Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Jumat, 10 Agustus 2012

Dinda = Cahaya?


Siang hari begitu terang oleh sinar matahari yang menyala. Bangunan dunia dibuat gemerlap oleh taburan cahaya sejuta warna. Gunung, sungai, gurun dan padang rumput rela ditelanjangi sehingga nampak kemolekannya. Betapa alam sedang menampakkan pesonanya yang seolah tanpa cela.
Tetapi tidakkah kecerahan masih menyisakan lorong-lorong gelap di dalamnya? Adakah masih tersisa tempat yang hitam pekat tanpa seberkas pun cahaya? Adakah manusia yang sedia mendiami kegelapan itu saat segala isi dunia terang dan menyala?
Sam. Barangkali dialah contoh pemuda yang pekerjaannya bergelut dengan kegelapan. Tiada lain yang dilakukannya setiap hari kecuali mencari berkas-berkas cahaya. Hanya cahaya, cahaya dan cahaya yang dipedulikannya, walau hanya setitik yang ia dapatkan, walau hanya sebesar kunang-kunang, walau cuma sekelebat pandangan.
Saat pemuda yang lain sedang asyik jalan-jalan ke mall, sibuk dengan berbagai urusan kuliah, aktif di berbagai macam organisasi, Sam justru tenggelam dengan urusan hatinya. Ia hampir tak pernah menjadi pemeran dalam sandiwara dunia yang dijalaninya. Ia acapkali hanya menonton sandiwara itu dari kejauhan. Sesekali kalau memang dibutuhkan, ia akan bersedia menjadi pemeran pengganti. Sekali waktu saja, tidak lebih. Hal itu ia lakukan terus-menerus dan tak bosan-bosannya.
“Sam, tak inginkah kamu hidup normal? Bergaul dengan teman-temanmu yang lain seperti dulu? Bersenang-senang dengan gadis-gadis sebayamu yang molek dan aduhai?” tanyaku padanya suatu ketika.
“Sudah pernah Kang,” jawab Sam. “Sudah banyak aku bergaul dengan mereka, merasakan berbagai kesenangan, sendiri atau bersama.”
“Mau sampai kapan kamu akan seperti ini?”
“Aku tidak tahu. Aku ingin sendiri dulu Kang, paling tidak sampai aku mulai mengenal siapa diriku. Masih banyak cahaya yang belum aku temukan.”
Selalu saja begitu. Aku pun sebenarnya kasian kepadanya.
Suatu ketika aku senang melihatnya sering tertawa-tawa. Wajahnya tampak sumringah. Ia menjadi begitu akrab dengan handphone miliknya. Entah apa yang membuatnya berbeda. Suatu saat ia berkata padaku:
“Ini harus kuperjuangkan Kang. Barangkali ini sudah saatnya aku dapatkan cahaya besar dalam duniaku.”
Aku tak tahu apa maksudnya, tapi aku hanya diam. Pada saat semacam itu sebenarnya tugasku adalah memberi pertimbangan, tapi tidak aku lakukan. Meskipun sebenarnya banyak pertanyaan yang mengganjal otakku.
Apakah benar cahaya yang dikatakannya besar itu adalah memang cahaya yang dicarinya selama ini? Belum tentu. Tapi Sam tampak meyakininya. Mungkinkah orang yang aku kenal jujur dan tulus hati itu dapat dibutakan juga?
Sam adalah tipe orang yang rela berkorban. Tidak harus dengan harta, karena ia memang bukan orang kaya. Setidak-tidaknya ia pasti akan rela mengorbankan perasaannya. Ia akan rela sakit hati bahkan menderita demi cahaya yang diidam-idamkannya.
Malam demi malam berlalu dengan suasana hati yang cerah mengembang. Bulan seakan enggan menghilang dari tempat beredarnya. Hembusan angin yang biasanya menusuk hingga ke tulang kali ini terasa sejuk menyegarkan. Tiada lagi malam-malam yang sunyi, karena telah terganti oleh lamunan-lamunan yang menggairahkan hati.
“Semakin asyik saja kamu dengan handphonemu Sam?” kataku.
“Iya nih Kang. Bagaimana menurutmu? Apa pendapatmu tentang Dinda?”
“Dinda. Siapa Dinda?”
“Cahaya besar yang beberapa hari yang lalu pernah aku ceritakan padamu Kang, yang akhir-akhir ini terus membayangi hidupku. Aku menamainya Dinda,” jawab Sam sambil tersenyum.
“Oh, romantis juga kamu!” kataku sembari membalas senyumnya. “Kali ini aku tak ingin berpendapat apapun Sam. Aku pun ingin kamu merasakan kesenangan. Sudah cukup lama kamu bergelut dengan kegelapan. Apa rencanamu?”
Sam diam sejenak, kemudian menjawab:
“Aku ingin memiliki Dinda Kang. Aku ingin memegang erat cahaya itu, kemudian menjaga dan menyimpannya di lubuk hati terdalam. Mulai besok lusa aku ada tugas kampus untuk studi lapangan di Kota Pahlawan selama sebulan. Aku pikir itu adalah kesempatanku untuk berjuang mendapatkannya.”
“Hmm.. Selamat berjuang, Sam! Semoga engkau dapatkan cahaya yang engkau idam-idamkan itu. Sebagai bagian dari hidupmu aku akan siap membantu kapanpun kamu butuhkan.” 

***

Beberapa hari kemudian Sam telah berada di Kota Pahlawan. Kegiatannya sehari-hari terbilang cukup padat. Pagi hari benar ia telah bangun, membantu saudaranya membersihkan rumah, mengantar keponakannya ke sekolah, dan berbagai kegiatan lain. Jam setengah delapan tepat ia sudah harus berada di Kantor Pajak untuk menjalani studi lapangannya. Ia baru boleh meninggalkan kantor jam lima sore. Sepulang kerja ia biasanya masih sempatkan mengunjungi teman-temannya sampai dini hari.
Berbagai kesibukan yang dijalani tidak lantas menjadikan Sam lupa akan cahaya idamannya. Dinda tetap menjadi yang utama dalam jejak langkah kehidupannya. Yang suatu ketika membuat hatinya seperti mendapatkan sesapuan angin segar dari nirwana. Atau yang justru membuatnya seolah tersemat duri panas tepat di jantung hatinya. Komunikasinya dengan Dinda tetap berjalan meskipun lebih jarang intensitasnya.
Ah, tapi apalah daya Sam yang hanya manusia biasa. Orang kebanyakan bisa kuat secara fisik tetapi cenderung kesulitan untuk kuat hati. Banyak orang yang tetap ingin bertahan hidup walaupun secara fisik sakitnya sudah komplikasi, tetapi tidak sedikit orang yang seperti ingin mati hanya karena sakit hati. Orang-orang yang sering menelan pahit-getirnya hiduplah yang cenderung lebih kaya rasa dan kuat hatinya.
Nampaknya itulah yang juga dirasakan Sam. Seiring berjalannya waktu intensitas komunikasinya dengan Dinda semakin jarang dan jarang. Dinda dirasakannya berbeda dari sebelumnya saat ia masih di Kota Metropolitan. Betapa hati Sam kini sedang tersematkan benih kerinduan.

Rindu tak sekedar bicara inginku.
Jiwaku pun sayup-sayup memanggil namamu.
Tak sekedar tentang aku dan kamu.
Tetapi juga hatiku dan hatimu.
Hati secara perlahan mengantar menuju pelabuhan rindu.
Pikiran terbang mengangan saat-saat bisa bertemu.

Saat hati Sam penuh gelisah itulah Tuhan memiliki skenario lain terhadap jalan hidupnya.
“Sam, ada kupu-kupu bertandang ke rumahku, adakah suatu pertanda yang sedang dibawanya?” bunyi pesan singkat di layar handphone pada suatu sore menjelang malam. Ternyata pesan itu dari Dinda.
“Kupu-kupu menyukai keindahan Dinda. Sedang engkau adalah cahaya yang selalu memancarkan pesona,” jawab Sam dengan senyum tersungging di bibirnya.
“Ah, bisa saja kamu Sam!” jawab Dinda melalui ponselnya. “Mmm.. Kalau aku cahaya, tidak adakah di antara bilik hatimu sedang meredup sore ini, sehingga aku dapat mengisi gelapnya?”
Dug! Samsir seakan kejatuhan buah Delima tepat di dadanya. Dinda seolah tahu apa yang sedang dirasakannya. Sejenak Sam terdiam memikirkan maksud pesan singkat Dinda.
“Dinda. Betapa hariku selama ini penuh gelap. Alangkah bahagia jika memiliki kesempatan meresap terang cahayamu,” jawab Sam kemudian.
“Kalau begitu mampirlah ke gubugku barang sejenak Sam.”
Betapa bunga-bunga sedang bermekaran di hati Sam. Ruang-ruang gelap yang didiaminya kini digantikan semburat cahaya tujuh warna. Langit senja pun kini berhiaskan mega yang cerah keemasan warnanya.
Sam yang waktu itu baru pulang kerja segera mengendarai motor menuju rumah saudaranya. Sesampainya di rumah ia segera bersiap. Setelah maghrib tepat ia berangkat menuju rumah Dinda. Tak lupa ia bawa serta kotak berbentuk persegi panjang yang terbungkus kertas kado. Tidak lain itu adalah kado untuk ulang tahun Dinda yang ke dua puluh dua.
Sebenarnya kado itu sudah dipersiapkan Sam tepat di hari ulang tahun Dinda seminggu yang lalu. Tetapi Dinda selalu menolak untuk diajak bertemu. Telah berhari-hari Sam menunggu. Dan sekarang adalah saat yang tepat untuk memberikan kado itu.
Setengah jam perjalanan Sam menuju rumah Dinda. Setelah sampai di depan rumahnya, Sam tampak ragu-ragu. Bagaimanapun ia hanyalah manusia aneh yang sering bergelut dengan kegelapan, yang kini sedang dihadapkan dengan rumah penuh cahaya. Tetapi, akhirnya ia lawan keragu-raguan itu dengan mulai berjalan ke halamannya, mengetuk pintunya, dan kemudian memasuki ruang tamunya. Dinda sendiri yang menyambut kedatangannya di ruang tamu.
Senja gelisah menjelang pergantian siang menuju malam. Gemerlap cahaya kuning keemasan memudar perlahan bergantikan petang. Bintang-bintang mulai bermunculan, disusul cerahnya cahaya rembulan. Angin malam yang sepoi basah membawa kerinduan menuju syahdunya pertemuan.
“Sudah 4 tahun yang lalu aku terakhir ke sini Dinda. Sekarang sudah banyak yang berubah – semakin bersinar,” kata Sam memulai pembicaraan.
“Bagaimanapun yang semakin bersinar itu hanya rumahnya Sam. Sedang orangnya, semakin redup saja rasanya,” sahut Dinda.
“Tidak tepat itu Dinda. Bagiku kamu adalah cahaya yang selalu bersinar terang. Kamu adalah inspirasi terbesar dalam hidupku.”
“Ah, kamu bisa saja Sam! Aku selalu menjadi begitu berharga di matamu.”
“Tidakkah kamu tahu Dinda, tugasku terlahir di dunia adalah menjadikan wanita yang berada di dekatku ini sebagai perhiasan paling berharga.”
Dinda tersenyum-senyum mendengar perkataan Sam.
Kedua insan itupun bercakap panjang lebar. Mulai dari kehidupan kuliah, kehidupan di keluarga masing-masing, kehidupan pribadi, semua diketengahkan. Sesekali diiringi deraian canda dan tawa. Tanpa terasa waktu telah mengantar kebersamaan mereka sampai jam sembilan malam.
“Sudah malam Dinda, aku sudah harus pulang nampaknya!” kata Sam sambil membuka tas yang dibawanya.
“Oh, iya Sam. Lain waktu kamu bisa main lagi ke sini,” sahut Dinda.
“Ini ada kado dariku, Selamat ulang tahun ya!” kata Sam sambil menyodorkan kadonya. “Maaf! sekedar kado sederhana Dinda. Kamu boleh membukanya sekarang.” lanjut Sam.
Dinda membuka kado itu. Di dalamnya terdapat sebuah lukisan sederhana yang terbingkai dalam sebuah pigura. Hanya sosok dalam lukisan itu barangkali yang sangat istimewa, terutama bagi Sam sendiri. Sosok yang bercahaya dan mempesona, yang tiada lain adalah sosok Dinda.
“Lukisan ini begitu mirip dengan aslinya. Terima kasih Sam! Bahkan aku sudah lupa hari ulang tahunmu,” kata Dinda setelah beberapa saat memandangi lukisan itu.
Sam hanya tertunduk, tak kuasa memandangi keindahan mata Dinda. Dari air mukanya tampak ia ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu-ragu. Pada saat seperti ini kelihatanlah sosok Sam yang sebenarnya, yang pendiam dan pemalu.
“Kamu tampak ingin mengatakan sesuatu Sam?” kata Dinda yang telah berhasil membaca raut wajah Sam. “Katakan saja! Kamu ingin menginap di sini kah?” lanjut Dinda sambil tertawa-tawa.
“Aku mencintaimu Dinda.” Sam akhirnya memberanikan diri berkata.
Kali ini Dinda terdiam.
“Aku mencintaimu secara sederhana seperti lukisan ini. Dimana ada kamu terbingkai dalam hatiku. Sesekali bingkai tak pernah ada selain untuk menjaga dan melindungi isinya, selain untuk menjadikan isinya semakin indah dan berharga. Kehidupan layaknya lukisan ini Dinda, banyak terdapat goresan-goresan. Tetapi karena kesabaran dan keuletan pelukisnya, ia menjadi demikian indahnya. Maukah kamu menjadikan aku bingkai dalam hidupmu? Maukah kamu melukis masa depan bersamaku?”
Dinda masih terdiam. Sementara Sam telah bercucuran keringat dingin dari keningnya.
“Aku ingin berusaha mencintaimu Sam. Tapi aku belum siap menjadi yang selalu ada buat kamu. Maaf Sam, aku belum siap memberikan jawaban padamu!”
“Tidak apa-apa. Seperti itupun aku sudah senang.”
Sam kemudian meninggalkan rumah penuh cahaya itu setelah mohon diri pada Dinda dan orang tuanya.
Sam berjalan dan terus berjalan. Berhari-hari, berminggu-minggu. Selama itu ia tak dapatkan lagi pesan singkat dari Dinda. Bahkan pesan singkat yang dikirimkannya tak berbalas juga. Sam menyadari betapapun Dinda adalah cahaya yang hanya bisa dinikmati indahnya. Siapa pula manusia yang dapat memegang cahaya, apalagi memilikinya.
Sam terus berjalan menuju lorong gelap. Pelan-pelan ia masuki lorong itu, jauh dan semakin menjauh. Sekali waktu ia sempatkan menengok ke belakang untuk melihat adakah cahaya indah Dinda, tapi tak didapatkannya. Sambil terus berjalan ia menoleh lagi untuk kali kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Cahaya Dinda tetap tak pernah didapatkannya.
Sam terus berjalan. Lorong bertambah gelap, terus-menerus bertambah gelap. Ia kembali ke dalam kegelapan itu sepenuhnya.


Saifuddin Du
Kalimongso, 09 Agustus 2012 21:47



0 komentar:

Posting Komentar