Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Sabtu, 04 Desember 2021

Bukan Secangkir Kopi #2


Pagi ini terasa bisu benar, tak ada keinginanku untuk membicarakan sesuatu dengan Bapak atau Dek Afid. Hanya sesekali menanyakan sesuatu yang penting, kemudian diam lagi dan diam terus. Sepertinya perasaanku menjadi demikian sensitif, sehingga tubuhku dengan sendirinya menghindari sesuatu yang berpotensi menjadikan tidak enak hati.

Dalam suasana seperti ini di hari-hari biasa akan sangat mudah digunakan untuk tidur. Tapi sekali ini aku tidak ingin rasanya, atau mungkin juga tidak bisa. Perasaan berdebar-debar sangat mendominasi, atau barangkali lebih tepatnya perpaduan antara perasaan takut, harap dan cemas. Apa penyebabnya? Tidak lain ialah suara speaker panggilan untuk keluarga pasien ICU Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan (RSML).

Kegiatan utamaku hari kedua di ruang tunggu ICU RSML ini memang ialah menunggu speaker panggilan untuk keluarga pasien berbunyi. Dari semalaman tadi aku sudah menunggunya, tepatnya setelah ada panggilan yang pertama kemaren sore. Dari semalaman tadi hingga pagi ini memang sama sekali tidak ada panggilan untuk keluarga Emak. Tapi, begitu speaker itu berbunyi entah untuk siapa, kesadaranku langsung menyala, pikiranku menjadi siaga, bunyi dag-dig-dig di dadaku tidak keruan rasanya, dan seperti biasa-biasanya beberapa saat setelah menjalani perasaan semacam itu perutku akan mulas dan pergi ke kamar kecil.

Di satu sisi mungkin sebenarnya aku sama sekali tidak pernah ingin mendengar speaker itu berbunyi untuk keluarga Emak. Biarlah Emak tetap istirahat di ruang ICU dan aku tetap menunggu di lorong penantian ini. Tapi di sisi lain aku juga ingin dipanggil dan dikabarkan bahwa kondisi Emak sudah membaik, semakin membaik, diperbolehkan pulang dan sehat kembali seperti sedia kala.

Entahlah, di tengah-tengah masa menunggu aku menjadi banyak berpikir. Seperti cerita tentang speaker di atas. Berbeda dengan biasanya, bunyi speaker sekarang ini menjadi demikian mencekam, hanya karena berpotensi membawa kabar buruk dan menakutkan. Padahal kabar buruk yang dimaksud disini sudah pasti datangnya, hanya soal waktu saja. Tapi aku sendiri seringkali tidak sadar dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Alangkah bodohnya aku!

Dahulu kala, aku sering diskusi dan debat tentang takdir, mengemukakan pengetahuanku tentang qodlo dan qodar, tentang takdir yang bisa diubah dan tidak bisa diubah, juga tentang nasib. Semua itu rasa-rasanya hanyalah pengetahuan belaka, tanpa didasari penghayatan dan kesadaran rasa menjalani takdir yang sesungguhnya. Saat menjalani masa penantian dan segala macam atributnya kini, sedikit-dikitnya aku mulai bisa merasakan bagaimana menjalani takdir: saat segalanya sudah diupayakan dan diusahakan, tapi hasilnya tidak sedikitpun bisa ikut menentukan, bahkan untuk sekedar memperkirakan pun tidak ada keberanian. Betapa tidak ada lagi pilihan jalan, selain kepasrahan.

Kemudian di dalam kepasrahan itu sendiri masih akan timbul riak-riak pertanyaan: emak sedang apa kini, sudah sadar ataukah belum, seperti apakah rena wajahnya, apa yang sedang dirasakannya? Beberapa serabut tanya itu tau-tau sudah pada bercongol di kepala dan memenuhi rongga dada. Semuanya serba gelap dan tidak ada yang terjawab. Semakin lama, rongga dada akan semakin penuh dan ruang yang tersisa pun akan menjadi sempit dan semakin sempit.

Dalam kondisi sempit ini, jalan yang rasanya masih bisa dan berani aku upayakan ialah doa dan keberserahan kepada Gusti Allah. Doa sebagai bentuk pengharapan, karena harapan mutlak dibutuhkan dalam menjalani hidup, termasuk dalam menjalani kepasrahan. Sedangkan berserah ialah perasaan sadar tentang tempat dimana kepasrahan itu harus disandarkan. Doa dan keberserahan itu semoga tetap dan selalu menyertai masa-masa menunggui Emak di ruang tunggu ICU RSML ini.

Sebagai seorang anak, tentunya doa tidak hanya aku lakukan untuk mengisi kondisi sempitku. Akan tetapi, yang paling utama aku niatkan sebagai wujud kebaktianu kepada Emak. Sebelum segala sesuatunya terlambat, akan kuusahakan untuk memberikan kebaktian kepada Emak dengan sebaik-baiknya, dengan setulus-tulusnya, dengan sesadar-sadarnya bahwa kebaktian itu tidak ada seujung kuku dibandingkan dengan perjuangan Emak dan Bapak merawatku sedari kecil. Semoga Gusti Allah masih memberiku waktu dan kesempatan yang lebih panjang untuk melakukan wujud kebaktian itu, sebelum segala sesuatunya terlambat. Aamiin ya Robbal 'Alamiin


RSML, 25 Oktober 2021

0 komentar:

Posting Komentar