Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Tampilkan postingan dengan label Lubuk Sunyi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lubuk Sunyi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 September 2022

Kembali ke Asal

Jalan panjang terbentang
sesaat terlampaui,
detik demi detik berganti,
bersahut-sahutan dengan sepi,
dengan rindu yang enggan berbagi:
kukuh mengumandangkan sunyi.

Selamat datang ruang dan waktu
yang masih tersisa,
masih mengijinkan rasa,
masih menyemaikan cinta,
bertakhta di jagad maya,
bertumpu bentala fana.

Sejuta seru dan intensi restu, Tuan,
tetaplah menjadi kawan,
mengiringi setiap persinggahan,
mengarungi titian pengembaraan,
menuju sebaik-baik haluan:
kembali ke asal kejadian.

-Sam Palgunadi-
Lamongan, 1 Januari 2021

Ya Nabi

Ya Nabi, aku meng-ingin:
turut serta mengumandangkan namamu.
Tapi bibirku tak pernah basah.
Pada nada kesia-siaan mulutku menggubah.

Ya Nabi, aku merindu:
puja-puji selawat mencumbu kupingku.
Tapi yang menyapaku hanya nyanyian
rintihan hampa dan jerit kegaduhan.

Ya Nabi, aku mendamba:
kerlip pelita wajahmu menyapa malamku.
Tapi justru kusumpalkan segunung dosa
di mataku tinggal gelap segala nyala.

Ya Nabi, aku mengimpi:
mendiami keabadian dengan syafaatmu.
Tapi lelakuku hanya diam dan mendiamkan
sunnahmu bertukar-tukar dengan kesesatan.

Ya Nabi, aku mengiba:
dalam sunyi engkau menyorotkan cahaya.
Tapi bagaimana bisa aku mengikutimu
jika kalbu membatu terbelenggu nafsu?

Ya Nabi, aku menyeru:
Engkau Muhammadku, oh Muhammadku.
Tapi pantaskah aku mengungkap kerinduan
jika dzikirku hanya luapan kealpaan?

Ya Nabi, akhirnya aku mendoa:
pada Pencipta nuur-mu yang mulia.
Semoga dipantaskan juga diperkenankan
berjumpa denganmu di lorong penantian.

-Sam Palgunadi-
Pati, 22 Oktober 2021

Alam Lain

Saat malam tak lagi terang
oleh sinar purnama.
Saat pohon-pohon meredup layu
oleh sayatan duka.
Adakah sunyi Tuan bertakhta?

Tak ada bunyi-bunyi indah:
suaramu.
Tak terluang barang sejenak:
alpa hadirmu.
Hanya seutas asa sekejap mengisi,
kemudian sepi.

Tak lagi kuingat:
betapa lembut datangmu.
betapa sayup pergimu.
Tinggal aku sendiri,
mengharap isi
membesuk kosongnya hati,
hingga sunyi.

Biar kutelan sejuta misteri.
Biar kugenggam segala janji.
Kosong dan isi pun menunjuk arti.
Dalam gelap dalam redup layu, Tuan,
aku mencari.

-Sam Palgunadi-
Jayapura, 18 September 2015

Selasa, 19 Juli 2022

Tanah Hitam


Jalanan yang mengapung di belantara Papua,
memanggil nama bocah muda kelana.
Ia berjasmani papa, berohani sahaya,
tak berdaya melawan kalam semesta.

Sepenggal jenggala mengisahkan ahwal:
semak-semak beradu janggal,
dedaunan menanti tanggal.
Kesendirian dan rindu pun manunggal,
di perantauan berlatih lantip paningal.

Oh.. betapa jembar bumiku, alangkah luhur langitku.
Berlandaskan tanah hitam di atas kayu gaharu,
Sang Cenderawasih menyaksikan pengembara kalbu:
pada terang ia berguru, dalam gelap mereka menyatu.

-Sam Palgunadi-
Ambon, 23 Mei 2017

Sabtu, 11 Juni 2022

Berserah


Saat pikiran hanya bisa mengangan.
Sedang hati tak sanggup lagi menahan.
Ketika mata tak mau terpejam.
Tapi kaki berjalan pun enggan.

Yang jauh semakin tak tergapai.
Yang dekat menjauh pergi.
Yang di tangan tak tergenggam lagi.
Sendiri aku berteman sepi.

Aku hanya seutas tali.
Yang bahkan tak cukup menjerat
       tanganku sendiri.
Dari subalnya laku.
Dalam kekerdilan aku terus berjibaku.

Aku selembar daun kering.
Terpotang-panting dalam hembus angin:
setiap inginku.
Terhempas lepas dihampar langit
       tak berbatas.

Kekuasaan habis sudah.
Kekuatan tak lagi bertuah.

-Sam Palgunadi-
Tangerang Selatan, 8 Mei 2012

Rabu, 08 Juni 2022

Senjakala


Di sepi senjakala: atribut semesta
kembali ke tepian cakrawala.
Semakin diam, semakin kelam,
lalu tenggelam di himpitan petang.

Senjakala yang singkat,
lekas menyudahi seri pelita hangat,
menyisakan bekas-bekas warna
kadung meresap di relung jiwa.

Mahligai rasa, bagaimana kabarmu?
Dalam sepi diam kalbu,
engkau sama: lekas pilu,
tak berdaya dikulum rindu.

Kesendirian jiwa, dimanakah aku?
Dalam gelap bertambah bisu,
kita sama padam di lorong semu:
mencari pendar makna, lalu menyatu.

-Sam Palgunadi-
Pati, 5 Juni 2022

Minggu, 05 Juni 2022

Berlabuh


Berlabuh malam,
usai petang menggulung senja.
Terjatuh kelam,
seuntai angan menanggung luka.
Selain kawan,
dimanakah tempat pelipur lara?
Pada-Mu, Tuan,
segala rindu akan bermuara.

-Sam Palgunadi-
Jayapura, 10 Januari 2015

Kepada Rindu


Kepada rindu
yang sudah pasti datangnya;
Di dalam sunyi
yang tak pernah alpa dari makna;
Biarkan bisu
menangkap setiap diamnya kata;
Biarkan sepi
mengungkap segala kalam semesta.

-Sam Palgunadi-
Pati, 25 Januari 2022

Kamis, 26 Mei 2022

Angin

Angin menuturkan kesan,
semilir berhembus ke langit harapan.
Jika kegelapan mulai mendesir
ketakutan, Tuan.
Kemana malam akan melabuhkan bahtera
selain pada: suaka-Mu.

-Sam Palgunadi-
Ambon, 7 Januari 2018

Minggu, 22 Mei 2022

Dekap

Seperti malam, yang heningnya
seolah mengisahkan sepenggal cerita.
Sebuah angan,
yang merindukan hadir-Mu
di penantian penuh sunyi dalam dada.

Tanpa kata. Tanpa suara.
Melalui goresan pena
aku melukis
keadaan yang tiada.
Dalam udara. Dalam cahaya.
Rinduku tertambat pada hasrat berjumpa.

Datanglah kembali dalam gelap malamku 
melalui setitik cahaya.
Segarkanlah penat hatiku 
dengan sesapuan udara.
Tuhan, dekap aku dalam cinta.

-Sam Palgunadi-
Jayapura, 26 Desember 2014

Sabtu, 21 Mei 2022

Cahaya-Mu

Perjumpaan itu seperti ombak:
timbul mendetak jarak, tenggelam menjejak riak.

Hembus angin menyemaikan harapan,
debur gemuruh meraupkan syak kembimbangan.

Ketika semburat senja menginsyafi kealpaan, Tuan.
Betapa kefakiran rasa merindukan: cahaya-Mu.

-Sam Palgunadi-
Ambon, 8 Mei 2017