Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Minggu, 17 Juli 2011

Rela Menunggu

Pernahkah terpikirkan dalam benak anda, dalam sudut pandang tertentu pekerjaan yang utama bagi manusia adalah menunggu? Oleh saya sendiri hal ini baru terpikirkan saat akan menuliskan topik tulisan ini. Manusia ketika hendak atau ingin melakukan apapun, baik secara langsung ataupun tidak, lama atau cuma sebentar, disadari atau tidak, dilakukannya dengan menunggu terlebih dahulu. Sebut saja ketika manusia ingin tidur ia menunggu saat ngantuk, ketika akan makan ia menunggu saat lapar, ketika bertanya atau berdoa ia akan menunggu jawabannya, dan masih banyak lagi. Secara lebih luas manusia juga pasti akan menunggu saat izroil datang membawa ruhnya pergi entah kemana. 

Orang bilang menunggu itu membosankan, boleh jadi pernyataan tersebut memang benar. Akan tetapi bosan itu merupakan salah satu bentuk ungkapan perasaan, itu menunjukkan pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar (tidak bernilai benar mutlak). Manusia dengan kriteria tertentu bisa jadi berbeda. Karena sebagian besar orang menganggap menunggu itu membosankan, tentunya banyak orang ingin menghindari pekerjaan tersebut. Manusia lebih suka dengan yang serba tepat waktu, sebagian bahkan menghendaki yang lebih cepat. Sebuah ungkapan “lebih cepat lebih baik” sampai-sampai menjadi jargon dalam kampanye pilpres. 

Tidak dapat disalahkan tentunya orang menghendaki atau mungkin juga menuntut sesuatu yang lebih cepat, hanya saja tidak dapat ditentukan juga kalau dikatakan yang cepat selalu lebih baik. Logika sederhana barangkali bisa menggambarkan pernyataan ini. Ketika seseorang mengendari motor, dia mempunyai pilihan melajukan motornya dengan kecepatan tertentu: cepat, sedang atau lambat. Misalkan orang tersebut berkendara di jalan bergelombang, ia akan lebih aman jika memilih melaju dengan kecepatan sedang atau lambat. Hal ini berarti baik atau tidaknya kecepatan dipengaruhi oleh lingkungan. Lain lagi persoalannya ketika orang tersebut berkendara di jalan mulus tetapi telah ditentukan batas kecepatan maksimalnya, ia tidak diperbolehkan melajukan kendaraannya di atas kecepatan maksimal yang ditentukan. Ini menunjukkan baik atau tidaknya kecepatan dipengaruhi juga oleh aturan. Tentunya akan sangat banyak gambaran yang lain. Ukuran baik atau buruk itu tidak ditentukan oleh cepat atau lambatnya sesuatu, akan tetapi sesuatu itu adalah yang terbaik jika tepat ruang dan waktunya.

Dari gambaran-gambaran di atas, saya akan mencoba menuliskan pemikiran tentang bagaimana mengalahkan kebosanan menunggu. Solusi itu seringkali dekat dengan masalahnya, sedangkan yang dekat dengan suatu permasalahan adalah sebab-akibatnya dan juga masing-masing individunya. Sesuatu yang membosankan akan menumbuhkan sifat mudah mengeluh. Mengeluh sendiri menunjukkan sikap kurang mensyukuri apa-apa yang telah diberikan. Berawal dari pikiran tersebut yang kemudian bisa tumbuh menjadi keyakinan, ditambah juga kesadaran bahwa yang lebih cepat tidak selalu lebih baik, suatu saat akan dapat menumbuhkan kerelaan menunggu.

Ada dua macam perbuatan yang akan dilakukan manusia terkait dengan kegiatan menunggu. Manusia bisa jadi bertahan atau ia akan melampiaskan. Ketika memilih bertahan ia akan tetap dengan penantiannya, sedangkan ketika memilih melampiaskan ia akan beralih kepada kegiatan lain atau dengan menghalalkan segala cara. Manusia dapat saja beralih kepada kegiatan lain sekehendaknya, akan tetapi yang juga perlu diperhatikan dan dipertimbangkan yaitu: sesuatu yang sifatnya bertahan akan lebih dekat dengan kesabaran dan kesabaran akan lebih dekat dengan Tuhan.

Lebih jauh lagi diilhami dari kesadaran akan kebesaran kekuasaan Tuhan atas diri manusia juga keyakinan bahwa apa yang diberikan Tuhan kepadanya adalah yang  terbaik untuknya, kerelaan menunggu manusia akan meningkat dengan sendirinya. Bukan hanya terbatas pada menunggu nasibnya, manusia bisa jadi juga akan menunggu setiap kali akan mulai melakukan suatu pekerjaan tertentu. Hal ini akan memiliki suatu proses, dan tidak dapat dibenarkan jika dilakukan dengan serta merta. Manusia mempunyai pikiran, itu merupakan batas kekuasaannya. Dengan pikirannya ia akan menimbang-nimbang setiap akan melakukan sesuatu, inilah proses menunggu sebelum akhirnya Tuhan menggerakkan hatinya supaya melakukan sesuatu.

Kemudian apa yang menjadi beda antara ketika manusia melakukan sesuatu atas dasar menjemputnya dengan atas dasar menunggunya? Jika diamati ketika menunggu manusia akan melalui proses dimana ia menyadari Tuhan menggerakkan hatinya, maka yang ada pada setiap tindakan yang dilakukannya adalah bukan karena keterpaksaan. Dengan kata lain ia akan melakukan sesuatu didasari keikhlasan. Selain pengakuan atas kebesaran dan kekuasaan Tuhan, hal inilah yang saya rasa tidak tampak jelas pada manusia ketika melakukan sesuatu atas dasar menjemputnya.

Sekarang bagaimana jika dalam proses menunggu Tuhan tidak menggerakkan hatinya, tidakkah manusia hanya akan diam? Jika memang itu yang menjadi pertanyaan, akan dapat dijawab dengan pertanyaan juga: bukankah sebagai makhluk berpikir manusia akan selalu mempunyai tujuan atas setiap yang tindakan dilakukannya? Pikiran itulah yang akan menuntut setiap perbuatan manusia akan dilakukannya atau tidak tindakan itu. Sedangkan bedanya dari proses tadi yaitu: disertai atau tidaknya setiap perbuatan dengan kesadaran dan keyakinan akan ketuhanan. Wallahu a’lam

Ditulis di:
Sarmili

0 komentar:

Posting Komentar