Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Sabtu, 28 Mei 2022

Diamku dan Diammu


Rembulan malam kemarin
dengan semburat cahayanya,
mendiamkanku pada diammu,
termenung di alam lain sana.

Aku tak ingat permulaan jumpa
tau-tau engkau telah menjelma:
hangat nyala api, rumah di sanubari.
Lalu pulang kepada tujuan abadi.

Oh.. begitu cepat perjalanan:
pagi menggapai singgasana siang,
sore memunguti serpihan senja,
malam memunggungi bentala fana.

Lalu bagaimana aku selanjutnya?
Terutama saat sepi: hati tak pernah selesai.
Lalu bagaimana aku tanpamu?
Seperti saat kalbu, terus menggemakan rindu.

Doa mungkin hanya seucap kata,
kini menjelma satu-satunya
jembatan penghubung kita,
mengharap bahgiamu di liang pusara.

-Sam Palgunadi-
Pati, 24 November 2021

0 komentar:

Posting Komentar