Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Jumat, 24 Januari 2014

Balada Dosa


Lihatlah kupu-kupu itu, Kawan!
Siapa memintanya. Mengundang tangis memikul luka,
cerita di rumah kita.

Pagi hari bakda subuh, Sam tiba-tiba muncul di teras rumah. Berkaos hitam, bercelana levis kumal yang entah sudah berapa lama tak dicuci. Bermuka kusam, berkumis agak tebal senampak rumput teki yang baru bersemi. Mungkin itulah balada yang dikicaukan berderet-deret burung Prenjak kemarin sore. Disusul kemudian kupu-kupu yang menari erotis mengitari bohlam lampu saat malam baru memasuki sepertiga. Suatu pemandangan yang tak biasa.

Aku dan Sam memang sudah lama tak bertemu. Sejak beberapa minggu, entah bulan, entah tahun yang lalu –beberapa saat setelah dia bertamu ke rumah Dinda – dia berjalan menuju lorong gelap, terus menerus berjalan sampai aku tak lagi dapat melihatnya.

Sudah tak mengherankanku lagi memang, Sam suka berjalan jauh. Ia tak betah berdiam diri terlalu lama hanya di satu tempat. Sekali waktu di sini, beberapa saat kemudian tak ada lagi, sudah pergi entah kemana. Sepanjang pengetahuanku, hanya ada segelintir orang yang bisa mencegah niatnya dan menahannya di suatu tempat. Barangkali suatu saat akan aku ceritakan padamu.

“Sam, sudah lama kau di sini?” tanyaku padanya.

Sam menoleh sejenak, kemudian tersenyum. Tak sepatah kata pun ia ucapkan. Ah, Sam masih tak berubah. Kelakuannya sejak pertama aku mengenalnya kurang lebih masih sama: tak ada ekspresi berlebihan ketika bertemu siapapun. Tapi, yang membuatku selalu merasa senang bertemu dengannya adalah sorot matanya, sorot mata yang senantiasa memancarkan kerinduan.

Aku masuk rumah untuk beberapa saat. Lalu kembali membawa serta dua gelas kopi dan sebungkus Tujuh Enam, kretek kesukaan Sam.

Aku duduk di samping Sam menghadap pekarangan kecil di depan rumah. Segala wujud alam mayapada masih tampak gelap remang. Tetapi pagi yang buta sudah mulai bertegur sapa dengan pepohonan dan rerumputan. Suaranya yang mendesir mengalir melalui udara yang basah semilir, memandikan daun-daun dengan tetesan embun. Burung-burung yang baru beranjak dari tidurnya mulai bernyanyi untuk membangunkan anak-anaknya, tetapi sekaligus meninabobokan jangkrik dan belalang yang begadang semalaman.

“Tak ada romantika yang cukup kuat menggenggam hanya sebuah suasana ya, Kang?” kata Sam tiba-tiba.

Aku hanya diam. Tak siap meladeni kata-katanya.

“Semua yang ada di alam ini berjalan beriring, silih berganti, saling berjodoh. Termasuk diantaranya kesedihan dan kesenangan, kegelisahan dan ketenangan,” lanjutnya.

“Hm, barangkali memang demikian, Sam,” jawabku.“Di alam mayapada ini hanya ada satu yang sendiri dan tetap: Tuhan.”

Kini Sam terdiam. Ia melihatku dengan sorot matanya yang memancarkan kerinduan.

“Kelihatannya kamu sedang gelisah?” kataku mulai menebak arah pembicaraannya.

Sampeyan sudah banyak tahu tentang aku, Kang,” kata Sam sembari menghisap kreteknya.

Sam kemudian menceritakan perjalanannya menyusuri lorong. Langkah demi langkah ia jejakkan di jalan panjang itu. Adakalanya lorong itu lapang seperti lapangan bola yang jarang digunakan sehingga dipenuhi ilalang. Tetapi terkadang juga sempit menyempit menyerupai sangkakala malaikat Izroil. Adakalanya lorong itu lurus panjang menyerupai shirotol mustaqim. Namun terkadang juga berkelok-kelok seperti meander sungai Nil. Adakala udara di dalamnya sejuk, kemudian pengap, kemudian hangat, bahkan menjadi panas. Adakala suasananya tenang, lalu sepi, lalu sunyi, lalu menakutkan, bahkan sampai mencekam.

Namun, dari berbagai kemungkinan di lorong itu, ada satu keadaan yang tak pernah berubah. Ialah kegelapan. Seperti petang yang menyusup di mayapada selepas senja. Seperti malam yang meredup tanpa aksara tanpa purnama.

Sampai pada suatu ketika Sam menemukan sesosok Bunga di salah satu sudut lorong. Entah sengaja atau tidak, entah dorongan dari malaikat atau setan mana, entah siapa yang menghendaki pertemuan itu. Besar kemungkinan ia bukan satu-satunya bunga yang ditemukan Sam selama dalam lorong. Bunga itu pun bukan satu-satunya yang pernah menarik hati Sam. Apalagi mengingat tujuan Sam menyusuri lorong itu adalah untuk mencari Cahaya. Lalu apa hubungan Cahaya dengan Bunga? Lalu kenapa Sam memerlukan diri untuk memberi perhatian lebih pada Bunga?

Lamut-lamut Sam mengamati Bunga itu, walau tak berani menyentuhnya. “Bunga ini tampak subur,” bisik hati Sam dalam keterbatasan pandangnya. “Ia putih, indah dan auranya menyerikan kesan kesederhanaan. ”Lalu tersungging senyum di bibirnya. Ah iya, senyuman itu. Ialah senyuman pertama Sam selama menyusuri lorong, setelah beberapa minggu, entah bulan, entah tahun – tak ada yang peduli, termasuk Sam sendiri.

Sejak saat itu kehidupan Sam tak bisa terlepas dari keberadaan Bunga. Setiap gerak yang ia jejakkan ialah pusaran thowaf para pelaku haji dimana Bunga itu adalah ka’bahnya. Setiap kata yang iaucapkan tak lain adalah puisi terindah yang terilhami oleh keindahan alam tetumbuan, terutamaBunga di sisinya. Setiap nafas yang ia hembuskan berisi muatan do’a kepada sang Bunga, layaknya do’a seorang pelaku rindu yang telah bertahun-tahun melakukan pengembaraan Cinta.

“Mas, aku hanya sepucuk Bunga yangbuta cahaya. Sorot teduh matamu memandikan hari-hariku dengan sinarnya yang lembut. Mas, aku kumpulan mahkota peluh yang berkelopak dan bertangkai. Tanganmu yang perkasa menyeka setiap tetesnya, mewarnai setiap helainya. Tapi, Mas. Tidakkah engkau seorang pengembara? Apa artinya setangkai Bunga dibanding luasnya samudra? Apa nikmatnya berjumpa tanpa pengembaraan akan rindu akan makna?” kata hati Bunga pada suatu ketika yang terdengar di lubuk hati Sam.

“Bunga, pernahkah engkau merasakan keruhnya hati hingga membuat jalanmu gontai tak tahu arah, tak tahu kemana akan melangkah?” tanya Sam yang juga dari hatinya.

Bunga diam, tak ada ekspresi yang menandakan ia berkata-kata sepatah atau dua.

“Itulah jawabnya, Bunga,” Sam melanjutkan. “Ketika tak tahu lagi kemana akan melangkah, aku hanya berjalan, terus berjalan dan selalu berjalan. Aku ingin berjalan sebab jika berhenti itu tandanya aku telah usai, tinggal lampus, terbenam mati. Aku selalu berjalan walau tak pernah tau kakiku akan membawaku ke lembah, ke gunung, ke dalam gowa, atau ke dasar samudera. Aku tak tau derap langkahku akan mengangkatku ke surga atau justru menenggelamkan ke neraka.”

“Tetapi, aku berjalan ke lorong gelap ini, Bunga. Dan di lorong inilah aku dipertemukan dengan keanggunan, kecantikan, dan kesederhanaan. Kamu. Aku berkeyakinan, ketika yang terjadi atasku bukan lagi inginku, berarti ia perintah yang meski kujalani. Ketika langkah kaki membawaku padamu, tidakkah itu hadiah Tuhan pengobat luka pelipur hati?”

“Hm.. iya, apapun itu, Mas,” mahkota Bunga bergetar-getar menandakan hatinya sedang bicara. Sam pun mendengarkannya sayup-sayup. “Aku bahagia kamu menemani hari-hariku.”

Sam tersenyum untuk ke sekian kali, senyum yang lagi-lagi karena Bunga. Oh.. Duhai rembulan yang mengejawantah pada nyanyian swara di mayapada. Duhai gemintang yang mengorkhestrai setiap nada alam buana. Duhai senyuman yang mengembang dari bibir-bibir beradu kasih di penghujung senja.

Di lorong itu, Sam kian hari kian merasa kembali ke pesantrennya dahulu. Semak belukar yang tumbuh di sekitarnya bak kawan dari berbagai penjuru nusantara. Gemiricik air yang entah dimana sumbernya seperti aliran sungai Rejoso yang pernah ia susuri hulunya. Air pun terus menitik dari atap lorong di sani-sini seolah warung makan murah yang melimpah ruah. Dan Bunga di sisinya adalah nasihat-nasihat kiai yang menyejukkan dan membuat hatinya selalu merasa cukup penuh syukur.

Tetapi, bagaimanapun ia tetaplah Sam yang penakut. Sam menggemari kebebasan tapi bukan yang tanpa batas. Ia menjunjung tinggi kreativitas sepanjang tidak merugikan makhluk lain, tidak melanggar hak-haknya. Sam takut bukan pada kegelapan, bukan pula kesengsaraan. Tetapi pada batasan-batasan nilai yang mengikat hidupnya. Itulah kenapa ia mengambil sikap sedekat apapun hubungannya dengan Bunga tak akan membuatnya berani menyentuh tanaman itu. Ia berjanji pada dirinya akan selalu menjaga kehormatan Bunga.

Pada suatu senja, Sam termenung di tanah lapang semacam rawa di lorong tak jauh dari tempat Bunga. Tak ada awan kuning atau langit meredup hening yang menandakan saat itu senja. Tapi perjalanan hidup Sam yang terutama adalah ke arah matahari terbenam, membuatnya mengenal betul nuansa alam saat itu. Senjakala menuturinya berbait-bait kesan, lalu merintik jatuh di laut kenangan. Senjakala melipurnya dari bayang-bayang kelam, sembari memupuk lamunan sang Bunga dalam pelukan.

Tak lama berselang, angin gunung mulai semilir berhembus menuju samudera. Ayam di kandang-kandang ataupun di hutan menganggap hembus angin yang pertama itu sebagai dukhon pemicu buta semalaman. Akan tetapi, lain halnya Sam yang justru memandangnya sebagai kumandang adzan yang mengingatkan pada sembahyang. Hampir selalu angin gunung itu berjalan beriring dengan cahaya yang semakin tenggelam, dengan malam yang bertambah kelam.

“Ah, tidak. Lihat sinar yang menimpa lembar daun talas itu!” bisik hati Sam saat melihat seberkas cahaya. Cahaya yang merasuk melalui celah kecil di atap lorong, lalu merambat melalui pendar-pendar debu menjelajah udara.

Sam mendongakkan kepala mencari sumbernya, tak nampak apapun. Ia bergegas mengambil sebilah tombak berserakan di salah satu sudut lorong. Ia gapai atap lorong dengan tombak, lalu menghunuskannya tepat di lubang supaya celah bertambah lebar. Tak berhasil jua. Tak patah arang ia pun mengumpulkan bebatuan di sekitarnya, menatanya bak gunung kecil. Ketika merasa gundukan telah cukup tinggi untuk menggapai celah dengan matanya, ia naik di atas gunung kecil itu. Bola matanya berputar-putar mengamati fenomena di dunia luar.

Sam melompat, kemudian berlari menuju Bunga. Tak sabar ia ingin menuturkan apa yang dilihatnya kepada sang tumbuhan hati. “Kamu pasti senang melihat ini, Bunga. Aku harus membawamu keluar dari lorong ini,” kata Sam sesampainya di depan Bunga.

“Iya. Tapi apa, Mas?” jawaban bunga yang merambat ke telinga Sam melalui hening udara.

“Ia yang selama ini kamu impikan, Bunga. Seberkas cahaya yang terbit sempurna dalam gelap, yang melumpuhkan petang dengan lambaian tangannya yang memanggil-manggil, dan yang menyemarakkan malam dengan nyanyian anak-anak.”

Bunga terdiam. Kelopaknya mendadak mengkerut. Tangkainya lemas lunglai. Mahkotanya pucat pasi. Ah, tapi sebenarnya tak ada yang mampu membaca gelagat itu, apalagi mengerti maksudnya. Gejolak perasaan Bunga yang berhamburan kesana-kemari, bertabrakan dengan pendar-pendar udara, dengan debu-debu jalanan yang kelam, akhirnya jatuh terkulai. Ketika jatuh itulah ada semacam cawan yang sedia menangkap tiap puing-puingnya. Cawan yang kokoh sekaligus lembut. Cawan yang penuh keindahan tapi juga mengalungkan kesunyian. Tak lain adalah bilik hati Sam. Oleh karenanya Sam pun mengerti kegelisahan hati Bunga yang begitu ingin menyaksikan purnama, tetapi hatinya tak berdaya dikulum rasa takut meninggalkan gubuk tempat tinggalnya.

Di dalam cawan, perasaan Bunga yang tinggal puing seperti mendapat angin segar dari Surga Na’im. Angin itu menghaluskan tiap-tiap puing tersebut, lalu menggumpalkannya menjadi padatan utuh seperti sedia kala. Tak sekedar itu, cawan pun seolah menurunkan rintik-rintik hujan yang tiada lain berasal dari kutub utara. Gerimis itu mengademkan segala relung-relung rasa yang semula runtuh, memupukkan jawaban atas berbait-bait tanya yang resah-meluruh, juga menyemaikan keberanian pada serpihan demi serpihan jiwa yang berteriak mengaduh. Keadaan itulah yang lalu berjawab kata dengan kesediaan Bunga menerima ajakan Sam.

Padang mbulan. Cahaya alam yang memancar hening, menelisik kelam, merasuk terang di langit petang. Suara malam yang mengalung sunyi, menampak riuh, mengejawantah siluet pohon-pohon dan gegunungan. Padang mbulan berkisah bocah berarak-arak di tepian kahyangan. Sinar matanya bening, sebening telaga yang menyemburat cahaya seribu satu warna, sejernih embun yang berlinangan dari dedaunan hati para ahli surga. Si bocah memetik bintang-bintang, menelannya menjadi rahasia – tiap petik satu makna. Rahasia menjalin rindu ribuan kelana, kisah cinta sang pengembara senja.

“Apa malam di bawah terik purnama selalu seindah ini, Mas?” suara Bunga yang terdengar lirih dari pucuknya yang tak henti-henti mendongak ke langit.

“Aku telah sekian puluh kali mengalami purnama, Bunga. Dan entahlah, aku menyangka ini purnama terindah dari yang sudah-sudah, dari yang ada kulihat sebelumnya,” jawab Sam sembari melirikkan matanya ke arah Bunga.

“Hm.. persangkaanmu itu tumbuh dari penglihatan mata atau perasaan hati, Mas?”

Duh, Bunga. Kali ini Sam sungguh tak mengerti harus berbuat apa. Air mukanya diam berganti rena. Sam bukan saja tak siap menjawab pertanyaan itu, terlebih juga terkejut mendengar pertanyaan sepeka itu keluar dari mulut batinmu. Ah, Bunga. Adakah penglihatan dapat bermuara pada cinta tatkala ia hanya memandang jasadnya? Pun demikian dengan rasa, dapatkah cinta hadir padanya ketika ia hanya wujud dari ketidaksabaran menahan luka?

“Maaf aku tak bisa jujur padamu, Bunga,” akhirnya Sam memberanikan diri untuk berkata. “Sesungguhnya persangkaanku hanya tumbuh dari penglihatan mataku.”

“Hah,” tangkai Bunga mendadak tegak berdiri. Ia terperangah. “Apa itu berarti kamu ada rasa padaku, Mas?”

Sam mengangguk, meskipun sebenarnya hatinya berkecamuk. Ia tak ingin terburu-buru mengungkapkan itu oleh karena otaknya masih meragukan kesahihan perasaannya. Ia pun sesungguhnya sedikit-banyak masih memiliki keterikatan dengan masa lalunya. Akan tetapi, walau bagaimanapun keinginan Sam yang enggan melukai perasaan Bunga jauh lebih besar dari segala gejolak rasa manapun, hingga membuatnya mengatakan yang belum waktunya.

Adapun selepas itu Bunga tumbuh merekah. Mahkotanya mekar merona senampak purnama yang sedang beredar di angkasa. Wanginya semerbak harum sang bidadari surga. Bunga pun menari-nari di tengah padang ilalang di bawah pesona sinar rembulan. Tarian yang serta merta disambut nyanyian jangkrik dan belalang. Rumput-rumput menonton di kejauhan dengan bersorak-sorai, juga dengan dedaunan yang melambai. Sang sutradara nampaknya sengaja mensetting suasana untuk menggoda Sam yang sedang dilanda persoalan asmara.

Sam yang sedari tadi memerhatikan gelagat Bunga mencoba mengartikan polah tingkahnya. Celakanya, entah iblis mana yang membisikkan di telinga Sam supaya ia menyentuh Bunga. Sebuah pantangan besar yang tak sedikitpun pernah dilanggarnya. Hati Sam semakin berkecamuk, sama sekali tak menentu akan bagaimana.

Dan, kemudian apa daya. Sam yang sedang terbuai oleh keelokan menjadi lupa daratan: perlahan-lahan hilang takutnya, sedikit demi sedikit luntur imannya. Ia dengan penuh gemetar mulai berani menyentuh Bunga. Kemudian ia memberanikan diri meraba halus tangkainya, mengelus-elus kelopaknya, bahkan lalu mencium mahkotanya. Tak ada yang tahu pasti diamnya Bunga ketika itu berarti kerelaan atau kepasrahan pada ketakberdayaan. Yang pasti hal itu membuat jadi Sam semakin kesetanan hingga melakukannya berkali-kali, berulang ulang, bahkan terus menerus, hingga tanggal salah satu mahkota Bunga.

Mahkota terpontang-panting oleh hembus angin, lepas bagai secarik kapas yang terhempas. Kian kemari ia bagaikan dosa tak bertepi, kian kesana menusukkan lara tak berhingga. Oh, duhai dunia yang senampak bahagia. Fatamorgana.

Sam terkejut bukan kepalang menyadari perbuatannya. Tak habis pikir ia melakukan perbuatan yang seharusnya ia jaga: kesalahan yang meremukkan segala wacana tentang cinta. Sam menunduk, jatuh lunglai di pangkuan bumi tempatnya berpijak. Sehelai mahkota berkelebakan di depan mata, seperti daun kering jatuh dari dahannya. Berangsur-angsur mahkota itu turun dan mendarat tepat di telapak tangannya.

Betapa lara-hati Sam menbuncah ketika mengetahui sehelai mahkota berubah menjadi duri saat mendarat di tangannya. Duri itu menembus kulit, mengoyak daging, menjangkau ke tulang, sehingga darah yang memancar bercampur dengan air mata. Kadangkala fajar yang terbit di timur menutup luka, kadangkala gerimis datang menjadikannya kembali menganga. Ketika menganga itulah duri yang tetap tinggal di tangan Sam kembali menusukkan luka yang sama, dengan darah dan air mata yang sama, dengan nuansa rasa dan keisyafan yang berbeda. Duri itu semacam tanda lahir yang akan selalu ia bawa, terus-menerus mengingatkan pada kebodohannya.

Tujuh puluh enam hari, entah bulan, entah tahun lamanya Sam terkulai lemas tak berdaya. Mentari yang setiap pagi menerbitkan gairah di sisinya tak ia hiraukan. Hujan yang sekali waktu turun mengguyurkan kasih sayang tak ia indahkan. Badai yang kadang kala menghempaskan pada penderitaan tak sedikitpun ia rusuhkan. Bahkan Bunga yang selalu memanggil-manggil namanya ia biarkan tergeletak di antara rerumputan, di bawah terik rembulan yang entah sejak kapan pergi meninggalkan malam.

Sampai pada suatu ketika sebuah gada yang perkasa menyasarnya hingga terlempar ke langit senja, lalu terjatuh di tepian samudra. Sambil terhuyung-huyung Samb bangkit berdiri. Ia berjalan menghampiri gada yang menghantamnya. Tak ada tanda apapun dapat memastikan gada itu milik siapa, kecuali ukiran yang terpatri di ujung bogemnya: kuku pancanaka, kecuali aksara yang tertera bagian bawah gagangnya: werkudara. Sam remang-remang jadi mengerti kemana meski melangkahkan kaki, apa yang harus ia cari: Banyu Pawitradi.

Hah, Banyu Pawitradi? Oh.


Kedinding Lor
18 Januari 2014 06:22

0 komentar:

Posting Komentar