Alkisah, Musa mengembara seorang diri di belantara alam raya. Ia melewati hutan-hutan, keluar masuk kampung dan kota. Pengembaraan itu ia rasakan begitu memperkaya batinnya. Kadangkala ia harus menantang alam raya seorang diri, menaklukkan keperkasaan gunung-gunung dan keangkeran hutan belantara. Namun kadang juga ia harus berhadapan dengan berbagai tingkatan masyarakat yang menjadi kaumnya, berikut segala persoalan dan tetek-bengeknya. Pengembaraan itupun lambat laut menuai hasilnya, ia tak lagi mengembara seorang diri, tetapi bersama-sama kaum yang setia menjadi pengikutnya.
Suatu ketika di tengah pengembaraan, Musa dihinggapi kegelisahan hati. Ia menjumpai berbagai fenomena di tengah-tengah masyarakat yang menyesakkan dada. Ia melihat dengan mata kepala sekelompok kecil kemewahan di tengah-tengah hamparan kemelaratan. Ia jumpai juga pemimpin-pemimpin yang bespesta-pora, sedang di sekitarnya banyak anak-anak, janda-janda yang menangis karena lapar dan dahaga. Hati dan pikirnya diliputi berbagai pertanyaan yang tidak ia dapatkan jawabnya.
Pada saat yang sunyi, ia pergi menyendiri. Ia kemudian bermunajat pada Tuhannya yang maha mengetahui:
“Wahai Tuhan penguasa alam raya dan isinya. Wahai Dzat yang kelembutan kasih dan sayang-Nya meliputi sekalian manusia. Hamba bermunajat di hadap-Mu untuk mengetahui keadilan-Mu Tuhan, seperti yang telah Engkau sebutkan padaku?”
“Musa, belumkah Kamu percaya kemahaadilan-Ku?” jawab Tuhan.
“Ampuni hamba-Mu ini Tuhan, tentu saja hamba percaya. Hamba hanya ingin menguatkan keyakinan hamba dan juga pengikut-pengikut hamba.”
“Baiklah, Musa. Pergilah Kamu seorang diri ke sebuah sungai, bersembunyilah di sana! Kamu akan dapati keadilan-Ku jika mampu bersabar.”
Musa pun menaati perintah Tuhannya. Di pagi hari yang cerah, ia segera menuju sebuah sungai yang dimaksud. Kala itu mentari yang belum lama membuka mata, menyeruakkan sinarnya yang keemasan ke angkasa raya. Alam seakan membuka jalan untuk Musa yang sedang menunaikan tugasnya. Pohon-pohon dan rerumputan menyambutnya dengan menari-nari, sedangkan ratusan burung bernyanyi memecah sunyi. Musa pun tak lupa mengucap syukur seraya memuji Ilahi Robbi.
Sesampainya di sungai, Musa kemudian bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Beberapa saat berselang, datanglah seorang kesatria berkuda. Ia segera menuju sungai untuk melepas lelah dan dahaga. Dari kuda tunggangan dan pakaian yang dikenakannya, tampak ia seorang kaya. Selain pedang yang terikat di pinggang, si kesatria juga membawa buntalan di tangannya, yang belakangan diketahui berisikan emas. Tidak lama kesatria melepas lelah, kemudian pergi meninggalkan sungai. Karena lupa, ia pun meninggalkan buntalan emas yang dibawanya.
Tak beberapa lama kemudian datang juga ke tempat yang sama seorang anak kecil. Seperti halnya kesatria, si anak pun mempunyai tujuan yang sama untuk melepas lelah dan dahaga. Setelah meminum beberapa teguk air dan beristirahat sejenak, si anak bermaksud segera meninggalkan sungai. Tetapi ketika akan melaksanakan maksudnya, tanpa sengaja si anak menemukan buntalan yang ternyata berisikan emas. Si anak kecil pun tidak berpikir lama, ia mengambil buntalan emas itu kemudian membawanya pergi meninggalkan sungai.
Setelah itu datang juga seorang bapak tua lagi buta ke tempat yang sama, dengan tujuan yang sama pula. Dengan bantuan tongkat di tangannya si tua terus berjalan perlahan-lahan, hingga akhirnya sampai di tepi sungai. Sesaat setelah si tua meminum air, datanglah seorang kesatria berkuda kepadanya. Kesatria yang beberapa saat tadi meninggalkan buntalan emas miliknya di tepi sungai. Tidak ada seorang pun di tempat tersebut kecuali si bapak tua dan kesatria.
“Wahai Bapak, tidakkah engkau melihat buntalan emas milikku tertinggal di tempat ini?” tanya kesatria memulai.
“Kisanak ini siapa? Aku buta kisanak, saya tidak bisa melihat apapun.” Jawab si tua.
“Engkau jangan bohong! Tidak ada seorang pun di tempat ini selain engkau. Aku baru saja meninggalkan buntalan emas milikku, namun barang itu kini tiada di tempatnya.”
“Sungguh kisanak. Aku ini seorang buta, melihat pun tak bisa. Aku tidak pernah mengambil buntalan emas milik kisanak.”
Setelah mendengar penjelasan dan ratapan si tua, kesatria tetap saja tidak percaya dan menuduh si tua itulah pencuri buntalan emasnya. Bahkan akhirnya si kesatria menusukkan pedangnya tepat di dada si tua sampai tewas, kemudian pergi meninggalkannya. Musa yang melihat kejadian itu secara langsung, hampir saja tak mampu mengendalikan amarahnya. Ia melihat dengan jelas bahwa si anak kecil lah yang bersalah, yang membawa pergi buntalan emas milik kesatria. Sedangkan si bapak tua tidak bersalah sedikit pun, bahkan melihat pun ia tidak bisa. Musa tidak melakukan apapun karena ingat pesan Tuhannya untuk bersabar.
Di bawah pohon Musa duduk termenung, memikirkan kejadian tersebut dengan hati pilu. Pohon-pohon pun ikut menunduk lesu menyaksikan ketidakadilan di depannya itu. Sementara langit di angkasa menjadi nampak lebih gelap, seakan siap menitikkan air mata hujan yang dikandungnya. Burung-burung hanya murung dan membisu, nyanyiannya yang ceria telah dirampas oleh kejadian yang menyesakkan dada. Semua seakan serentak mengatakan, “ kasihan nasib si tua yang tiada berdosa.”
Musa kemudian menengadahkan tangannya, untuk kembali bermunajat kepada Tuhannya:
“Tuhan, Engkau maha mengetahui segala sesuatu. Engkau pasti mengetahui ketidakadilan yang baru saja tampak dihadapanku, yang alam pun ikut menangisinya. Kenapa, Tuhan? Tunjukkanlah kepadaku, dimanakah letak keadilanmu?”
“Musa, Kamu tidak mengetahui apa-apa,” kata Tuhan. “Kamu tidak pernah mengenal siapa kesatria, siapa anak kecil dan siapa bapak tua. Seharusnya Kamu jangan mengeluhkan sesuatu pun, apalagi sampai menuduh siapa pun, sedang kamu sendiri tiada mengetahui yang sebenarnya.”
“Maafkan hamba-Mu ini Tuhan. Apakah gerangan yang tidak hamba ketahui itu?”
“Ksatria itu adalah seorang juragan kaya yang mempunyai banyak pekerja. Anak kecil itu dan bapaknya, dahulu adalah salah satu pekerja dari kesatria itu. Selama bertahun-tahun si anak dan bapaknya bekerja, namun tidak pernah sekalipun dibayar oleh juragannya. Dan bongkahan emas itu adalah umpama bayaran yang menjadi hak anak itu dan bapaknya. Kemudian si buta. Dulunya sebelum buta, ia ialah seorang yang bengis dan kejam. Suatu ketika ia bertemu dengan bapak si anak. Kemudian bapak si anak itu dibunuhnya, padahal ia tidak mempunyai salah apa-apa. Kematian atas si buta itu adalah umpama balasan atas tindakannya yang semena-mena di masa lalu itu.”
Mendengar penjelasan itu Musa pun bersujud seraya meratap, “Ampunilah ketidak-tahuan hamba Tuhan. Ampunilah kelancangan hamba-Mu ini. Ampunilah hamba yang hina-dina.”
Pondok Aren
02 Desember 2011

0 komentar:
Posting Komentar