Kurang lebih setahun yang lalu seorang teman dari Jombang Jawa Timur berkunjung ke tempatku di Jakarta. Topan. Aku biasa memanggilnya dengan nama itu. Sekaligus nama itu juga akan kugunakan sebagai nama samarannya dalam ceritaku ini. Topan ngeluyur ke Jakarta memang dengan suatu tujuan. Bukan saja untuk berlibur di tempat yang memang belum pernah ia kunjungi, ia juga bermaksud mengunjungi salah satu pesantren di daerah Tangerang. Sebelumnya ia telah menyampaikan kepadaku keinginannya untuk nyantri di pesantren asuhan ustadz Yusuf Mansur itu.
Dengan modal restu ibu dan tentu saja uang saku Topan pergi ke kota yang oleh banyak orang disebut kota metropolitan itu. Sesuai arahanku dia naik kereta ekonomi dari Jombang. Setelah sampai di stasiun Pasar Senen, sesuai arahanku juga dia naik bis nomor 76 dan turun di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebagai teman yang baik (mungkin juga cuma pura-pura baik, hehe) aku menjemputnya di tempat itu. Syukurlah, ketemu juga. Aku pikir dia bakalan kesasar turun dari bis di tempat yang bukan pemberentian akhir. Hal itu sering terjadi bagi orang yang belum biasa mengunjungi Jakarta.
Dengan kaos yang telah kusut dan senyum yang tidak manis Topan menemuiku. Wajar saja, hampir sehari semalam dia dalam perjalanan. Apalagi di kereta yang biasanya penuh sesak dengan manusia itu. Selelah bertemu, dia mentraktirku makan bakso, sholat jum’at dan sempat juga ngelihatin cewek-cewek UIN. Di kampus itu aku akui memang banyak sekali ceweknya, cantik-cantik juga, hehe. Berbeda dengan kampusku yang pas jika dikatakan kebalikannya. Kemudian aku ajak dia ke kosku di daerah dekat Bintaro. Ah, barangkali akan jadi satu novel kalau kuteruskan ceritaku dengan Topan saat di Jakarta yang cuma beberapa hari itu, berikut detailnya dan juga nilai-nilainya. Bukan itu, aku tidak ingin menuliskan cerita panjang. Barangkali hanya bagian yang menurutku menarik.
*
Beberapa hari di Jakarta aku sudah menemani Topan mengunjungi beberapa tempat. Termasuk di antaranya universitas yang dikelola ustadz Yusuf. Sayang sekali saat itu ustadz Yusuf tidak ada di tempat. Untuk melengkapi kunjungannya ia ajak juga aku ke jantung kota Jakarta, tepatnya monas dan masjid Istiqlal. Karena capek, aku menolak dan menjanjikan pergi besoknya.
Siang itu, hari selasa kira-kira jam sebelas siang, aku dan Topan telah sampai di monas meski sempat kesasar juga. Saat itu memang juga kunjungan pertamaku di tempat kebanggaan ibu kota itu, meski telah hampir setahun di Jakarta. Hehe, katrok memang. Tapi gak apalah, toh akhirnya sudah kukunjungi juga. Sebelum sampai di monas Topan memintaku mengambilkan uangnya lewat ATM yang kemudian disimpannya dalam tas. Esok hari dia berencana langsung balik ke Jombang. Mengenai tas Topan ini akan ada kelanjutan ceritanya nanti.
Rumput-rumput di taman monas menari-nari menyambut aku dan Topan datang. Pohon-pohon bergoyang lebih dahsyat lagi seakan tidak mau kalah. Selain panas angin juga bertiup cukup kencang waktu itu. Puncak monas yang konon berlapis emas melambaikan kilauannya, seakan mengundang manusia untuk meraihnya. Seharian Topan dan aku menghabiskan waktu di tempat itu yang kemudian dilanjutkan sholat maghib dan isya di masjid Istiqlal.
Kira-kira jam sembilan malam aku dan Topan baru bisa keluar dari masjid setelah tas kami terkunci dalam ruangan yang ditinggal tidur penjaganya. Kami memutuskan untuk kembali ke monas untuk menghabiskan malam. Dalam perjalanan sempat kujumpai orang-orang yang tergolek rapi di trotoar-trotoar jalan untuk melepas lelah: lelaki-wanita, tua-muda, bahkan ada juga yang masih bayi. Itu adalah saat pertama aku melihat kehidupan malam mereka yang nasibnya terpinggirkan di kota terbesar di Indonesia.
Sampai di monas, masih tampak tempat itu ramai dengan orang berlalu-lalang: mereka yang pacaran, main bola, ngopi dan banyak lagi. Aku dan Topan mengambil tempat di taman. Dengan berbatang-batang rokok dan goyonan-guyonan kulalui waktu malam itu.
“Hari yang melelahkan”, pikirku.
Kulihat Topan yang sudah nampak tertidur mendahului. Beralaskan rumput yang siang tadi tampak menari-nari. Beratapkan cakrawala gelap berhiaskan bintang di langit tinggi. Dan tak kulupa juga berbantalkan tasnya sendiri. Saat itu mulai aku merasa sepi, sebentar dalam sunyi kemudian tenggelam juga ke dalam mimpi.
Kurang lebih satu jam aku tertidur saat itu. Seperti ada yang membangunkan kubuka mataku pelan-pelan. Kulihat ke arah Topan, ia nampak tertidur pulas. Kemudian kuarahkan mataku ke atas. Aku sangat terkejut melihat ada orang di atasku, di atas aku dan Topan tidur. Dia terbaring dengan kepala tepat di atas Topan. Aku ingat tangannya yang waktu itu meraih tas Topan tapi tidak atau belum menguaisainya. Dia pun terkejut melihat aku terbangun. Sambil membangunkan Topan kutanyai dia.
“Ada perlu apa Bang?”
“Gini mas”, dia memulai dan Topan sudah terbangun, “tadi ada tiga orang kesini bermaksud mengganggu Mas, kemudian saya kesini bermaksud menolong supaya mas tidak diganggu.”
“Kemana orangnya?” tanyaku lagi.
“Mereka sudah pergi setelah kubilang Mas temanku dan kularang mengganggu,” jawabnya singkat.
Kemudian setelah minta diri dia pergi entah kemana. Aku sendiri walau menaruh curiga, tidak mau memperpanjang masalah itu. Aku sadar telah tidur di tempat yang salah. Barangkali itu juga karena tidurku itu sendiri. Tidur yang menyebabkan, mungkin, hampir saja tas Topan menghilang tanpa tahu arahnya, barang-barangnya dan juga uangnya. Topan yang terlihat masih mengantuk kuajak pindah tempat. Kira-kira saat itu jam setengah satu malam dan monas terlihat lebih sepi dibanding saat sebelum tidur tadi.
Aku dan Topan mendapatkan stasiun Gambir. Tidak aku dapatkan tidur lagi waktu itu, juga Topan. Kami menghabiskan malam dengan makan nasi goreng, nonton sepak bola bareng tukang becak dan supir-supir angkot, ngopi dan tak lupa menghisap rokok. Karena capek Topan akhirnya memutuskan tidak jadi langsung pulang. Kira-kira jam setengah empat kami dapatkan bis yang membawa kami balik ke kos.
Di dalam bis masih sempat kuingat-ingat kejadian malam itu: seorang asing (barangkali juga maling), tas, uang, perjalanan pulang. Setelah beberapa hari kucoba tafsiri sendiri, kukait-kaitkan dengan kehidupan. Gara-gara tidur dan kurang pandai menempatkan diri, (jika memang benar orang itu maling) Topan hampir saja kehilangan apa yang menjadi bekalnya. Kalau saja bekal itu adalah bekal hidup, umur misalnya, bisa jadi hal itu mengakibatkan Topan terlambat sampai pada tujuan hidupnya, atau mungin bahkan tidak sama sekali. Dan tujuan manusia hidup di dunia tidak lain adalah untuk sampai kepada-Nya.
Sudahlah, paling sudah kudapatkan satu kesimpulan: kurangi tidur dan pandai-pandai menempatkan diri, hehe.
Ditulis di:
Kalimongso


0 komentar:
Posting Komentar