Setelah mendengar sabda raja semua penghuni singgasana menjadi menjadi gelisah tak karuan. Semua takut kekacauan akan segera menimpa dunia dan seisinya. Kekhawatiran mereka bukan tanpa alasan, pengalaman lah yang membuat mereka berbuat demikian. Jauh sebelum saat itu telah terjadi hal yang mengerikan mereka, ciptaan saat itu merusak segala-gala dan saling bunuh-membunuh. Mereka pun sangat berduka melihat kejadiannya. Dan pada akhirnya sang raja mengutus mereka untuk mengirimkan serangan api dari langit, sehingga luluk-lantaklah semua ciptaan terdahulu itu.
Sekarang kejadian itu akan terulang kembali, sehingga gundah gulana hati mereka. Beramai-ramai mereka menuju balairung istana untuk menghadap sang raja. Mereka ingin menyampaikan persoalannya. Semua dari mereka tidak menyetujui pembuatan ciptaan baru, yang menurut pikir mereka nantinya akan merusak dunia seisinya. Sementara sang raja tetaplah raja-diraja, tentu saja sebenarnya ia telah mengetahui persoalan hambanya berikut solusinya, bahkan ia telah mengagendakan keluh-kesah itu dalam daftar kegiatannya. Dengan tenang dan tersenyum sang raja pun memulai sabdanya:
“Duhai Para prajuritku, Kalian adalah para pemujiku, para pemuji kesucianku, sehingga Kalian amat kukasihi. Di pagi yang indah dengan siraman sinar mentari ini, ada maksud apakah Kalian menghadap ke singgasanaku ini?”
“Wahai Junjunganku, raja dari segala raja, maafkanlah kelancangan hambamu ini. Barangkali ini karena kukurangtahuan hamba. Hamba telah mendengar perihal ciptaan baru yang akan Paduka utus untuk memimpin dunia, kenapa Paduka? Bukankah kami senantiasa memuji dan mensucikan Paduka?”
“Para prajuritku, kalian hanya tidak mengetahui apa yang telah aku ketahui.”
Para prajurit hanya tertunduk. Sementara sang raja memanggil ciptaan barunya, dan mengajarkan kepadanya nama-nama seluruhnya. Kemudian kepada para prajurit, sang raja meminta untuk menyebutkan nama-nama itu. Mereka hanya diam, kemudian serentak mereka menjawab, “kami memuji kesucianmu duhai Raja, tidak ada yang kami ketahui selain yang telah Paduka ajarkan kepada kami.” Ketika tiba giliran ciptaan baru itu menyebutkan nama-nama, maka diberitahukanlah kepada para prajurit nama-nama itu.
*
Itulah sepenggal kisah tentang raja yang mengutus prajuritnya untuk menyebutkan nama-nama, tetapi tak satupun dapat disebutkannya. Kemudian kepada ciptaan barunya, sang raja mengutusnya dengan perintah yang sama, maka disebutkanlah nama-nama itu seluruhnya. Begitu pentingkah nama sehingga raja memerintahkan untuk menyebutkannya? Itulah yang akan menjadi tema tulisan ini, tentang arti penting nama dalam tatanan hidup manusia.
Saya adalah termasuk salah seorang yang sangat mengakui arti penting nama dalam kehidupan manusia. Kita tahu Adam di awal penciptaannya diperintahkan Tuhan untuk menyebutkan nama-nama yang saat itu malaikat-malaikat pun belum mengetahuinya. Nama dalam bahasa arab adalah “ismun”. “ismun” sendiri juga berarti kata benda, ini menunjukkan nama merujuk pada sebutan khusus pada benda-benda, termasuk di dalamnya manusia, hewan, tumbuhan, dan benda-benda yang lain. Barangkali saya akan mengkhususkan tulisan ini untuk nama-nama manusia.
Arti penting nama dalam sejarah hidup
Kita pasti dapat mengakui bahwa nama mempunyai arti penting dalam pergaulan hidup. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya andai saja semua manusia tidak memiliki nama? Tentu akan terjadi kekacauan dalam pergaulan. Hal ini menunjukkan arti penting nama dalam mewarnai sejarah hidup manusia. Kita pada akirnya juga dapat mengetahui setiap jengkal dari sejarah hidup manusia tersebut berkat adanya nama-nama.
Kemudian jika diamati semua benda pun memiliki nama yang berbeda-beda pula. Hal ini dikarenakan benda-benda tersebut memiliki perbedaan karakteristik, perbedaan fungsi, juga perbedaan tempat dan waktunya. Maka demikian juga halnya dengan manusia, ia juga memiliki nama-nama yang berbeda karena setiap manusia memang berbeda, baik dari segi karakternya, fungsinya, juga tempat dan waktunya. Hal ini juga mengandung pelajaran bahwa setiap manusia sepatutnya tidak perlu menuntut dirinya untuk sama dengan orang lain, karena pada dasarnya ia memang berbeda. Oleh karena itu, seorang manusia sempurna ialah ketika ia telah mengetahui dan menjadi dirinya sendiri.
Nama sebagai sarana mengenal diri sendiri
Sebagian besar orang tua mengakui bahwa nama merupakan doa, akan tetapi jarang orang tua yang menyadarinya. Akibatnya dalam memberikan nama kepada anak-anaknya, seringkali mereka hanya terfokus pada keindahannya sebagai nama, bukan sebagai doa. Tentu saja ini merupakan haknya, dan tidak pada tempatnya jika saya ikut mencampurinya. Saya hanya ingin berkomentar, maka jangan salahkan ketika anak tersebut tumbuh sesuai karakter nama yang disandangnya.
Terkait nama adalah doa, yang dapat dijadikan renungan ialah bahwasanya seseorang akan terus disebut-sebut dengan doa yang menjadi namanya itu sepanjang hidupnya. Hal inilah yang akan menjadikannya tumbuh menjadi pribadi sesuai dengan namanya, dalam segi karakter, fungsi atau yang lain. Kemudian implikasi inipun juga akan berlaku sebaliknya, ketika seorang manusia ingin mengenal pribadinya, dapat ia kenali pula dari namanya. Maka seorang manusia yang ingin mengenali dirinya, paling tidak ia harus kenali dulu namanya.
Sebagai contoh, ketika nama saya Saifuddin, maka beberapa hal yang paling tidak akan melekat pada diri saya. Saifuddin yang berarti pedang agama, membuat pribadi saya sedikit banyak seperti pedang juga: cenderung diam (tenang), terkadang menyilaukan, tetapi bisa juga menggores, menusuk atau yang lain. Namun sebilah pedang dapat juga hilang ketajamannya atau bahkan berkarat, maka ia butuh senantiasa diasah dan diasah. Itulah yang tentunya masih banyak lagi makna Saifuddin baik dari segi struktur kata, bahasa atau yang lain yang tidak saya sebutkan di sini.
Bicara nama yang berkaitan dengan doa terkadang juga tidak terkait dengan maknanya. Karena bisa jadi yang menjadi sandaran dari doanya adalah unsur ketokohan dari pemilik nama tersebut. Maka penting juga untuk mengetahui latar belakang pemberian nama tersebut.
Kemudian barangkali akan timbul juga pertanyaan: bukankah seharusnya yang harus kita percayai adalah Tuhan yang maha kuasa, kenapa masih juga percaya dengan nama? Bagi saya, tidak ada salahnya percaya (yakin) dengan nama atau juga perhitungan-perhitungan lain sekalipun, toh kita mempunyai alasan-alasannya seperti yang telah saya uraikan di atas. Yang paling penting adalah ketika keyakinan tersebut berkaitan (berhubungan) dengan keyakinan kita kepada Tuhan, maka keyakinan kepada Tuhan tersebut harus diletakkan di atas segala-galanya.
Antara nama dan sebutan (panggilan)
Walaupun saya percaya bahwa nama memiliki arti penting dalam diri pribadi saya, terkait soal sebutan (panggilan) saya termasuk yang membebaskan panggilan apapun untuk diri saya. Saya akan selalu berlatih menerima panggilan apapun bahkan yang paling jelek sekalipun, dan lebih dari itu juga akan berlatih untuk tidak pernah membenci si pemanggil tersebut apapun alasannya.
Beberapa alasan yang mendasari pemikiran saya akan hal ini. Pertama, saya lebih mendasarkan sesuatu pada isi, bukan wujudnya. Ketika saya memiliki nama, maka nama tersebut telah melekat pada hati dan pikiran saya, maka menjadi tidak penting lagi panggilan untuknya. Bukankah bunga mawar atau melati akan tetap wangi, sekalipun tidak bernama mawar atau melati? Kedua, kalaupun panggilan itu menyakitkan, telah menjadi tekad saya untuk berlatih ketulusan. Yang salah satunya cirinya, saya akan berlatih untuk direndahkan, diremehkan, disakiti tanpa sedikitpun mengurangi kasih sayang terhadap semua manusia.
Pondok Aren
21 Nopember 2011
13:36
Tulisan ini di-post-kan juga di:

0 komentar:
Posting Komentar