Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Sabtu, 27 November 2021

Bukan Secangkir Kopi #1

Catatan ini aku mulai pada hari Minggu dini hari, 24 Oktober 2021 di Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan (RSML), saat sedang menunggui Emak di ruang tunggu ICU RSML. Aku merasa sangat sulit berdamai dengan perasaanku, dan mencoba mengendurkan urat saraf kegelisahan, ketakutan, kesedihan dan entah apa lagi, dengan menulis.

Emak didiagnosis bergejala gagal napas tipe 2 karena kadar karbon dioksida yang tertinggal di paru-paru tinggi 120 mm Hg. Juga hasil rontgen terakhir menunjukkan adanya pneumonia di paru-paru Emak, menyebabkan Emak harus dirawat di ruang isolasi ICU sampai hasil PCR Swab keluar. Jika kondisi makin memburuk maka akan dilakukan pemasangan alat bantu pernafasan ventilator.

Aku membayangkan diriku, jika hal buruk terjadi. Bagaimana mungkin aku bisa menghadapi?

Aku, sejauh manapun pergiku, hanya bocah kecil saat pulang ke pangkuan Emak. Sekeras apapun aku menolak, jika kondisinya bagus emak akan memijitku saat aku kelihatan lelah. Emak selalu memaksa membawakanku bekal saat aku akan berangkat kerja ke perantauan. Emak selalu mengecup kening dan pipi kanan-kiriku saat aku datang pulang dan berpamitan pergi. Dulu, waktu masih sehat-sehatnya Emak akan memasak harus dengan tangannya sendiri untukku dan saudara-saudaraku yang lain.

Rasa-rasanya pasti akan sangat sulit sekali.

Emak, pelajaran hidup darinya amat sangat berpengaruh besar dalam hidupku. Tentu saja bukan hanya pidato lisan, tapi yang jauh lebih banyak adalah tauladan dari lelaku hidupnya. Emak yang suka "mengalah", sampai pada sekali waktu aku merasa emak sudah tidak bisa lagi "dikalahkan". Emak yang selalu menekankan bahwa menjaga paseduluran dan kekerabatan adalah nilai tertinggi dalam hubungan antar sesama. Emak yang suka memberi tempat tinggal dan merawat orang-orang tua yang lemah dan kasihan hidupnya. Emak yang hampir dalam setiap tindak-tanduknya selalu memberikan contoh riil kesederhanaan dalam arti yang sebenarnya. Emak yang suka mengajarkan, "pinter iku kudu sekabehane" atau dengan kata lain "pintar itu harus menyeluruh, tidak cuma pintar akademis saja, tetapi agamanya juga harus taat, akhlaknya juga harus mulia." Bagian paragraf ini akan satu buku sendiri jika dituliskan cerita detilnya. Intinya aku ingin mengatakan dan bersaksi bahwa, "Emak, engkau adalah tauladan terbesar buatku dan semua anak-anakmu."

Di saat seperti ini, hanya tinggal satu harapanku: kesembuhanmu.

Dari banyak guru, aku tau dan selalu berusaha meyakini bahwa tujuan hidup terbaik adalah kembali kepada Sang Khalik. Tentu saja aku tidak ingin menghalangi Emak untuk meraih jalan ini. Tapi saat ini Emak masih bernafas, dan aku akan selalu berhusnudzon sama Gusti Allah untuk mengharapkan kesembuhan Emak selama nafasnya masih ada. Semoga dikabulkan oleh-Nya, aamiin.

Puncak harapan dan doaku adalah husnul khotimah untuk Emak.

Doa ini baru aku sadari pentingnya menjelang akhir tulisan ini. Aku dan kakakku Mas Zud baru saja (waktu ashar) dipanggil sama dokter ICU, dan dikabarkan bahwa kondisi Emak menurun. Dokter meminta persetujuan untuk dilakuan tindakan selanjutnya untuk Emak, yaitu pemasangan inkubator di saluran pernapasan Emak. Aku dan Mas Zud diijinkan untuk melihat Emak dari balik kaca ruang perawatan ICU. Kupandangi lama-lama wajah Emak dan berusaha mendoakan sebisa-sebisanya. Bagaimana perasaanku tidak bisa aku gambarkan. Sekeluar dari ruangan aku baru menyadari sesuatu. Sembari tetap, selalu dan senantiasa mendoakan kesembuhan Emak, aku harus mendoakan juga supaya Emak di akhir hayatnya husnul khotimah. Dan sebenarnya memang itulah puncak tujuan dan cita-cita tertinggi manusia dalam menjalani hidup.

"Ya Allah, aku memohon agar Engkau memberikan kesembuhan kepada Emak. Dan jikalau memang sudah saatnya Emak kembali kepada-Mu, aku memohon agar Engkau meberikan akhir hayat husnul khotimah kepadanya."

Aamiin aamiin aamiin, Ya Robbal 'Alamiin.


RSML, 24 Oktober 2021

0 komentar:

Posting Komentar