Terdapat lima syarat yang ada pada satria Jawa. Sebagai keturunan Jawa patut kiranya mengetahui kelima syarat tersebut. Itulah salah satu yang saya dapatkan setelah membaca buku Bumi Manusia, bagian pertama Tetralogi Buru karangan Pramoedya Ananta Toer. Lima syarat tersebut antara lain wisma, wanita, turangga, kukila dan curiga. Berikut ini adalah penjelasan dan arti dari lambang-lambang tersebut.
1. Wisma
Wisma berarti rumah. Tanpa orang tak mungkin satria. Orang hanya gelandangan. Rumah, tempat seorang satria bertolak, tempat dia kembali. Rumah bukan sekedar alamat, tetapi tempat kepercayaan sesama pada yang meninggali.
2. Wanita
Tanpa wanita satria menyalahi kodrat sebagai lelaki. Wanita adalah lambang kehidupan dan penghidupan, kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan. Wanita bukan sekedar istri untuk suami, dia sumbu pada sumua, penghidupan dan kehidupan berputar dan berasal. Seperti itu juga seorang satria harus memandang seorang ibu dan berdasarkan itu pula anak-anak seorang satria yang perempuan nanti harus dipersiapkan.
3. Turangga
Turangga berarti kuda. Kuda ialah alat yang dapat yang bisa membawa seorang satria kemana-mana. Itulah ilmu, pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan, keahlian dan akhirnya – kemajuan. Tanpa turangga seorang satria takkan jauh langkahnya, juga pendek penglihatannya.
4. Kukila
Kukila berarti burung. Itulah lambang keindahan, kelangenan (hobi), segala yang tak ada hubungan dengan penghidupan, hanya dengan kepuasan batin pribadi. Tanpa itu seorang satria hanya sebongkah batu tanpa semangat.
5. Curiga
Curiga ialah keris. Keris sebagai lambang kewaspadaan, kesiagaan dan keperwiraan. Keris juga alat untuk mempertahankan yang empat sebelumnya. Tapa keris yang empat tadi akan bubar binasa bila mendapat gangguan.
Itulah lima syarat yang harus dimiliki seorang satria menurut leluhur Jawa. Memang, barangkali di kehidupan yang modern ini permasalahan akan lebih kompleks dari sekedar itu, barangkali juga akan ada yang mengatakannya lebih sederhana – tergantung yang merasakannya. Apapun itu paling tidak hal tersebut menunjukkan bahwa sejak zaman dahulu pun, leluhur nusantara sudah maju keilmuan dan peradabannya. Selain sebagai pengetahuan, saya sendiri punya pandangan berkaitan dengan catatan saya ini.
Catatan ini boleh jadi penting untuk zaman seperti saat ini. Banyak warisan berharga dari leluhur nusantara (di sini saya khususkan Jawa) yang mulai banyak dilupakan pewarisnya sendiri. Lebih ironis lagi hal-hal semacam itu seringkali dianggap ketinggalan zaman. Banyak orang lebih tertarik untuk mengkaji, menggeluti bahkan memuja dan mengagung-agungkan budaya yang tidak ada sangkut paut dengan asal-muasalnya. Tiada salah memang, dunia memang sedang menghendaki semacam itu. Cuma saya pikir tiada salah juga untuk mengkaji hal tersebut. Salah satu wawasan keilmuan mengatakan bahwasannya manusia harus dapat menemukan dirinya sendiri sebelum menemukan selainnya. Hal itulah yang akan mengantarkannya kepada kesuksesan, kejayaan dan kemudian natinya kebahagiaan dirinya. Lebih jauh lagi hal itu pula yang akan mengantarkannya untuk menemukan Tuhannya. Lalu, bagaimana mungkin seseorang dapat mengenal dirinya sendiri sepenuhnya tanpa ia tau asal-usulnya?
Barangkali saya salah, mari coba cermati analisis sederhana ini. Seseorang yang buta warna atau mengidap penyakit turunan tertentu akan menurunkan buta warna atau penyakit turunannya kepada anak-anaknya. Kalaupun tidak, minimal sang anak akan dikatakan pembawa sifat (penyakit) dari orang tuanya. Semakin lama (turun-temurun) bisa jadi kadar dari pembawaan sifat (penyakit) tersebut akan semakin berkurang. Tetapi juga lebih memungkinkan (dibandingkan dengan keturunan yang sama sekali tidak membawa penyakit dari orang tuanya) keturunan kesekian tersebut dengan kondisi tertentu akan mengidap penyakit yang sama seperti leluhurnya. Sekarang coba kaitkan dengan manusia dalam hal pengetahuan akan asal-usul (sejarahnya). Penyakit itu ibarat kesuksesan dan kejayaan manusia. Kesuksesan dan kejayaan itupun bisa jadi pada suatu masa tertentu akan semakin berkurang. Tetapi dengan kondisi tertentu kesuksesan dan kejayaan itu akan lebih memungkinkan untuk didapatkannya kembali. Hal itu berarti memang dibutuhkan kondisi tertentu untuk mendapatkannya. Yang dimaksudkan dengan kondisi tersebut adalah usaha dan kemauan untuk mengetahui sejarah dan asal-usulnya. Jika hal tersebut dikaitkan kembali dengan penyakit di atas, tentunya keturunan yang akan mengidap penyakit yang sama dengan leluhurnya ialah keturunan yang meniru tingkah polah leluhurnya. Sedangkan, mana mungkin ia bisa menirunya kalau ia tidak tau sejarahnya. Itulah pentingnya mengenal asal-usul dan sejarah. Paling tidak untuk menumbuhkan kepercayaan diri kita sebagai bangsa yang beradab dan berkebudayaan tinggi.
Sumber:
Bumi Manusia (1980), bagian pertama Tetralogi Buru
Pramoedya Ananta Toer

0 komentar:
Posting Komentar