Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Minggu, 03 Juli 2011

Memandang Perbedaan

Pada tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Jeroan Manusia”, telah disinggung mengenai manusia yang berbeda antara satu dengan lainnya. Perbedaan yang disebutkan antara lain perbedaan sifat dan tingkah polahnya. Selain perbedaan-perbedaan itu, masih terdapat banyak lagi perbedaan-perbedaan lain, diantaranya: perbedaan keyakinan (ideologi), pemikiran, gaya hidup (life style), filosofi kehidupan dan lain-lain. Dari banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut, maka akan dibutuhkan juga cara untuk menyikapinya. Tentunya sikap tersebut bukanlah rumusan yang mutlak, setiap manusia akan berbeda menurut situasi dan kondisi masing-masing, akan tetapi yang menjadi pertimbangan adalah manusia juga dituntut untuk berbuat hati-hati dan bijaksana dalam menyikapi segala perbedaan. Barangkali itulah yang menjadi fokus tulisan ini, pandangan saya mengenai kehati-hatian dan kebijaksanaan itu.

Ada dua kategori sikap yang ingin coba saya tuliskan terkait permasalahan di atas. Pertama, bagaimana seharusnya menyikapi perbedaan antara pandangan (teori) yang fundamental dan urgen dalam masyarakat dengan pandangan golongan-golongan masyarakat tertentu. Pembagian pandangan disini memang bersifat relatif, yang saya maksudkan dengan pandangan (teori) yang fundamental dan urgen yaitu terbatas pada permasalahan ideologi dan halal-haram yang telah terang dijelaskan. Sedangkan pandangan golongan masyarakat tertentu antara lain pemikiran para ahli, life style dan filosofi kehidupan dimana golongan masyarakat tertentu bisa berbeda dan punya alasan masing-masing. Kategori kedua yaitu bagaimana seharusnya menyikapi khilafiyah (perbedaan yang bersifat pilihan) bagi umat muslim.

Manusia itu berbeda-beda. Kebanyakan manusia mengakui dan menyadari hal tersebut akan tetapi tidak siap terhadapnya. Akibatnya karena ketidaksiapan itu sering kali manusia menyalahkan orang lain hanya karena orang tersebut berbeda dengannya. Itulah alasan saya menguraikan kategori sikap yang pertama. Banyak orang menyebutkan orang lain salah atau bisa juga belum mendapat petunjuk (hidayah), ketika orang tersebut masih meyakini dan melakukan pandangan golongan masyarakat tertentu (dalam hal ini: pemikiran para ahli, life style dan filosofi hidup) yang berbeda dengannya. Padahal antara yang satu dengan yang lain atas dasar tertentu tiada yang dapat lebih dibenarkan. Hal ini tentu saja sangat disayangkan karena bisa jadi menimbulkan efek buruk pada dirinya atau orang lain. Permasalahan akan menjadi berbeda ketika pandangan tersebut berkaitan dengan dengan masalah ideologi dan halal-haram yang telah jelas menurut dasar tertentu. Orang bisa saja dikatakan salah atau belum mendapat petunjuk ketika orang lain melanggar atau tidak mengikutinya. Perbedaan cara menyikapi pandangan ini akan bermanfaat pada kesiapan menerima perbedaan sehingga menghindarkan pada perselisihan yang tidak perlu dan penghormatan atas perasaan serta keyakinan orang lain.

Agama islam memang mengenal khilafiyah. Hal ini dikarenakan dasar-dasar dalam islam sendiri (Al-Qur’an dan Al-Hadits), beberapa diantaranya membutuhkan penafsiran dari para ahli yang mana penafsiran itu bermacam-macam. Pun pada salah satu ayat Al-Qur’an menyebutkan bahwa isi dalam Al-Qur’an itu ada ayat-ayat muhkamat (terang dan jelas maksudnya; dapat dipahami dengan mudah) dan ayat-ayat mutasyabihat (mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat menentukan arti mana yang dimaksud kecuali Allah). Ayat-ayat tersebut membutuhkan penafsiran, dan dalam kenyataannya penafsiran para ahli memang berbeda, itulah salah satu contoh khilafiyah. Hanya saja dalam banyak kejadian seringkali terjadi perselisihan terkait masalah khilafiyah ini, antara muslim satu dengan muslim lain saling menyalahkan, membenci, mencemooh bahkan saling mengkafirkan. Kemudian yang jadi pertanyaan adalah, apakah layak perbuatan tersebut dilakukan kepada sesama muslim? Bagaimanapun kebencian merupakan peyakit hati yang harus dihindari. Bahkan, dalam islam kepada binatang pun diperintahkan untuk menyayangi. Dan lagi jika dikaitkan dengan persatuan dan kesatuan, tentu permasalahan semacam ini akan dapat memecah belah umat islam.

Kejadian di atas memang patut untuk disayangkan. Berikut adalah pemikiran yang barangkali bijak terkait hal ini. Ketika ada pertanyaan: doa siapa yang akan diterima Tuhan, doa orang yang merasa salah atau doa orang yang merasa benar?, maka jawabannya adalah doa orang yang merasa salah. Lalu, bukankah suatu hal yang mengherankan apabila manusia mencari-cari dan kemudian menyalahkan orang lain, apalagi sampai membencinya. Itulah, seringkali paradigma yang berkembang adalah belajar itu untuk bisa menyalahkan orang lain, padahal seharusnya untuk bisa menyalahkan diri sendiri. Sebagai penutup, saya teringat dawuhnya KH Asrori Al-Ishaqy dalam salah satu pengajiannya: Khilafiyah itu jangan dilihat hanya dari perbedaannya - tidak akan ketemu, wong punya alasan masing-masing - tetapi lihatlah kepada ada atau tidaknya hikmah dan manfaat yang terkandung di dalamnya.

Ditulis di:
Kalimongso

0 komentar:

Posting Komentar