Bel berbunyi dua kali saat pagi menjelang siang adalah tanda yang menyenangkan bagi santri, menandakan waktu istirahat pertama dimulai. Termasuk juga di sekolah Rizal, SMA II Nurul Huda itu juga memiliki tanda istirahat yang sama dengan sekolah-sekolah setingkat SMA lain, yang juga berada di lingkungan pesantren. Saat istirahat pertama itu, bagi Rizal dan sebagian besar teman-temannya adalah saat untuk sarapan pagi. Serangkaian kegiatan pagi di pesantren memang cenderung tidak memberi cukup waktu bagi mereka untuk sarapan, sehingga mereka harus melakukannya sekitar jam sepuluh siang. Di saat seperti itu mereka langsung menuju kantin pesantren, yang letaknya tak jauh dari sekolah.
Rizal pun berjalan keluar dari gerbang sekolah bersama teman-temannya. Ia berniat usai sarapan akan menghampiri asramanya lebih dulu, untuk menengok perjuangan teman-temannya yang sedang beronda. “Siapa tahu ada perkembangan yang berarti,” pikirnya.
Sementara di tempat lain, tepatnya di depan Universitas Pesantren Tinggi Nurul Huda, Rozikin sedang duduk sendirian. Sebentar-sebentar ia menolehkan mukanya ke kanan, tampak ia sedang menanti seseorang. Sebuah senyuman tersungging di wajahnya, ketika ia melihat segerombolan santri keluar dari SMA II Nurul Huda. Ia memang sedang menunggui Rizal, yang setiap jam istirahat selalu keluar dari sekolahnya untuk sarapan. Rozikin mengamati satu per satu santri yang lewat di depannya.
“Lagi nungguin siapa, Kin?” tanya Rizal.
Rozikin tergelagap, tak mengira orang yang dicarinya telah berada di sampingnnya.
“Gimana, ada perkembangan?” tanya Rizal lagi.
“Justru karena itu aku di sini, Zal. Malingnya udah tertangkap, aku dan Mbah memergokinya ketika ia sedang menggeledah salah satu lemari di kamar tiga. Sekarang si maling itu sedang disidang oleh Mbah, Yusuf dan beberapa teman lain,” jawab Rozikin.
Rizal membatalkan niatnya untuk makan dan langsung berjalan menuju asrama. Dalam perjalanan Rozikin menceritakan kepadanya bahwa si maling adalah anak kampung (sebutan untuk anak sekitar pesantren yang tidak mondok) yang memang sering main ke asrama. Si maling itu sendiri adalah siswa salah satu SMA di luar pesantren. Rizal sudah tak sabar ingin melihat maling itu, meski tak tahu pasti juga apa yang akan diperbuatnya.
Sesampainya di asrama Rizal langsung menuju kamar tiga, tempat si maling dan teman-teman santri lain berada. Tapi belum sampai masuk kamar, Mbah dan Yusuf keluar menemuinya lebih dulu, untuk membicarakan apa yang akan dilakukan.
“Jadi apa yang akan kita lakukan, Mbah?” tanya Rizal.
“Begini, Zal, kamu nanti yang menyidang si maling. Upayakan ia mengakui semua jumlah uang yang dicurinya. Karena dari tadi ia hanya mengaku mencuri senilai 600 ribu, yang diambilnya dari lemari Ibnu. Terus ada yang lain yang harus dilakukan juga, harus ada yang mencari pinjaman kamera digital dan melapor ke polisi.”
“Melapor ke polisi, Mbah?” tanya Rizal kaget. Baru pertama kalinya ia menangani kasus dengan melibatkan polisi.
“Iya, Zal,” Mbah menerangkan. “Kalau dihitung-hitung, jumlah uang teman kita yang hilang hampir mencapai 1,5 juta. Aku yakin semua uang itu si maling itu pencurinya.”
Rizal masih tampak ragu. Alasannya cuma satu, ia tak berpengalaman menghadapi aparat itu.
“Baiklah,” akhirnya Rizal menyetujui.“Kalau begitu kamu yang meminjam kamera ke Kang Irsyad, Suf! Dan kamu yang melapor ke polisi, Kin ya?”
Rozikin dan Yusuf mengangguk, kemudian pergi menjalankan tugasnya. Sementara Rizal dan Mbah sendiri langsung masuk kamar.
Di dalam kamar tiga sudah ada lima santri At-Taqwa yang lain, duduk melingkari si maling. Ketika melihat si maling Rizal shock, ternyata wajah maling itu telah babak belur dipukuli teman-temannya. Rasa kemanusiaannya merasa tak tega. “Uh, memang sulit membuat teman-teman tak main hakim sendiri,” pikirnya. Tapi dengan cepat ia dapat kembali menguasai diri. Tak lama, Yusuf pun datang. Ketika melihat Rizal ia mengangguk, menandakan ia telah dapatkan kamera digital yang diinginkan.
Rizal pun mulai menyidang. Awalnya si maling benar-benar tak mau mengakui perbuatannya. Tetapi kemudian Rizal meminta dan memeriksa tas si maling. Ternyata ATM si Kacung ada di dalamnya,terbungkus tujuh lembar uang 50 ribuan. Karena kesal, hampir saja teman-teman Rizal memukuli maling itu, tetapi segera dicegah oleh Rizal. Setelah kejadian itu, di hadapan kamera si maling mengaku telah mengambil uang sejumlah 1,45 juta dari lemari milik As’ad, Ibnu dan Kacung, juga selembar kartu ATM atas nama Kacung Muhammad Wasi’an.
“Kenapa kau mencuri?” tanya Rizal.
Si maling hanya menunduk, tak menjawab.
“Heh, dengar pertanyaanku nggak? Kenapa mencuri?” kali ini Rizal membentak.
“Ibuku, Mas. Ibuku punya banyak kebutuhan yang harus dipenuhi.”
Mendengar itu Mbah naik pitam. Ia melompat ke depan, berdiri tepat di hadapan si maling. Ia seret maling itu, dan menyuruhnya berdiri. Wajah Mbah tampak akan menelan mentah-mentah maling itu. Tak seorang pun dapat mencegah Mbah, termasuk Rizal.
“Kalau kau memang jantan, ayo sekarang satu lawan satu sama aku!” tantang Mbah. “Kalau mau mencuri, mencuri saja! Dan tanggung resikonya sendiri! Jangan pernah kau bawa-bawa nama ibumu! Kurang ajar! Ayo satu lawan satu sama aku!”
Si maling hanya tertunduk diam. Sementara Mbah terus memberondongnya dengan pertanyaan dan umpatan. Ia ambil posisi akan memukulnya. Tapi beruntung, polisi duluan datang dan mencegahnya. “Ah Mbah, dibalik kerasnya sifatmu, mulia juga hatimu,” pikir Rizal. “Kemuliaan itu tampak dari caramu memuliakan ibu. Bagaimanapun, tak ada seorang ibu pun di jagad ini menginginkan anaknya menjadi maling. Kasih sayangnya sepanjang jalan, selain itu ibu adalah juga sekolah, dan ibu adalah sekolah pertama kehidupan manusia.”
Pak polisi akhirnya membawa maling itu ke kantornya, semua barang yang berkenaan dengan kasus dibawanya serta. Mbah dan Rozikin ikut ke kantor polisi menjadi saksi. Sedangkan Rizal, karena jabatannya, diminta menemani mereka. Dalam perjalanan Rizalterdiam merenung. Satu sisi ia lega karena telah berhasil menangkap maling yang selama ini meresahkan teman-temannya. Tetapi di sisi lain ia minder bercampur kawatir. Apa yang akan didapatkannya di kantor polisi nanti? Apa tanggung jawabnya dan teman-teman atas si maling yang telah babak belur? Bagaimana pula ia akan menerangkan kejadian itu pada gurunya, kiai Ali? Pertanyaan demi pertanyaan terus-menerus bergejolak dalam batinnya.
::SELESAI::
Saifuddin Du
Pondok Aren 15/03/2012
Sumber Gambar
Sumber Gambar


0 komentar:
Posting Komentar