Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Sabtu, 14 Januari 2017

Secangkir Kopi #4

Dulu waktu ziarah Wali Songo, aku mampir di sebuah bengkel di daerah Kabupaten Kendal. Niat awalnya mau service motor butut yang udah menemani perjalanan ratusan kilometer di sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Tapi, hari yang masih terlalu pagi membuatku menunggu Mekanik yang belum datang waktu itu.

Ketika aku bongkar-bongkar koran, terdapat tulisan yang menarik dari salah seorang budayawan: Prie GS. Aku lupa nama penerbit dan judul tulisannya, tapi isinya masih kuingat betul tentang Ilmu Sublimasi. Aku juga lupa tanggal korannya berapa, yang kuingat hanya saat aku menempuh perjalanan Wali Songo adalah pada awal bulan Februari 2013.

Menariknya Ilmu Sublimasi yang aku dapatkan waktu itu terkait dengan rasa lelahku melakoni perjalanan panjang. Bahwasanya tidak ada sebuah kebaikan pun yang kita lakukan tanpa kita akan merasakan manfaatnya di kemudian hari kelak. Seperti sebuah kapur barus, yang kita diamkan pada lemari atau ruangan tertentu. Lama-lama kapur barus tersebut akan habis. Tapi benarkah kapur barus tersebut benar-benar habis, atau hanya berubah wujud?

Peristiwa tersebut dapat dijelaskan dengan Ilmu Sublimasi, yaitu berubahnya wujud suatu zat dari padat menjadi gas. Kapur barus sejatinya tidak habis, hanya menyublim menjadi zat yang lebih halus. Pada saatnya gas kapur barus tersebut akan memberikan manfaatnya, bahkan bisa jadi manfaatnya yang sebenar-benarnya adalah saat ia sudah menjadi gas, yaitu saat ia memberikan wewangian pada isi lemari atau ruangan tertentu.

Hal ini mengandung makna bahwa zat atau energi apapun yang kita gunakan sejatinya tidak hilang atau habis sia-sia. Ia hanya berubah wujud menjadi zat atau energi yang lebih halus, yang pada saatnya dapat kita rasakan manfaat atau balasannya. Kalau zat atau energi kita gunakan untuk niat kebaikan, pada saatnya manfaat kebaikan pula yang kita rasakan. Sebaliknya, kalau kita gunakan untuk niat keburukan, pada saatnya balasan keburukan pula yang kita dapatkan.

Dalam kehidupan keagamaan contoh yang punya kaitan erat dengan esensi ilmu ini adalah zakat dan sedekah, dimana bagi kita yang meyakininya uang atau barang yang kita keluarkan sejatinya tidak habis, hanya berubah wujud. Suatu saat nanti kita akan bisa merasakan manfaat dari apa yang telah kita keluarkan, bisa ketika berada di dunia atau di akhirat kelak. Dalam terminologi yang lain kegiatan ini disebut dengan upaya kita me-ruh-kan atau men-cahaya-kan yang asalnya cuma jasad dengan tujuan supaya ia dapat digunakan sebagai bekal untuk menghadap Ruh atau Cahaya yang sejati.

Menurut hematku, seluruh aktivitas kita dalam kehidupan sehari-hari sejatinya sejalan dengan pengamalan ilmu ini. Tergantung kesadaran kita bagaimana menanggapinya. Dalam hal kebaikan tidak terbatas pada zakat, tetapi sholat, puasa, dzikir, berbuat baik kepada sesama, melakoni tirakat tertentu dan seluruh kebaikan-kebaikan lainnya akan berbuah manis pada saatnya. Ketika buah itu di dunia tidak dapat dirasakan oleh orang yang bersangkutan, ia kelak akan dinikmati oleh anak-anaknya. Seperti nasihat orang tua: "Berbuat baiklah pada sesama, Nak! Seseorang yang berbuat baik pada sesama itu, biasanya akan berbuah kenikmatan bagi anak-anaknya."

Wa Allahu A'lam bi as-Showaf


Waihaong
15 Januari 2017

0 komentar:

Posting Komentar