Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Minggu, 08 Januari 2017

Secangkir Kopi #2

Baru-baru ini aku memposting doa-doa yang pernah kutulis. Masih terdapat beberapa yang mungkin akan kuposting juga dalam waktu dekat. Aku tidak terlalu ingin menonjolkan isi/muatan doanya karena beberapa diantaranya memiliki kata-kata yang mirip - hanya berbeda kegiatan atau audiens barangkali. Aku lebih tertarik membahas frekuensi aku membawakannya pada berbagai acara kantor.

Entahlah, membawakan doa menjadi pekerjaan sampinganku sejak berkantor di Jayapura dulu, baik kegiatan kantor, luar kantor, maupun beberapa diklat. Kini, pekerjaan sampinganku itupun berlanjut di kantor baruku: KPP Pratama Ambon. Sudah bawaan lahir barangkali. Dulu waktu kecil s.d. muda aku pernah ditunjuk sebagai pembaca doa, bahkan pernah diminta membawakan doa untuk kegiatan lamaran salah seorang tetanggaku.

Pertama-tama, aku semogakan hal tersebut bermakna anugerah ilmu yang bermanfaat dari Gusti Allah kepadaku. Waktu nyantri dulu, aku diajarkan doa dan tata caranya. Setidaknya dengan adanya permintaan membawakan doa, aku bisa mengamalkan ilmu yang aku peroleh di bangku pesantren dulu. Kata Pak Kiai, "Santri yang bermanfaat itu, dimana-mana dibutuhkan orang, dimana-mana dicari orang, dimana-mana disenangi orang."

Kedua kalinya, mari mengingat arti penting doa dalam kehidupan ini. Minimal doa itu akan berfungsi sebagai harapan, yang kemudian menerbitkan semangat juang, yang nantinya bermanifestasi menjadi ruh kehidupan itu sendiri. Di samping itu, sebisa mungkin doa dapat menjadi sarana yang menghubungkan upaya manusia dengan kehendak Tuhan. Hal tersebut dapat diupayakan dengan senantiasa menghadirkan atau melibatkan Gusti Allah pada setiap urusan yang kita hadapi. Dengan demikian, Gusti Allah akan mencampuri dan menata setiap urusan kita dengan jawaban dan tatanan yang terbaik dan terindah.

Ketiga kalinya, marilah kita saling mendoakan. Karena keutamaan doa adalah mendoakan kebaikan untuk sesama. Aku percaya manusia bisa punya ikatan batin yang kuat dengan saling mendoakan, seperti doa ibu kepada anak, kiai kepada santri, dan lain sebagainya. Marilah dungo-dinungo, semoga doaku, doamu dan doa kita bertemu di arsy Sang Pencipta. Amiin ya Robbal 'Alamiin


Waihaong
09 Januari 2017

0 komentar:

Posting Komentar