Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Kamis, 10 November 2011

Tujuh Arti Cinta

Oleh: Saifuddin Du

Cinta itu keindahan.
Seindah cakrawala yang sedang dihinggapi biang lala.
Seperti bidadari tatkala mandi telanjang saat senja.
Tak ayal ia mempesona dan selalu dipuja.

Cinta itu kelembutan.
Karenanya, tak jarang ia dirasa tiada.
Namun ia sanggup menjangkau bagian terdalam hati manusia.
Yang pasti ia tak pernah terhalang dinding-dinding realita.

Cinta itu ketulusan.
Itu membuatnya tiada bisa dipaksa.
Ia sanggup memberi tanpa pernah meminta.
Ia rela direndahkan-diremehkan tanpa mengurangi cinta.

Cinta itu keberanian.
Ia akan berteriak lantang ketika bergelora.
Ia mampu berlari kencang laksana kilat di angkasa.
Keraguan tak akan kuasa menyurutkan tekadnya.

Cinta itu kekuatan.
Kulit yang tipis akan mengeras seumpama baja.
Sedang hati menjadi kuat dari segala derita.
Maka, Rama pun mampu menghancurkan Alengka demi Shinta.

Cinta itu kesunyian.
Saat sendiri, ia rasakan kebersamaan yang nyata.
Di balik sepi terselip di dalamnya kelapangan dada.
Ia dekat, bahkan sedekat urat nadi cinta.

Akhirnya, cinta itu keabadian.
Itulah ia dalam kesejatian dzat-nya.
Ia ada sebelum keadaan bermula.
Tak dapat binasa dan tak lekang oleh masa.


Pondok Aren
10 November 2011 15:39
Blogspot | Kompasiana

0 komentar:

Posting Komentar