Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Minggu, 15 Mei 2011

Ternyata, Bisa Jadi Tuhan Tidak ‘Berpikir’ Linier

Tulisan ini berawal dari perasaan kecewa kepada Tuhan. Maklum saja di usia menginjak dewasa sering terjadi pada diri saya gejolak-gejolak yang menguras tenaga, menguji emosi dan kepekaan hati. Masalah yang sebenarnya sepele, remeh, gak penting bisa menjadi bomerang pada diri masing-masing individu. Saya tidak mengatakan kalau sudah semakin tua nanti saya sudah bisa keluar dari gejolak-gejolak ini. Gejolak-gejolak tersebut mampu menyeret pelakunya kapada kemalesan, ketidakpercayadirian, kemaksiatan, atau bahkan kematian. Sesuatu yang harusnya bisa dijadikan pelajaran, pijakan untuk memutuskan, syukur-syukur dapat mengurai hikmah dari semua kejadian.

Gejolak-gejolak yang sering muncul diantaranya keinginan untuk bebas dalam lingkungan yang terikat, pemuda-pemudi yang lagi kasmaran, kondisi keuangan, life style, dunia pendidikan atau perkuliahan, keluarga yang berantakan, dan banyak lagi. Banyak kejadian yang mungkin terjadi, banyak juga kemungkinan yang menyebabkan adanya setiap kejadian tersebut. Setiap manusia sangat mungkin berbeda, baik itu penyebab, cara penyelesaian, pengaruh dari setiap kejadian yang dialami. Setiap manusia berbeda pula gejolak yang memiliki pengaruh paling besar pada dirinya.

Bagi saya pribadi gejolak yang memilki pengauh paling besar di usia 21 tahun ini adalah masalah hubungan dengan lawan jenis. Bagaimanapun, bagi saya gejolak ini melibatkan banyak hal dalam diri saya: pikiran, hati dan perasaan. Melibatkan pikiran karena ini merupakan permasalahan yang membutuhkan penyelesaian. Melibatkan hati karena berkaitan dengan cinta dan kasih sayang yang disifatkan Tuhan kepada setiap manusia. Melibatkan perasaan karena dari hubungan dan tindakan yang ada akan menimbulkan rasa suka, senang, sedih, sakit.

Saya katakan demikian bukan karena saya ini orang yang tampan yang sering gonta-ganti pacar, bukan juga karena saya sering dikecewakan. Tapi terserah juga yang menganggap saya demikian dan demikian. Bagi saya yang paling bermasalah adalah kebingungan saya sendiri. Begitu banyak problema: berubah-ubahnya hati dan rasa, ketakutan, kelemahan (kelebihan) diri dan kompleksnya pikiran membuat saya akhirnya tidak bebuat apa-apa. Begitu menyakitkan dan bahkan sempat membuat saya kecewa kepada Tuhan. Saya merasa telah melakukan banyak hal untuk-Nya, memohon petunjuk dan pertolongan-Nya tapi yang saya dapatkan malah kebingungan, ketidakjelasan, kekecewaan.

Tapi bukan ini yang ingin saya utarakan. Ditengah-tengah kebingungan itu saya sempat merasa mendapatkan petunjuk. Beberapa saat setelah melakukan ritual minta petunjuk, saya merasa mendapatkan petunjuk itu. Anehnya kok petunjuknya malah menyuruh saya menjauh dari-Nya. Memang sih, selama ini saya berpikiran sangat mungkin kemaksiatan yang dilakukan manusia itu hanya untuk sementara, bisa jadi nantinya dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari perbuatannya itu, sebelum akhirnya mendapat petunjuk dan kembali ke jalan yang  benar dan diridloi. Tapi yang saya pikirkan justru lain: jangan-jangan ini bukan petunjuk Tuhan tapi malah suara setan, jangan-jangan nantinya tidak dapat lagi kudapatkan petunjuk karena semakin jauh dari-Nya, dan banyak lagi yang menjadi pikiranku. Semakin bingung. Hilang rasanya keyakinan- keyakinan yang selama ini saya pegang.

Di saat-saat seperti ini, kuberusaha untuk tetap bisa berjalan seperti biasa sampai akhirnya saya dihadapkan dengan kenyataan yang kusangka petunjuk itu. Bagaimanapun setan sangat piawai untuk mengalihkan hati manusia sebelum akhirnya menenggelamkannya. Semakin dekat dengan petunjuk itu,rasanya  semakin ingin untuk mendapatkannya. Ketika petunjuk tersebut sudah di depan mata, Tuhan berkata lain dan menakdirkan saya untuk tidak mendapatkannya. Sangat sakit rasanya. Semakin lemah dan tak mampu berbuat apa-apa.

Setelah beberapa saat kucoba perpikir dan merenungkan kejadian tersebut. Terasa begitu lemah diri ini dan terdapat Dzat Yang Maha Kuat, Kuasa Dan Perkasa. Dan ternyata juga memang selama ini, hal ini (tidak dulu mempunyai hubungan dan kepikiran dengan lawan jenis) yang saya harapkan, jadi semakin saya merasa Yang Maha Kuasa memperhatikan dan memenuhi kebutuhan saya. Dan yang penting juga bahwa kejadian yang saya alami ini juga merupakan salah satu petunjuk yang saya harapkan.

Dari sini didapati bahwa bisa jadi Tuhan tidak memberikan petunjuk secara langsung kepada hamba yang dikehendaki-Nya, seperti halnya Tuhan tidak secara langsung menjawab doa hamba-Nya. Bisa jadi Tuhan tidak ‘berpikir’ linier atas semua permasalahan yang kita hadapi. Banyak kemungkinan yang kita tidak tau yang direncanakan-Nya: Tuhan ingin menguji hamba-Nya, menunggu saat yang tepat, atau mungkin Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik. Yang penting untuk dilakukan adalah bersabar, bersyukur, dan tetap berusaha melakukan yang terbaik yang dapat dilakuakan. Jika semua telah dilakukan yakin bahwa semua akan indah pada waktunya.

0 komentar:

Posting Komentar