Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Minggu, 26 Desember 2021

Bukan Secangkir Kopi #3


Pada malam hari saat adzan isya berkumandang, 25 Oktober 2021 aku dipersilahkan duduk di depan seorang dokter jaga ruang perawatan ICU RSML oleh perawat yang sebelumnya memintaku mengambilkan obat untuk Emak di Dipo Farmasi.

"Informasi apa yang bapak inginkan dari kami?"

"Hanya ingin mengetahui perkembangan kondisi ibu, Dok. Dari kemaren sore kami belum dapat informasi."

"Oh, baik, Pak. Saat ini kondisi ibu dari segi tingkat kesadaran sudah mulai ada perkembangan dibandingkan dengan hari sebelumnya. Kemudian dari segi paru-parunya, mohon maaf sebelumnya, Pak, kondisinya masih belum ada perbaikan sama sekali. Jadi, mesin ventilator dan inkubator masih harus dipasang. Kondisi ibu masih sangat lemah, Pak, karena nutrisi ibu sangat kurang. Dari kemarin kami melakukan pengejaran nutrisi terus-menerus, tapi kondisinya masih belum ada perbaikan yang berarti."

Dengan beberapa pengurangan dialog, seperti itulah kira-kira penjelasan dari bu dokter. Setelah mendengarkan penjelasan itu, aku pun diijinkan untuk melihat kondisi Emak di dalam ruang perawatan ICU, bahkan diijinkan untuk berinteraksi dengan Emak secara langsung.

Aku pandangi wajah Emak, aku elus-elus punggung tangannya sembari memperkenalkan diri. Emak pun melihatku dengan tatapan yang sedikit lebih dalam dibandingkan tatapan ambyarnya kemarin, meskipun masih terdapat raut wajah bingung juga dalam tatapan itu. Wajah Emak di sana-sini terdapat bercak darah, barangkali sisa-sisa pemasangan alat ventilator di paru-parunya kemarin. Sebuah pipa berbetuk huruf U sepertinya terbuat dari stainless steel (atau mungkin juga dari plastik - aku tidak tau pastinya) berdiameter sekitar 10 mm terpasang di ujung mulutnya sebelah kanan. Beberapa kabel dan selang bersilang-silangan di sekitar tubuh Emak. Ada yang tersambung dengan sumber oksigen, dengan kantong urine, dengan layar penunjuk kondisi vital pasien di sebelah kiri, dan dengan layar satunya lagi aku tidak tau fungsinya di sebelah kanan.

Aku ucapkan kalimat-kalimat penguatan dan penghiburan kepada Emak sebisa-bisanya. Aku sampaikan bahwa Emak tidak sendiri, suami dan keempat anaknya menjaga secara bergiliran di sebelah ruang perawatan, karena memang tidak dibolehkan berada di ruangan yang sama. Aku ulangi lagi dan lagi perkataanku, karena aku sendiri dalam kondisi seperti ini kurang bisa berkata-kata. Sementara Emak masih memandangiku dengan tatapannya yang sama.

Hanya sekitar tiga menit barangkali perjumpaanku dengan Emak setelah lebih dari 24 jam menunggu suara speaker panggilan untuk keluarga pasien ICU yang tak kunjung menyebutkan nama Emak. Sangat ingin berlama-lama pastinya, tapi pasti tidak diijinkan, dan ada perasaan takut juga kalau-kalau keberadaanku justru membawa pengaruh tidak baik, entah apa itu, kepada Emak. 

Aku pun berpamitan kepada Emak, dan memastikan sekali lagi bahwa aku, suami dan anak-anaknya tidak pergi, tapi hanya dibolehkan menunggu di ruangan sebelah. Emak menganggukkan kepalanya sangat pelan. Aku dengan perasaan bercampur-aduk, beringsut-ingsut jalan meninggalkan ruang perawatan ICU, meninggalkan pemilik kasih sayang yang tidak terperikan besarnya kepadaku.

Segera aku kabarkan kondisi Emak kepada Bapak dan saudara-saudaraku. Dengan sangat hati-hati tentunya, karena takut akan ada harapan yang lebih setelah aku teruskan perkataan dokter kepada mereka. Walau aku juga tau, diantara kami semua tidak ada harapan yang kecil dalam hal mengingini kesembuhan Emak. 

Ada setitik kesenangan tentunya mengetahui sedikit perbaikan pada kondisi kesadaran Emak. Akan tetapi, rasa ketidaktahuan yang jauh lebih besar terkait apa yang akan terjadi membuatku memilih sikap hati-hati, juga menghindari berharap lebih banyak terhadap sedikit perbaikan kondisi Emak tersebut. Dengan begitu, doa-doa yang kupanjatkan untuk Emak tidak akan berkurang, dan rasa berserah diriku kepada Sang Khalik juga tetap terjaga.

Kondisi paru-paru Emak yang kata dokter belum ada perbaikan sama sekali, memang sangat menyedihkan. Tapi, apa lagi mau dikata. Emak sudah menjalani kehidupan dengan cidera paru-paru menahun dari 2010, dan sejak saat itu secara berkala Emak dirawat intensif di Rumah Sakit, tepatnya tahun 2014, 2019 dan 2021. Selama itu Emak juga setiap hari diharuskan mengkonsumsi obat sesak nafas dan paru-paru, entah berapa macam jumlahnya. Menurutku, yang lebih menyedihkan dari kondisi itu adalah kondisi Emak yang lemah karena sangat kekurangan nutrisi, yang menunjukkan aku sebagai anaknya gagal memberi asupan nutrisi yang cukup untuk Emak.

Soal makanan, Emak memiliki karakter yang unik. Oleh karena terbiasa hidup susah di zaman dulu, Emak seolah tidak mau dilenakan dengan kehidupan yang mudah dan enak saat ini. Zaman dulu kalau mendapat makanan enak, Emak lebih memilih memberikannya kepada saudarinya yang memang gemar makan enak, sedangkan Emak sendiri memilih makanan lain yang sederhana. Ketika memiliki makanan yang berlimpah, Emak akan sibuk membagi-bagikannya kepada tetangga dan orang-orang tua di sekitar rumah. Ketika mendapat berkatan, semua makanan "bergizi"nya akan dikasihkan kepada anak-anaknya, sedangkan Emak memakan sisa-sisa yang masih bisa dimakan. Masih banyak lagi contohnya, dimana kebiasaan semacam itu tidak berubah pada diri Emak hingga kini. 

Lebih-lebih lagi saat sedang sakit dan tidak nafsu makan, Emak punya kebiasaan unik juga. Emak bisa kuat makan hanya tiga suapan dalam sehari semalam. Kebiasaan itu tampaknya sudah mendarah daging, sehingga sukar sekali diubah. Sebelum sakit yang ini, dikatakan Emak selama tiga hari tidak makan, yang menyebabkan tubuhnya drop, dan akhirnya dirawat hingga kini.

Aku tidak mengatakan kalau kebiasaan unik Emak soal makanan sebagaimana disebutkan di atas itu tidak baik. Karena dalam islam ada "puasa" dan dalam keilmuan jawa ada "tirakat", yang secara kandungan nilai sama dengan kebiasaan unik yang dilakukan Emak di atas. Bisa jadi, kebiasaan-kebiasaan unik Emak soal makanan tersebut merupakan wujud nyata dari "puasa"/"tirakat" itu sendiri, yang menjadi perantara kebaikan dan kesuksesan anak-anak Emak saat ini.

Kalau sekarang Emak sakit, itu karena anaknya saja yang kurang mengurus dan memperhatikan kondisinya, kurang mencarikan cara yang tepat untuk memitigasi risiko yang mungkin bisa terjadi pada diri Emak akibat dari kebiasaan-kebiasaan uniknya. "Maafkan anakmu ini, Emak! Semoga Gusti Allah masih memberikan kesempatan kepada anakmu ini untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah lalu, masih memberikan kesempatan untuk mengurus dan memperhatikan kebutuhanmu di masa mendatang. Aamiin."


RSML, 26 Oktober 2021

0 komentar:

Posting Komentar