Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Senin, 19 Desember 2011

Surat Pertama (1)

Oleh: Saifuddin Du

Aku telah lama duduk di samping gerbang asrama siang itu. Belasan santri putri berlalu lalang melewati pintu gerbang, yang biasanya selalu menarik perhatianku, tak lagi menjadi minatku. Aku terus melihat ke arah kamar garage up: tak seorang pun nampak di sana. Rachmad baru saja menghilang di balik pintu kamar itu, ia membangunkan Qurmo yang sedang terlelap tidur di dalamnya. Aku sendiri ragu Qurmo akan bangun atau tidak, kalau sudah tidur dia kaku seperti orang mati. Perihal tingkah Qurmo yang satu ini aku menjadi teringat tokoh Kumbakarna di cerita Ramayana, seribu raksasa yang menginjak-injaknya tak dapat sedikitpun mengusik tidurnya.

Angin siang kala itu lari dengan begitu kencang, menampar-nampar pucuk pepohonan yang tinggi menjulang. Debu-debu jalanan ikut juga mengamuk, berterbangan di udara meyerbu bunga-bunga di taman Alhusna. Bunga-bunga pun menjadi kehilangan pesona, namun tetap bahgia oleh lebah yang setia mendengungkan syair-syair berirama cinta. Dan juga kupu-kupu yang dengan gagah membentangkan indah sayapnya di hadapan sang bunga. Betapa mereka membuatku iri saja, karena telah mempunyai tempat menambatkan rasa.

“Saip, ayo berangkat!” ajak Rachmad sambil berjalan sedikit tergesa.

Sesuai perkiraanku Qurmo memang tidak ikut bimbingan belajar sore itu. Ia sedang pulas oleh tidur dan mimpinya. Aku pun bergegas jalan bersama Rachmad. Aku dibuat tersenyum saat sekilas melihat raut wajahnya. Kataku dalam hati, “wajah yang cemberut itu pasti karena si Qurmo, yang marah-marah gak jelas saat dibangunkan, hehe.”

Sudah jam dua lebih sepuluh menit. Aku dan Rachmad terus melangkahkan kaki. Begitu keluar dari gerbang asrama, kami langsung dihadapkan dengan jalan utama pesantren yang menyusur sungai Rejoso. Tetapi itu tidak lama, karena hanya beberapa langkah setelahnya kami langsung belok melewati jalan tikus, jalur pintas menuju gedung SMA satu, tempat bimbingan belajar santrigama dilakukan. Ia terletak tepat di belakang  kantor pusat pesantren.

“Sudah telat kayaknya, Ip,” kata Rachmad ketika telah sampai di depan ruang kelas.

“Gak apa-apa, Mad, kan sudah biasa,” jawabku.

Rachmad hanya tersenyum, kemudian berjalan memasuki ruangan, aku mengikuti di belakangnya. Seorang guru sedang menerangkan pelajaran kimia saat itu. Kami berdua mengambil tempat di bangku pojok kanan paling depan. Selain kami berdua hanya ada tiga orang santri putra lainnya. Sedangkan jumlah santri putri yang hadir adalah lebih dari tiga kali jumlah santri putra.

Saat mengikuti pelajaran, otakku rasanya enggan mencerna materi yang disampaikan. Pikiranku saat itu melayang-layang ke negeri antah-brantah. Tiba-tiba aku teringat kembali lebah dan kupu-kupu saat di taman Alhusna tadi, berandai-andai menjadi mereka yang telah memiliki tambatan hati. Kemudian aku bandingkan keduanya:

Jika lebah menarik hati sang bunga dengan keindahan dengung syairnya, maka kupu-kupu adalah sosok yang menarik hati bunga dengan indah tubuh dan tampangnya. Lebah mendekati bunga tidak semata-mata ingin menikmati manis madunya, karena madu yang didapat kemudian ia pesembahkan kepada cinta satu-satunya, ialah untuk sang ratu lebah saja. Kesempurnaan hidup sang lebah adalah ketika ia telah mendapatkan cinta dari sang ratu itu. Sedangkan kupu-kupu mempunyai tujuan yang berbeda. Ia sosok yang tidak pernah puas berapapun bunga yang telah dapat ia nikmati manis madunya.

“Ah, seperti lebah atau kupu-kupukah aku ini?” kataku dalam hati. “Aku tidak bisa bernyanyi indah laksana lebah, juga tak punya wajah tampan seperti kupu-kupu yang menawan. Siapa juga yang akan tertarik padaku?” Aku menjadi larut dan bahkan mengkerut oleh angan-anganku sendiri. “Ah, tetapi aku yakin mempunyai kesetiaan hati yang tidak dimiliki semua laki-laki,” tambahku membesarkan diri.

Tak terasa pelajaran sore itu berakhir juga, barangkali karena anganku sesaat tadi yang dalam dan terlampau lama. Aku dan Rachmad segera keluar ruangan dan bergegas pulang. Ketika melewati pintu, aku sempat menoleh dan tak sengaja melihat senyuman manis seorang putri bak bidadari ke arahku. Karena malu, aku pun dibuatnya tertunduk dan segera melanjutkan langkah. Beberapa saat kemudian terdengar suara memanggil-manggilku.

“Ip-Saip, tunggu!”

“Apa, Pip?” jawabku. Ternyata yang memanggilku adalah Apip, teman sekelasku.

“Ini ada titipan untukmu,” kata Apip sambil menyodorkan sebuah lipatan kertas ke hadapanku.

“Opo iki, Pip? Teko sopo?”

“Udah, baca saja. Jangan lupa dibales!”

Sambil berjalan aku terus termenung. Bagaimanapun aku dibuat tergetar oleh lipatan surat yang baru saja diberikan Apip. Itu surat yang pertama kali kuterima selama lebih dari dari dua tahun di pesantren, bahkan sepanjang umurku sampai saat itu. Karena penasaran, di tengah perjalanan aku buka lipatan surat itu, untuk sekedar mengetahui siapa penulisnya. Tidak kutemukan nama pengirim di sana. “Ah, siapa juga penulis surat ini? Kenapa ia tak sebutkan nama?”

Angin senja yang berhembus semilir kala itu tak terasa menyegarkan. Hiruk-pikuk santri yang berjalan pulang sama sekali tak menjadi perhatian. Awan-awan yang menghampar di angkasa raya juga tak menarik penglihatan. Segalanya terasa sedang mengarahkan mata ke arah senyuman yang mengesankan. Senyuman putri bak bidadari yang turun bersama pelangi sereda hujan. Inikah jawaban atas lamunan panjangku sesaat tadi oh, Tuhan?

“Surat dari siapa, Ip?” tanya Rachmad yang sejak tadi memperhatikan tingkahku.

Aku hanya diam, bingung antara cerita atau tidak sama dia.

“Sekarang ada yang perhatian sama kamu juga rupanya, hehe. Dari siapa, Ip?” lanjut Rachmad.

“Gak disebutkan namanya, Mad. Tapi aku rasa tau orangnya.” Jawabku sambil mengingat-ingat seorang putri dengan senyumnya yang manis seperti peri.

“Siapa?”

“Rasa-rasanya si Dinda.”

“Ah, masa. Gak percaya aku, Ip. Setauku dia itu banyak yang suka, masa dia sekarang nyurati kamu.”

“Ah, anjing,” kataku dalam hati. Aku seketika itu menyesal telah bercerita sama Rachmad. Pada mulanya, secara perlahan aku sudah mulai meyakini surat itu dari Dinda. Tetapi kata-kata Rachmad membuat bangunan keyakinanku luluh lantak, yang tersisa tinggal puing-puing penasaran dan keraguan. Surat yang pertama kali kuterima ini dengan cepatnya mengusik ketenanganku. “Sosok seperti apakah yang telah mengirimkannya? Seorang putrikah? Ataukah bidadari? Atau jangan-jangan justru aku sendiri yang tak tau diri?” Pertanyaan-pertanyaan itu mengantarkan aku kembali pulang ke bilik kamar asramaku.

::BERSAMBUNG ke Surat Pertama (2)::



Pondok Aren
19 Desember 2011

0 komentar:

Posting Komentar