Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Tampilkan postingan dengan label Rumah Hayati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah Hayati. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 September 2022

Termangu


Kerinduanku berjodoh dengan hujan, Kasih.
Setiap keduanya bertemu,
aku hanya termangu.
Menanti irama rintik berhenti bernyanyi.
Menyisakan satu melodi
yang terus terngiang di kepalaku.
Ejaan namamu.
X
-Sam Palgunadi-
Pati, 9 Desember 2020

Semesta Rasa

Kemanakah perginya masa lalu,
jika serpihan kenangan membatu
tak menjadi bagian dari aku?

Dimanakah letak muara rindu,
jika arah jalan dan pusaran waktu
tak berjalan menujumu?

Jika aku adalah pustaka kata,
kalianlah semesta rasa
di lubuk sunyi yang bertakhta.

-Sam Palgunadi-
Pati, 26 Mei 2022

Urat Nadi Rindu

Engkau mata air telaga,
yang kuteguk sarinya, Layla:
meleleh melalui rongga
kegersangan rasa,
mengobati kobaran dahaga
api sukma lara.

Mata air menjalin-jalin
nafasmu pada jantungku,
hingga urat nadi rindu
berdenyut selamanya.

-Sam Palgunadi-
Jombang, 27 April 2019

Arti Hadirmu

Rindu memendarkan lorong waktu,
memberi jalan kita bertemu.
Lantunan lagu berirama kasih,
memupuk teduh hati yang terperih.

Oh, Dinda.. tengoklah sinar senja
yang menganyam dedaunan itu:
terperi seuntai makna atau sejuta,
tentang hakikat sebuah jumpa.

Hari berangsur gelap.
Kamus kata terus menyanyi dan menari,
menghayati arti akan hadirmu, Dinda,
menapaki tangga kesederhanaan cinta.

-Sam Palgunadi-
Jombang, 22 September 2022

Jumat, 17 Juni 2022

Jarak


Sejauh-jauh jarak kita,
masih lebih jauh Engkau,
saat rindu menggelora.
Jarak bisa diukur panjangnya, Kasih.
Tapi bagaimana mengakhiri rindu,
jika ungkapan kata-kata,
tak diaminkan semesta?

-Sam Palgunadi-
Pati, 26 Juni 2021

Kamis, 09 Juni 2022

Jalan Kembali


Perumpamaan momentum jumpa,
seperti persaksian mata
pada cakrawala senja.
Rumah hati seisinya
memelukmu sekuat tenaga,
sebelum semburat cahaya
lenyap ditumpas kata.

Tinggal rasa rindu abadi
yang sanggup melerai
gemuruh angin, hujan dan badai.
Segala degup akan damai
cukup untuk menyelami sunyi,
karna pengembaraan tak berhenti
mencari jalan kembali.

-Sam Palgunadi-
Lamongan, 17 Oktober 2021

Minggu, 05 Juni 2022

Bagaimana Bisa


Bagaimana bisa malam menjelma
rindu yang menggebu,
cinta yang tak berdaya,
jumpa yang tak sampai
berbalas kata, peluk dan belai?

Bagaimana bisa jarak memulai,
dua hati tak saling bertemu,
sama terjeda waktu,
padahal keduanya saling memburu
di kegelapan bersua bisu?

Bagaimana bisa kata-kata mewakili
desiran hati yang tak selesai
merapal semoga meluapkan pinta,
menuangkan tetesan tinta pemaknaan
cinta dan rindu tanpa perjumpaan?

Bagaimana bisa aku dan kamu
tak berdaya pada kekecewaan,
digelapkan oleh kebisuan,
diperdaya bayangan perpisahan,
jika rasa kita pencarian tak berkesudahan?

-Sam Palgunadi-
Pati, 3 Oktober 2021

A S A


Mereka tercerai oleh jarak.
Pada duka,
yang pertama-tama menjajakan gelak.

Mereka terlupa dalam sajak.
Dengan cinta,
beribu derma mentaswir lelaku bijak.

Mereka aksara ba',
yang menopang alif-ku sendiri tegak.

-Sam Palgunadi-
Jayapura, 13 Desember 2015

Sabtu, 28 Mei 2022

Diamku dan Diammu


Rembulan malam kemarin
dengan semburat cahayanya,
mendiamkanku pada diammu,
termenung di alam lain sana.

Aku tak ingat permulaan jumpa
tau-tau engkau telah menjelma:
hangat nyala api, rumah di sanubari.
Lalu pulang kepada tujuan abadi.

Oh.. begitu cepat perjalanan:
pagi menggapai singgasana siang,
sore memunguti serpihan senja,
malam memunggungi bentala fana.

Lalu bagaimana aku selanjutnya?
Terutama saat sepi: hati tak pernah selesai.
Lalu bagaimana aku tanpamu?
Seperti saat kalbu, terus menggemakan rindu.

Doa mungkin hanya seucap kata,
kini menjelma satu-satunya
jembatan penghubung kita,
mengharap bahgiamu di liang pusara.

-Sam Palgunadi-
Pati, 24 November 2021