Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Minggu, 17 Juli 2011

Rela Menunggu

Pernahkah terpikirkan dalam benak anda, dalam sudut pandang tertentu pekerjaan yang utama bagi manusia adalah menunggu? Oleh saya sendiri hal ini baru terpikirkan saat akan menuliskan topik tulisan ini. Manusia ketika hendak atau ingin melakukan apapun, baik secara langsung ataupun tidak, lama atau cuma sebentar, disadari atau tidak, dilakukannya dengan menunggu terlebih dahulu. Sebut saja ketika manusia ingin tidur ia menunggu saat ngantuk, ketika akan makan ia menunggu saat lapar, ketika bertanya atau berdoa ia akan menunggu jawabannya, dan masih banyak lagi. Secara lebih luas manusia juga pasti akan menunggu saat izroil datang membawa ruhnya pergi entah kemana. 

Orang bilang menunggu itu membosankan, boleh jadi pernyataan tersebut memang benar. Akan tetapi bosan itu merupakan salah satu bentuk ungkapan perasaan, itu menunjukkan pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar (tidak bernilai benar mutlak). Manusia dengan kriteria tertentu bisa jadi berbeda. Karena sebagian besar orang menganggap menunggu itu membosankan, tentunya banyak orang ingin menghindari pekerjaan tersebut. Manusia lebih suka dengan yang serba tepat waktu, sebagian bahkan menghendaki yang lebih cepat. Sebuah ungkapan “lebih cepat lebih baik” sampai-sampai menjadi jargon dalam kampanye pilpres. 

Tidak dapat disalahkan tentunya orang menghendaki atau mungkin juga menuntut sesuatu yang lebih cepat, hanya saja tidak dapat ditentukan juga kalau dikatakan yang cepat selalu lebih baik. Logika sederhana barangkali bisa menggambarkan pernyataan ini. Ketika seseorang mengendari motor, dia mempunyai pilihan melajukan motornya dengan kecepatan tertentu: cepat, sedang atau lambat. Misalkan orang tersebut berkendara di jalan bergelombang, ia akan lebih aman jika memilih melaju dengan kecepatan sedang atau lambat. Hal ini berarti baik atau tidaknya kecepatan dipengaruhi oleh lingkungan. Lain lagi persoalannya ketika orang tersebut berkendara di jalan mulus tetapi telah ditentukan batas kecepatan maksimalnya, ia tidak diperbolehkan melajukan kendaraannya di atas kecepatan maksimal yang ditentukan. Ini menunjukkan baik atau tidaknya kecepatan dipengaruhi juga oleh aturan. Tentunya akan sangat banyak gambaran yang lain. Ukuran baik atau buruk itu tidak ditentukan oleh cepat atau lambatnya sesuatu, akan tetapi sesuatu itu adalah yang terbaik jika tepat ruang dan waktunya.

Dari gambaran-gambaran di atas, saya akan mencoba menuliskan pemikiran tentang bagaimana mengalahkan kebosanan menunggu. Solusi itu seringkali dekat dengan masalahnya, sedangkan yang dekat dengan suatu permasalahan adalah sebab-akibatnya dan juga masing-masing individunya. Sesuatu yang membosankan akan menumbuhkan sifat mudah mengeluh. Mengeluh sendiri menunjukkan sikap kurang mensyukuri apa-apa yang telah diberikan. Berawal dari pikiran tersebut yang kemudian bisa tumbuh menjadi keyakinan, ditambah juga kesadaran bahwa yang lebih cepat tidak selalu lebih baik, suatu saat akan dapat menumbuhkan kerelaan menunggu.

Ada dua macam perbuatan yang akan dilakukan manusia terkait dengan kegiatan menunggu. Manusia bisa jadi bertahan atau ia akan melampiaskan. Ketika memilih bertahan ia akan tetap dengan penantiannya, sedangkan ketika memilih melampiaskan ia akan beralih kepada kegiatan lain atau dengan menghalalkan segala cara. Manusia dapat saja beralih kepada kegiatan lain sekehendaknya, akan tetapi yang juga perlu diperhatikan dan dipertimbangkan yaitu: sesuatu yang sifatnya bertahan akan lebih dekat dengan kesabaran dan kesabaran akan lebih dekat dengan Tuhan.

Lebih jauh lagi diilhami dari kesadaran akan kebesaran kekuasaan Tuhan atas diri manusia juga keyakinan bahwa apa yang diberikan Tuhan kepadanya adalah yang  terbaik untuknya, kerelaan menunggu manusia akan meningkat dengan sendirinya. Bukan hanya terbatas pada menunggu nasibnya, manusia bisa jadi juga akan menunggu setiap kali akan mulai melakukan suatu pekerjaan tertentu. Hal ini akan memiliki suatu proses, dan tidak dapat dibenarkan jika dilakukan dengan serta merta. Manusia mempunyai pikiran, itu merupakan batas kekuasaannya. Dengan pikirannya ia akan menimbang-nimbang setiap akan melakukan sesuatu, inilah proses menunggu sebelum akhirnya Tuhan menggerakkan hatinya supaya melakukan sesuatu.

Kemudian apa yang menjadi beda antara ketika manusia melakukan sesuatu atas dasar menjemputnya dengan atas dasar menunggunya? Jika diamati ketika menunggu manusia akan melalui proses dimana ia menyadari Tuhan menggerakkan hatinya, maka yang ada pada setiap tindakan yang dilakukannya adalah bukan karena keterpaksaan. Dengan kata lain ia akan melakukan sesuatu didasari keikhlasan. Selain pengakuan atas kebesaran dan kekuasaan Tuhan, hal inilah yang saya rasa tidak tampak jelas pada manusia ketika melakukan sesuatu atas dasar menjemputnya.

Sekarang bagaimana jika dalam proses menunggu Tuhan tidak menggerakkan hatinya, tidakkah manusia hanya akan diam? Jika memang itu yang menjadi pertanyaan, akan dapat dijawab dengan pertanyaan juga: bukankah sebagai makhluk berpikir manusia akan selalu mempunyai tujuan atas setiap yang tindakan dilakukannya? Pikiran itulah yang akan menuntut setiap perbuatan manusia akan dilakukannya atau tidak tindakan itu. Sedangkan bedanya dari proses tadi yaitu: disertai atau tidaknya setiap perbuatan dengan kesadaran dan keyakinan akan ketuhanan. Wallahu a’lam

Ditulis di:
Sarmili

Senin, 11 Juli 2011

Tas Topan

Kurang lebih setahun yang lalu seorang teman dari Jombang Jawa Timur berkunjung ke tempatku di Jakarta. Topan. Aku biasa memanggilnya dengan nama itu. Sekaligus nama itu juga akan kugunakan sebagai nama samarannya dalam ceritaku ini. Topan ngeluyur ke Jakarta memang dengan suatu tujuan. Bukan saja untuk berlibur di tempat yang memang belum pernah ia kunjungi, ia juga bermaksud mengunjungi salah satu pesantren di daerah Tangerang. Sebelumnya ia telah menyampaikan kepadaku keinginannya untuk nyantri  di pesantren asuhan ustadz Yusuf Mansur itu.

Dengan modal restu ibu dan tentu saja uang saku Topan pergi ke kota yang oleh banyak orang disebut kota metropolitan itu. Sesuai arahanku dia naik kereta ekonomi dari Jombang. Setelah sampai di stasiun Pasar Senen, sesuai arahanku juga dia naik bis nomor 76 dan turun di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebagai teman yang baik (mungkin juga cuma pura-pura baik, hehe) aku menjemputnya di tempat itu. Syukurlah, ketemu juga. Aku pikir dia bakalan kesasar turun dari bis di tempat yang bukan pemberentian akhir. Hal itu sering terjadi bagi orang yang belum biasa mengunjungi Jakarta.

Dengan kaos yang telah kusut dan senyum yang tidak manis Topan menemuiku. Wajar saja, hampir sehari semalam dia dalam perjalanan. Apalagi di kereta yang biasanya penuh sesak dengan manusia itu. Selelah bertemu, dia mentraktirku makan bakso, sholat jum’at dan sempat juga ngelihatin cewek-cewek UIN. Di kampus itu aku akui memang banyak sekali ceweknya, cantik-cantik juga, hehe. Berbeda dengan kampusku yang pas jika dikatakan kebalikannya. Kemudian aku ajak dia ke kosku di daerah dekat Bintaro. Ah, barangkali akan jadi satu novel kalau kuteruskan ceritaku dengan Topan saat di Jakarta yang cuma beberapa hari itu, berikut detailnya dan juga nilai-nilainya. Bukan itu, aku tidak ingin menuliskan cerita panjang. Barangkali hanya bagian yang menurutku menarik.

*

Beberapa hari di Jakarta aku sudah menemani Topan mengunjungi beberapa tempat. Termasuk di antaranya universitas yang dikelola ustadz Yusuf. Sayang sekali saat itu ustadz Yusuf tidak ada di tempat. Untuk melengkapi kunjungannya ia ajak juga aku ke jantung kota Jakarta, tepatnya monas dan masjid Istiqlal. Karena capek, aku menolak dan menjanjikan pergi besoknya.

Siang itu, hari selasa kira-kira jam sebelas siang, aku dan Topan telah sampai di monas meski sempat kesasar juga. Saat itu memang juga kunjungan pertamaku di tempat kebanggaan ibu kota itu, meski telah hampir setahun di Jakarta. Hehe, katrok memang. Tapi gak apalah, toh akhirnya sudah kukunjungi juga. Sebelum sampai di monas Topan memintaku mengambilkan uangnya lewat ATM yang kemudian disimpannya dalam tas. Esok hari dia berencana langsung balik ke Jombang. Mengenai tas Topan ini akan ada kelanjutan ceritanya nanti.

Rumput-rumput di taman monas menari-nari menyambut aku dan Topan datang. Pohon-pohon bergoyang lebih dahsyat lagi seakan tidak mau kalah. Selain panas angin juga bertiup cukup kencang waktu itu. Puncak monas yang konon berlapis emas melambaikan kilauannya, seakan mengundang manusia untuk meraihnya. Seharian Topan dan aku menghabiskan waktu di tempat itu yang kemudian dilanjutkan sholat maghib dan isya di masjid Istiqlal.

Kira-kira jam sembilan malam aku dan Topan baru bisa keluar dari masjid setelah tas kami terkunci dalam ruangan yang ditinggal tidur penjaganya. Kami memutuskan untuk kembali ke monas untuk menghabiskan malam. Dalam perjalanan sempat kujumpai orang-orang yang tergolek rapi di trotoar-trotoar jalan untuk melepas lelah: lelaki-wanita, tua-muda, bahkan ada juga yang masih bayi. Itu adalah saat pertama aku melihat kehidupan malam mereka yang nasibnya terpinggirkan di kota terbesar di Indonesia. 

Sampai di monas, masih tampak tempat itu ramai dengan orang berlalu-lalang: mereka yang pacaran, main bola, ngopi dan banyak lagi. Aku dan Topan mengambil tempat di taman. Dengan berbatang-batang rokok dan goyonan-guyonan kulalui waktu malam itu.

“Hari yang melelahkan”, pikirku. 

Kulihat Topan yang sudah nampak tertidur mendahului. Beralaskan rumput yang siang tadi tampak menari-nari. Beratapkan cakrawala gelap berhiaskan bintang di langit tinggi. Dan tak kulupa juga berbantalkan tasnya sendiri. Saat itu mulai aku merasa sepi, sebentar dalam sunyi kemudian tenggelam juga ke dalam mimpi.

Kurang lebih satu jam aku tertidur saat itu. Seperti ada yang membangunkan kubuka mataku pelan-pelan. Kulihat ke arah Topan, ia nampak tertidur pulas. Kemudian kuarahkan mataku ke atas. Aku sangat terkejut melihat ada orang di atasku, di atas aku dan Topan tidur. Dia terbaring dengan kepala tepat di atas Topan. Aku ingat tangannya yang waktu itu meraih tas Topan tapi tidak atau belum menguaisainya. Dia pun terkejut melihat aku terbangun. Sambil membangunkan Topan kutanyai dia.

“Ada perlu apa Bang?”

“Gini mas”, dia memulai dan Topan sudah terbangun, “tadi ada tiga orang kesini bermaksud mengganggu Mas, kemudian saya kesini bermaksud menolong supaya mas tidak diganggu.”

“Kemana orangnya?” tanyaku lagi.

“Mereka sudah pergi setelah kubilang Mas temanku dan kularang mengganggu,” jawabnya singkat.

Kemudian setelah minta diri dia pergi entah kemana. Aku sendiri walau menaruh curiga, tidak mau memperpanjang masalah itu. Aku sadar telah tidur di tempat yang salah. Barangkali itu juga karena tidurku itu sendiri. Tidur yang menyebabkan, mungkin, hampir saja tas Topan menghilang tanpa tahu arahnya, barang-barangnya dan juga uangnya. Topan yang terlihat masih mengantuk kuajak pindah tempat. Kira-kira saat itu jam setengah satu malam dan monas terlihat lebih sepi dibanding saat sebelum tidur tadi.

Aku dan Topan mendapatkan stasiun Gambir. Tidak aku dapatkan tidur lagi waktu itu, juga Topan. Kami menghabiskan malam dengan makan nasi goreng, nonton sepak bola bareng tukang becak dan supir-supir angkot, ngopi dan tak lupa menghisap rokok. Karena capek Topan akhirnya memutuskan tidak jadi langsung pulang. Kira-kira jam setengah empat kami dapatkan bis yang membawa kami balik ke kos.

Di dalam bis masih sempat kuingat-ingat kejadian malam itu: seorang asing (barangkali juga maling), tas, uang, perjalanan pulang. Setelah beberapa hari kucoba tafsiri sendiri, kukait-kaitkan dengan kehidupan. Gara-gara tidur dan kurang pandai menempatkan diri, (jika memang benar orang itu maling) Topan hampir saja kehilangan apa yang menjadi bekalnya. Kalau saja bekal itu adalah bekal hidup, umur misalnya, bisa jadi hal itu mengakibatkan Topan terlambat sampai pada tujuan hidupnya, atau mungin bahkan tidak sama sekali. Dan tujuan manusia hidup di dunia tidak lain adalah untuk sampai kepada-Nya.

Sudahlah, paling sudah kudapatkan satu kesimpulan:  kurangi tidur dan pandai-pandai menempatkan diri, hehe. 

Ditulis di:
Kalimongso

Minggu, 03 Juli 2011

Memandang Perbedaan

Pada tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Jeroan Manusia”, telah disinggung mengenai manusia yang berbeda antara satu dengan lainnya. Perbedaan yang disebutkan antara lain perbedaan sifat dan tingkah polahnya. Selain perbedaan-perbedaan itu, masih terdapat banyak lagi perbedaan-perbedaan lain, diantaranya: perbedaan keyakinan (ideologi), pemikiran, gaya hidup (life style), filosofi kehidupan dan lain-lain. Dari banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut, maka akan dibutuhkan juga cara untuk menyikapinya. Tentunya sikap tersebut bukanlah rumusan yang mutlak, setiap manusia akan berbeda menurut situasi dan kondisi masing-masing, akan tetapi yang menjadi pertimbangan adalah manusia juga dituntut untuk berbuat hati-hati dan bijaksana dalam menyikapi segala perbedaan. Barangkali itulah yang menjadi fokus tulisan ini, pandangan saya mengenai kehati-hatian dan kebijaksanaan itu.

Ada dua kategori sikap yang ingin coba saya tuliskan terkait permasalahan di atas. Pertama, bagaimana seharusnya menyikapi perbedaan antara pandangan (teori) yang fundamental dan urgen dalam masyarakat dengan pandangan golongan-golongan masyarakat tertentu. Pembagian pandangan disini memang bersifat relatif, yang saya maksudkan dengan pandangan (teori) yang fundamental dan urgen yaitu terbatas pada permasalahan ideologi dan halal-haram yang telah terang dijelaskan. Sedangkan pandangan golongan masyarakat tertentu antara lain pemikiran para ahli, life style dan filosofi kehidupan dimana golongan masyarakat tertentu bisa berbeda dan punya alasan masing-masing. Kategori kedua yaitu bagaimana seharusnya menyikapi khilafiyah (perbedaan yang bersifat pilihan) bagi umat muslim.

Manusia itu berbeda-beda. Kebanyakan manusia mengakui dan menyadari hal tersebut akan tetapi tidak siap terhadapnya. Akibatnya karena ketidaksiapan itu sering kali manusia menyalahkan orang lain hanya karena orang tersebut berbeda dengannya. Itulah alasan saya menguraikan kategori sikap yang pertama. Banyak orang menyebutkan orang lain salah atau bisa juga belum mendapat petunjuk (hidayah), ketika orang tersebut masih meyakini dan melakukan pandangan golongan masyarakat tertentu (dalam hal ini: pemikiran para ahli, life style dan filosofi hidup) yang berbeda dengannya. Padahal antara yang satu dengan yang lain atas dasar tertentu tiada yang dapat lebih dibenarkan. Hal ini tentu saja sangat disayangkan karena bisa jadi menimbulkan efek buruk pada dirinya atau orang lain. Permasalahan akan menjadi berbeda ketika pandangan tersebut berkaitan dengan dengan masalah ideologi dan halal-haram yang telah jelas menurut dasar tertentu. Orang bisa saja dikatakan salah atau belum mendapat petunjuk ketika orang lain melanggar atau tidak mengikutinya. Perbedaan cara menyikapi pandangan ini akan bermanfaat pada kesiapan menerima perbedaan sehingga menghindarkan pada perselisihan yang tidak perlu dan penghormatan atas perasaan serta keyakinan orang lain.

Agama islam memang mengenal khilafiyah. Hal ini dikarenakan dasar-dasar dalam islam sendiri (Al-Qur’an dan Al-Hadits), beberapa diantaranya membutuhkan penafsiran dari para ahli yang mana penafsiran itu bermacam-macam. Pun pada salah satu ayat Al-Qur’an menyebutkan bahwa isi dalam Al-Qur’an itu ada ayat-ayat muhkamat (terang dan jelas maksudnya; dapat dipahami dengan mudah) dan ayat-ayat mutasyabihat (mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat menentukan arti mana yang dimaksud kecuali Allah). Ayat-ayat tersebut membutuhkan penafsiran, dan dalam kenyataannya penafsiran para ahli memang berbeda, itulah salah satu contoh khilafiyah. Hanya saja dalam banyak kejadian seringkali terjadi perselisihan terkait masalah khilafiyah ini, antara muslim satu dengan muslim lain saling menyalahkan, membenci, mencemooh bahkan saling mengkafirkan. Kemudian yang jadi pertanyaan adalah, apakah layak perbuatan tersebut dilakukan kepada sesama muslim? Bagaimanapun kebencian merupakan peyakit hati yang harus dihindari. Bahkan, dalam islam kepada binatang pun diperintahkan untuk menyayangi. Dan lagi jika dikaitkan dengan persatuan dan kesatuan, tentu permasalahan semacam ini akan dapat memecah belah umat islam.

Kejadian di atas memang patut untuk disayangkan. Berikut adalah pemikiran yang barangkali bijak terkait hal ini. Ketika ada pertanyaan: doa siapa yang akan diterima Tuhan, doa orang yang merasa salah atau doa orang yang merasa benar?, maka jawabannya adalah doa orang yang merasa salah. Lalu, bukankah suatu hal yang mengherankan apabila manusia mencari-cari dan kemudian menyalahkan orang lain, apalagi sampai membencinya. Itulah, seringkali paradigma yang berkembang adalah belajar itu untuk bisa menyalahkan orang lain, padahal seharusnya untuk bisa menyalahkan diri sendiri. Sebagai penutup, saya teringat dawuhnya KH Asrori Al-Ishaqy dalam salah satu pengajiannya: Khilafiyah itu jangan dilihat hanya dari perbedaannya - tidak akan ketemu, wong punya alasan masing-masing - tetapi lihatlah kepada ada atau tidaknya hikmah dan manfaat yang terkandung di dalamnya.

Ditulis di:
Kalimongso

Kamis, 30 Juni 2011

Jeroan Manusia

Manusia, kata yang memang selalu menarik untuk diamati, dipelajari dan dikaji. Saya pikir hal itu wajar saja, dari manusia selalu bisa didapatkan sesuatu yang berbeda dan baru. Manusia dengan sifat-sifatnya, manusia dengan semua tingkah polahnya, hubungan manusia dengan sesamanya, Tuhannya, alam semesta dan masih banyak lagi. Tentu saja saya tidak akan menuliskan semuanya, sangat kurang ilmu dan pengetahuan saya tentang itu. Disini saya hanya akan menuliskan sedikit catatan saya tentang manusia yang saya dapatkan entah itu dari pengamatan ataupun pergaulan, kemudian nantinya mencoba menghubungkan dengan pengetahuan saya.

Manusia memang diciptakan bermacam-macam, diamati atau tidak saya yakin semua orang akan setuju dengan hal itu. Semakin diamati detailnya, maka akan didapatkan semakin banyak perbedaan. Bahkan ada yang bisa melihat jeroan (pedalaman) manusia dari telapak tangannya, raut mukanya dan lain-lain. Dinilai berdasarkan sifat-sifatnya akan didapatkan manusia penyayang, baik hati, lemah lembut, perasa dan lain-lain. Namun ada juga manusia yang kebalikan dari itu: pemarah, kikir, kasar, kaku dan lain-lain. Dilihat dari tingkah polahnya ada manusia yang banyak bicara tetapi sedikit bekerja dan tidak tau-menau maksudnya; ada lagi manusia yang sedikit bicara, banyak bekerja namun tidak tau-menau maksudnya; ada juga manusia yang sedikit bicara, banyak bekerja dan tau betul maksudnya; dan tentunya masih banyak lagi kemungkinan selainnya. Pengetahuan akan hal itu paling tidak nantinya bisa mempengaruhi pola pikir dan aktivitas manusia entah itu dalam bentuk lebih berhati-hati, peduli atau yang lain.

Dari banyaknya kemungkinan sifat dan tingkah polah manusia, kemudian akan timbul pertanyaan berikut: Tidak adil dong perbedaan-perbedaan itu, kasian mereka yang terlanjur diciptakan dengan sifat-sifat dan tingkah polah yang kurang baik?. Pertanyaan tersebut memang masuk akal, bagaimanapun akan ada banyak sekali yang ikut membentuk kepribadian manusia, sifat dan tingkah polahnya. Sebut saja orang tua, lingkungan, pergaulan dan lain-lain. Sebagai contoh orang yang hidup di Jawa berbeda sifat dan tingkah polah dengan yang hidup di Sumatera, yang orang tuanya maling berbeda dengan yang orang tuanya ulama, dan masih banyak lagi. Padahal orang-orang tersebut tidak ikut menentukan semua itu. Pertanyaan seperti itu dapat dijawab dari beberapa argumen berikut:
  • Manusia telah dibekali dengan hati dan akal pikiran dimana dengan bekal itu ketika telah cukup usia, manusia dapat membedakan, memilah dan memilih mana yang akan dilakukan atau ditinggalkannya.
  • Tuhan tiada menilai perbuatan manusia dari sifat-sifatnya dan baik atau buruk tingkah polahnya, tetapi antara yang diridloi-Nya atau tidak. Berapa besar pun kebaikan yang dilakukan manusia tiada menambah kebesaran-Nya dan berapa besar pun keburukan manusia tiada mengurangi keagungan-Nya.
  • Pada semua manusia akan selalu dijumpai kekurangan dan kelebihan. Itu memang hakikat penciptaannya, dimana manusia yang satu tiada yang lebih segala-galanya dari yang lainnya. Maka tidak dapat dibenarkan manusia yang merasa lebih atau kurang dari sesamanya.

Pengetahuan tentang banyaknya kemungkinan sifat dan tingkah polah manusia akan membawa pada suatu manfaat, antara lain dapat menumbuhkan sifat saling menghormati, menghargai dan ikut berempati kepada manusia lain. Seperi yang dituliskan Chairil Anwar dalam salah satu bait puisinya berjudul “Pemberian Tahu”, manusia memang memiliki nasib yang merupakan kesunyian masing-masing, antara manusia yang satu berbeda dengan manusia yang lain. Ada manusia yang merasa lebih tenang dengan diam, ada yang memang suka bicara, ada juga yang baru merasa senang ketika telah melakukan sesuatu. Dari semua kemungkinan itu tiada yang lebih mulia, kecuali yang lebih banyak kadar manfaat kepada sesamanya. Dan manusia pun tiada berhak untuk menilai itu, semua terserah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Barangkali akan ada juga yang bertanya tentang alasan mengamati manusia yang menghabiskan waktu dan tiada sangkut pautnya diri sendiri itu. Disini yang saya maksudkan mengamati bukan untuk mencari-cari kesalahan orang lain yang kemudian merendahkan atau memfitnahnya, akan tetapi mengamati untuk saling mengenal. Dan ternyata Tuhan pun dalam firmannya mengatakan demikian. Dalam Al-Qur'an Tuhan mengatakan bahwa telah menciptakan manusia itu: Syu'uban wa qabaila lita'arafu (bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal). Yang dimaksud mengenal disini tidak sekedar bersalaman kemudian saling tahu nama masing-masing dan bergaul. Karena ternyata ada juga manusia yang tidak suka dengan proses cepat itu, dan kembali lagi itu kesunyian masing-masing. Yang dimaksud mengenal disini adalah mengenal sifat-sifat dan tingkah polah manusia yang nantinya membawa kepada sifat saling menghormati, menghargai dan ikut berempati seperti yang telah disebutkan di atas tadi. Wallahu a'lam


Ditulis di:
Kalimongso, 28 Juni 2011 11:01

Minggu, 26 Juni 2011

Al-Qur,an, Petunjukkah?

Tuhan memberikan akal kepada manusia untuk berpikir. Begitu agung karunia Tuhan itu. Akal membedakan manusia dengan makhluk Tuhan lainnya. Akal juga yang bisa menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling mulia. Maka, sangat merugi manusia yang tak mau menggunakannya. Terkait dengan itu yang jadi permasalahan adalah apakah manusia telah menggunakan akalnya dengan sebaik-baiknya sehingga mengarahkannya kepada kebenaran, atau jangan-jangan akal malah menjerumuskannya kepada kesesatan? Lalu apakah salah manusia yang telah menggunakan akalnya walau itu untuk menanyakan hal yang tidak seharusnya? Barangkali itulah pokok bahasan yang ingin saya uraikan disini.

Untuk menjawab pertanyaan pertama, saya teringat pemikiran yang pernah disampaikan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam salah satu forumnya, Kenduri Cinta. Barangkali saya kurang cermat mengkajinya maka anggap saja ini versi saya. Dalam pemikirannya Cak Nun menghubungkan akal dengan hati dan mengibaratkannya dengan perumpamaan dalam Al-Qur’an yaitu: Al-misbahu fi zujajah (pelita dalam kaca), gambarannya barangkali mirip lampu bolam. Al-mishbah (pelita atau cahaya) diartikan dengan hati dan zujajah (kaca) diartikan dengan akal atau pikiran. Maksud dari perumpamaan tersebut yaitu: kalau hati merupakan pelita yang terdapat dalam kaca (pikiran), maka hati disini berfungsi untuk menyinari pikiran dan pikiran berfungsi untuk melindungi hati. Sedangkan hati sendiri (dalam hal ini hati nurani) merupakan sumber kebenaran yang berasal dari Tuhan (dengan kata lain hati juga sebagai penangkap cahaya kebenaran dari Tuhan). Hal ini berarti kemampuan hati untuk menangkap cahaya dari Tuhan juga tergantung dari bersih atau tidaknya kaca (pikiran) itu tadi. Jadi, dari perumpamaan tersebut dapat diketahui bahwa agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan dalam berpikir manusia harus mendengarkan suara hatinya. Pikiran juga harus senantiasa dijaga kebersihannya supaya memudahkan hati menerima petuntuk (hidayah) dari Tuhan. Lalu, yang dimaksud dengan pikiran yang kotor itu apa, yaitu apabila dalam berpikirnya hanya sekedar untuk mencari pembenaran, untuk menjelek-jelekkan, untuk merendahkan atau mengalahkan orang lain.

Akal memang diberikan kepada manusia untuk berpikir. Banyak sekali keterangan dalam Al-Qur’an mengenai hal itu. Saya sendiri sangat menaruh hormat kepada manusia yang mau menggunakan pikirannya, apapun yang dipikirkannya itu. Dalam hal ini, memang akallah yang akan mengarahkan kepada manusia supaya memperoleh petunjuk Tuhan, dan peluang untuk mendapatkan petunjuk itu masih akan terbuka selama manusia masih mau menggunakan pikirannya. Bisa jadi atau mungkin juga sering kali petunjuk itu datang setelah manusia berada dalam kesesatan. Hanya saja yang perlu dicermati disini adalah tujuan dari manusianya sendiri dalam menggunakan pikiran itu, tentunya petunjuk itu tidak mungkin datang bagi manusia yang hanya ingin mencari pembenaran, menjelek-jelekkan, merendahkan atau ingin mengalahkan orang lain.

Untuk menggambarkan tetang bermacam-macamnya pikiran saya ingin menuliskan pengalaman yang menurut saya menarik. Selain pengalaman itu sendiri disini saya juga ingin memberikan jawaban atas pertanyaan yang terdapat dalam pengalaman tersebut. Suatu ketika saya berkunjung ke salah seorang teman di Surabaya. Di salah satu pertemuan saya dengan teman tersebut ialah tepat di saat salah seorang temannya bertanya kepadanya. Kurang lebih pertanyaan itu demikian: Benarkah Al-Qur’an itu petunjuk? Kalau iya, bagaimana dengan ayat yang bunyinya alif-laam-miim (ayat pertama surat al-Baqarah, Ali Imran atau yang lain) yang katanya tidak punya arti? Bagaimana mungkin petunjuk itu tak punya arti? Bukankah itu membuktikan bahwa Al-Qur’an tidak bisa dikatakan sebagai petunjuk?

Bagi saya tentu boleh saja bertanya seperti itu selama memang bertujuan mencari kebenaran seperti yang disebutkan dalam keterangan di atas. Saya yang memang sejak kecil diarahkan untuk meyakini Al-Qur’an sebagai petunjuk, terus terang merasa tertunjuk mendengar pertanyaan itu. Tetapi justru hal itu yang membuatnya menarik, rasanya baru pertama kali saya mendengar pertanyaan semacam itu. Setelah mendengar pertanyaan itu, teman saya menjawabnya tetapi tidak memuaskan penanya. Saya sendiri waktu itu juga memberikan jawaban. Barangkali jawaban saya waktu itu juga belum bisa memuaskan penanya. Saya katakan demikian karena setelah menjawab pertanyaan itu saya langsung meninggalkan tempat karena memang ada teman lain yang sedang menunggu. Di sini saya akan menuliskan kembali dan melengkapi jawaban itu. Sebagai gambaran, jawaban yang akan saya tuliskan di sini hanya terkait dengan penggunaan dalil aqli (akal pikiran) bukan dalil naqli (nash Al-Qur’an atau Hadits).

Al-Qur’an secara istilah syari’at (terminologi) diartikan sebagai kalam Allah yang diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad dengan perantara malaikat jibril sebagai pedoman serta petunjuk seluruh umat manusia dan yang membacanya bernilai ibadah. Dari pengertian tersebut didapatkan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk yang berisi surat-surat dari al-Fatihah sampai dengan An-naas, maka secara logika tidak bisa Al-Qur’an dilihat dari satu ayatnya saja. Sebagai perbandingan, Undang-Undang atau buku-buku yang lain juga tidak bisa dinilai demikian. Bayangkan jika Al-Qur’an, Undang-Undang atau buku-buku yang lain itu dilihat dari satu kalimatnya saja, misalkan satu kalimat tentang bersetubuh atau menyusui, tidak bisa kan Al-Qur’an, Undang-Undang atau buku-buku itu sebagai buku porno. Itulah gambarannya.

Dari segi yang lain, pertanyaan di atas juga dapat dijawab demikian: Ayat yang bunyinya alif-laam-miim itu bisa juga dikatakan petunjuk bagi manusia. Petunjuk bahwa Allah mempunyai ilmu yang luas sedangkan manusia berada dalam keterbatasan, ayat itu sebagai bukti bahwa karena luasnya ilmu Allah maka masih ada rahasia yang tidak diketahui manusia. Dan dalam kenyataannya pun memang demikian.

Itulah jawaban dari pertanyaan dalam pengalaman saya. Karena keterbatasan saya, bisa jadi jawaban tersebut juga belum memuaskan penanya. Akan tetapi jawaban dari orang lain yang lebih kompeten saya yakin nantinya bisa memberikan hasil berbeda. Dari situ saya ingin menyimpulkan: Suatu pandangan dalam agama adalah bagian dari pandangan hidup yang memang sangat kompleks, menyangkut orang banyak dan di dalamnya terdapat banyak pertanyaan. Tentunya jawaban yang hanya dari seorang saja (kalau jawaban itu tidak memuaskan atau tidak masuk akal), tidak bisa menyimpulkan bahwa pandangan itu salah atau keliru. Hal ini karena di atas langit masih ada langit. Wallahu a’lam

Kamis, 23 Juni 2011

Lima Syarat Satria Jawa

Terdapat lima syarat yang ada pada satria Jawa. Sebagai keturunan Jawa patut kiranya mengetahui kelima syarat tersebut. Itulah salah satu yang saya dapatkan setelah membaca buku Bumi Manusia, bagian pertama Tetralogi Buru karangan Pramoedya Ananta Toer. Lima syarat tersebut antara lain wisma, wanita, turangga, kukila dan curiga. Berikut ini adalah penjelasan dan arti dari lambang-lambang tersebut.

1. Wisma

Wisma berarti rumah. Tanpa orang tak mungkin satria. Orang hanya gelandangan. Rumah, tempat seorang satria bertolak, tempat dia kembali. Rumah bukan sekedar alamat, tetapi tempat kepercayaan sesama pada yang meninggali.

2. Wanita

Tanpa wanita satria menyalahi kodrat sebagai lelaki. Wanita adalah lambang kehidupan dan penghidupan, kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan. Wanita bukan sekedar istri untuk suami, dia sumbu pada sumua, penghidupan dan kehidupan berputar dan berasal. Seperti itu juga seorang satria harus memandang seorang ibu dan berdasarkan itu pula anak-anak seorang satria yang perempuan nanti harus dipersiapkan.

3. Turangga

Turangga berarti kuda. Kuda ialah alat yang dapat yang bisa membawa seorang satria kemana-mana. Itulah ilmu, pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan, keahlian dan akhirnya – kemajuan. Tanpa turangga seorang satria takkan jauh langkahnya, juga pendek penglihatannya.

4. Kukila

Kukila berarti burung. Itulah lambang keindahan, kelangenan (hobi), segala yang tak ada hubungan dengan penghidupan, hanya dengan kepuasan batin pribadi. Tanpa itu seorang satria hanya sebongkah batu tanpa semangat.

5. Curiga

Curiga ialah keris. Keris sebagai lambang kewaspadaan, kesiagaan dan keperwiraan. Keris juga alat untuk mempertahankan yang empat sebelumnya. Tapa keris yang empat tadi akan bubar binasa bila mendapat gangguan.

Itulah lima syarat yang harus dimiliki seorang satria menurut leluhur Jawa. Memang, barangkali di kehidupan yang modern ini permasalahan akan lebih kompleks dari sekedar itu, barangkali juga akan ada yang mengatakannya lebih sederhana – tergantung yang merasakannya. Apapun itu paling tidak hal tersebut menunjukkan bahwa sejak zaman dahulu pun, leluhur nusantara sudah maju keilmuan dan peradabannya. Selain sebagai pengetahuan, saya sendiri punya pandangan berkaitan dengan catatan saya ini.

Catatan ini boleh jadi penting untuk zaman seperti saat ini. Banyak warisan berharga dari leluhur nusantara (di sini saya khususkan Jawa) yang mulai banyak dilupakan pewarisnya sendiri. Lebih ironis lagi hal-hal semacam itu seringkali dianggap ketinggalan zaman. Banyak orang lebih tertarik untuk mengkaji, menggeluti bahkan memuja dan mengagung-agungkan budaya yang tidak ada sangkut paut dengan asal-muasalnya. Tiada salah memang, dunia memang sedang menghendaki semacam itu. Cuma saya pikir tiada salah juga untuk mengkaji hal tersebut. Salah satu wawasan keilmuan mengatakan bahwasannya manusia harus dapat menemukan dirinya sendiri sebelum menemukan selainnya. Hal itulah yang akan mengantarkannya kepada kesuksesan, kejayaan dan kemudian natinya kebahagiaan dirinya. Lebih jauh lagi hal itu pula yang akan mengantarkannya untuk menemukan Tuhannya. Lalu, bagaimana mungkin seseorang dapat mengenal dirinya sendiri sepenuhnya tanpa ia tau asal-usulnya?

Barangkali saya salah, mari coba cermati analisis sederhana ini. Seseorang yang buta warna atau mengidap penyakit turunan tertentu akan menurunkan buta warna atau penyakit turunannya kepada anak-anaknya. Kalaupun tidak, minimal sang anak akan dikatakan pembawa sifat (penyakit) dari orang tuanya. Semakin lama (turun-temurun) bisa jadi kadar dari pembawaan sifat (penyakit) tersebut akan semakin berkurang. Tetapi juga lebih memungkinkan (dibandingkan dengan keturunan yang sama sekali tidak membawa penyakit dari orang tuanya) keturunan kesekian tersebut dengan kondisi tertentu akan mengidap penyakit yang sama seperti leluhurnya. Sekarang coba kaitkan dengan manusia dalam hal pengetahuan akan asal-usul (sejarahnya). Penyakit itu ibarat kesuksesan dan kejayaan manusia. Kesuksesan dan kejayaan itupun bisa jadi pada suatu masa tertentu akan semakin berkurang. Tetapi dengan kondisi tertentu kesuksesan dan kejayaan itu akan lebih memungkinkan untuk didapatkannya kembali. Hal itu berarti memang dibutuhkan kondisi tertentu untuk mendapatkannya. Yang dimaksudkan dengan kondisi tersebut adalah usaha dan kemauan untuk mengetahui sejarah dan asal-usulnya. Jika hal tersebut dikaitkan kembali  dengan penyakit di atas, tentunya keturunan yang akan mengidap penyakit yang sama dengan leluhurnya ialah keturunan yang meniru tingkah polah leluhurnya. Sedangkan, mana mungkin ia bisa menirunya kalau ia tidak tau sejarahnya. Itulah pentingnya mengenal asal-usul dan sejarah. Paling tidak untuk menumbuhkan kepercayaan diri kita sebagai bangsa yang beradab dan berkebudayaan tinggi.

Sumber:
Bumi Manusia (1980), bagian pertama Tetralogi Buru 
Pramoedya Ananta Toer

Minggu, 19 Juni 2011

Puasa, Sarana Menggapai Kesuksesan

Ada banyak sarana untuk menggapai kesuksesan hidup. Beberapa diantaranya berkaitan langsung (merupakan hubungan sebab akibat) dengan yang ingin digapai tersebut dan beberapa yang lain tidak berhubungan langsung. Sebut saja ketika seseorang ingin menjadi dokter, maka yang seharusnya ia usahakan ialah berusaha untuk dapat kuliah di fakultas kedokteran atau (jika sudah) ia harus bersungguh-sungguh dalam belajar. Itulah sarana yang berhubungan langsung dengan kesuksesan yang ingin digapai. Namun ada juga sarana yang tidak berhubungan langsung dengan kesuksesan yang ingin digapai. Dalam hal ini keyakinanlah yang akan berperan dominan. Adakalanya yang diusahakan itu tidak berkaitan langsung dengan kesuksesan, adakalanya juga yang dilakukan memang gak nyambung, tergantung keyakinan itu tadi. Tulisan ini akan mencoba mencermati hal tersebut.

Barangkali ada banyak sekali sarana tidak  langsung untuk menggapai kesuksesan. Ada yang positif ada juga yang negatif. Yang positif contohnya: puasa, berdoa, beribadah, dan lain-lain. Sedangkan yang negatif seperti: minta bantuan dukun, pakai jimat, dan lain-lain. Disini satu hal yang ingin saya cermati, yaitu puasa. Puasa bagi umat muslim, apabila dilakukan dengan ketentuan tertentu, akan bernilai ibadah. Terlepas dari hal itu, puasa juga seringkali dikaitkan tirakat dalam adat masyarakat jawa. Orang-orang tua seringkali menasehati anak-anaknya untuk bertirakat agar dikemudian hari dapat hidup enak, meraih sukses dan lain-lain.

Terdapat sebuah fenomena alam yang mecontohkan kaitan bertirakat (dalam hal ini berpuasa) dengan kesuksesan. Bagi saya, hal ini penting karena memang kehidupan di alam semesta ini berjalan menurut aturan hukum alam (sunnatullah). Untuk itu, selayaknya setiap fetiap fenomena yang terjadi di alam ini dicermati, dihayati yang kemudian diambil hikmah dan pelajaran. Fenomena yang saya maksudkan di sini adalah perubahan ulat menjadi kupu-kupu. Saya sendiri mendapatkan ilmu ini ketika berada di warung kopi. Barangkali agak berlebihan, tapi (terlepas dari madlorot-nya) seringkali saya menyebutkan warung kopi sebagai sumber ilmu pengetahuan. Orang bicara politik (meskipun sebenarnya tidak tau), ekonomi, sosial dan berbagai macam ilmu di warung kopi, hehe. Suatu ketika di warung kopi seorang bapak berbicara dengan saya tentang puasa sunah. Terkait dengan itu, tiba-tiba ia bicara mengenai seekor ulat. Seekor ulat yang setiap hari makan daun dan berjalannya pun merangkak. Lalu ulat pun bertirakat (si bapak tadi menyebutnya berpuasa). Setelah sekian waktu ulat pun berubah menjadi kepompong kemudian kupu-kupu yang dapat tebang dan menghisap madu. Subhanallah, begitu sukses ulat itu. Puasa merubahnya dari yang hanya bisa merangkak manjadi bisa terbang, dari yang hanya makan daun menjadi menghisap madu. Puasa menjadikannya meraih kesuksesan.

Hubungan puasa dengan kesuksesan selain dapat digambarkan dari fenomena ulat di atas juga dapat dicermati dari manfaat-manfaat yang ditimbulkan. Saya mempunyai analisis sederhana mengenai hal ini. Ketika berpuasa, manfaat-manfaat yang ditimbulkan dapat digambarkan dari hal-hal berikut:
  • Orang yang berpuasa (menurut istilah syariat islam) adalah orang yang menahan diri dari makan, minum dan hal-hal yang membatalkan puasa. Dalam hal ini puasa melatih orang untuk menahan diri.
  • Ketika berpuasa, agar orang dapat bertahan (tidak kehabisan energi) sampai bedug maghrib tiba maka ia akan mengatur aktivitasnya. Puasa juga tiada akan bernila ketika orang yang yang berpuasa menggunakan waktunya untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Ini berarti puasa melatih orang untuk mengatur diri.
  • Orang yang berpuasa akan sabar walau dalam himpitan rasa lapar dan dahaga. Ini berarti puasa melatih kesabaran.

Akan ada banyak lagi manfaat-manfaat puasa selain tiga yang saya sebutkan di atas. Tapi, kaitannya dengan kesuksesan barangkali tiga hal di atas menjadi dominan. Bayangkan ketika orang sukses tidak mampu menahan diri. Ia akan berfoya-foya, hidup boros dan pada akhirnya kesuksesan yang diraihnya pun tidak akan tahan lama. Orang yang sukses, maka pastilah ia pandai mengatur waktu dan pandai mengatur dirinya sendiri. Begitu juga, sedikit atau banyak kesuksesan pasti diraih dengan kesabaran dan ketekunan. Dan itu semua dapat dilatih dengan berpuasa.

Ada banyak sekali waktu yang dianjurkan untuk berpuasa menurut islam. Semakin sering berpuasa, maka semakin baik. Nabi muhammad saw sendiri, meski melarang umatnya untuk berpuasa sepanjang waktu, menganjurkan untuk berpuasa tiga hari setiap bulan, jika mampu lagi maka berpuasalah senin-kamis, atau jika mampu lagi berpuasalah nabi Dawud (sehari puasa sahari berbuka). Selain itu dalam islam juga terdapat waktu dimana sebulan penuh diwajibkan untuk berpuasa. Dari keterangan-keterangan di atas, tentulah hal tersebut tidak akan sia-sia baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Itulah sedikit tulisan saya mengenai puasa sebagai sarana menggapai kesuksesan. Seperti biasa, anda juga boleh tak percaya. Wong yang nulis juga bukan ahli berpuasa, hehe.