Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Rabu, 04 April 2012

Rizal dan Maling (2)


Kurang lebih jam sembilan malam, ketika ustaz Irfan menutup ngajinya. Secara bergantian santri-santri menyalami dan menciumi tangan sang guru. Bagi santri, ketika ia menimba ilmu mencintai guru adalah yang paling utama, baru kemudian mencintai ilmunya, dan mencintai tempat atau almamaternya.

Usai mengaji, santri-santri tampak senang. Bagaimanapun itu adalah saat di mana mereka dapat melepas penat setelah beraktivitas seharian. Sejak kumandang azan subuh semua santri At-Taqwa setiap harinya selalu sibuk dengan berbagai aktivitas. Dan usai mengaji itu, adalah saat yang bebas bagi mereka, tentunya dengan mengingat aturan dan norma pesantren yang ada. Di antara para santri ada yang muthola’ah pelajaran, mengerjakan tugas sekolah, bercengkerama, pergi ke warung, dan ada yang langsung tidur juga.

Barangkali tinggal Rizal yang kelihatan murung malam itu. Ia duduk di teras musala menunggu teman-temannya. Belasan santri yang lewat di depannya dan menyapa cukup ia jawab dengan anggukan kepala, tak membuahkan minatnya untuk bicara. Hanya persoalan asrama yang menjadi perhatiannya, membuat otaknya menerawang ke segala penjuru semesta. Bulan dan bintang di ketinggian langit hitam hanya bersembunyi di balik awan. Kelembutan cahayanya tak mampu menjangkau di kedalaman pikiran, menjadi pudar cahaya itu oleh seonggok kabut kegelisahan. Begitupun pohon-pohon di taman yang hanya tertunduk segan, karena malu tak bisa sumbangkan buah pikiran.

“Heh, ngelamun aja kamu, Zal!” tegur sapa Rozikin membuyarkan pergulatan hati Rizal. Rozikin datang berbarengan dengan Yusuf.

“Ah kamu, Kin,” jawab Rizal sembari tersenyum. “Mana Mbah Kholiq?”

“Dia bilang akan menyusul, masih ada keperluan. Ayo, kita berangkat dulu saja!” kali ini Yusuf yang menjawab.

Mereka bertiga berjalan menuju warung kopi Mak Tus. Mbah dan Yusuf selain teman seangkatan Rizal adalah juga pengurus asrama. Tentu agenda ngopi malam itu tak seperti biasa, tetapi membicarakan persoalan pesantren juga. Ah, apa pula yang tidak dibicarakan di di warung kopi itu. Segala topik mulai dari politik, agama, sekolah, cinta, semua dibicarakan di sana. Tak heran banyak santri menjadikannya sebagai sumber berita, selain sebagai sarana untuk silaturahmi dan melepas penat tentunya.

Sesampainya di warung mereka langsung memilih tempat lesehan yang agak jauh, supaya tak ada orang lain mendengar pembicaraannya. Mereka memesan empat kopi hitam dan mengambil sebungkus rokok Djarum Super. Yang belakang ini untuk santri asrama At-Taqwa hanya boleh dilakukan di warung atau luar pesantren. Sementara di dalam asrama merokok termasuk larangan. Karena menunggu Mbah yang tidak kunjung datang, mereka mengobrol kesana-kemari.

“Zal, gimana ini ceritanya? Katanya tidak lama kamu mendapat surat dari Annisa ya?” Yusuf angkat bicara.

Seketika air muka Rizal berubah, tak menyangka berita perihal surat dari Annisa sudah menyebar pada teman-temannya. Ia menghisap rokoknya cepat. Mendengar nama Annisa telah membuatnya tersipu, hatinya dag-dig-dug tak menentu. Untuk sementara Rizal dapat melupakan persoalan asrama, dan menggantinya dengan sosok indah gadis yang dipuja.

“Iya ini, Zal. Bilang apa si Annisa sama kamu? Jangan-jangan surat tagihan utang lagi, haha,” kali ini Rozikin yang menggoda Rizal sambil tertawa-tawa.

“Ah, sialan kalian!” jawab Rizal menyerah, diikuti tawa senang teman-temannya.

Rizal di kalangan teman-teman laki-lakinya boleh jadi singa, tapi kalau sudah bicara perempuan dia tak berdaya. Sampai kelas tiga SMA di pesantren, dia baru pertama mendapat surat dari lawan jenis, dari Annisa itu. Bukan karena ia tak punya daya tarik, tampangnya boleh dibilang lumayan, ia juga termasuk santri berprestasi dan terpandang. Tetapi karena sifatnya yang pasif dan pendiam, membuat santri-santri purti menjadi sungkan. Sampai akhirnya ada nama Annisa, salah seorang santri putri asrama At-Taqwa yang pertama berani menyuratinya. Oleh karena ketidakberanian Rizal menghadapi perempuan itu, sering membuatnya dijadikan bahan tertawaan teman-temannya.

Akan tetapi, bagaimanapun Rizal adalah santri yang berkarakter. Berhubungan dengan lawan jenis (pacaran) adalah termasuk yang dilarang di pesantren. Terlebih Kiai Ali, guru yang sangat dihormatinya, juga melarang hal itu. Sehingga tak ada pilihan lain bagi Rizal selain taat. Dia telah bertekad tak akan melakukannya selama di pesantren. Meskipun, usianya yang remaja seringkali menggoda juga.

“Heh, ngomongin apa kalian?” terdengar suara dari belakang Rizal. Ternyata Mbah, suasana yang gelap membuat mereka tak bisa mengenali siapa yang datang.

“Itu Mbah, yang barusan dapat surat cinta,” sahut Yusuf.

“Mmm. Dari gadis rabun itu?” jawab Mbah sambil menyulut sebatang Djarum, ekspresinya datar. “Yang bener saja, masak gadis secantik itu nyurati anak ingusan seperti ini. Pasti ada yang salah sama dia,” lanjut Mbah.

Semuanya tertawa lepas. Kecuali Rizal, yang harus kembali menelan ludah. Tak menyangka Mbah ikut mengejeknya juga. Ia hanya diam, di otaknya sedang tak ada bahan untuk membalas teman-temannya. Bercanda seperti itu memang bagian dari kehidupan mereka, tentu dengan memandang etika dan rasa lawan bicara. Itu pula yang membuat mereka kian akrab seperti saudara.

“Bagaimana, Mbah? Sudah punya ide?” Rizal memulai bicara soal asrama.

Semua terdiam. Rozikin dan Yusuf yang juga telah mengetahui persoalan segera sadar itu bukan saatnya untuk guyonan.

“Aku punya pikiran begini, Zal, bagaimana nanti menurut kalian?” kata Mbah mengusulkan. “Menurut pengakuan semua yang kehilangan, kejadiannya terjadi siang hari, saat santri-santri bersekolah. Pada hari yang bersangkutan, kang Irsyad mengatakan tak ada santri berada di asrama. Jadi, kemungkinannya kecil kalau pelakunya orang dalam. Terus, semua kejadian juga berjalan mulus, tak ada seorang santri pun mencurigai atau memergoki pelaku. Aku berkeyakinan entah besok atau lusa si maling itu akan kembali.

Rizal dan kedua temannya tampak mengangguk-angguk.

“Lalu bagaimana, Mbah?” kata Rozikin menimpali.

“Ini butuh kesediaan kalian. Aku berpikir kita harus bagi tugas ronda sampai beberapa hari ke depan. Pastinya pada saat ronda itu kita tidak bisa masuk sekolah. Kita awasi asrama kita bergiliran dengan sembunyi-sembunyi. Kalau ada yang mencurigakan, kita ikuti. Usahakan kita memergoki si pelaku saat menjalankan aksinya. Bagaimana?”

Keempat santri saling pandang.

“Aku setuju, Mbah,” Rizal menyanggupi.“Menurutku, kita bagi tugasnya dua orang-dua orang saja. Aku dengan Yusuf, dan kemudian Mbah dengan Rozikin. Bagaimana menurut kalian berdua?” lanjut Rizal sembari menanyakan kesediaan Rozikin dan Yusuf.

Rozikan dan Yusuf menyetujui. Mereka sepakat akan mulai beraksi besok. Hari pertama yang bertugas adalah Mbah danRozikin, kemudian hari setelahnya Rizal dan Yusuf, begitu seterusnya. Setelah pembagian tugas itu suasana menjadi cair kembali,mereka berbicara dan bercanda seperti sebelumnya.

Kehidupan adalah kehidupan ketika ia berjalan dan tetap berjalan. Derai tawa adalah hanya satu bagian, di mana bagian lainnya akan terisi oleh isak tangis kesedihan. Selalu ada keduanya, karena seperti itulah romantika. Tak pernah ada rumusan pasti, tetapi dengan tidak larut dalam keduanya, akan menggiring manusia melakukan langkah-langkah yang berarti. Itulah yang juga dilakukan Rizal dan ketiga temannya. Mereka menyadari kesenangan pun bisa juga adalah penyebab kesedihan, yaitu ketika larut dan lalu bergantung kepadanya. Maka ketika jam sebelas malam tiba, pesantren dan diri mereka sendiri mewajibkan mereka kembali, ke kamar asrama masing-masing yang sunyi. 


::Bersambung Ke: Rizal dan Maling (3)::


Saifuddin Du
Pondok Aren 15/03/2012
Sumber Gambar

0 komentar:

Posting Komentar