Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Minggu, 08 Januari 2017

Doa Pagi | Kanwil DJP Papua dan Maluku

Ya Allah...
Wahai Dzat Penguasa alam semesta.
Sesungguhnya setiap langkah yang dijejakkan dalam kebaikan adalah anjuran-Mu.
Sesungguhnya gagasan untuk bekerja atas dasar kesalehan adalah perintah-Mu.
Maka, Engkaulah yang sesungguhnya menuntun langkah kami untuk bekerja di Kantor Wilayah DJP Papua & Maluku ini.

Secangkir Kopi #1

Aku sudah lama ingin menulis. Tapi tidak tahu apa mesti aku tuangkan pada selembar kertasku yang sudah usang - penuh dengan coretan-coretan tak berarti. Harus kuakui kini aku tidak bisa menulis seperti dulu lagi. Iya, mungkin dulu belum dapat disebut "bisa" dan kini aku semakin kehilangannya. Catatan ini mungkin sekedar sebagai tombo kangen saja lah, juga pengingat lupa barangkali. Karena aku merasa sudah sangat banyak yang aku lalui beberapa tahun belakangan ini yang tidak terdokumentasi sama sekali.

Sabtu, 21 Mei 2016

Selamat Jalan, Kiai Dim


Engkau bukan tipe seorang penurut, tapi pengeyel tulen. Tidak ada orang bisa memaksamu melakukan sesuatu, tanpa kau sendiri telah mafhum dengan perkara itu. Jikapun ada yang berhasil memaksamu melakukan perkara yang belum kau pahami, setidaknya kau pasti telah ngeyel lebih dulu, setidaknya kau telah sampaikan pikiranmu.

Jumat, 18 September 2015

Alam Lain


Saat malam tak lagi terang oleh sinar purnama.
Saat pohon-pohon meredup layu oleh sayatan duka.
Adakah sunyi tuan bertakhta?

Jumat, 24 Januari 2014

Balada Dosa


Lihatlah kupu-kupu itu, Kawan!
Siapa memintanya. Mengundang tangis memikul luka,
cerita di rumah kita.

Pagi hari bakda subuh, Sam tiba-tiba muncul di teras rumah. Berkaos hitam, bercelana levis kumal yang entah sudah berapa lama tak dicuci. Bermuka kusam, berkumis agak tebal senampak rumput teki yang baru bersemi. Mungkin itulah balada yang dikicaukan berderet-deret burung Prenjak kemarin sore. Disusul kemudian kupu-kupu yang menari erotis mengitari bohlam lampu saat malam baru memasuki sepertiga. Suatu pemandangan yang tak biasa.

Selasa, 12 Maret 2013

Puisi Malam

Senja ketika tak menjelma kata-kata.
Sebilah pena tak mampu lagi melukis bahagia,
Bahkan tak kuasa menyematkan duka.
Malam pun tiba berselimutkan hampa.

Entahlah, malam menjadi bisu benar.
Kekosongan membaur dalam semesta rasa.
Setitik asa pun turut tenggelam sirna.

Kuping telah bising oleh janji-janji.
Mulut berbusa tanpa makna.
Hati penuh sangka kian gemuruh.
Lelaku hanya berlalu, tiada tertuju.

Minggu, 11 November 2012

Guru dalam Ranah Moral-Spiritual


Seorang guru dapat diibaratkan sebagai setetes pewarna yang dijatuhkan ke dalam suatu genangan air. Perlahan-lahan sejumlah air tersebut akan terkontaminasi oleh pewarna. Air akan berubah menjadi merah, kuning, hijau, atau mungkin hitam. Secara ilmu tampak, hampir pasti sejumlah air akan dipengarui oleh pewarna yang diteteskan ke dalamnya, walau tidak sampai mengubah sifat dasarnya. Pewarna yang hanya setetes itu, mampu menguubah air yang berkubik-kubik, walau tingkat pengaruhnya tergantung jumlah air dan konsentrasi pewarnanya.

Analogi ini bukan tanpa cela. Setidaknya tidak setiap pewarna yang diteteskan ke dalam air akan dapat mengubah sejumlah air tersebut secara keseluruhan. Air yang mengalir contohnya, amat sulit setetes pewarna mengubahnya. Pun demikian dengan air laut, air hujan sebelum tergenang di tanah, dan beberapa macam air lain yang penulis belum mengetahuinya.

Tapi tidak. Penulis tidak ingin membahas guru pada tataran filosofis. Filsafat memanglah dasar kehidupan, tetapi ia hanya tulang-belulang. Penulis di sini lebih tertarik membahas kulit luarnya yang tampak dan dekat dengan realita kehidupan. Yakni guru sebagai sosok yang sejak dini mengarahkan pendidikan bagi murid-muridnya, yang menunjukkan ilmu pengetahuan baik itu yang bersifat umum maupun agama, serta yang menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual pada generasi muda.