Jalanan yang mengapung di belantara Papua,
memanggil nama bocah muda kelana.
Ia berjasmani papa, berohani sahaya,
tak berdaya melawan kalam semesta.
Sepenggal jenggala mengisahkan ahwal:
semak-semak beradu janggal,
dedaunan menanti tanggal.
Kesendirian dan rindu pun manunggal,
di perantauan berlatih lantip paningal.
Oh.. betapa jembar bumiku, alangkah luhur langitku.
Berlandaskan tanah hitam di atas kayu gaharu,
Sang Cenderawasih menyaksikan pengembara kalbu:
pada terang ia berguru, dalam gelap mereka menyatu.
-Sam Palgunadi-
Ambon, 23 Mei 2017

0 komentar:
Posting Komentar