Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Minggu, 18 Desember 2011

Manusia dan Puasa

Segala kejadian di alam semesta selalu sarat makna bagi siapa saja yang bersedia merenungkannya. Barangsiapa yang mau memaknai setiap torehan dan liku dalam hidup, seremeh apapun kejadiannya dan sekecil apapun pengaruhnya, maka hal tersebut akan mengantarkannya pada tataran nilai dan hikmah. Bukankah tiada secuilpun ciptaan Tuhan di jagad semesta yang sia-sia? Dan jika demikian maka kehidupan manusia di dunia ini sejatinya adalah sebuah pencarian yang tidak akan ada sudahnya.

Salah satu kejadian alam yang patut dijadikan pelajaran di dalamnya adalah fenomena metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu. Seekor ulat yang setiap hanya bisa berjalan dengan merangkak, yang setiap harinya makan dedaunan, nilai apakah yang membuatnya mempunyai nilai dan hikmah dalam kehidupan? pada saatnya ulat akan bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, akan dapat terbang bebas di udara, akan dapat menikmati manisnya madu dan indahnya bunga-bunga.

Seekor ulat tentu saja tidak dengan mudah dapat berubah menjadi kupu-kupu, tidak serta merta dapat terbang bebas di udara, menikmati manisnya madu dan indahnya bunga-bunga. Ia akan melalui proses yang panjang, yang tanpa proses itu tak akan ia berhasil mengubah dirinya. Jika ditilik dari perjalanan hidupnya, betapa hewan ini awalnya mengalami pahit-getirnya hidup: tertatih-tatih ketika merangkak berjalan dan hanya cukup dengan makan dedaunan. Kemudian ia menerapkan pola hidup baru, kebiasaan baru yang penting dalam alur hidupnya, sebelum akhirnya ia dapat mengubah diri menjadi lebih baik. Ulat mengasingkan dirinya di lipatan dedaunan, sembari berpuasa sepanjang hari. Setelah melewati beberapa masa tertentu, ia akhirnya berubah menjadi kupu-kupu, kupu-kupu yang indah, yang dapat terbang, dan yang dapat menikmati manisnya madu kehidupan.

Kehidupan ulat di atas, mengisahkan perjalanan yang penuh dengan nilai dan hikmah bagi kehidupan manusia. Yang ternyata kesuksesan itu tidak serta merta dapat diraih dengan mudah, tetapi melalui proses tertentu yang membutuhkan perjuangan, pengorbanan dan kesabaran. Manusia pun harusnya demikian, menyediakan diri untuk mengasingkan diri dan berpuasa layaknya ulat, ketika ia mencita-citakan kesuksesan dalam hidupnya. Catatan ini secara khusus menjelaskan gambaran-gambaran tentang manfaat puasa seperti yang telah dicontohkan dalam perjalanan hidup seekor ulat.

Antara Puasa dan Keberhasilan Manusia

Puasa adalah aspek yang secara tidak langsung bertalian dengan keberhasilan seseorang. Dikatakan tidak langsung karena antara puasa dan keberhasilan lebih dipengaruhi oleh aspek keyakinan sebagai tali penghubungnya. Secara kasat mata, orang yang berpuasa seakan tidak ada sangkut paut dengan keberhasilan yang diraih. Maka di sini keyakinanlah yang mempunyai peran dominan, yang meyakinkan seseorang tentang arti penting berpuasa. Dalam masyarakat sendiri banyak hal yang mendasari keyakinannya. Umat muslim akan melaksanakannya untuk mencari keridloan Tuhan, umat Budha sebagai sarana mencapai kesempurnaan, masyarakat jawa untuk bertirakat, dan masih banyak lagi yang lain.

Keyakinan seseorang juga akan terkait dengan pemikiran-pemikirannya tentang sesuatu yang diyakini itu, apakah pemikiran nantinya menguatkan keyakinan, atau justru semakin melemahkannya. Terkait dengan puasa dan keberhasilan seseorang, banyak sekali pemikiran-pemikiran yang menghubungkan keduanya. Berikut adalah gambaran beberapa pemikiran sederhana tentang hal itu, yang boleh jadi menguatkan keyakinan untuk berpuasa:

Puasa berarti menahan diri dari makan dan minum, juga hal-hal lain yang membatalkan puasa. Orang yang berpuasa akan bersabar walau dalam himpitan rasa lapar dan dahaga. Hal ini mengandung arti bahwa puasa memiliki andil dalam melatih seseorang untuk menahan diri dan sabar. Keberhasilan seseorang pun tentu akan terkait dengan kedua hal itu. Seorang kaya misalnya, pada mulanya ia pasti menahan diri dan bersabar dari kehidupan yang boros dan berfoya-foya.

Dan kemudian juga, seorang yang berpuasa akan dengan tekun mengatur aktivitasnya supaya ia dapat bertahan sampai waktunya berbuka. Puasa juga menjadi tidak bernilai ketika seseorang yang sedang melaksanakannya menggunakan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna. Hal ini menunjukkan puasa dapat melatih seseorang untuk bisa mengatur diri dan waktunya. Seorang yang ingin berhasil pun harus pandai melakukan itu: mengatur diri dan mengatur waktu.

Kemudian akan timbul pertanyaan. Jika demikian kenapa harus dengan puasa, toh tanpa puasa pun seseorang bisa meraih keberhasilan itu, bisa untuk menahan diri dan sabar, juga bisa untuk mengatur diri dan waktu? Memang demikian, akan tetapi kalau hal-hal lainnnya itu lebih pada persiapan dalam arti lahir, sedangkan puasa untuk persiapan dalam arti batin. Dan itupun, seperti yang telah disebut di atas, sangat tergantung dari faktor keyakinan masing-masing individunya, apakah ia akan percaya atau menolaknya.

Puasa Sebagai Sarana Pembentuk Watak

Watak yaitu sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku, budi pekerti dan tabiatnya. Watak pada diri manusia, salah satunya, sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang sering dilakukannya. Ketika yang kebiasaan itu baik maka baik jadinya dan jika buruk maka buruk juga jadinya, terlepas dari pengertian baik dan buruk itu sendiri. Kaitannya dengan itu, ada manusia yang berwatakkan sholat, ada yang berwatakkan zakat, ada yang berwatakkan puasa, dan ada pula yang berwatakkan haji. Catatan ini khusus membahas manusia yang berwatakkan puasa.

Manusia yang berwatakkan puasa maksudnya yaitu dalam pikiran dan tingkah lakunya, budi pekerti dan tabiatnya sehari-hari, yang menjadi ciri dari manusia tersebut adalah juga ciri dari puasa dalam arti seluas-luasnya. Misalnya saja dalam hal menahan diri, seorang yang berwatakkan puasa akan pandai menahan diri dalam hal apapun: menahan marah, tidak menikah, dan hal-hal yang lain. Kemudian juga karena puasa itu ibadah yang tersembunyi, maka seorang yang berwatakkan puasa akan sangat piawai dan sabar dalam menyembunyikan sesuatu dalam dirinya: perasaan, pikiran, dan lain-lain. Selain itu, seorang ahli puasa dalam menjalankan puasanya memiliki ciri tidak menuntut apapun pada dirinya sendiri atau sekelilingnya. Maka seorang yang berwatakkan puasa pun demikian halnya, dalam urusan apapun ia cenderung untuk tidak menutut dirinya, orang lain, atau siapa pun juga.

Tentunya masih banyak lagi ciri-ciri manusia yang berwatakkan puasa. Yang kesemuanya itu, menurut hemat saya, semakin memperkaya batin manusia yang bersangkutan. Dan dengan itu, karena tingkat intensitas puasa yang sering sampai ia menjadi watak bagi pelakunya, dapat menjadi sarana perubahan bagi manusia menuju ke arah kebaikan. Maka perubahan itu tiada pernah salah, karena selain Dia yang kuasa, segala sesuatu di semesta raya, sekecil apapun itu, akan mengalami perubahan juga.


Pondok Aren
07 Desember 2011 07:40

0 komentar:

Posting Komentar