Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Rabu, 04 April 2012

Rizal dan Maling (1)


Matahari mulai meredupkan cahayanya di ufuk barat. Sebelum benar-benar tenggelam, sebentar-sebentar ia masih sempatkan mengintip bumi dari kejauhan, mengamat-amati tingkah polah manusia menjelang petang. Ia ingin pastikan masih adakah jiwa-jiwa bermunajat mensucikan Dzat Sang Pencipta? Adakah bibir-bibir basah karena mengagungkan dan memuji nama-Nya? Adakah jeritan-jeritan istigfar dari insan-insan penghuni semesta yang penuh dosa? Dan matahari pun tersenyum bahagia, ketika mendapatinya pada santri-santri asrama At-Taqwa pondok pesantren Nurul Huda.

Sore menjelang magrib itu, santri-santri asrama At-Taqwa sedang asyik dengan aktivitasnya. Setelah seharian disibukkan dengan kegiatan sekolah, santri-santri tampak masih bersemangat. Sebagian dari mereka berada di musala asrama: tadarus Al Quran, menyapu musala, ada juga yang sekedar duduk-duduk melepas lelah dan bercanda. Adapun sebagian yang lainsedang berada di kamar atau antri mandi. Saat kumandang azan magrib, semua santri bergegas menuju musala untuk melaksanakan salat jamaah, dan kemudian mengaji Al Quran bersama.

Salah satu di antara dua ratusan santri putra di asrama itu, ialah Rizal. Ia sangat dikenal oleh semua santri asrama At-Taqwa. Pembawaannya yang tenang, tegas dan berwibawa membuat ia dipercaya menjabat sebagai ketua pengurus asrama. Malam itu, setelah berjamaah magrib dengan Kiai Ali, Rizal memimpin santri mengaji Al Quran bersama. Ia dengan seksama membaca kitab suci ayat demi ayatnya, berupaya melafalkan sesuai tajwid dan makhorijul hurufnya.

“Mas Rizal,” tiba-tiba salah seorang adik kelas memanggil dan menepuk bahunya.

“Ada apa?” sahut Rizal.

Sampean dipanggil sama Mbah, ditunggu di kamar lima.”

Rizal menganggukkan kepala. “Ada apa lagi ini?” pikirnya.

Mbah sendiri merupakan nama panggilan untuk Kholiq, teman seangkatan Rizal. Meskipun tidak termasuk dalam jajaran kepengurusan, di asrama ia termasuk salah satu santri yang mempunyai pengaruh besar. Rizal dan teman-teman santri lain menganggapnya sesepuh. Ia begitu berkarisma dan disegani, juga sering kali turut serta menyelesaikan persoalan-persoalan asrama yang terjadi. Oleh karena itulah, Rizal segera bisa menebak apa yang akan dibicarakan Mbah. Tidak mungkin Mbah memanggilnya di tengah-tengah kegiatan wajib santri, kecuali ada hal penting.

Rizal berjalan menuju kamar lima. Dalam perjalanan, ia dengarkan lantunan bacaan Al Quran santri-santri di musala yang menggema. “Sungguh menentramkan lantunan bacaan ini,” katanya dalam hati. “Barangkali suasana seperti inilah yang akan kurindukan sekeluar dari pesantren ini nanti,” lanjut suara hati Rizal yang tiba-tiba menyadari ia sudah kelas akhir. Rizal terus berjalan, ditemani semilir angin yang berhembus dari pepohonan, juga daun-daun yang melayang-layang berguguran di halaman.

“Ada apa, Mbah?” tanya Rizal sesampainya di kamar lima. Ia dan Mbah duduk berhadapan, tak ada orang lain selain mereka.

Mbah mengambil nafas panjang. Guratan-guratan di keningnya nampak jelas, menandakan ia sedang berpikir keras. Dia memang salah seorang santri pemikir.

“Ada masalah lagi, Mbah?” Rizal kembali bertanya.

“Si Kacung, Zal, teman kita. Dia kehilangan uangnya, ATM miliknya juga amblas.”

Kali ini Rizal yang bernafas panjang. Apa yang disampaikan Mbah sesuai dengan perkiraannya. Dalam seminggu belakangan ini, di asrama At-Taqwa memang sarat dengan kasus kehilangan. As’ad dan Ibnu adalah santri-santri yang sebelumnya memiliki persoalan sama. Belum juga masalah mereka terpecahkan, kini ditambah lagi dengan masalah Kacung.

“Lalu bagaimana, Mbah? Apa kita kumpulkan lagi semua santri seperti kemarin lusa? Kita interogasi mereka satu per satu,” Rizal mengajukan usul.

Mbah hanya diam.

“Atau sudah saatnya kita kita melapor ke Kiai Ali? Biar aku nanti meminta pembina asrama kita, Kang Irsyad, menyampaikannya pada beliau,” Rizal melanjutkan.

“Belum, Zal, sebaiknya jangan dulu. Kita upayakan mencari pelakunya sendiri sekali lagi.”

Rizal dan Mbah diam, keduanya saling berpandangan. Sorotan mata keduanya mengisyaratkan saling paham. Kedua santri ini berpikir layaknya orang berumur. Sebagai santri yang berpengaruh, mereka memang kerap kali memikirkan persoalan asrama dan santri-santri lain. Mulai dari memikirkan santri yang sering bolos sekolah, jarang mengikuti salat jamaah dan mengaji, sampai mencari solusi menghadapi wali santri yang marah-marah, bahkan tidak jarang mereka juga menangani persoalan maling. Selain itu, mereka mengadakan dan merancang berbagai acara, baik di dalam atau di luar pesantren. Mereka menghadapi banyak santri yang berbeda daerah, latar beakang dan kebiasaan. Karena alasan itu, tidak berlebihan rasanya pesantren disebut sebagai “miniatur kehidupan nyata”. Rizal dan Mbah mengerti akan hal itu, dan itu pulalah yangmemberi kekuatan pada mereka untuk selalu bersyukur dan bersabar – sebuah proses yang mendewasakan.

Allahuakbar-Allahuakbar,” kumandang azan Isya memecah suasana. Rizal dan Mbah segera mengerti apa yang harus dikerjakan.

“Kita lanjutkan setelah mengaji saja, Mbah. Di warung kopi Mak Tus,” kata Rizal.

Mbah mengiyakan.“Oiya, nanti ajak Rozikin dan Yusuf juga, Zal,” kata Mbah kemudian.

::Bersambung Ke: Rizal dan Maling (2)::


Saifuddin Du
Pondok Aren 15/03/2012
Sumber Gambar

0 komentar:

Posting Komentar