Oleh: Saifuddin Du
Sepenggal Kisah ini merupakan kelanjutan dari kisah sebelumnya: Surat Pertama (1)
Detik demi detik mengiringkan perjalanan waktu menuju malam. Setelah matahari tenggelam, kabut hitam menyebar menggantikan cerahnya awan-awan, menyemburkan kegelapan ke angkasa secara perlahan. Sementara di atas gedung akper pesantren Jombang, burung Cirak dengan lincah beterbangan. Bersuara berat menggeram, membuat anak-anak kecil lari ketakutan. Ketika itu angin malam berhembus dengan kencang, menggerak-gerakkan tujuh pohon tinggi di taman. Daun-daun pun gugur berserakan, menunggui para santri esok pagi menyapu halaman.
Malam itu telah jam setengah dua, aku masih juga tak bisa memejamkan mata. Kalau biasanya aku terjaga karena memikirkan segala persoalan asrama, saat itu ia sama sekali tak terlintas di kepala. Kalau terkadang aku melek-an untuk mempersiapkan lomba matematika, saat itu bukanlah saat lomba itu ada. Yang terjadi padaku memang tidaklah biasa, tak lain karena belum lama aku mendapatkan surat dari seorang wanita untuk pertama kalinya.
Malam itu telah jam setengah dua, aku masih juga tak bisa memejamkan mata. Kalau biasanya aku terjaga karena memikirkan segala persoalan asrama, saat itu ia sama sekali tak terlintas di kepala. Kalau terkadang aku melek-an untuk mempersiapkan lomba matematika, saat itu bukanlah saat lomba itu ada. Yang terjadi padaku memang tidaklah biasa, tak lain karena belum lama aku mendapatkan surat dari seorang wanita untuk pertama kalinya.
Iya, memang surat yang aku terima sore tadilah yang telah menyita perhatianku, memaksa otakku untuk tetap dan selalu memikirkannya, bahkan sampai dini hari tiba. Aku masih mengingat ketika Apip tiba-tiba memanggilku sepulang les tepat, ia lalu menyodorkan tangannya kepadaku dengan sepucuk surat. Aku pun masih mengingat perkataan si Rachmat sore tadi yang menghujat, membuat tarikan nafasku terasa berat.
Ada baiknya, akan aku ceritakan terlebih dulu aktivitasku dari awal mula malam tiba. Sebagai salah seorang santri Alhusna, usai maghrib aku harus mengaji Al-Qur’an bersama di musholla, berlatih secara tartil membaca ayat demi ayatnya, mengerti setiap tajwid dan makhorijul huruf-nya. Tak lupa juga aku dan semua santri bersama-sama melantunkan asmaul-husna, sehingga indah suaranya menggema menyejukkan dada. Sementara setelah isya para santri diharuskan mengaji kitab kuning, untuk kira-kira sejam lamanya berkelompok sesuai tinggatan kelas masing-masing.
Selesai dengan semua kegiatan itu, di kamar lima shop-up aku kemudian duduk termenung, bertemankan rasa penasaran yang semakin menggunung. Sepucuk surat yang kudapatkan sore tadi langsung kugapai, untuk kemudian membacanya berulang kali. Karena merasa bingung dan ragu, aku kemudian memerlukan konsultasi dengan beberapa temanku. Arfad, Dauz, Ndoli dan Juki sekonyong-konyong menertawakanku, mereka tampak begitu senang melihatku yang masih lugu. “Tak apalah,” pikirku. “Bagaimanapun semua manusia pada mulanya adalah seorang anak yang peniru, namun pada saatnya ia bisa menjadi besar dan dewasa oleh waktu.”
Oleh saran teman-temanku, aku diharuskan membalas surat itu. Mereka bilang ini adalah kesempatanku untuk mulai mengenal dunia baru, dunia perempuan yang penuh dengan liku, apalagi untukku yang selama ini tak laku-laku. Dan memang itulah yang kulakukan kemudian: menulis sebuah surat balasan. Dengan melalui perjuangan yang berat dan panjang, melalui lembar demi lembar coretan yang kurusak sendiri dengan tanda silang, akhirnya rumusan surat itu dapat juga kuselesaikan. Aku pun lalu dengan hati-hati menyalinnya, menuliskannya di kertas putih bak mutiara. Dan setelah semua itu aku tak lagi kuasa berbuat apa-apa, hingga dini hari pelan-pelan menyapa.
Saat malam menjelang pagi itu datang, angin dengan semilir menerjang pucuk-pucuk pepohonan, mengalir secara perlahan ke kulitku hingga menusuk ke tulang. Dan aku kembali terbayang senyum indah bak berlian. Senyum yang tak sengaja aku pandang sesaat sebelum kuterima sepucuk surat di tangan. Masih dapat kuingat bibir mungilnya yang menawan, juga wajah cantiknya yang menggoda angan. “Ah, alangkah indahnya, mungkinkah dia si penulis surat pertama?”
Memang demikianlah adanya. Meski anganku telah terbang melintasi hamparan luas angkasa raya, telah berenang hingga menjangkau dalamnya samudera, tapi perihal siapakah penulis surat pertama, masih belum kutau juga. Dan tidak dapat kusangkal bahwa kuharap dia adalah Dinda.
Di penghujung aku terjaga, aku sempatkan mengambil lagi surat dan membukanya. Sekilas aku perhatikan ia: kertasnya putih dan tampak jelas bekas-bekas lipatannya. Sementara goresan-goresan tinta hitam menghias dari sudut ke sudut di permukaannya. Aku perlukan sejenak mengamati tulisannya, secara keseluruhan ia nampak rapi dan tertata. Terdapat juga lafadz salam bertuliskan huruf arab di bagian atasnya. Sebagai seorang santri yang banyak menggeluti huruf-huruf hijaiyah, aku dapat menilai lafadz itu tertulis cukup indah. Kemudian untuk kesekian kali, aku membaca bagian lagi isi. Demikian surat itu berbunyi:
[To: Saip] Di pagi yang cerah, burung prenjak bernyanyi dengan indah, mengiringkan tetes demi tetes embun sampai ke bumi hingga basah. Begitu indah nyanyian burung itu, iramanya senafas dengan desis daun-daun pohon bambu, nadanya serasi dengan kokok ayam bersuara merdu. Sementara itu semilir angin berhembus mengisi suasana pagi, mengiringi tarian jari-jemari tuliskan pembuka surat dengan pasti. Tingkah alam pagi itu perlahan memberi ketenangan di dalam hati, setenang kamu dalam membawa diri, yang untukmu kutuliskan sepucuk surat ini.
Apa kabar, Saip? Semoga kamu baik-baik saja. Aku sengaja mengawali surat ini dengan nyanyian burung prenjak di pagi hari. Orang-orang tua bilang, ketika burung prenjak bercericau indah di depan rumah, itu berarti ia sedang membawakan pesan bagi penghuninya, yang mengabarkan tentang adanya seseorang akan berkujung padanya. Aku pun ingin burung prenjak di sini mengicaukan yang sama, sebagai pengantar surat ini sampai di tanganmu dengan segera. Gambaran keindahan yang terlukis melalui suasana pagi, aku harapkan juga tersunting di wajahmu saat membaca surat ini.
Saip, pastinya kamu akan bertanya apa gerangan maksudku mengirimkan sepucuk surat untukmu? Aku memang sengaja mengirimnya, Saip. Hatiku yang telah menggerakkan tangan dan jemariku untuk melakukannya. Di waktu-waktu les santrigama, aku perhatikan kamu sebagai sosok yang berbeda. Kamu orangnya cool dan sangat pendiam, tingkahmu juga terkesan tenang. Yang juga membuat aku heran, kamu itu menyukai matematika yang menakutkan. Hehe, pelajaran itu kan banyak dibenci para siswa, termasuk aku pula. Iya, itulah, Saip. Itu cukup menjadi alasan bagiku untuk ingin lebih mengenalmu. Sebagai gambaran yang melukiskan keinginanku untuk memiliki teman sepertimu.
Tidak banyak yang bisa kutuliskan, Saip. Aku pun sengaja tidak menyebutkan namaku di sini. Aku belum siap. Aku masih ragu kamu akan menanggapi atau tidak suratku ini, mengingat pribadimu yang pendiam itu. Tetapi aku harap kamu sudi menjawab keraguanku. Tolong surat ini dibales ya. Besok pas les, kamu bisa menitipkannya ke salah seorang temenmu.
Oh iya, aku juga mohon sama kamu. Perihal suratku ini tolong jangan diceritakan siapa-siapa. Nanti aku bisa TB (Tekanan Batin loo, bukan Telur Bulet, hehe). Sudah dulu ya, salam kenal dariku. :-) [ttd]
Aku dibuat senyum-senyum sendiri oleh isi surat itu. Senyuman indah Dinda kemudian benar-benar datang padaku. Ia mengejar-ngejarku, di ruang gelap ia menemukan dan menghampiriku, dan dengan lembutnya membisikkan kata-kata cinta di kupingku. Belum puas dengan itu, ia pun memegang erat tanganku sehingga terasa bergetar kalbu. Ia membelai rambutku dengan tangan lembutnya yang syahdu. Ia mencium keningku dengan bibir mungilnya yang dibiarkan membisu. Ia lalu memeluk tubuhku dengan begitu hangat tanpa nafsu. Dan . . . “Plak-plak-plak,” tiba-tiba tangan kasar Qurmo menjamah pipiku, membuyarkan segala mimpi indah bersama putri ayu. “Tangi-tangi, Ip. Subuh-subuh,” kata Qurmo dengan kaku. Dan dalam hati aku berkata, “Asu!” Aku pun tak menyangka surat pertama membawa Dinda sampai ke tidurku.
::SELESAI::
Baca juga kisah sebelumnya: Surat Pertama (1)
Sumber Gambar: Di sini
Pondok Aren
10 Desember 2012 09:25


0 komentar:
Posting Komentar