Lihatlah kupu-kupu itu, Kawan!
Siapa memintanya. Mengundang
tangis memikul luka,
Pagi hari bakda subuh, Sam
tiba-tiba muncul di teras rumah. Berkaos hitam, bercelana levis kumal yang
entah sudah berapa lama tak dicuci. Bermuka kusam, berkumis agak tebal senampak
rumput teki yang baru bersemi. Mungkin itulah balada yang
dikicaukan berderet-deret burung Prenjak kemarin sore. Disusul kemudian
kupu-kupu yang menari
erotis mengitari bohlam lampu saat malam baru memasuki sepertiga. Suatu
pemandangan yang tak biasa.
Aku dan Sam memang sudah lama tak
bertemu. Sejak beberapa minggu, entah bulan, entah tahun yang lalu –beberapa
saat setelah dia bertamu ke rumah Dinda – dia berjalan menuju lorong gelap,
terus menerus berjalan sampai aku tak lagi dapat melihatnya.
Sudah tak mengherankanku lagi memang, Sam suka berjalan jauh. Ia tak betah berdiam diri terlalu lama hanya di satu tempat. Sekali waktu di sini, beberapa saat kemudian tak ada lagi, sudah pergi entah kemana. Sepanjang pengetahuanku, hanya ada segelintir orang yang bisa mencegah niatnya dan menahannya di suatu tempat. Barangkali suatu saat akan aku ceritakan padamu.
Sudah tak mengherankanku lagi memang, Sam suka berjalan jauh. Ia tak betah berdiam diri terlalu lama hanya di satu tempat. Sekali waktu di sini, beberapa saat kemudian tak ada lagi, sudah pergi entah kemana. Sepanjang pengetahuanku, hanya ada segelintir orang yang bisa mencegah niatnya dan menahannya di suatu tempat. Barangkali suatu saat akan aku ceritakan padamu.
“Sam, sudah lama kau di sini?”
tanyaku padanya.
Sam menoleh sejenak, kemudian
tersenyum. Tak sepatah kata pun ia ucapkan. Ah, Sam masih tak berubah. Kelakuannya
sejak pertama aku mengenalnya kurang lebih masih sama: tak ada ekspresi berlebihan
ketika bertemu siapapun. Tapi, yang membuatku selalu merasa senang bertemu dengannya adalah
sorot matanya, sorot mata yang senantiasa memancarkan kerinduan.
Aku masuk rumah untuk beberapa
saat. Lalu kembali membawa serta dua gelas kopi dan sebungkus
Tujuh Enam, kretek kesukaan Sam.
Aku duduk di samping Sam menghadap pekarangan kecil di
depan rumah. Segala wujud alam mayapada masih tampak gelap remang. Tetapi pagi
yang buta sudah mulai bertegur sapa dengan pepohonan dan rerumputan. Suaranya
yang mendesir mengalir melalui
udara yang basah semilir,
memandikan daun-daun dengan tetesan embun. Burung-burung yang baru beranjak dari
tidurnya mulai bernyanyi untuk membangunkan anak-anaknya, tetapi sekaligus
meninabobokan jangkrik dan belalang yang begadang semalaman.
“Tak ada romantika yang cukup
kuat menggenggam hanya sebuah suasana ya, Kang?” kata Sam tiba-tiba.
Aku hanya diam. Tak siap meladeni
kata-katanya.
“Semua yang ada di alam ini
berjalan beriring, silih berganti, saling berjodoh. Termasuk diantaranya
kesedihan dan kesenangan, kegelisahan dan ketenangan,” lanjutnya.
“Hm, barangkali memang demikian, Sam,” jawabku.“Di alam mayapada
ini hanya ada satu yang sendiri dan tetap: Tuhan.”
Kini Sam terdiam. Ia melihatku
dengan sorot matanya yang memancarkan kerinduan.
“Kelihatannya kamu sedang gelisah?”
kataku mulai menebak arah pembicaraannya.
“Sampeyan sudah banyak tahu tentang aku, Kang,” kata Sam sembari menghisap
kreteknya.
Sam kemudian menceritakan perjalanannya
menyusuri lorong. Langkah demi langkah ia jejakkan di jalan panjang itu.
Adakalanya lorong itu lapang seperti lapangan bola yang jarang digunakan
sehingga dipenuhi ilalang. Tetapi terkadang juga sempit menyempit menyerupai
sangkakala malaikat Izroil. Adakalanya lorong itu lurus panjang menyerupai shirotol mustaqim. Namun terkadang juga
berkelok-kelok seperti meander sungai Nil. Adakala udara di dalamnya sejuk,
kemudian pengap, kemudian hangat, bahkan menjadi panas. Adakala suasananya tenang,
lalu sepi, lalu sunyi, lalu menakutkan, bahkan sampai mencekam.
Namun, dari berbagai kemungkinan
di lorong itu, ada satu keadaan yang tak pernah berubah. Ialah kegelapan. Seperti petang yang menyusup
di mayapada selepas senja. Seperti malam yang meredup tanpa aksara tanpa
purnama.
Sampai pada suatu ketika Sam
menemukan sesosok Bunga di salah satu sudut lorong. Entah sengaja atau tidak,
entah dorongan dari malaikat atau setan mana, entah siapa yang menghendaki
pertemuan itu. Besar kemungkinan ia bukan satu-satunya bunga yang ditemukan Sam
selama dalam lorong. Bunga itu pun bukan satu-satunya yang pernah menarik hati
Sam. Apalagi mengingat tujuan Sam menyusuri lorong itu adalah untuk mencari Cahaya.
Lalu apa hubungan Cahaya dengan Bunga? Lalu kenapa Sam memerlukan diri untuk memberi
perhatian lebih pada Bunga?
Lamut-lamut Sam mengamati Bunga itu, walau tak berani menyentuhnya. “Bunga
ini tampak subur,” bisik hati Sam dalam keterbatasan pandangnya. “Ia putih,
indah dan auranya menyerikan
kesan kesederhanaan. ”Lalu tersungging senyum di bibirnya. Ah iya, senyuman itu.
Ialah senyuman pertama Sam selama menyusuri lorong, setelah beberapa minggu,
entah bulan, entah tahun – tak ada yang peduli, termasuk Sam sendiri.
Sejak saat itu kehidupan Sam tak
bisa terlepas dari keberadaan Bunga. Setiap gerak yang ia jejakkan ialah
pusaran thowaf para pelaku haji dimana Bunga itu adalah ka’bahnya. Setiap kata
yang iaucapkan tak lain
adalah puisi terindah yang terilhami oleh keindahan alam tetumbuan, terutamaBunga di sisinya. Setiap nafas yang ia hembuskan berisi muatan do’a kepada sang
Bunga, layaknya do’a seorang pelaku rindu yang telah bertahun-tahun melakukan
pengembaraan Cinta.
“Mas, aku
hanya sepucuk Bunga yangbuta cahaya. Sorot teduh matamu memandikan hari-hariku dengan sinarnya yang lembut. Mas,
aku kumpulan mahkota peluh yang berkelopak dan bertangkai. Tanganmu yang
perkasa menyeka setiap tetesnya, mewarnai setiap helainya. Tapi, Mas. Tidakkah
engkau seorang pengembara? Apa artinya setangkai Bunga dibanding luasnya samudra? Apa nikmatnya berjumpa tanpa
pengembaraan akan rindu akan makna?” kata hati Bunga pada suatu ketika yang terdengar di lubuk hati Sam.
“Bunga,
pernahkah engkau merasakan keruhnya hati hingga membuat jalanmu
gontai tak tahu arah, tak tahu kemana akan melangkah?” tanya Sam yang juga dari
hatinya.
Bunga diam, tak ada ekspresi yang menandakan ia berkata-kata
sepatah atau dua.
“Itulah jawabnya, Bunga,” Sam
melanjutkan. “Ketika tak tahu lagi kemana akan melangkah, aku hanya berjalan,
terus berjalan dan selalu berjalan. Aku ingin berjalan sebab jika berhenti itu
tandanya aku telah usai, tinggal lampus, terbenam mati. Aku selalu berjalan
walau tak pernah tau kakiku akan membawaku ke lembah, ke gunung, ke dalam gowa,
atau ke dasar samudera. Aku tak tau derap langkahku akan mengangkatku ke surga
atau justru menenggelamkan ke neraka.”
“Tetapi, aku berjalan ke lorong
gelap ini, Bunga. Dan di lorong inilah aku dipertemukan dengan keanggunan,
kecantikan, dan kesederhanaan. Kamu. Aku berkeyakinan, ketika yang terjadi
atasku bukan lagi inginku, berarti ia perintah yang meski kujalani. Ketika
langkah kaki membawaku padamu, tidakkah itu hadiah Tuhan pengobat luka pelipur hati?”
“Hm.. iya, apapun itu, Mas,” mahkota Bunga
bergetar-getar menandakan hatinya sedang bicara. Sam pun mendengarkannya
sayup-sayup. “Aku bahagia kamu menemani hari-hariku.”
Sam tersenyum untuk ke sekian
kali, senyum yang lagi-lagi karena Bunga. Oh.. Duhai rembulan yang
mengejawantah pada nyanyian swara di mayapada. Duhai gemintang yang mengorkhestrai setiap
nada alam buana. Duhai senyuman yang mengembang dari bibir-bibir beradu kasih
di penghujung senja.
Di lorong itu, Sam kian hari kian
merasa kembali ke pesantrennya
dahulu. Semak belukar yang tumbuh di sekitarnya bak kawan dari berbagai penjuru
nusantara. Gemiricik air yang entah dimana sumbernya seperti aliran sungai
Rejoso yang pernah ia susuri hulunya. Air pun terus menitik dari atap lorong di
sani-sini seolah warung makan murah yang melimpah ruah. Dan Bunga di sisinya
adalah nasihat-nasihat kiai yang menyejukkan dan membuat hatinya selalu merasa
cukup penuh syukur.
Tetapi, bagaimanapun ia tetaplah
Sam yang penakut. Sam menggemari kebebasan tapi bukan yang tanpa batas. Ia menjunjung
tinggi kreativitas sepanjang tidak merugikan makhluk lain, tidak melanggar
hak-haknya. Sam takut
bukan pada kegelapan, bukan pula kesengsaraan. Tetapi pada batasan-batasan
nilai yang
mengikat hidupnya. Itulah
kenapa ia mengambil sikap sedekat
apapun hubungannya dengan
Bunga tak akan membuatnya berani
menyentuh tanaman itu. Ia berjanji
pada dirinya akan selalu menjaga kehormatan Bunga.
Pada suatu senja, Sam termenung
di tanah lapang semacam rawa di lorong tak jauh dari tempat Bunga. Tak ada awan
kuning atau langit meredup hening yang menandakan saat itu senja. Tapi
perjalanan hidup Sam yang terutama adalah ke arah matahari terbenam, membuatnya
mengenal betul nuansa alam saat itu. Senjakala menuturinya berbait-bait kesan, lalu
merintik jatuh di laut kenangan. Senjakala melipurnya dari bayang-bayang kelam, sembari memupuk
lamunan sang Bunga dalam pelukan.
Tak lama berselang, angin gunung mulai
semilir berhembus menuju samudera. Ayam di kandang-kandang ataupun di hutan
menganggap hembus angin yang pertama itu sebagai dukhon pemicu buta semalaman. Akan tetapi, lain halnya Sam yang
justru memandangnya sebagai kumandang adzan yang mengingatkan pada sembahyang. Hampir selalu angin
gunung itu berjalan beriring dengan cahaya yang semakin tenggelam, dengan malam
yang bertambah kelam.
“Ah, tidak. Lihat sinar yang
menimpa lembar daun talas itu!” bisik hati Sam saat melihat seberkas cahaya.
Cahaya yang merasuk melalui celah kecil di atap lorong, lalu merambat melalui pendar-pendar
debu menjelajah udara.
Sam mendongakkan kepala mencari
sumbernya, tak nampak apapun. Ia bergegas mengambil sebilah tombak berserakan
di salah satu sudut lorong. Ia gapai atap lorong dengan tombak, lalu menghunuskannya
tepat di lubang supaya celah bertambah lebar. Tak berhasil jua. Tak patah arang
ia pun mengumpulkan bebatuan di sekitarnya, menatanya bak gunung kecil. Ketika
merasa gundukan telah cukup tinggi untuk menggapai celah dengan matanya, ia
naik di atas gunung kecil itu. Bola matanya berputar-putar mengamati fenomena
di dunia luar.
Sam melompat, kemudian berlari
menuju Bunga. Tak sabar ia ingin menuturkan apa yang dilihatnya kepada sang tumbuhan
hati. “Kamu pasti senang melihat ini, Bunga. Aku harus membawamu keluar dari
lorong ini,” kata Sam sesampainya di depan Bunga.
“Iya. Tapi apa, Mas?” jawaban
bunga yang merambat ke telinga Sam melalui hening udara.
“Ia yang selama ini kamu impikan,
Bunga. Seberkas cahaya yang terbit sempurna dalam gelap, yang melumpuhkan
petang dengan lambaian tangannya yang memanggil-manggil, dan yang menyemarakkan
malam dengan nyanyian anak-anak.”
Bunga terdiam. Kelopaknya
mendadak mengkerut. Tangkainya lemas lunglai. Mahkotanya pucat pasi. Ah, tapi
sebenarnya tak ada yang mampu membaca gelagat itu, apalagi mengerti maksudnya.
Gejolak perasaan Bunga yang berhamburan kesana-kemari, bertabrakan dengan
pendar-pendar udara, dengan debu-debu jalanan yang kelam, akhirnya jatuh
terkulai. Ketika jatuh itulah ada semacam cawan yang sedia menangkap tiap puing-puingnya.
Cawan yang kokoh sekaligus lembut. Cawan yang penuh keindahan tapi juga
mengalungkan kesunyian. Tak lain adalah bilik hati Sam. Oleh karenanya Sam pun mengerti
kegelisahan hati Bunga yang begitu ingin menyaksikan purnama, tetapi hatinya
tak berdaya dikulum rasa takut meninggalkan gubuk tempat tinggalnya.
Di dalam cawan, perasaan Bunga
yang tinggal puing seperti mendapat angin segar dari Surga Na’im. Angin itu menghaluskan
tiap-tiap puing tersebut, lalu menggumpalkannya menjadi padatan utuh seperti
sedia kala. Tak sekedar itu, cawan pun seolah menurunkan rintik-rintik hujan
yang tiada lain berasal dari kutub utara. Gerimis itu mengademkan segala
relung-relung rasa yang semula runtuh, memupukkan jawaban atas berbait-bait
tanya yang resah-meluruh, juga menyemaikan keberanian pada serpihan demi
serpihan jiwa yang berteriak mengaduh. Keadaan itulah yang lalu berjawab kata dengan
kesediaan Bunga menerima ajakan Sam.
Padang
mbulan. Cahaya alam yang memancar hening, menelisik
kelam, merasuk terang di langit petang. Suara malam yang mengalung sunyi, menampak riuh,
mengejawantah siluet pohon-pohon dan gegunungan. Padang mbulan berkisah bocah berarak-arak di tepian kahyangan. Sinar
matanya bening, sebening telaga yang menyemburat cahaya seribu satu warna,
sejernih embun yang berlinangan dari dedaunan hati para ahli surga. Si bocah memetik bintang-bintang,
menelannya menjadi rahasia – tiap petik satu makna. Rahasia menjalin rindu
ribuan kelana, kisah cinta sang pengembara senja.
“Apa malam
di bawah terik purnama selalu seindah ini, Mas?” suara Bunga yang terdengar
lirih dari pucuknya yang tak henti-henti mendongak ke langit.
“Aku telah
sekian puluh kali mengalami purnama, Bunga. Dan entahlah, aku menyangka ini purnama terindah dari yang sudah-sudah,
dari yang ada kulihat sebelumnya,” jawab Sam sembari melirikkan matanya ke arah
Bunga.
“Hm.. persangkaanmu
itu tumbuh dari penglihatan mata atau perasaan hati, Mas?”
Duh, Bunga. Kali
ini Sam sungguh tak mengerti harus berbuat apa. Air mukanya diam berganti rena. Sam
bukan saja tak siap menjawab pertanyaan itu, terlebih juga terkejut mendengar
pertanyaan sepeka itu keluar dari mulut
batinmu. Ah, Bunga. Adakah penglihatan dapat bermuara pada cinta tatkala ia
hanya memandang jasadnya? Pun demikian dengan rasa, dapatkah cinta hadir padanya
ketika ia hanya wujud dari ketidaksabaran menahan luka?
“Maaf aku
tak bisa jujur
padamu, Bunga,” akhirnya Sam memberanikan diri untuk berkata. “Sesungguhnya
persangkaanku hanya tumbuh dari penglihatan mataku.”
“Hah,” tangkai
Bunga mendadak tegak berdiri. Ia terperangah. “Apa itu berarti kamu ada rasa
padaku, Mas?”
Sam
mengangguk, meskipun sebenarnya hatinya berkecamuk. Ia tak ingin
terburu-buru
mengungkapkan itu oleh karena otaknya
masih meragukan kesahihan
perasaannya. Ia pun sesungguhnya
sedikit-banyak masih memiliki keterikatan dengan masa lalunya. Akan tetapi, walau
bagaimanapun keinginan Sam yang enggan melukai
perasaan Bunga jauh lebih besar dari segala gejolak rasa manapun, hingga membuatnya
mengatakan yang belum waktunya.
Adapun selepas itu Bunga tumbuh
merekah. Mahkotanya mekar merona senampak purnama yang sedang beredar di angkasa. Wanginya
semerbak harum sang bidadari surga. Bunga pun menari-nari
di tengah padang ilalang di bawah pesona sinar rembulan. Tarian yang serta merta
disambut nyanyian jangkrik dan belalang. Rumput-rumput menonton di
kejauhan dengan bersorak-sorai, juga dengan dedaunan yang melambai. Sang
sutradara nampaknya sengaja mensetting suasana untuk menggoda Sam yang sedang
dilanda persoalan asmara.
Sam yang sedari tadi memerhatikan
gelagat Bunga mencoba mengartikan polah tingkahnya. Celakanya, entah iblis mana
yang membisikkan di telinga Sam supaya ia menyentuh Bunga. Sebuah pantangan besar
yang tak sedikitpun pernah
dilanggarnya. Hati Sam
semakin berkecamuk, sama sekali tak menentu akan bagaimana.
Dan, kemudian apa daya. Sam yang sedang terbuai oleh keelokan
menjadi lupa daratan: perlahan-lahan hilang takutnya, sedikit demi sedikit luntur
imannya. Ia dengan penuh
gemetar mulai berani menyentuh Bunga. Kemudian ia memberanikan diri meraba halus
tangkainya,
mengelus-elus kelopaknya, bahkan lalu mencium
mahkotanya. Tak ada yang
tahu pasti diamnya Bunga ketika
itu berarti kerelaan atau kepasrahan pada ketakberdayaan. Yang pasti hal itu
membuat jadi Sam semakin kesetanan hingga melakukannya
berkali-kali, berulang ulang,
bahkan terus menerus, hingga tanggal salah satu mahkota Bunga.
Mahkota terpontang-panting
oleh hembus angin, lepas bagai secarik kapas yang
terhempas. Kian kemari ia bagaikan dosa tak bertepi, kian kesana menusukkan
lara tak berhingga. Oh, duhai dunia yang senampak bahagia. Fatamorgana.
Sam terkejut bukan kepalang menyadari perbuatannya. Tak habis pikir ia melakukan perbuatan
yang seharusnya ia jaga: kesalahan yang meremukkan segala wacana tentang cinta.
Sam menunduk, jatuh lunglai di pangkuan bumi tempatnya berpijak. Sehelai mahkota
berkelebakan di depan mata, seperti daun kering jatuh dari dahannya. Berangsur-angsur
mahkota itu turun dan mendarat tepat di telapak tangannya.
Betapa lara-hati Sam menbuncah ketika
mengetahui sehelai mahkota berubah menjadi duri saat mendarat di tangannya.
Duri itu menembus kulit, mengoyak daging, menjangkau ke tulang, sehingga darah
yang memancar bercampur dengan air mata. Kadangkala fajar yang terbit di timur
menutup luka, kadangkala gerimis datang menjadikannya kembali menganga. Ketika
menganga itulah duri yang tetap tinggal di tangan Sam kembali menusukkan luka
yang sama, dengan darah dan air mata yang sama, dengan nuansa rasa dan
keisyafan yang berbeda. Duri itu semacam tanda lahir yang akan selalu ia bawa, terus-menerus
mengingatkan pada kebodohannya.
Tujuh puluh enam hari, entah
bulan, entah tahun lamanya Sam terkulai lemas tak berdaya. Mentari yang setiap
pagi menerbitkan gairah di sisinya tak ia hiraukan. Hujan yang sekali waktu
turun mengguyurkan kasih sayang tak ia indahkan. Badai yang kadang kala
menghempaskan pada penderitaan tak sedikitpun ia rusuhkan. Bahkan Bunga yang
selalu memanggil-manggil namanya ia biarkan tergeletak di antara rerumputan, di
bawah terik rembulan yang entah sejak kapan pergi meninggalkan malam.
Sampai pada suatu ketika sebuah
gada yang perkasa menyasarnya hingga terlempar ke langit senja, lalu terjatuh
di tepian samudra. Sambil terhuyung-huyung Samb bangkit berdiri. Ia berjalan
menghampiri gada yang menghantamnya. Tak ada tanda apapun dapat memastikan gada
itu milik siapa, kecuali ukiran yang terpatri di ujung bogemnya: kuku
pancanaka, kecuali aksara yang tertera bagian bawah gagangnya: werkudara. Sam remang-remang jadi mengerti kemana meski
melangkahkan kaki, apa yang
harus ia cari: Banyu
Pawitradi.
Hah, Banyu
Pawitradi? Oh.
Kedinding Lor
18 Januari 2014 06:22

0 komentar:
Posting Komentar