Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Selasa, 19 Juli 2022

Tanah Hitam


Jalanan yang mengapung di belantara Papua,
memanggil nama bocah muda kelana.
Ia berjasmani papa, berohani sahaya,
tak berdaya melawan kalam semesta.

Sepenggal jenggala mengisahkan ahwal:
semak-semak beradu janggal,
dedaunan menanti tanggal.
Kesendirian dan rindu pun manunggal,
di perantauan berlatih lantip paningal.

Oh.. betapa jembar bumiku, alangkah luhur langitku.
Berlandaskan tanah hitam di atas kayu gaharu,
Sang Cenderawasih menyaksikan pengembara kalbu:
pada terang ia berguru, dalam gelap mereka menyatu.

-Sam Palgunadi-
Ambon, 23 Mei 2017

0 komentar:

Posting Komentar