Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Kamis, 10 Mei 2012

Di Atas Pusara

Aku tulis ini  untuk mengenang seorang teman yang telah lebih dulu berpulang,
Abdullah Faqih (Mbah).


Belum sempurna malam melukis gelap.
Suara di kejauhan datang mengusik.
Melontar seuntai khabar.
Sungguh pahit melilit menghimpit.

Kapala tak henti-henti kenangkan kisah:
Derai canda, semangat juang, luapan keluh.
Yang dahulu telah tergoreskan.
Bersanding rajutan mimpi untuk hari depan.

Engkau telah berpulang, teman.
Terlampau cepat rasanya.
Belum lagi aku sempat bersua.
Kita teguk secangkir kopi berdua.

Kamis, 26 April 2012

Derap Langkah


Dalam derap langkah.
Ketika tinggal seutas asa tersisa dalam jiwa yang lelah.
Ingatlah,
langit selalu bentangkan sejuta anugrah.

Rabu, 04 April 2012

Rizal dan Maling (3)


Bel berbunyi dua kali saat pagi menjelang siang adalah tanda yang menyenangkan bagi santri, menandakan waktu istirahat pertama dimulai. Termasuk juga di sekolah Rizal, SMA II Nurul Huda itu juga memiliki tanda istirahat yang sama dengan sekolah-sekolah setingkat SMA lain, yang juga berada di lingkungan pesantren. Saat istirahat pertama itu, bagi Rizal dan sebagian besar teman-temannya adalah saat untuk sarapan pagi. Serangkaian kegiatan pagi di pesantren memang cenderung tidak memberi cukup waktu bagi mereka untuk sarapan, sehingga mereka harus melakukannya sekitar jam sepuluh siang. Di saat seperti itu mereka langsung menuju kantin pesantren, yang letaknya tak jauh dari sekolah.

Rizal dan Maling (2)


Kurang lebih jam sembilan malam, ketika ustaz Irfan menutup ngajinya. Secara bergantian santri-santri menyalami dan menciumi tangan sang guru. Bagi santri, ketika ia menimba ilmu mencintai guru adalah yang paling utama, baru kemudian mencintai ilmunya, dan mencintai tempat atau almamaternya.

Usai mengaji, santri-santri tampak senang. Bagaimanapun itu adalah saat di mana mereka dapat melepas penat setelah beraktivitas seharian. Sejak kumandang azan subuh semua santri At-Taqwa setiap harinya selalu sibuk dengan berbagai aktivitas. Dan usai mengaji itu, adalah saat yang bebas bagi mereka, tentunya dengan mengingat aturan dan norma pesantren yang ada. Di antara para santri ada yang muthola’ah pelajaran, mengerjakan tugas sekolah, bercengkerama, pergi ke warung, dan ada yang langsung tidur juga.

Rizal dan Maling (1)


Matahari mulai meredupkan cahayanya di ufuk barat. Sebelum benar-benar tenggelam, sebentar-sebentar ia masih sempatkan mengintip bumi dari kejauhan, mengamat-amati tingkah polah manusia menjelang petang. Ia ingin pastikan masih adakah jiwa-jiwa bermunajat mensucikan Dzat Sang Pencipta? Adakah bibir-bibir basah karena mengagungkan dan memuji nama-Nya? Adakah jeritan-jeritan istigfar dari insan-insan penghuni semesta yang penuh dosa? Dan matahari pun tersenyum bahagia, ketika mendapatinya pada santri-santri asrama At-Taqwa pondok pesantren Nurul Huda.

Minggu, 11 Maret 2012

Aku Bukan Aku



Dalam malam sebelum penghabisan.
Tinggal aku, cicak, nyamuk, kecoak, laba-laba.

Jumat, 09 Maret 2012

Mendaki Gunung Kehidupan


Oleh: Saifuddin Du

Aku sudah memikirkannya masak-masak, pelan-pelan ia telah dapat kuterima sepenuhnya. Bukan sebuah kebetulan, tetapi memang karena telah ada sekenario yang pasti. Aku pun mulai meyakini tak ada satu kejadian pun di jagad raya ini tanpa campur tangannya. Betul adalah benar, maka kebetulan sama halnya dengan kebenaran. Sekarang aku mencoba untuk menuliskannya, untuk sedapatnya memetakan isi dalam kepalaku. Memang tak akan pernah ada rumusan yang pasti, tapi paling tidak menulis itu untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang, yang hanya lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran, yang menyapa di lembutnya perasaan, yang kemudian secara perlahan membentuk suatu keyakinan. 

Paling tidak itulah bunyi gejolak hatiku sebelum mulai menulis catatan ini. Catatan ini sendiri berawal dari sebuah testimoni