Menyambut ramadhan tahun ini aku jadi teringat kenangan ramadhan tahun-tahun sebelumnya: ketika di rumah, pesantren, Surabaya atau tempat-tempat lainnya. Saat itu belum terpikrkan olehku untuk mencatatnya, apalagi menuliskannya dalam bentuk cerita seperti ini. Salah seorang temankulah yang baru-baru ini menginspirasiku untuk menulis.
Bagiku ramadhan memang selalu layak untuk ditunggu. Selain keutamaan-keutamaannya, akan selalu ada hal istimewa yang dilakukan hanya di bulan suci tersebut. Sebut saja puasa sebulan penuh, sholat tarawih, tadarrus Al-Qur’an dan masih banyak lagi. Beberapa diantaranya bahkan bisa jadi merupakan hal baru dan satu-satunya, takkan terulang dan selalu menarik untuk dikenang.
*
Ramadhan empat tahun yang lalu aku masih terdaftar sebagai santri salah satu pesantren di Jawa Timur, tepatnya Ponpes Darul Ulum Jombang. Di tempat itulah untuk pertama kali aku meniggalkan rumah dan keluarga untuk kemudian hidup dengan teman-teman dari seluruh penjuru nusantara. Banyak yang telah aku peroleh dari sana: ilmu, teman, pengalaman dan juga kenangan.
Ponpes Darul Ulum sangatlah luas, di dalamnya berdiri sekolah-sekolah mulai tingkat Madrasah Ibtidaiyah sampai Perguruan Tinggi. Selain sekolah-sekolah pesantren tersebut juga terdiri dari asrama-asrama sebagai tempat mengaji dan istirahat santri. Setiap asrama memiliki pengasuh dan kegiatan masing-masing yang berbeda satu dengan yang lain. Aku sendiri selama tiga tahun bertempat di asrama putra-putri Alhusna.
Setiap sore di bulan Ramadhan telah menjadi aktivitas wajib para santri untuk mengaji kitab di musholla. Semua santri, baik putra maupun putri, setelah shalat asar diharuskan berkumpul di musholla santri putra untuk mendengarkan tausiyah kiai atau ustadz. Agar tidak terjadi kesalahpahaman, sebaiknya aku sebutkan disini bahwasanya saat ngaji tersebut antara santri putra dan putri dipisahkan oleh satir pembatas. Aku masih ingat materi ngaji Ramadhan yang disampaikan di tahun ketigaku itu adalah tafsir jalalain.
“Allah itu Maha Esa, tiada yang lain selain dari pada-Nya. Ketika disebutkan suatu apapun atau dalam bahasa apapun jika itu menunjukkan keesaan Tuhan, maka itu adalah Allah. Bahkan ketika disebutkan Sang Yang Widi ataupun Yesus, kalau itu menunjukkan sesuatu yang Maha Esa, harus ditanamkan dalam keyakinan kita bahwa itu Allah. Tiada lagi yang Maha Esa selain daripada-Nya.” Kurang lebih itu salah satu isi tausiyah yang masih aku ingat dari ngaji Ramadhan saat itu.
Usai mengaji, kira-kira jam lima, mulailah tampak hiruk-pikuk santri mempersiapkan saat berbuka. Santri putri yang baru keluar dari musholla langsung saja menyerbu seorang bapak (santri-santri biasa memanggilnya pakde Titot) di samping jalan masuk asrama. Sementara itu, santri putra bermacam-macam tingkahnya: ada yang mengaji Al-Qur’an, menyapu halaman, kembali ke kamar masing-masing, atau duduk-duduk di depan musholla memandangi santri putri berlalu-lalang di sekitar dagangan pakde Titot. Aku sendiri biasa melakukan hal yang terakhir, hehe.
*
Sore itu, setelah mengaji, seperti kebanyakan hari-hari yang lain aku duduk di depan musholla. Saat itu memang sudah lebih sore, tampak awan di cakrawala sudah mulai bewarna kuning keemasan. Masih bisa kuingat saat-saat seperti itu biasanya semilir angin berdesir pelan menggerakkan daun-daun pepohonan. Bulu-bulu sekujur tubuh pun seakan menari-nari mengikuti desiran. Sementara di halaman samping musholla debu-debu berlarian saling berkejaran. Terasalah olehku ketenangan kalbu didalamnya. Rasa lapar dan dahaga pun kian menambah ketentraman jiwa. Subhanallah, Engkau sedang menunjukkan kepadaku kenikmatan berpuasa.
“Din,” suara panggilan itu membuyarkan lamunanku.
Aku menengok ke arah sumber suara. Iwan, teman sekamarku, kelihatan di tangga kamar lantai dua depan musholla, tempat kamarku berada.
“Ayo beli es, Din!” ajak Iwan.
“Kemana Wan?” sahutku.
“Seperti biasa, warung cak Edi.” Jawab Iwan sambil menuruni tangga bersama Arfad, teman sekamarku juga.
“Ayo,” jawabku sambil memandang ke arah kedua temanku itu. “Kamu yang beli krupuk ya Fad!”
“Iya, ini memang mau beli.” Jawab Arfad.
Aku pun pergi bersama Iwan, sementara Arfad melangkahkan kakinya ke arah penjual kerupuk tidak jauh dari musholla.
Untuk memperjelas cerita, barangkali ada baiknya kuperkenalkan dulu teman-teman sekamarku. Ada lima santri penghuni kamar lima asrama putra Alhusna: Iwan, Arfad, Daus, Mbah, dan aku sendiri. Saat-saat sebelum bedug maghrib tiba, meski tidak pernah dijadwalkan kami biasanya saling berbagi tugas untuk menyiapkan buka puasa. Saat itu, sementara aku, Iwan dan Arfad pergi, Daus sedang membersihkan kamar dan Mbah bertugas di dapur asrama meyiapkan dan mengambil nasi. Hampir setiap hari di bulan Ramadhan, sebelum pulang ke kampung halaman masing-masing kami selalu berbuka bersama.
Kurang lebih telah seperempat jam adzan maghrib berkumandang, Mbah tidak juga kunjung datang. Aku, Iwan, Arfad dan Daus telah berkumpul di kamar saat itu. Sambil menunggu mbah, es teh dan rokoklah yang menjadi santapan pertama, diselingi guyonan-guyonan juga tentunya. Mbah biasanya memang tidak sampai selama itu. Semakin lama menunggu, perut semakin keroncongan dan hisapan rokok kian semakin dalam.
“Kreeek,” terdengar suara pintu kamar terbuka, mbah nampak di depannya. Ia segera masuk sementara kami berempat memandanginya.
“Maaf kawan, ini nasinya.” Kata Mbah dan kemudian duduk di depan kami.
Kami pun tidak lagi melihat senampan nasi yang waktu itu berlaukkan ayam dan sayur lodeh. Terus saja kupandangi Mbah, ia kelihatan beda. Nafasnya agak tersengal-sengal, wajahnya lumayan pucat dan kerutan di keningnya nampak lebih jelas dari biasanya menandakan ia sedang memikirkan sesuatu.
“Ada apa Mbah?” Daus mulai bertanya.
“Kurang ajar memang!” Kata mbah menanggapi pertanyaan Daus.
“Iya, kenapa?” Daus melanjutkan.
“Masalah, Us.” Jawabnya singkat sambil menatap tajam ke arah Daus. Ia memegangi sebatang rokok tapi ragu akan menyulutnya.
“Masalah apa Mbah? Sebaiknya diceritakan dulu.” Pinta Iwan.
Mbah kelihatan berpikir sejenak, ia mengalihkan pandangannya ke arah Iwan, Arfad kemudian aku. Juga nasi di nampan yang sama sekali belum tersentuh tangan salah satu dari kami.
“Sudahlah, ayo kita berbuka dulu! Sebaiknya aku batalkan puasaku dengan nasi saja.” Sahut Mbah kemudian sambil menghembuskan nafas panjang.
Kami saling berpandangan. Dengan ganjalan rasa penasaran kemudian kami memulai makan. Keadaan menjadi sepi, tiada suara di antara kami. Berbuka puasa pun terasa kurang nikmatnya. Kamar menjadi sunyi senyap. Hanya suara gurauan anak kamar sebelah terdengar waktu itu, barangkali juga kumandang puji-pujian yang dilantunkan di musholla dan masjid-masjid.
Tidak lama setelah itu terdengar juga suara iqomah dari musholla asrama menandakan Pak Kyai telah rawuh untuk memulai shalat jamaah. Nasi waktu itu belum sampai habis, juga es teh dan kerupuknya. Kami berlima akhirnya bergegas meninggalkan kamar menuju musholla, meninggalkan untuk sementara semua yang ada di dalamnya. Kecuali yang ada dalam hati dan pikiran kami tentunya.
Ditulis di:
Gedung C STAN


0 komentar:
Posting Komentar