Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Selasa, 10 Januari 2017

Secangkir Kopi #3

Mengingat ini postingan yang ke-76 aku ingin membahas sisi romantisme, peran religiusitas dan nilai magisitas nomor sakral tersebut dalam kehidupanku. Angka 76 aku temukan dalam banyak hal, kejadian dan pengalaman yang menyebabkan ia punya makna yang mendalam. Hal tersebut termasuk yang menjadi alasanku menggunakannya sebagai nama domain blog yang aku kelola ini.

76 Adalah Gabungan Tanggal dan Bulan Lahirku

Hal ini adalah dasar, asal-usul, titik tolak yang membuat 76 berarti dalam hidupku. Aku tidak memilihnya, tapi Gusti Allah yang menakdirkannya untukku. Bagi orang lain mungkin hal ini biasa saja, tapi aku percaya selalu ada makna di balik peristiwa, di balik simbol-simbol, di balik angka-angka yang terkandung di dalamnya. Segala hal, kejadian dan pengalaman akan berlalu begitu saja dan sia-sia tanpa kita memaknainya.

76 Sebagai Simbol Ilmul Hudlur

Ilmul hudlur merupakan cabang ilmu tauhid yang mengajarkan tata-cara menangkap kehadiran Gusti Allah dalam kehidupan sehari-hari. Gusti Allah tidak dapat dilihat Dzat-Nya, tapi bisa dirasakan kehadiran-Nya melalui ciptaan-Nya, melalui peristiwa alam, ataupun simbol-simbol. Bukti keabsahan simbol sebagai tanda kehadiran-Nya dapat kita lihat dari "Hajar Aswad" di baitullah Makkah. Ketika manusia berebut menciumnya bukan berarti mereka menuhankannya, tetapi atas dasar keyakinan bahwa Dia ber-tajalli pada ciptaan-Nya tersebut.

Setelah mendapatkan ilmu tersebut, berdasarkan perenungan yang panjang dan berbagai pertimbangan, aku memutuskan menggunakan 76 sebagai simbol kehadiran Gusti Allah dalam keseharianku. Dengan demikian, saat melihat angka tersebut aku menuntut diriku untuk menyadari bahwa Dia itu dekat, bersamaku atau sedang menyapaku. Aku menyadari sering melupakan-Nya, maka aku menjadikan ilmul hudlur sebagai sarana untuk berdzikir mengingat-Nya.

Intensitas Pengalaman Rasaku dengan 76

Mengamalkan ilmul hudlur membuatku memiliki kemesraan tersendiri dengan angka 76. Atas izin-Nya aku menjadi sangat sering menemukan/melihatnya dalam keseharianku, muncul di saat-saat yang tidak terduga, bahkan menjadi bagian dari diriku sendiri. Hal tersebut antara lain aku alami sebagai berikut:

  1. Aku sering sekali menemukan angka 76 di plat nomor kendaraan. Waktu bertugas di Jayapura malah angkutan umum di daerah Padang Bulan s.d. Kotaraja rata-rata memiliki plat nomor berawalan 76, maka aku berkeyakinan salah satu hikmah penempatanku di sana adalah aku menjadi semakin dekat dengan-Nya.
  2. Angka 76 sering sekali muncul tidak terduga, seperti: a) saat download video terus aku tinggal tidur, bangun-bangun persentase downloadnya 76,xx%; b) saat touring aku pingin lihat sedang berada di wilayah mana, waktu menemukan papan nama yang ada alamatnya tampak nomornya 76; c) saat lihat jam di arloji, HP atau laptop seringkali menunjukkan deretan angka 76; dan d) masih banyak lagi yang lainnya.
  3. Angka 76 setidaknya dua kali menjadi bagian dari diriku sendiri, antara lain: a) nomor sepatuku istiqomah di angka 42 yang salah satunya dihasilkan dari perkalian angka 7 dan 6; dan b) mesikupun kini sudah naik namun berat badanku pernah cukup lama bertahan di angka 67 yang merupakan kebalikan dari angka 76.

Dari contoh-contoh di atas, mungkin ada kesan mengada-ada atau asal menghubungkan. Apapun itu, bagiku tidak masalah karena sejatinya yang dituju adalah kesadaran akan kehadiran Gusti Allah. Kombinasi angka 76 semata-mata adalah jalan (washilah), sama sekali bukan tujuan (ghoyah).

Dengan demikian, kemesraanku dengan angka 76 di atas mengandung sisi romantisme yang tercermin pada ihwal Gusti Allah hakikatnya selalu ada untukku, menyapa pada saat-saat yang terduga, menolong pada saat-saat dibutuhkan. Di dalamnya terdapat juga peran religiusitas yang dapat diukur dari meningkatnya kadar keimanan karena menyaksikan (ber-syahadah) kehadiran Gusti Allah. Dari padanya tercermin pula nilai magisitas yang mana hanya dapat dirasakan oleh jiwa-jiwa perindu yang berjumpa dengan-Nya dalam sebuah kesaksian. Wa Allahu A'lam bis-Showaf


Waihaong
11 Januari 2017

0 komentar:

Posting Komentar