Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Kamis, 16 Juni 2011

Syeikh Siti Jenar Vs Bhiksu Tong

Judul di atas tiba-tiba terlintas dalam benak saya terkait pemikiran tentang ketuhanan. Menggelitik memang, jujur saya sendiri menjadi tertarik untuk menuliskan pandangan itu  setelah terlintas judul tersebut. Kata vs (versus) disini tidak saya artikan ‘melawan’ seperti dalam kamus bahasa Inggris tetapi ‘memperbandingkan’ (maksudnya memperbandingkan antara Syeikh Siti Jenar dan Bhiksu Tong), terserah saja bagi yang tidak terima, hehe. Sama halnya dengan tulisan saya yang berjudul ‘ngopi dan ngerokok, adakah hikmahnya?’, tulisan ini juga mengungkapkan sudut pandang saya. Hanya saja barangkali tulisan ini lebih esensial karena berkaitan dengan ketuhanan. Saya yakin banyak ahli yang telah menguraikan panjang lebar pandangannya mengenai pokok bahasan ini, untuk itu saya akan sangat terbuka dengan semua komentar dan masukan.

Syeikh Siti Jenar merupakan salah seorang tokoh fenomenal dalam proses penyebaran agama Islam di pulau jawa. Tokoh ini disebutkan dihukum mati oleh walisongo karena ajarannya yang dianggap meresahkan. Orang awam yang belum sampai tingkat keimanannya bisa jadi tersesat oleh karena ajaran Syeikh Siti Jenar. Ajarannya yang terkenal adalah ‘wahdatul wujud’ atau ‘manunggaling kawula gusti’ (bersatunya hamba dengan Tuhannya). Lain halnya dengan Syeikh Siti Jenar, Bhiksu Tong (Tong Sam Cong), meski cuma legenda yang saya sendiri belum tau kebenarannya, merupakan seorang tokoh agama Budha. Salah satu ajaran yang dibawanya (yang barangkali juga ajaran Budha) adalah teori ‘kosong adalah berisi, berisi adalah kosong’, sebuah ajaran yang juga terkenal tapi seolah tak punya makna jika diamati secara sederhana. Dari kedua ajaran yang telah disebutkan di atas, disini saya akan mencoba menggali maknanya dan kemudian membandingkannya. 

Sebagai gambaran, dalam upaya menggali makna dari ajaran ‘manunggaling kawula gusti’ dan ajaran ‘kosong adalah berisi, berisi adalah kosong’, saya hanya menggunakan satu kerangka berpikir. Hal ini karena kedua ajaran tersebut berdasarkan kerangka berpikir yang saya gunakan akan mengarah pada makna yang sama dan saling berkaitan. Di sinilah yang sebenarnya ingin saya ungkapkan, di mana setelah membandingkan ajaran dari kedua tokoh di atas, ternyata dihasilkan kesimpulan bahwa kedua ajaran mengarah pada makna sama dan saling berkaitan.

Kerangka berpikir yang saya gunakan dimulai dari analisis ilmiah yang pernah saya lihat dalam salah satu video Harun Yahya. Di situ dijelaskan bahwa ketika manusia melihat suatu benda, maka bayangan dari benda tersebut akan ditangkap oleh retina mata. Kemudian retina akan menyampaikan apa yang ditangkapnya ke otak. Ketika sampai di otak, bayangan benda yang disampaikan itu pun dalam keadaan terbalik dari aslinya. Setelah itu otak akan mengolah dan menerjemahkan bayangan yang diterimanya itu sehingga benda tampak seperti yang ada dalam penglihatan.

Dari penjelasan di atas, satu hal yang tampak dan nantinya menjadi pertanyaan. Didapatkan bahwa yang ada dalam penglihatan manusia adalah hasil olahan dan terjemahan otak manusia yang terbatas. Kalau hasil olahan dan terjemahan otak, berarti itu bukanlah wujud sebenarnya dong. Ketika manusia mendengar, menyentuh, mencium atau yang lain dengan kerangka berpikir yang sama nantinya juga akan menghasilkan kesimpulan yang sama pula. Lalu yang jadi pertanyaan, apa yang sebenarnya dilihat, didengar, disentuh manusia itu? Bukankah itu menunjukkan ketiadaan manusia (alam semesta) dalam keadaannya? Bukankah itu menunjukkan kekosongan manusia (alam semesta) dalam keisiannya? Itulah yang dimaksudkan dengan teori ‘berisi adalah kosong’. Lalu akan timbul pertanyaan lagi, siapakah yang ada dalam kekosongan itu? Bukankah selalu ada Dzat yang Maha Menguasai? Itulah yang dimaksudkan dengan teori ‘kosong adalah berisi’.

Dengan kerangka berpikir dan pertanyaan yang sama, akan didapatkan pula makna ajaran ‘manunggaling kawula gusti’. Kerangka berpikir di atas menunjukkan ketiadaan manusia dalam keadaannya. Ketika manusia (alam semesta) tiada maka yang ada hanyalah Tuhan penguasa alam semesta. Jika begitu, maka manusia telah melebur menjadi satu dengan Tuhannya (wahdatul wujud).

Itulah, sebuah pandangan yang barangkali membingungkan. Di sini saya tidak dalam posisi mempengaruhi anda yang kebetulan membaca tulisan ini. Walaupun saya pernah gemetar karena memikirkan hal tersebut, tetapi yang lebih ingin saya ungkapkan berkaitan dengan ajaran ‘manunggaling kawula gusti’ dan ‘kosong adalah berisi, berisi adalah kosong’ adalah maknanya, perbandingannya dan barangkali kesimpulannya. Dua buah ajaran dari Syeikh Siti Jenar dan Bhiksu Tong (meski cuma legenda), dua orang tokoh yang sangat berbeda, bukan hanya dari segi kepercayaannya, tetapi juga asal-usulnya, zamannya dan masih banyak lagi. Dalam kenyataannya (berdasarkan kerangka berpikir dalam tulisan ini tentunya), kedua ajaran mengarah pada makna yang sama dan saling berkaitan. Dan Tuhan memberikan ilmu (rahasia)-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, wallahu a’lam.

Minggu, 12 Juni 2011

Tuntuan Diri Dalam Menjalani Hidup

Sebagai gambaran awal, tulisan ini adalah berisi sebuah analisis kemanusiaan yang dikemukakan oleh Abu Bakar As-shiddiq. Sebelum saya menuliskan catatan tentang analisis kemanusiaan, terlebih dahulu akan saya uraikan sedikit gambaran mengenai Abu Bakar As-shiddiq. Tulisan ini juga tidak sepenuhnya sama seperti yang saya dapatkan dari sumber, akan tetapi sedikit saya bumbui pemikiran-pemikiran dangkal saya. Saya berharap semoga Allah senantiasa melindungi hamba-Nya.

Abu Bakar As-shiddiq merupakan salah seorang sahabat nabi Muhammad saw. Banyak sekali keistimewaan yang dimiliki beliau. Gelar As-shiddiq diberikan kepada beliau karena semasa hidupnya beliau selalu berkata benar. Beliau termasuk golongan as-sabiqunal awwalun (golongan orang yang pertama kali masuk islam). Beliau yang menggantikan nabi sebagai imam sholat ketika nabi berhalangan. Beliau merupakan salah satu dari empat sahabat nabi yang tergolong khulafaur-rasyidin (pemimpin yang diberi petunjuk). Beliau merukapan satu-satunya sahabat yang menemani nabi hijrah dari Makkah ke Madinah. Disamping itu selain sebagai sahabat, Abu Bakar As-shiddiq juga merupakan mertua nabi Muhammad saw dari pernikahan beliau dengan Aisyah binti Abu Bakar. Oleh karena keistimewaan-keistimewaan tersebut, patut kiranya kita sebagai umat nabi Muhammad saw mengkaji analisis kemanusiaan yang dikemukakan Abu Bakar As-shiddiq. 

Abu Bakar As-shiddiq mengemukakan dalam analisisnya bahwa manusia dalam menjalani hidupnya tidak akan terlepas dari adanya tuntutan-tuntutan atau dorongan-dorongan yang telah diberikan oleh Allah swt. Tuntutan-tuntutan atau dorongan-dorongan tersebut yang nantinya akan selalu menyertai setiap perbuatan yang dijalani manusia sehingga perbuatan tersebut bernilai benar atau salah, baik atau buruk, atau yang lain. Tentu saja Tuhan dalam menciptakan segala sesuatu ada tujuannya, termasuk ketika memberikan tuntuan atau dorongan tersebut kepada manusia. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah enam macam tuntutan atau dorongan yang akan menyertai setiap perbuatan manusia berikut gambaran dan tujuannya:

1. Sinyal Menuju Shiratal Mustaqim (Jalan yang Lurus)

Tuntutan ini diartikan sebagai hidayah (petunjuk) dan tuntunan-tuntunan baik itu melalui ilham yang benar, rasa, nurani atau fitrah maupun melalui dakwah rosul melalui kitab suci. Tuntutan berupa sinyal menuju shirathal mustaqim ini menjelaskan hubungan antara manusia dengan Allah swt. Adanya tuntutan ini berarti dari dalam diri manusia akan selalu menuntut untuk berbuat baik dan benar. Oleh karena itu, baik itu ilham yang benar, rasa, nurani atau fitrah maupun dakwah rasul melaui kitab suci selalu menuntut manusia untuk melakukan kebaikan dan kebenaran. Adapun tujuan penciptaan tuntutan ini adalah supaya manusia dapat kembali (menemukan jalan mengenal dan mendekat) kepada Allah swt. 

2. Dorongan Iblis

Dalam menjalani kehidupan manusia menuju shiratal mustaqim, manusia akan diberi musuh yaitu iblis. Hal ini telah ditentukan oleh Allah swt, bahkan telah diberikan sebelum manusia diturunkan di muka bumi. Allah juga tidak menciptakan iblis untuk menyensarakan manusia, tetapi untuk meningkatkan derajat manusia di atas iblis. Sebagai analogi, dalam sebuah pertandingan bola akan ada dua tim yang bertanding, sedangkan pemenangnya adalah tim yang dapat mencetak gol lebih banyak ke gawang lawannya. Bayangkan jika dalam pertandingan tersebut hanya ada satu tim dan tidak ada lawannya, berapa banyak gol pun yang dapat diciptakan tidak akan berarti apa-apa. Untuk itu tidak selayaknya manusia membenci iblis, akan tetapi cukup dengan menyadari iblis itu musuh manusia. Hal ini menjadi penting karena bisa jadi hal tersebut akan menjerumuskan manusia untuk meniru sifat-sifat iblis. Ingat bahwa iblis dilaknat oleh Allah karena membenci ciptaan-Nya yaitu manusia.

3. Nafsu

Salah satu dorongan yang menjadi watak nafsu adalah keinginan untuk selalu meningkat. Allah menciptakan nafsu adalah sebagai modal bagi manusia supaya kehidupannya meningkat. Sebagai pertimbangan, manusia itu tercipta dari tanah, sedangkan tanah itu cenderung ke bawah. Untuk itu diperlukan power supaya manusia punya daya peningkatan sehingga perjalanannya menuju shiratal mustaqim menjadi lancar. Dengan adanya nafsu, manusia menjadi punya keinginan agar amal ibadahnya meningkat. Akan tetapi nafsu juga bisa menjadi partnernya iblis. Bisikan-bisikan iblis menjadikan keinginan untuk meningkat menjadi terlalu berlebihan. Nafsu yang seharusnya sebagai modal manusia agar menjadi mulya untuk menuju Allah, akan tetapi kadarnya menjadi berlebihan antara lain ingin menyamai Allah, meniadakan Allah dalam pikiran dan perbuatannya, dan lain-lain.

4. Syahwat

Berbeda dengan nafsu, syahwat merupakan keinginan untuk makan dan berhubungan seksual. Dalam penciptaan syahwat hikmah yang tekandung di dalamnya adalah Allah menciptakan syahwat makan sebagai sarana untuk melangsungkan hidup manusia dan menciptakan syahwat seksual sabagai sarana untuk melangsungkan jenisnya. Akan tetapi sarana seperti itu pun dapat dibelokkan oleh iblis. Karena kenikmatan menuruti syahwat, iblis pun menggoda dengan iming-iming menjadikan kenimatan tersebut seolah-olah sebagai surga sehingga manusia lupa tugas awal fitrahnya menuju shiratal mustaqim. Syahwat yang seharusnya nikmat akan tetapi dijadikan sebagai alat untuk melanggar ketentuan Allah.

5. Dunia

Dunia merupakan alat perjalanan hidup manusia untuk melanjutkan tugasnya sebagai kholifah di muka bumi. Dunia pada hakekatnya telah ditundukkan oleh Allah untuk melayani manusia. Rizki, jabatan, jodoh dan lain-lain pun pada dasarnya telah diatur oleh Allah. Dalam hal ini iblis akan menggoda manusia dengan menjadikan seolah-olah kenikmatan nafsu dan syahwat hanya dapat diperoleh melalui dunia. Akibatnya manusia berlebih-lebihan dalam urusan dunia, berfoya-foya dan melupakan Allah swt.

6. Tuntutan Jasad

Adakalanya manusia ketika digoda nafsunya tidak bisa, ketika digoda syahwatnya merasa tidak mampu, ketika digoda dengan dunia merasa tidak bisa apa-apa, dalam hal ini iblis akan menggoda manusia manusia dengan tuntutan jasadnya. Tuntutan jasad adalah keingnan untuk berhenti (cepat lelah). Jasad adalah tempat atau wadah untuk mengekspresikan semua aktivitas kehidupan manusia. Cara iblis untuk menggoda manusia melalui tuntutan jasad adalah mempercepat keinginan berhenti tersebut dengan memisahkan kekuatan kejiwaannya (dalam hal ini adalah nafsu atau keinginan untuk meningkat) dengan kekuatan fisiknya. Akibatnya manusia menjadi mudah putus asa.

Itulah catatan saya mengenai tuntutan-tuntutan atau dorongan manusia dalam menjalani kehidupan. Sebuah analisis kemanusiaan yang menurut pandangan saya sangat luar biasa dari Abu Bakar As-shiddiq, semoga Allah senantiasa meridloinya. Paling tidak hal tersebut dapat dijadikan acuan untuk melihat diri kita, meraba apa-apa yang kita kerjakan. Tuntutan atau dorongan mana yang mendominasi setiap perbuatan yang kita lakukan. Dorongan menuju shiratal mustaqim-kah, nafsukah, syahwatkah, duniakah atau jasadkah. Bahkan jangan-jangan tuntutan dari iblis dari iblis yang mendominasi perbuatan kita, naudzu billahi min dzalik.

Sumber:
Rekaman Pengajian KH Imran Jamil Jombang

Sabtu, 04 Juni 2011

Menjadi Dirimu Atau Bayanganmu

Ketika bercermin, seseorang akan dapat melihat bayangan dirinya. Bayangan tersebut tampak sama dan melakukan hal yang sama pula dengan pemiliknya. Ketika berdiri, duduk, tertawa, menangis atau apapun, bayangan akan melakukan hal yang sama. Berawal dari pemikiran tentang hal tersebut, saya mencoba menuliskan tulisan ini. Saya mencoba menulis tentang cermin, manusia dan bayangannya. Dan nantinya akan saya coba pula menelusuri maknanya dan mengaitkannya dengan kehidupan manusia. Tentu ada banyak dan bermacam-macam pemikiran tentang hal ini, di sini saya mencoba mengungkapkannya dari sudut pandang saya. Sebagian orang mungkin juga menganggap aneh berpikir tentang hal ini. Harapan saya, semoga dari keanehan-keanehan yang ada, nantinya dapat dipetik pelajaran yang membawa pada suatu kemanfaatan.

Pada dasarnya, segala sesuatu ketika melakukan suatu perbuatan akan ada dasar dan orientasi yang akan membawanya pada suatu kebenaran, kebaikan dan keindahan. Itulah yang disebut sebagai kodrat. Hal ini termasuk pada diri manusia saat bercermin, bukan hanya manusianya tetapi juga bayangan dari manusia tersebut. Pada diri manusia, dasar dan orientasi tersebut ada pada hati nuraninya. Kelembutan hati dapat menerima dan menangkap cahaya-cahaya petunjuk dari Tuhan yang bersifat Maha Lembut. Dari situlah dasar dan orientasi manusia sehingga apa yang dilakukanya bernilai benar, baik dan indah. Pada diri manusia yang pada dasarnya telah tertanam nilai-nilai tersebut akan menjadikan apa-apa yang dilakukan benar-benar bernilai (di sisi Tuhan), yaitu ketika ia berjalan sesuai kodrat dengan selalu mendengarkan hati nuraninya. Sementara itu, pada bayangan diri manusia yang menjadi dasar dan orientasi adalah pemilik bayangan itu sendiri. Bayangan tidak punya hati nurani sebagai penangkap dan penerima petunjuk Tuhan. Bayangan walau melakukan hal yang sama dengan pemilik, tapi dia melakukannya hanya untuk menyerupai (tampak serupa) pemilik tersebut. Penilaian di sini tergantung dari apa kata pemilik bayangan atau mungkin manusia lain. Jadi jelas saja yang semacam ini tidak akan punya nilai di mata Tuhan. Kebenaran atau kesalahan, kebaikan atau keburukan, keindahan atau kejelekan, semua tidak akan bernilai apa-apa.

Itulah sekilas tentang diri manusia dan bayangannya. Yang menarik bagi saya untuk diungkapkan disini adalah bagaimana kaitan hal tersebut dengan kehidupan. Sebenarnya telah saya singgung sebelumnya, hal ini akan saya kaitkan dengan nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan. Di sini manusia punya pilihan untuk menjadi dirinya sendiri atau menjadi bayangannya. Kemudian nantinya akan dikaitkan dengan nilainya di sisi Tuhan. Ketika menjadi dirinya sendiri manusia punya dasar dan orientasi akan nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan. Tidak cukup di situ, manusia juga akan berjalan sesuai kodratnya dengan mendengarkan kata hatinya. Dan yang terpenting, hal inilah yang menjadikan apa-apa yang dilakukan manusia menjadi benar-benar bernilai di hadapan Tuhan.

Sementara itu ketika menjadi bayangannya, manusia akan berjalan tanpa dasar dan orientasi. Manusia hanya akan disibukkan dengan sesuatu yang tampak serupa dengan kebenaran, kebaikan dan keindahan. Dalam kaitannya dengan perbuatan, manusia di sini akan selalu diikuti keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain, entah majikannya, atasannya atau mungkin wanita. Dan bahayanya hal semacam ini tidak akan mempunyai nilai apapun di hadapan Sang Pencipta. Semua kebenaran, kebaikan dan keindahan yang diakukan pun akan sia-sia.

Harus diakui memang, permasalahan yang saya ungkapkan di sini adalah sangat berat untuk dilakukan. Saya sendiri menuliskan permasalahan ini sama sekali bukan karena telah bisa menguasainya. Tetapi justru karena seringkali pikiran saya dihantui oleh permasalahan itu. Dan saya yakin Tuhan akan selalu bersama hamba-Nya yang mau berfikir. Permasalahan utama disini bukan tentang perbuatan manusia, tetapi lebih pada rasa dan hati. Perbedaan antara ketika manusia menjadi dirinya atau bayangannya juga sangat tipis, akan tetapi memiliki perbedaan nilai yang sangat besar di hadapan Tuhan. Jika diamati lebih lanjut, akan ditemui juga bahwa permasalahan yang dihadapi manusia di sini adalah tentang keikhlasan. Permasalahan di mana seringkali manusia tidak dapat menguasai rasa dan hatinya ketika melakukan kebenaran, kebaikan dan keindahan. Sementara sumber dari permasalahan itu adalah dasar dan orientasi manusia ketika melakukan kebenaran, kebaikan dan keindahan itu sendiri. Dan menurut pandangan saya, manusia akan tetap bertindak sebagai bayangannya ketika yang menjadi dasar dan orientasi itu adalah dunia.

Dari permasalahan di atas, maka perlu kiranya bagi manusia untuk senantisa menanamkan dalam hati dan mengusahakan pada diri untuk selalu memasukkan unsur Tuhan dalam setiap perbuatan yang dilakukan dan dalam segala urusan yang terjadi padanya. Tentunya hal ini akan sangat sulit, tapi paling tidak ada beberapa hal yang bisa diusahakan. Menurut pandangan saya, hal ini bisa dimulai dengan membiasakan diri untuk berpikir (bertafakkur) dan introspeksi diri. Kemudian buah dari berpikir akan menumbuhkan kesadaran pada diri manusia akan nilai-nilai kehidupan. Kesadaran juga yang akan menuntun setiap tindakan manusia kaitannya dengan nilai-nilai tersebut. Proses dari hal di atas nantinya akan membentuk keyakinan pada diri manusia yang pada akhirnya akan mempengaruhi rasa dan hatinya dalam setiap tindakan yang dilakukannya. Jadi, usaha yang dimaksudkan di sini tidaklah instan, tetapi melalui proses dan tahapan. Bahkan bisa jadi proses dan tahapan tersebut berawal dari keburukan, kesalahan ataupun kejelekan. Banyak cerita mengenai hal ini, manusia yang awalnya buruk, salah dan jelek tetapi akhirnya menjadi orang yang mulia. Untuk itu, perlu kiranya bagi kita yang telah mampu berbuat baik untuk tidak meremehkan orang yang masih tersesat dalam keburukan, kesalahan atau kejelekan karena bisa jadi orang tersebut pada akhirnya lebih baik dari yang meremehkannya. Dan sebaliknya pula, bagi seseorang yang mungkin belum bisa meningggalkan keburukan, kesalahan ataupun kejelekan perlu kiranya untuk selalu berpikir dan introspeksi diri. Karena proses itulah yang menurut saya nantinya bisa membuka pintu rahmat dan petunjuk Tuhan. Dan tentunya, sangat penting juga untuk selalu memohon petunjuk Yang Maha Kuasa.

Semoga menjadi renungan, wallahua’lam.

Jumat, 20 Mei 2011

Itu Bukan Karena Nafsuku

Suatu ketika seorang teman bertanya kepadaku tentang suatu pilihan. Sangat mungkin teman ini berniat untuk mengujiku karena memang umurnya yang beberapa tahun lebih tua dariku. Juga karena aku memang sering saling berbagi dengannya tentang masalah-masalah kehidupan semacam ini. Dia tanya kepadaku tentang apa yang akan aku lakukan ketika aku dihadapkan pada sebuah tirai terkunci, sementara aku telah memiliki kuncinya yang diasumsikan kunci tersebut tidak akan pernah hilang. Dari sini permasalahan sekilas tampak mudah karena aku bisa membukanya kapanpun sesukaku. Akan tetapi permasalahan pun bertambah ketika dia bilang, “Ada hal yang mengkhawatirkanmu atau bahkan mungkin membahayakanmu ketika kamu benar-benar membukanya, sementara kamu juga dihantui rasa penasaran akan hal tersebut.” 

Untuk menjawab pertanyaan itu, saat itu aku berpendapat: Hal ini subyektif, setiap orang dengan sudut pandang dan latar belakang yang berbeda sangat mungkin berbeda pula dalam menanggapinya terutama dalam hal memilih apakah orang tersebut akan langsung membukanya atau menunggu saat tertentu yang dapat meyakinkannya. Orang bisa saja langsung membuka tirai karena rasa penasarannya yang sangat, atau bisa juga orang akan mengumpulkan informasi terlebih dahulu sehingga dia yakin lalu membukanya, atau mungkin ada juga orang yang tidak pernah berani dan selalu ragu-ragu untuk membuka tirai tersebut walau dia sudah mendapatkan banyak informasi yang mendukungnya. Terdapat banyak sekali kemungkinan. Semua pilihan relatif benar dan tidak dapat sepenuhnya disalahkan.”

Setelah mendengar jawaban itu, temanku pun kembali bertanya tentang bagaimana tindakanku. Aku jawab, “Aku ini senang berpikir, jadi pertama kali yang akan aku lakukan kira-kira ya berfikir dan menimbang-nimbangnya terlebih dahulu.” “Lalu setelah itu?”, dia melanjutkan. Aku jawab lagi “Tergantung apa yang aku pikirkan saat itu. Aku menyadari kalau kadang-kadang aku juga tidak bisa membendung rasa ingin tauku yang besar. Jadi, selain kemungkinan untuk tidak membuka tirai, mungkin aku akan membukanya karena beberapa pertimbangan, atau mungkin juga aku membukanya hanya karena rasa ingin tauku yang besar walaupun aku tau itu akan membahayakanku.” Setelah menguraikan jawaban itu, aku dan teman dalam beberapa saat memikirkannya. Kemudian aku melanjutkannya lagi, “Ada satu hal yang menurutku penting dalam hal ini. Aku tau ini akan berat, tapi hal ini harus selalu aku usahakan. Aku akan berusaha dalam setiap keputusan yang aku ambil, itu aku lakukan bukan karena nafsuku.”

Itu adalah sekilas tentang percakapanku. Di sini aku tidak bicara tantang bagaimana jawabanku. Orang bisa saja banyak bicara tetapi tidak pernah mengamalkan omongannya, ada juga orang yang tidak pernah bicara tetapi mengamalkan dan masih banyak lagi kemungkinan yang lain. Aku sendiri awalnya kurang sepenuhnya menyadari jawaban yang aku berikan. Ini karena seringkali saat ditanya (terutama dalam permasalahan yang serius) aku berusaha memberikan jawaban sebaik dan sejujur mungkin tetapi tanpa sedikitpun merumuskannya. Beberapa saat setelah memberikan jawaban itu, aku mencoba merenungkannya kembali. Aku pikir hal ini nantinya akan berguna dalam kehidupanku. Paling tidak ada beberapa pelajaran penting yang bisa aku ambil dari kejadian itu.

Pertama, dalam hal cara orang mengambil keputusan. Ada yang cepat dan lambat, ada yang tergesa-gesa ada yang penuh pertimbangan, ada yang dihantui rasa takut dan banyak lagi. Hal ini sangat subjektif dan banyak faktor yang mempengaruhinya. Semua cara dalam hal ini relarif benar dan tidak dapat sepenuhnya dipersalahkan. Kesadaran akan hal semacam ini menurutku karena dapat membuat kita lebih bisa menerima dan menghormati perbedaan. Dengan catatan, tentu saja semua keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan. Keputusan terbaik adalah yang paling banyak manfaatnya lingkungan dan alam sekitarnya, terutama dalam berhubungan dengan sang Pencipta.

Yang kedua dan yang paling penting adalah sedapat mungkin dalam mengambil keputusan itu bukan karena nafsu kita semata. Menurut pandanganku, akan jauh lebih baik kalau kita menunda dulu untuk memutuskan sesuatu kalau saat itu kita dalam keadaan bernafsu atau emosi. Dalam keyakinanku, tidak akan bertahan lama keputusan yang diambil saat bernafsu atau emosi. Dalam hal ini aku mejadi teringat cerita sahabat sekaligus keponakan Rasulullah saw, Ali Bin Abi Thalib. Beliau memutuskan untuk menarik kembali pedangnya yang telah dihunuskan di leher seorang kafir yang telah tejatuh yang menjadi lawannya dalam sebuah peperangan karena disaat itu si kafir meludahi beliau. Ketika ditanya beliau menjawab, “Aku takut kepada Allah kalau-kalau aku membunuh si kafir karena nafsu atau emosiku, bukan karena-Nya”. 

Subhanallah, begitu mulianya...

Minggu, 15 Mei 2011

Ternyata, Bisa Jadi Tuhan Tidak ‘Berpikir’ Linier

Tulisan ini berawal dari perasaan kecewa kepada Tuhan. Maklum saja di usia menginjak dewasa sering terjadi pada diri saya gejolak-gejolak yang menguras tenaga, menguji emosi dan kepekaan hati. Masalah yang sebenarnya sepele, remeh, gak penting bisa menjadi bomerang pada diri masing-masing individu. Saya tidak mengatakan kalau sudah semakin tua nanti saya sudah bisa keluar dari gejolak-gejolak ini. Gejolak-gejolak tersebut mampu menyeret pelakunya kapada kemalesan, ketidakpercayadirian, kemaksiatan, atau bahkan kematian. Sesuatu yang harusnya bisa dijadikan pelajaran, pijakan untuk memutuskan, syukur-syukur dapat mengurai hikmah dari semua kejadian.

Gejolak-gejolak yang sering muncul diantaranya keinginan untuk bebas dalam lingkungan yang terikat, pemuda-pemudi yang lagi kasmaran, kondisi keuangan, life style, dunia pendidikan atau perkuliahan, keluarga yang berantakan, dan banyak lagi. Banyak kejadian yang mungkin terjadi, banyak juga kemungkinan yang menyebabkan adanya setiap kejadian tersebut. Setiap manusia sangat mungkin berbeda, baik itu penyebab, cara penyelesaian, pengaruh dari setiap kejadian yang dialami. Setiap manusia berbeda pula gejolak yang memiliki pengaruh paling besar pada dirinya.

Bagi saya pribadi gejolak yang memilki pengauh paling besar di usia 21 tahun ini adalah masalah hubungan dengan lawan jenis. Bagaimanapun, bagi saya gejolak ini melibatkan banyak hal dalam diri saya: pikiran, hati dan perasaan. Melibatkan pikiran karena ini merupakan permasalahan yang membutuhkan penyelesaian. Melibatkan hati karena berkaitan dengan cinta dan kasih sayang yang disifatkan Tuhan kepada setiap manusia. Melibatkan perasaan karena dari hubungan dan tindakan yang ada akan menimbulkan rasa suka, senang, sedih, sakit.

Saya katakan demikian bukan karena saya ini orang yang tampan yang sering gonta-ganti pacar, bukan juga karena saya sering dikecewakan. Tapi terserah juga yang menganggap saya demikian dan demikian. Bagi saya yang paling bermasalah adalah kebingungan saya sendiri. Begitu banyak problema: berubah-ubahnya hati dan rasa, ketakutan, kelemahan (kelebihan) diri dan kompleksnya pikiran membuat saya akhirnya tidak bebuat apa-apa. Begitu menyakitkan dan bahkan sempat membuat saya kecewa kepada Tuhan. Saya merasa telah melakukan banyak hal untuk-Nya, memohon petunjuk dan pertolongan-Nya tapi yang saya dapatkan malah kebingungan, ketidakjelasan, kekecewaan.

Tapi bukan ini yang ingin saya utarakan. Ditengah-tengah kebingungan itu saya sempat merasa mendapatkan petunjuk. Beberapa saat setelah melakukan ritual minta petunjuk, saya merasa mendapatkan petunjuk itu. Anehnya kok petunjuknya malah menyuruh saya menjauh dari-Nya. Memang sih, selama ini saya berpikiran sangat mungkin kemaksiatan yang dilakukan manusia itu hanya untuk sementara, bisa jadi nantinya dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari perbuatannya itu, sebelum akhirnya mendapat petunjuk dan kembali ke jalan yang  benar dan diridloi. Tapi yang saya pikirkan justru lain: jangan-jangan ini bukan petunjuk Tuhan tapi malah suara setan, jangan-jangan nantinya tidak dapat lagi kudapatkan petunjuk karena semakin jauh dari-Nya, dan banyak lagi yang menjadi pikiranku. Semakin bingung. Hilang rasanya keyakinan- keyakinan yang selama ini saya pegang.

Di saat-saat seperti ini, kuberusaha untuk tetap bisa berjalan seperti biasa sampai akhirnya saya dihadapkan dengan kenyataan yang kusangka petunjuk itu. Bagaimanapun setan sangat piawai untuk mengalihkan hati manusia sebelum akhirnya menenggelamkannya. Semakin dekat dengan petunjuk itu,rasanya  semakin ingin untuk mendapatkannya. Ketika petunjuk tersebut sudah di depan mata, Tuhan berkata lain dan menakdirkan saya untuk tidak mendapatkannya. Sangat sakit rasanya. Semakin lemah dan tak mampu berbuat apa-apa.

Setelah beberapa saat kucoba perpikir dan merenungkan kejadian tersebut. Terasa begitu lemah diri ini dan terdapat Dzat Yang Maha Kuat, Kuasa Dan Perkasa. Dan ternyata juga memang selama ini, hal ini (tidak dulu mempunyai hubungan dan kepikiran dengan lawan jenis) yang saya harapkan, jadi semakin saya merasa Yang Maha Kuasa memperhatikan dan memenuhi kebutuhan saya. Dan yang penting juga bahwa kejadian yang saya alami ini juga merupakan salah satu petunjuk yang saya harapkan.

Dari sini didapati bahwa bisa jadi Tuhan tidak memberikan petunjuk secara langsung kepada hamba yang dikehendaki-Nya, seperti halnya Tuhan tidak secara langsung menjawab doa hamba-Nya. Bisa jadi Tuhan tidak ‘berpikir’ linier atas semua permasalahan yang kita hadapi. Banyak kemungkinan yang kita tidak tau yang direncanakan-Nya: Tuhan ingin menguji hamba-Nya, menunggu saat yang tepat, atau mungkin Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik. Yang penting untuk dilakukan adalah bersabar, bersyukur, dan tetap berusaha melakukan yang terbaik yang dapat dilakuakan. Jika semua telah dilakukan yakin bahwa semua akan indah pada waktunya.

Jumat, 06 Mei 2011

Ngopi dan Ngerokok, Adakah Hikmahnya?

Orang barangkali menganggap remeh aktivitas ngopi dan ngerokok. Bahkan, tidak sedikit juga orang yang menganggap remeh kebiasaan ini. Disini saya tidak membicarakan kelebihan atau kekurangan meminum kopi atau menghirup rokok, karena pada dasarnya semua selalu ada kekurangan dan kelebihannya, dan hal itu sangat subjektif. Tentang hal-hal semacam itu, yang mungkin relevan saya katakan adalah "janganlah berlebihan, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik." Saya akan melihat aktivitas ngopi dan ngerokok dari sudut pandang yang berbeda, berusaha mencari makna dari kedua hal tersebut dan nantinya mencari-cari adakah hikmah yang bisa saya dapatkan darinya.

Ngopi. Secara umum orang mengartikan hal tersebut sebagai aktivitas meminum kopi baik itu di rumah, warung, kafe atau di tempat-tempat lain. Akan jarang atau mungkin dianggap kurang kerjaan orang yang melihat aktivitas ngopi secara lebih detail dan mendalam. Secangkir kopi itu unsur-unsurnya antara lain: kopi sebagai unsur pemberi rasa pahit, gula sebagai unsur pemberi manis, dan air sebagai unsur tawar. Jika dikaitkan dengan kehidupan, secara umum hidup itu ya terdiri dari unsur-unsur itu: manis, pahit dan tawar. Hidup kalau tidak manis ya pahit, atau mungkin tawar. Dapat pula diartikan hidup merupakan manis, pahit dan tawar yang campur aduk menjadi satu.

Orang yang meminum kopi, bagi yang biasa dan tau, itu berbeda dengan meminum minuman lain yang kebanyakan untuk melepas dahaga. Ketika meminum air misalnya, orang cenderung akan meminum segelas air secara langsung. Berbeda dengan ketika meminum kopi, yang untuk meminum secangkir saja orang bisa menghabiskan waktu sejam. Orang meminum kopi seteguk saja dapat dirinci dengan ketika menyeruputnya, meresapinya, merasakannya dan kemudian timbul kenikmatan dari aktivitas tersebut. Jadi, meminum kopi sama dengan menyeruput manis-pahitnya kopi, menikmati dan merasakannya, dan kemudian timbul kenikmatan dari manis-pahitnya kopi tersebut. Dalam kehidupan pun demikian, setiap kehidupan baik itu manis atau pahit, enak atau tidak enak, senang atau sedih seharusnya kita dapat menikmatinya. Manis-pahitnya hidup kita terima, resapi dan rasakan kemudian nantinya timbul suatu kenikmatan.

Ngerokok. Aktivitas yang satu ini dianggap oleh kebanyakan orang sebagai kebiasaan buruk karena mengandung nikotin yang dianggap merugikan kesehatan. Anehnya banyak juga orang orang hebat dan dihormati yang merokok. Bila dikatakan merokok mengurangi umur, dalam kenyataannya banyak juga perokok yang umurnya sampai sembilan puluh atau seratus tahun. Saya lebih senang dan mantap mengatakan asap rokok itu sebagai masalah seperti halnya kehidupan yang identik dengan masalah. Orang dapat memilih antara menghadapi atau menghindari masalah itu. Sekali lagi saya katakan hal itu sangat subjektif.

Orang ngerokok itu menghirup asapnya, meresapi dan merasakan, mengeluarkan asap rokok tersebut, kemudian akan timbul suatu kenikmatan. Artinya dalam kehidupan yaitu suatu masalah yang sedang dihadapi, diterima, diresapi dan dirasakan, dikeluarkan (dipecahkan), kemudian akan timbul suatu kenikmatan.

Itulah pemikiran saya tentang ngopi dan ngerokok. Disini, saya tidak dalam posisi membenarkan ngopi dan ngerokok. Semua akan tergantung dari tingkat manfaatnya dalam kehidupan dan setiap orang berbeda dalam hal ini. Disini, saya lebih pada keinginan untuk mengatakan: kalau dari suatu hal yang remeh seperti ngopi dan ngerokok saja, apabila dipikirkan secara mendalam, akan dapat diperoleh nilai yang berharga dalam hidup, apalagi sesuatu yang kadarnya lebih besar dalam hidup. Dengan kata lain, saya ingin mengatakan "hikmah itu dapat diperoleh, walau dari meminum secangkir kopi dan menghisap sebatang rokok, bagi yang mau berpikir."
wallahua'lam

Selasa, 03 Mei 2011

Bertahan

Tak pernah kumengerti
Tak mampu kupahami
Yang dekat dianggap tak pasti
Yang jauh tak terjangkau lagi

Semakin bingung kurasa
Tak ada beda mimpi dan nyata
Aku cari yang tak kutau adanya
Setelah ketemu seolah tak kudapat apa-apa

Aku mulai bosan
Namun tiada lagi pilihan
Ku bertekad tuk bertahan
Menunggu dan tak tau sampai kapan

Sudahlah
Aku merasa lelah
Tapi tak mungkin menyerah
Aku pasrah

Barangkali saatnya kulanjutkan mimpi
Dan berharap suatu saat dapat kumulai
Aku bangun dan berjalan dengan pasti
Tak pernah tertidur lagi


Bintaro
03 Mei 2011
00:07