Sekali ini, aku ingin menulis pengalaman bermeditasi, yang secara pemahaman makna dan tata cara pengamalannya, sedikit-sedikit aku mendapatkan ilmunya dari Gus Candra Malik saat mengikuti kelas meditasi di Surabaya sekitar bulan April dan Agustus 2017. Berkaitan dengan meditasi ini ada beberapa kejadian unik dalam hidup yang membuatku tertarik mempelajarinya. Salah satu diantaranya aku alami sebelum aku mengikuti kelas meditasi, bahkan sebelum aku tau meditasi itu apa.
Meditasi yang pasti bukan suatu ritual keagamaan yang harus dilakukan dan berdosa ketika ditinggalkan, sama sekali bukan. Pemahaman dangkalku tentang meditasi yaitu salah satu cara untuk menenangkan diri, berinteraksi dengan diri sendiri, mengenali diri sendiri melalui latihan atau olah pernafasan. Seperti tubuh yang memiliki kearifan sendiri ketika menghadapi banyak permasalahan, ia akan menyeimbangkan diri dengan cara "ambekan gede" atau menarik nafas dalam-dalam ke rongga dada dan menghembuskan banyak-banyak ke udara.
Aku pun saat ini bukan seorang pengamal rutin meditasi, bahkan sangat jarang melakukannya. Tapi sejujurnya aku sangat ingin menyediakan waktu khusus supaya bisa melakukannya secara rutin, karena berdasarkan pengalamanku meditasi punya manfaat yang besar secara lahir dan terutama secara batin. Kata Gus Candra yang samar-samar masih aku ingat, "Kebutuhan yang paling penting dan mutlak dibutuhkan manusia apa? Mungkin uang, mungkin makanan dan minuman, tapi yang paling penting adalah bernafas. Tapi mengapa orang kebanyakan menghabiskan sangat banyak waktunya untuk latihan mencari uang, latihan mencari makanan dan minuman, tetapi sangat sedikit orang yang menggunakan waktunya untuk latihan bernafas?"
Pemahaman pertamaku tentang meditasi, mungkin bisa dikaitkan dengan cerita "topo mateni wit gedang (bertapa untuk mematikan pohon pisang)" yang ceritanya sudah aku tulis di kolom "Secangkir Kopi #5" postingan sebelumnya. Seingatku pemahaman tersebut adalah satu-satunya modal keilmuanku saat aku mengalami meditasi untuk pertama kali sekitar bulan Mei 2012, jauh sebelum aku mengikuti kelas meditasi sebagaimana aku sebutkan di atas.
Waktu itu, selepas subuh aku baru sampai di kamar kos setelah perjalanan dari Jakarta ke Bojonegoro ke Surabaya ke Jakarta lagi. Ada beberapa kejadian tidak mengenakkan selama perjalanan yang menyebabkan aku tidak tenang waktu itu. Pertama, agenda perjalananku waktu itu adalah untuk takziyah ke salah seorang teman karib yang lebih dulu berpulang di rumahnya di daerah Bojonegoro. Perasaan kehilangan teman terbaik rasa-rasanya sangat mendominasi ketidaknyamananku. Kedua, setelah dari Bojonegoro aku dan seorang teman melanjutkan perjalanan ke Surabaya untuk menengok bisnis warung kopi teman yang lainnya lagi. Saat di Surabaya itu ada sedikit konflik dengan teman pemilik warung kopi itu yang juga menggangguku secara batin. Ketiga, kelelahan pastinya, karena selain rangkaian perjalanan itu dilakukan secara maraton, ada satu momen dalam perjalanan itu dimana untuk menuju rumah duka aku harus berjalan kaki selama empat jam tanpa berhenti.
Ketidaknyaman yang aku rasakan kian lama menjadi kian meresahkan. Sudah berusaha tidur, tetap tidak bisa tidur. Saat tetap terjaga, perasaan bingung, resah dan gelisah sangat mendominasi. Seingatku waktu itu aku hanya terbaring, mau melakukan apapun bingung dan seperti tidak punya tenaga lagi.
Beberapa saat kemudian timbul dorongan dari dalam diriku, "Kamu meditasi saja! Meditasi saja! Meditasi saja!" Dorongan tersebut terus berulang dan semakin lama semakin kuat. Lama-kelamaan aku yang sama sekali tidak punya ilmu teknik meditasi kemudian bangun dan duduk bersila. Seraya memejamkan mata aku perlahan-lahan mulai mengatur napas. Aku lupa-lupa ingat lafadz yang aku rapalkan waktu itu, seingatku lafadz "Allah Allah Allah" dan aku melakukannya sembari mendengarkan lagu sholawatan di handphone.
Lama-kelamaan aku merasa badanku menjadi lebih ringan, seperti melayang di udara. Tapi beberapa saat berselang ketika ingat masalah-masalahku aku menjadi seperti dihempaskan/dijatuhkan. Lalu kalau sudah tenang menjadi seperti melayang-layang lagi, lalu dihempaskan lagi, berulang terus-menerus seperti itu. Kemudian terbersit tanya di batinku, "Mau sampai kapan terus menerus begini?" Karena aku hapal dengan urutan sholawat di playlist handphone-ku, aku pun menjawabnya sendiri dengan niat di hati, "Yasudah tiga sholawatan lagi." Kemudian aku melanjutkan - kalau boleh dibilang - meditasiku.
Perasaan seperti melayang dan kemudian dihempaskan masih sama dan terus menerus berulang. Sampai pada satu titik "tek!", aku menjadi tidak sadar dan tidak ingat apa-apa lagi. Mungkin aku tertidur waktu itu, tapi ada beberapa hal yang menakjubkan sehingga aku tidak bisa melupakannya. Pertama, ketika aku terbangun posisi dudukku masih sama seperti saat masih sadar, tidak ada yang berubah. Kedua, aku terbangun tepat pada saat sholawat ketiga selesai seperti yang aku niatkan. Ketiga, saat terbangun aku merasa sangat tenang, fresh, mungkin seperti dilahirkan kembali. Terkait yang terakhir ini hanya pernah kurasakan sekali itu saja, tidak pernah terulang lagi bahkan pada saat atau setelah ikut kelas meditasi sekalipun. Sampai sekarang aku masih mencita-citakannya bisa terulang lagi, tapi masih belum terkabul.
Selain pernah mengalami beberapa hal di atas, manfaat meditasi lainnya yang aku rasakan diantaranya membantu menaikkan tingkat kesadaran sehingga bisa menjadi lebih ingat sama Gusti Allah. Dengan banyak-banyak mengingat Gusti Allah hati menjadi lebih tenang. Saat tenang aku bisa mengerjakan segala sesuatu dengan lebih optimal, dan aku lebih bisa berinteraksi dan me-niteni diriku sendiri.
Hanya sebatas itu pengalaman yang bisa kutuliskan. Mau bicara lebih banyak tentang meditasi takut salah karena banyak penjelasan yang aku lupa. Sebenarnya ada lagi pengalaman berkesan dan penjelasan lainnya, tapi mungkin nanti kalau buku catatanku sudah kutemu dan aku sudah mulai rutin bermeditasi, supaya tulisanku juga ditunjang oleh pengalaman rasaku. Sekian.
Ngarus, 12 Oktober 2021


0 komentar:
Posting Komentar