenaran, kebaikan dan keindahan itu sendiri. Dan menurut pandangan saya, manusia akan tetap bertindak sebagai bayangannya ketika yang menjadi dasar dan orientasi itu adalah dunia.

Dari permasalahan di atas, maka perlu kiranya bagi manusia untuk senantisa menanamkan dalam hati dan mengusahakan pada diri untuk selalu memasukkan unsur Tuhan dalam setiap perbuatan yang dilakukan dan dalam segala urusan yang terjadi padanya. Tentunya hal ini akan sangat sulit, tapi paling tidak ada beberapa hal yang bisa diusahakan. Menurut pandangan saya, hal ini bisa dimulai dengan membiasakan diri untuk berpikir (bertafakkur) dan introspeksi diri. Kemudian buah dari berpikir akan menumbuhkan kesadaran pada diri manusia akan nilai-nilai kehidupan. Kesadaran juga yang akan menuntun setiap tindakan manusia kaitannya dengan nilai-nilai tersebut. Proses dari hal di atas nantinya akan membentuk keyakinan pada diri manusia yang pada akhirnya akan mempengaruhi rasa dan hatinya dalam setiap tindakan yang dilakukannya. Jadi, usaha yang dimaksudkan di sini tidaklah instan, tetapi melalui proses dan tahapan. Bahkan bisa jadi proses dan tahapan tersebut berawal dari keburukan, kesalahan ataupun kejelekan. Banyak cerita mengenai hal ini, manusia yang awalnya buruk, salah dan jelek tetapi akhirnya menjadi orang yang mulia. Untuk itu, perlu kiranya bagi kita yang telah mampu berbuat baik untuk tidak meremehkan orang yang masih tersesat dalam keburukan, kesalahan atau kejelekan karena bisa jadi orang tersebut pada akhirnya lebih baik dari yang meremehkannya. Dan sebaliknya pula, bagi seseorang yang mungkin belum bisa meningggalkan keburukan, kesalahan ataupun kejelekan perlu kiranya untuk selalu berpikir dan introspeksi diri. Karena proses itulah yang menurut saya nantinya bisa membuka pintu rahmat dan petunjuk Tuhan. Dan tentunya, sangat penting juga untuk selalu memohon petunjuk Yang Maha Kuasa.

Semoga menjadi renungan, wallahua’lam.