Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Minggu, 12 Juni 2011

Tuntuan Diri Dalam Menjalani Hidup

Sebagai gambaran awal, tulisan ini adalah berisi sebuah analisis kemanusiaan yang dikemukakan oleh Abu Bakar As-shiddiq. Sebelum saya menuliskan catatan tentang analisis kemanusiaan, terlebih dahulu akan saya uraikan sedikit gambaran mengenai Abu Bakar As-shiddiq. Tulisan ini juga tidak sepenuhnya sama seperti yang saya dapatkan dari sumber, akan tetapi sedikit saya bumbui pemikiran-pemikiran dangkal saya. Saya berharap semoga Allah senantiasa melindungi hamba-Nya.

Abu Bakar As-shiddiq merupakan salah seorang sahabat nabi Muhammad saw. Banyak sekali keistimewaan yang dimiliki beliau. Gelar As-shiddiq diberikan kepada beliau karena semasa hidupnya beliau selalu berkata benar. Beliau termasuk golongan as-sabiqunal awwalun (golongan orang yang pertama kali masuk islam). Beliau yang menggantikan nabi sebagai imam sholat ketika nabi berhalangan. Beliau merupakan salah satu dari empat sahabat nabi yang tergolong khulafaur-rasyidin (pemimpin yang diberi petunjuk). Beliau merukapan satu-satunya sahabat yang menemani nabi hijrah dari Makkah ke Madinah. Disamping itu selain sebagai sahabat, Abu Bakar As-shiddiq juga merupakan mertua nabi Muhammad saw dari pernikahan beliau dengan Aisyah binti Abu Bakar. Oleh karena keistimewaan-keistimewaan tersebut, patut kiranya kita sebagai umat nabi Muhammad saw mengkaji analisis kemanusiaan yang dikemukakan Abu Bakar As-shiddiq. 

Abu Bakar As-shiddiq mengemukakan dalam analisisnya bahwa manusia dalam menjalani hidupnya tidak akan terlepas dari adanya tuntutan-tuntutan atau dorongan-dorongan yang telah diberikan oleh Allah swt. Tuntutan-tuntutan atau dorongan-dorongan tersebut yang nantinya akan selalu menyertai setiap perbuatan yang dijalani manusia sehingga perbuatan tersebut bernilai benar atau salah, baik atau buruk, atau yang lain. Tentu saja Tuhan dalam menciptakan segala sesuatu ada tujuannya, termasuk ketika memberikan tuntuan atau dorongan tersebut kepada manusia. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah enam macam tuntutan atau dorongan yang akan menyertai setiap perbuatan manusia berikut gambaran dan tujuannya:

1. Sinyal Menuju Shiratal Mustaqim (Jalan yang Lurus)

Tuntutan ini diartikan sebagai hidayah (petunjuk) dan tuntunan-tuntunan baik itu melalui ilham yang benar, rasa, nurani atau fitrah maupun melalui dakwah rosul melalui kitab suci. Tuntutan berupa sinyal menuju shirathal mustaqim ini menjelaskan hubungan antara manusia dengan Allah swt. Adanya tuntutan ini berarti dari dalam diri manusia akan selalu menuntut untuk berbuat baik dan benar. Oleh karena itu, baik itu ilham yang benar, rasa, nurani atau fitrah maupun dakwah rasul melaui kitab suci selalu menuntut manusia untuk melakukan kebaikan dan kebenaran. Adapun tujuan penciptaan tuntutan ini adalah supaya manusia dapat kembali (menemukan jalan mengenal dan mendekat) kepada Allah swt. 

2. Dorongan Iblis

Dalam menjalani kehidupan manusia menuju shiratal mustaqim, manusia akan diberi musuh yaitu iblis. Hal ini telah ditentukan oleh Allah swt, bahkan telah diberikan sebelum manusia diturunkan di muka bumi. Allah juga tidak menciptakan iblis untuk menyensarakan manusia, tetapi untuk meningkatkan derajat manusia di atas iblis. Sebagai analogi, dalam sebuah pertandingan bola akan ada dua tim yang bertanding, sedangkan pemenangnya adalah tim yang dapat mencetak gol lebih banyak ke gawang lawannya. Bayangkan jika dalam pertandingan tersebut hanya ada satu tim dan tidak ada lawannya, berapa banyak gol pun yang dapat diciptakan tidak akan berarti apa-apa. Untuk itu tidak selayaknya manusia membenci iblis, akan tetapi cukup dengan menyadari iblis itu musuh manusia. Hal ini menjadi penting karena bisa jadi hal tersebut akan menjerumuskan manusia untuk meniru sifat-sifat iblis. Ingat bahwa iblis dilaknat oleh Allah karena membenci ciptaan-Nya yaitu manusia.

3. Nafsu

Salah satu dorongan yang menjadi watak nafsu adalah keinginan untuk selalu meningkat. Allah menciptakan nafsu adalah sebagai modal bagi manusia supaya kehidupannya meningkat. Sebagai pertimbangan, manusia itu tercipta dari tanah, sedangkan tanah itu cenderung ke bawah. Untuk itu diperlukan power supaya manusia punya daya peningkatan sehingga perjalanannya menuju shiratal mustaqim menjadi lancar. Dengan adanya nafsu, manusia menjadi punya keinginan agar amal ibadahnya meningkat. Akan tetapi nafsu juga bisa menjadi partnernya iblis. Bisikan-bisikan iblis menjadikan keinginan untuk meningkat menjadi terlalu berlebihan. Nafsu yang seharusnya sebagai modal manusia agar menjadi mulya untuk menuju Allah, akan tetapi kadarnya menjadi berlebihan antara lain ingin menyamai Allah, meniadakan Allah dalam pikiran dan perbuatannya, dan lain-lain.

4. Syahwat

Berbeda dengan nafsu, syahwat merupakan keinginan untuk makan dan berhubungan seksual. Dalam penciptaan syahwat hikmah yang tekandung di dalamnya adalah Allah menciptakan syahwat makan sebagai sarana untuk melangsungkan hidup manusia dan menciptakan syahwat seksual sabagai sarana untuk melangsungkan jenisnya. Akan tetapi sarana seperti itu pun dapat dibelokkan oleh iblis. Karena kenikmatan menuruti syahwat, iblis pun menggoda dengan iming-iming menjadikan kenimatan tersebut seolah-olah sebagai surga sehingga manusia lupa tugas awal fitrahnya menuju shiratal mustaqim. Syahwat yang seharusnya nikmat akan tetapi dijadikan sebagai alat untuk melanggar ketentuan Allah.

5. Dunia

Dunia merupakan alat perjalanan hidup manusia untuk melanjutkan tugasnya sebagai kholifah di muka bumi. Dunia pada hakekatnya telah ditundukkan oleh Allah untuk melayani manusia. Rizki, jabatan, jodoh dan lain-lain pun pada dasarnya telah diatur oleh Allah. Dalam hal ini iblis akan menggoda manusia dengan menjadikan seolah-olah kenikmatan nafsu dan syahwat hanya dapat diperoleh melalui dunia. Akibatnya manusia berlebih-lebihan dalam urusan dunia, berfoya-foya dan melupakan Allah swt.

6. Tuntutan Jasad

Adakalanya manusia ketika digoda nafsunya tidak bisa, ketika digoda syahwatnya merasa tidak mampu, ketika digoda dengan dunia merasa tidak bisa apa-apa, dalam hal ini iblis akan menggoda manusia manusia dengan tuntutan jasadnya. Tuntutan jasad adalah keingnan untuk berhenti (cepat lelah). Jasad adalah tempat atau wadah untuk mengekspresikan semua aktivitas kehidupan manusia. Cara iblis untuk menggoda manusia melalui tuntutan jasad adalah mempercepat keinginan berhenti tersebut dengan memisahkan kekuatan kejiwaannya (dalam hal ini adalah nafsu atau keinginan untuk meningkat) dengan kekuatan fisiknya. Akibatnya manusia menjadi mudah putus asa.

Itulah catatan saya mengenai tuntutan-tuntutan atau dorongan manusia dalam menjalani kehidupan. Sebuah analisis kemanusiaan yang menurut pandangan saya sangat luar biasa dari Abu Bakar As-shiddiq, semoga Allah senantiasa meridloinya. Paling tidak hal tersebut dapat dijadikan acuan untuk melihat diri kita, meraba apa-apa yang kita kerjakan. Tuntutan atau dorongan mana yang mendominasi setiap perbuatan yang kita lakukan. Dorongan menuju shiratal mustaqim-kah, nafsukah, syahwatkah, duniakah atau jasadkah. Bahkan jangan-jangan tuntutan dari iblis dari iblis yang mendominasi perbuatan kita, naudzu billahi min dzalik.

Sumber:
Rekaman Pengajian KH Imran Jamil Jombang

0 komentar:

Posting Komentar