Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Sabtu, 04 Juni 2011

Menjadi Dirimu Atau Bayanganmu

Ketika bercermin, seseorang akan dapat melihat bayangan dirinya. Bayangan tersebut tampak sama dan melakukan hal yang sama pula dengan pemiliknya. Ketika berdiri, duduk, tertawa, menangis atau apapun, bayangan akan melakukan hal yang sama. Berawal dari pemikiran tentang hal tersebut, saya mencoba menuliskan tulisan ini. Saya mencoba menulis tentang cermin, manusia dan bayangannya. Dan nantinya akan saya coba pula menelusuri maknanya dan mengaitkannya dengan kehidupan manusia. Tentu ada banyak dan bermacam-macam pemikiran tentang hal ini, di sini saya mencoba mengungkapkannya dari sudut pandang saya. Sebagian orang mungkin juga menganggap aneh berpikir tentang hal ini. Harapan saya, semoga dari keanehan-keanehan yang ada, nantinya dapat dipetik pelajaran yang membawa pada suatu kemanfaatan.

Pada dasarnya, segala sesuatu ketika melakukan suatu perbuatan akan ada dasar dan orientasi yang akan membawanya pada suatu kebenaran, kebaikan dan keindahan. Itulah yang disebut sebagai kodrat. Hal ini termasuk pada diri manusia saat bercermin, bukan hanya manusianya tetapi juga bayangan dari manusia tersebut. Pada diri manusia, dasar dan orientasi tersebut ada pada hati nuraninya. Kelembutan hati dapat menerima dan menangkap cahaya-cahaya petunjuk dari Tuhan yang bersifat Maha Lembut. Dari situlah dasar dan orientasi manusia sehingga apa yang dilakukanya bernilai benar, baik dan indah. Pada diri manusia yang pada dasarnya telah tertanam nilai-nilai tersebut akan menjadikan apa-apa yang dilakukan benar-benar bernilai (di sisi Tuhan), yaitu ketika ia berjalan sesuai kodrat dengan selalu mendengarkan hati nuraninya. Sementara itu, pada bayangan diri manusia yang menjadi dasar dan orientasi adalah pemilik bayangan itu sendiri. Bayangan tidak punya hati nurani sebagai penangkap dan penerima petunjuk Tuhan. Bayangan walau melakukan hal yang sama dengan pemilik, tapi dia melakukannya hanya untuk menyerupai (tampak serupa) pemilik tersebut. Penilaian di sini tergantung dari apa kata pemilik bayangan atau mungkin manusia lain. Jadi jelas saja yang semacam ini tidak akan punya nilai di mata Tuhan. Kebenaran atau kesalahan, kebaikan atau keburukan, keindahan atau kejelekan, semua tidak akan bernilai apa-apa.

Itulah sekilas tentang diri manusia dan bayangannya. Yang menarik bagi saya untuk diungkapkan disini adalah bagaimana kaitan hal tersebut dengan kehidupan. Sebenarnya telah saya singgung sebelumnya, hal ini akan saya kaitkan dengan nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan. Di sini manusia punya pilihan untuk menjadi dirinya sendiri atau menjadi bayangannya. Kemudian nantinya akan dikaitkan dengan nilainya di sisi Tuhan. Ketika menjadi dirinya sendiri manusia punya dasar dan orientasi akan nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan. Tidak cukup di situ, manusia juga akan berjalan sesuai kodratnya dengan mendengarkan kata hatinya. Dan yang terpenting, hal inilah yang menjadikan apa-apa yang dilakukan manusia menjadi benar-benar bernilai di hadapan Tuhan.

Sementara itu ketika menjadi bayangannya, manusia akan berjalan tanpa dasar dan orientasi. Manusia hanya akan disibukkan dengan sesuatu yang tampak serupa dengan kebenaran, kebaikan dan keindahan. Dalam kaitannya dengan perbuatan, manusia di sini akan selalu diikuti keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain, entah majikannya, atasannya atau mungkin wanita. Dan bahayanya hal semacam ini tidak akan mempunyai nilai apapun di hadapan Sang Pencipta. Semua kebenaran, kebaikan dan keindahan yang diakukan pun akan sia-sia.

Harus diakui memang, permasalahan yang saya ungkapkan di sini adalah sangat berat untuk dilakukan. Saya sendiri menuliskan permasalahan ini sama sekali bukan karena telah bisa menguasainya. Tetapi justru karena seringkali pikiran saya dihantui oleh permasalahan itu. Dan saya yakin Tuhan akan selalu bersama hamba-Nya yang mau berfikir. Permasalahan utama disini bukan tentang perbuatan manusia, tetapi lebih pada rasa dan hati. Perbedaan antara ketika manusia menjadi dirinya atau bayangannya juga sangat tipis, akan tetapi memiliki perbedaan nilai yang sangat besar di hadapan Tuhan. Jika diamati lebih lanjut, akan ditemui juga bahwa permasalahan yang dihadapi manusia di sini adalah tentang keikhlasan. Permasalahan di mana seringkali manusia tidak dapat menguasai rasa dan hatinya ketika melakukan kebenaran, kebaikan dan keindahan. Sementara sumber dari permasalahan itu adalah dasar dan orientasi manusia ketika melakukan kebenaran, kebaikan dan keindahan itu sendiri. Dan menurut pandangan saya, manusia akan tetap bertindak sebagai bayangannya ketika yang menjadi dasar dan orientasi itu adalah dunia.

Dari permasalahan di atas, maka perlu kiranya bagi manusia untuk senantisa menanamkan dalam hati dan mengusahakan pada diri untuk selalu memasukkan unsur Tuhan dalam setiap perbuatan yang dilakukan dan dalam segala urusan yang terjadi padanya. Tentunya hal ini akan sangat sulit, tapi paling tidak ada beberapa hal yang bisa diusahakan. Menurut pandangan saya, hal ini bisa dimulai dengan membiasakan diri untuk berpikir (bertafakkur) dan introspeksi diri. Kemudian buah dari berpikir akan menumbuhkan kesadaran pada diri manusia akan nilai-nilai kehidupan. Kesadaran juga yang akan menuntun setiap tindakan manusia kaitannya dengan nilai-nilai tersebut. Proses dari hal di atas nantinya akan membentuk keyakinan pada diri manusia yang pada akhirnya akan mempengaruhi rasa dan hatinya dalam setiap tindakan yang dilakukannya. Jadi, usaha yang dimaksudkan di sini tidaklah instan, tetapi melalui proses dan tahapan. Bahkan bisa jadi proses dan tahapan tersebut berawal dari keburukan, kesalahan ataupun kejelekan. Banyak cerita mengenai hal ini, manusia yang awalnya buruk, salah dan jelek tetapi akhirnya menjadi orang yang mulia. Untuk itu, perlu kiranya bagi kita yang telah mampu berbuat baik untuk tidak meremehkan orang yang masih tersesat dalam keburukan, kesalahan atau kejelekan karena bisa jadi orang tersebut pada akhirnya lebih baik dari yang meremehkannya. Dan sebaliknya pula, bagi seseorang yang mungkin belum bisa meningggalkan keburukan, kesalahan ataupun kejelekan perlu kiranya untuk selalu berpikir dan introspeksi diri. Karena proses itulah yang menurut saya nantinya bisa membuka pintu rahmat dan petunjuk Tuhan. Dan tentunya, sangat penting juga untuk selalu memohon petunjuk Yang Maha Kuasa.

Semoga menjadi renungan, wallahua’lam.

0 komentar:

Posting Komentar