Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Minggu, 03 Oktober 2021

Secangkir Kopi #5


Setelah sekian lama istirahat dari kata-kata, atau lebih tepatnya istirahat nge-blog, catatan ini mungkin akan menjadi postingan pertamaku di Padepokan Santri 76 ini sejak Desember 2017. Semoga aku diizinkan Gusti Allah untuk merampungkan dan bisa konsisten menulis ke depannya.


Oiya, saat catatan ini kubuat, aku sudah tiga tahun kurang enam hari tinggal di kota Pati. Aku menyebutnya kota "Pantura Satu". Tentu saja, kota "Pantura Satu" adalah seri lanjutan dari kota "Matahari Terbit" dan kota "Waktu Dhuha" yang pemaknaan akannya sudah kutuangkan dalam kolom "Secangkir Kopi" postingan-postingan sebelumnya. Aku memilih nama "Pantura Satu" karena dalam bayangan perasaan batinku (di dalamnya mungkin juga tersemat harapan dan doa), di masa-masa mendatang aku merasa akan meninggali kota "Pantura Dua", "Pantura Tiga" dan seterusnya. Seingatku karena itu saja sih, mungkin kurang mungkin juga lebih. 


Kolom “Secangkir Kopi” dari awalnya bertujuan mendokumentasikan pengalaman-pengalaman hidup yang menurutku bermakna, yang bisa kuingat-ingat dan kurenungkan sembari minum secangkir kopi. Karena imajinasiku sudah lama kering, aku akan memulai dari yang peristiwanya masih aku ingat jelas.


Sekitar tahun 2011, aku mudik dari Jakarta ke kampung kelahiran lewat jalur selatan. Dengan kereta api Matarmaja waktu itu. Entah masih beroperasi atau tidak kereta itu saat ini. Biasanya dengan kereta itu aku akan turun di stasiun Kertosono, kemudian ikut kereta api Dhoho sampai di stasiun Jombang untuk transit di kota santri itu sehari atau dua hari.


Dalam perjalanan di kereta, ada seseorang yang kurasa sering mengamatiku. Tempat duduknya seingatku terpaut lima atau enam bangku dari tempat dudukku. Di kereta api Matarmaja tempat duduknya berhadap-hadapan dan sudut pandangnya memang memungkinkan beliau untuk terus mengamatiku. Waktu itu, beliau yang sekarang aku sudah lupa nama dan wajahnya akan pulang ke rumahnya di daerah Kediri bersama istri dan anaknya.


Setelah beberapa saat berselang, beliau kemudian pindah ke tempat duduk di depanku yang kebetulan kosong meningkalkan istri dan anaknya. Kami pun kemudian mengobrol ngalor-ngidul


Beliau menceritakan masa mudanya yang berambut gondrong dan “nakal terhadap diri sendiri, tapi tidak nakal terhadap orang lain”. Terkait rambutnya yang gondrong itu, beliau bersikukuh tidak mau dipotong sampai-sampai orang tuanya me-nyowan-kan beliau ke salah seorang kiai di daerah Kediri.


“Anakmu ini hanya akan mau dipotong rambutnya oleh Bapak Fulan (aku juga lupa namanya) di Banyuwangi,” kira-kira begitulah dawuh Pak Kiai kepada orang tua beliau, yang kemudian Pak Kiai memerintahkan beliau melalui orang tuanya untuk mencari Bapak Fulan itu dengan dibekali selembar kain surban.


Kemudian beliau menunaikan perintah Pak Kiai tersebut dengan bekal uang tabungan miliknya, selembar kain surban, nama guru yang dicari (Bapak Fulan) dan “Banyuwangi” sebagai satu-satunya alamat yang diberikan oleh Pak Kiai.


Beliau pun menelusuri kota Banyuwangi. Ketika uang tabungannya habis, beliau akan ikut pedagang kaki lima untuk membantunya berjualan. Di situ biasanya beliau akan mendapatkan makan dan uang jajan. Beliau pun menabungkan uang jajannya sampai dirasa cukup, kemudian berpamitan untuk melanjutkan pencariannya. Ketika uang bekalnya habis lagi, beliau akan ikut pedagang kaki lima lainnya dan membantunya berjualan sampai bekalnya dirasa cukup untuk melanjutkan pencarian lagi. Berulang seperti itu terus-menerus. Terkait poin ini, sebenarnya aku pernah berniat akan napak tilas lelaku beliau, tetapi tidak kesampaian, hehe.


Saat itu beliau tidak menceritakan berapa lama menjalani kehidupan seperti itu, dan berapa jumlah pedagang kaki lima yang telah diikuti. Yang aku ingat, pedagang kaki lima terakhir yang beliau ikuti adalah Penjual Soto. Sekali waktu, Penjual Soto itu kena gusur yang mengharuskannya pindah ke tempat lain. Setelah mencari-cari tempat, Penjual Soto itupun mendapatkan izin untuk berjualan di halaman rumah seseorang.


Setelah sekian waktu berjalan, ternyata pemilik rumah yang memberikan izin untuk berjualan itulah Bapak Fulan yang beliau cari-cari selama ini. Suatu kebetulan yang menggembirakan.


Setelah menunjukkan selembar sorban dari Pak Kiai, beliau pun diajak oleh Bapak Fulan ke tempat semacam padepokan. Di tempat itu, beliau tidak diajari mengaji, tidak dijari ilmu kanuragan, tapi tugas pertama beliau adalah angon kerbau. Beliau menggambarkan betapa sulitnya angon kerbau pada saat pertama-tama itu. Kerbau itu ditarik-tarik, dipecut pakai alat apapun tetap sangat sulit untuk sekedar digerakkan, apalagi untuk diarahkan ke tempat tertertu. Setelah sekian lama menekuni tugas itu, beliau pun dinyatakan lulus, ditandai dengan kerbau yang sudah mau menuruti beliau: kerbau hanya cukup dilepaskan kemudian mengikuti kemanapun beliau berjalan, hanya cukup di-pukpuk punggungnya untuk membuatnya mau berendam di kali, dan lain-lain.


Beliau pun menerima tugas kedua dari Bapak Fulan gurunya, untuk mengajarkan anak-anak kecil mengaji alif-ba-ta. Iya, di tempat semacam padepokan itu setiap sore terdapat anak-anak belajar mengaji, dan beliau yang sedari kecil dibesarkan di tengah keluarga yang cukup agamis tentu saja bisa mengaji. Beliau menggambarkan bagaimana sulitnya mengajarkan alif-ba-ta kepada anak-anak. Menghadapi ketidaktahuan dan “kenakalan” mereka membutuhkan tenaga dan kesabaran yang sangat ekstra. Dan setelah sekian lama, beliaupun dinyatakan lulus oleh gurunya.


Kemudian, tugas ketiga yang beliau terima adalah “topo mateni wit gedang (bertapa untuk mematikan pohon pisang)”. Tugas ini seperti mustahil, tapi memang seperti itu yang beliau ceritakan. Beliau diperintahkan untuk duduk bersila di bawah pohon pisang dengan mata terpejam. Beliau dibekali dengan karak (nasi yang telah dikeringkan) yang hanya boleh beliau makan tiga buah ketika sudah benar-benar lapar. Tidak diceritakan dengan jelas disini apakah yang beliau baca, dan ketika sudah masuk waktunya apakah boleh menjalankan sholat atau tidak. Yang jelas tugas ini baru akan berakhir ketika beliau sudah dibangunkan/disadarkan oleh gurunya. Dan benarlah ketika beliau dibangunkan, tampak pohon pisang yang menaungi pertapaannya itu telah kering daun dan batangnya. Beliau pun dinyatakan lulus dan di titik ini beliau dipotong rambutnya oleh sang guru.


Begitulah, setelah menjalani proses yang amat sangat panjang itu, barulah beliau diajari oleh gurunya ilmu kanuragan dan ilmu hikmah. Hal tersebut menunjukkan bahwa untuk sekedar bisa mempelajari sesuatu saja membutuhkan perjalanan dan proses yang sangat panjang, apalagi untuk bisa mencapai sesuatu yang dicita-citakan. Akan tetapi, entah kenapa begitu banyak orang yang menginginkan sesuatu yang instan. Padahal belum tentu orang-orang tersebut secara rohaniah, mental dan kejiwaan siap untuk menerima sesuatu yang diinginkannya itu. Akibatnya, yang mereka dapatkan bukan kebahagiaan hakiki, tetapi justru keresahan, kegelisahan, bahkan kehancuran batin dam jiwanya.


Sebagai salah satu cerminan riil yang tentu saja bisa diluaskan ke bidang kehidupan yang lain, adalah kondisi baru-baru ini dimana terjadi begitu banyak anak muda yang belum-belum sudah diajari ilmu bela diri, silat dan segala macam ilmu kanuragan lainnnya. Padahal belum tentu anak muda itu secara mental dan psikologis siap untuk menerima ilmu-ilmu itu. Akibatnya ada banyak sekali kasus tawuran, perusakan dan kerusuhan yang melibatkan anak-anak muda penganut perguruan silat. Padahal aku yakin sejatinya para pendiri perguruan-perguruan silat itu tidak ingin ilmunya digunakan untuk merusak, tapi justru ingin ilmunya bisa memberi kemanfaatan minimal buat pengamalnya sendiri dan sebisa mungkin buat lingkungan sekitarnya.


Oiya, di akhir pertemuan dengan beliau di Matarmaja itu, sebenarnya beliau menawariku untuk ikut dengan beliau ke Kediri untuk belajar ilmu kanuragan. Aku yang waktu itu masih kuliah dengan penuh keraguan belum mengiyakannya. Harapanku suatu saat masih diberi kesempatan berjumpa dengan beliau lagi. Semoga beliau dan keluarga dimanapun berada dalam keadaan sehat dan senantiasa dalam perlindungan Gusti Allah. Aamiin.



Rendole, 03 Oktober 2021

0 komentar:

Posting Komentar