Aku tulis ini untuk mengenang seorang teman yang telah lebih dulu berpulang,
Abdullah Faqih (Mbah).
Belum sempurna malam melukis gelap.
Suara di kejauhan datang mengusik.
Melontar seuntai khabar.
Sungguh pahit melilit menghimpit.
Kapala tak henti-henti kenangkan kisah:
Derai canda, semangat juang, luapan keluh.
Yang dahulu telah tergoreskan.
Bersanding rajutan mimpi untuk hari depan.
Engkau telah berpulang, teman.
Terlampau cepat rasanya.
Belum lagi aku sempat bersua.
Kita teguk secangkir kopi berdua.
Di atas pusara aku menengokmu, teman.
Tiada aku lihat engkau.
Hanya puing-puing tanah tempat asalmu.
Kita beradu cakap di alam rindu.
Tak aku bawa rokok barang sebatang, teman.
Hanya doa dapat aku panjatkan.
Pada Illahi aku mohonkan ampunan.
Engkau diterima di alam keabadian.
Biarlah segala kenang tentangmu abadi.
Terikat erat di bilik hati.
Tunggulah aku. Pada masanya nanti,
Keretaku akan menyusulmu pergi.
Kereta Kertajaya
Sepanjang Perjalanan Surabaya - Jakarta
06 Mei 2012 05:55


0 komentar:
Posting Komentar