Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Senin, 12 Desember 2011

Bocah Penuh Luput

Oleh: Saifuddin Du

Aku mendengar suara itu sayup-sayup
Kau bisikkan di kupingku dengan lembut
Seuntai harapan keindahan hari esok
Berkisahkan bocah menapak tangga nirwana
Dalam alunan sepi berirama sajak cinta

Di balik indah bisikan itu
Kembali kau tanyakan kesungguhanku
Aku lihat lalu ragu
Seorang bocah penuh luput
Berarakkan ketekunan semakin surut
Di senja hari yang larut

Aku putuskan untuk menunggu
Bertahan di jalan yang dulu
Tempat sepintas kau berlalu
Bertelanjang kaki
Menentang gunung menjulang tinggi
Menanjak bebatuan penuh duri

Kau paksa aku mengerti
Mengenalmu adalah mimpi
Bersamamu berarti sepi
Jejak-langkahku telah pasti
Aku bertelanjang diri


Pondok Aren
12 Desember 2011
Blogspot | Kompasiana

0 komentar:

Posting Komentar