Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Minggu, 11 November 2012

Guru dalam Ranah Moral-Spiritual


Seorang guru dapat diibaratkan sebagai setetes pewarna yang dijatuhkan ke dalam suatu genangan air. Perlahan-lahan sejumlah air tersebut akan terkontaminasi oleh pewarna. Air akan berubah menjadi merah, kuning, hijau, atau mungkin hitam. Secara ilmu tampak, hampir pasti sejumlah air akan dipengarui oleh pewarna yang diteteskan ke dalamnya, walau tidak sampai mengubah sifat dasarnya. Pewarna yang hanya setetes itu, mampu menguubah air yang berkubik-kubik, walau tingkat pengaruhnya tergantung jumlah air dan konsentrasi pewarnanya.

Analogi ini bukan tanpa cela. Setidaknya tidak setiap pewarna yang diteteskan ke dalam air akan dapat mengubah sejumlah air tersebut secara keseluruhan. Air yang mengalir contohnya, amat sulit setetes pewarna mengubahnya. Pun demikian dengan air laut, air hujan sebelum tergenang di tanah, dan beberapa macam air lain yang penulis belum mengetahuinya.

Tapi tidak. Penulis tidak ingin membahas guru pada tataran filosofis. Filsafat memanglah dasar kehidupan, tetapi ia hanya tulang-belulang. Penulis di sini lebih tertarik membahas kulit luarnya yang tampak dan dekat dengan realita kehidupan. Yakni guru sebagai sosok yang sejak dini mengarahkan pendidikan bagi murid-muridnya, yang menunjukkan ilmu pengetahuan baik itu yang bersifat umum maupun agama, serta yang menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual pada generasi muda.

Guru tentu saja adalah sosok yang memiliki andil besar dalam membentuk kepribadian bangsa, tentu saja adalah agen penting dalam simtem pendidikan nasional. Menjadi guru adalah tugas mulia karena berperan langsung dalam mengajar, membimbing dan mengarahkan generasi penerus bangsa. Hanya saja yang menjadi persoalan yaitu, sudahkah guru yang ada sekarang ini telah memenuhi kriteria sebagai guru yang sebenar-benarnya? Adakah manusia yang berprofesi sebagai guru sekarang ini memang terlahir sebagai guru? Atau jangan-jangan guru itu hanyalah sebuah profesi atau suatu mata pencaharian belaka? Kemudian jika ditarik lebih jauh lagi, dalam batasan apakah seorang guru itu harus berperan dalam membentuk kepribadian anak didik? Adakah keterkaitan antara identitas dan peran serta guru dengan berbagai persoalan yang dihadapi bangsa?

Menjadi Guru Adalah Panggilan Jiwa

Hal ini akan menerangkan identitas guru yang membedakan antara guru yang bisa “digugu lan ditiru” dan yang tidak. Menjadi guru tak sekedar sebagai profesi, tetapi adalah suatu panggilan jiwa yang merupakan wujud pengabdian seorang manusia kepada manusia lain, masyarakat, bangsa, dan terlebih kepada Tuhan. Guru berbeda dari profesi lain seperti akuntan, auditor, dokter, atau pengacara. Produk pengabdian guru tak hanya meliputi wilayah fisik atau materi, tetapi juga ranah moral dan spiritual. Tanggung jawab seorang guru lebih berat karena mencakup masa depan orang lain di dunia dan di akhirat.

Dewasa ini terdapat banyak sekali perguruan tinggi yang mencetak lulusannya menjadi calon guru. Apakah dengan demikian berarti mahasiswa yang telah berproses menjadi calon guru di perguruan tinggi tersebut adalah manusia yang memilki panggilan jiwa sebagai guru? Tentu bukan. Manusia yang memiliki panggilan jiwa sebagai guru yaitu manusia yang telah berproses mencari jati diri. Pencarian jati diri memerlukan suatu perenungan yang panjang, perjalanan yang berliku, pembacaan tanda-tanda dari Tuhan, dan seringkali juga petunjuk dari seorang guru spiritual.

Seorang yang panggilan jiwanya sebagai guru mendidik muridnya dengan hati, sehingga tercipta semacam interaksi batin antara guru dan murid. Proses transfer ilmu tak hanya terjadi melalui kontak lahir, tetapi juga melalui interaksi batin tersebut. Di sini juga faktor doa dari seorang guru akan ikut terlibat dan sampai kepada muridnya. Kesesuaian batin antara guru dan murid menyebabkan ilmu mudah diterima, teraplikasi dalam kehidupan (manfa’at), dan menambah kebaikah si murid dan lingkungannya (berkah).

Guru Sebagai Pembentuk Kepribadian Bangsa

Secara umum guru adalah seseorang yang mengajarkan suatu ilmu pengetahuan kepada orang lain. Ini merupakan pengertian guru secara sempit, karena aplikasi ilmu pengetahuan yang diajarkan tersebut akan teramat sedikit dalam perjalanan panjang hidup seseorang. Seorang guru yang mengajarkan Matematika misalnya, implementasi ilmu tersebut barangkali hanya sekian persen dari total perjalanan hidup muridnya – sangat kecil. Seorang guru seharusnya tidak hanya mengajari muridnya ilmu yang tampak (ilmu katon) tetapi juga menanamkan pendidikan moral dalam diri murid, tidak hanya mengajarkan ilmu yang bersifat materialitas tetapi juga membangun spiritualitas.

Guru yang dapat menanamkan moral dan membangun spiritual inilah yang pada akhirnya akan turut membentuk kepribadian bangsa. Karena pada dasarnya seluruh perjalanan hidup seseorang tidak pernah terlepas dari eksistensi moral dan spiritual ini, termasuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Orang yang pandai secara ilmu pengetahuan bisa jadi akan menggunakan ilmu pengetahuannya tersebut untuk hal-hal kotor, misalnya menipu, mencuri, atau bahkan korupsi. Akan tetapi seseorang yang pandai ilmu pengetahuan dengan ditopang moral dan spiritual yang baik akan terjaga nafsunya dari hal-hal semacam itu.

Antara Identitas dan Peran Serta Guru dengan Persoalan Bangsa

Telah disinggung di atas bahwa guru memiliki keterkaitan dengan persoalan penipuan, pencurian dan korupsi yang kesemuanya itu merupakan persoalan besar bangsa Indonesia. Belum cukup dengan itu, publik Indonesia baru-baru ini juga diguncang dengan maraknya berbagai kenakalan remaja: tawuran, pelecehan seksual dan narkoba. Tentu saja persoalan-persoalan ini tidak hanya menyangkut guru, tetapi juga keluarga dan terlebih individunya masing-masing. Supaya tidak meluas, penulis di sini membatasi permasalahan pada persoalan bangsa yang terkait dengan guru dari segi identitas dan peran sertanya.

Guru haruslah seorang yang secara sadar dan ikhlas mendharma-baktikan hidupnya sebagai seorang guru; yang dengan sabar mengajarkan ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya; yang bertanggung jawab atas perkembangan mental, kemajuan moral dan peningkatan spiritual si anak didik. Jika ditarik garis, guru semacam itu pastilah seorang yang memang panggilan jiwanya sebagai guru, yang memang terlahir sebagai guru sejati. Apabila guru semacam itu telah banyak di Indonesia, perlahan-lahan dengan sendirinya persoalan bangsa akan tereduksi – berkurang dan semakin berkurang. Seorang birokrat akan ikhlas menjadi pelayan rakyat, anggota dewan akan takut berkorupsi, dan remaja-remaja akan mampu mengendalikan diri.

Penekanan penulis di sini yaitu, keberadaan guru sekarang ini barangkali memang telah berhasil mencetak anak didik yang pandai dalam penguasaan ilmu pengetahuan, kritis dalam menanggapi berbagai persoalan. Akan tetapi, pencapaian tersebut alangkah sayangnya jika tidak diimbangi dengan kematangan moral dan spiritual. Oleh karenanya, peran serta guru haruslah diperluas supaya dapat menjamah ranah moral dan spiritual tersebut. Guru adalah orang kedua setelah orang tua yang berperan besar dalam perkembangan pendidikan dan kepribadian para generasi penurus bangsa.

Untuk itu, demi terselenggaranya pendidikan nasional yang mampu mencetak anak didik yang menguasai ilmu pengetahuan, memiliki kesaliman moral dan menggenggam kekukuhan spirirtual, penting kiranya bagi masyarakat secara keseluruhan dan terlebih lagi pemerintah untuk merenungkan dan membenahi kembali kualifikasi guru-guru yang ada sekarang ini. Sedangkan untuk para guru supaya meluruskan niatnya kembali agar benar-benar bertujuan untuk mengabdikan diri, tidak semata-mata menjalani profesi apalagi untuk memperkaya diri. Bagi para guru supaya terus mengintrospeksi diri, menata hati dan melakukan pengembaraan mencari jati diri. Semoga sistem pendidikan nasional yang ada nanti akan memiliki guru-guru yang seluruhnya layak “digugu lan ditiru” dan dapat menempa murid-muridnya untuk menciptakan kemanfaatan dan keberkahan bagi lingkungannya, masyarakat, bangsa dan negara. Amiin.


Saifuddin Du
Babat - Lamongan, 11 Nopember 2012

0 komentar:

Posting Komentar