Siang hari begitu terang oleh sinar matahari
yang menyala. Bangunan dunia dibuat gemerlap oleh taburan cahaya sejuta warna.
Gunung, sungai, gurun dan padang rumput rela ditelanjangi sehingga nampak
kemolekannya. Betapa alam sedang menampakkan pesonanya yang seolah tanpa cela.
Tetapi tidakkah kecerahan masih menyisakan
lorong-lorong gelap di dalamnya? Adakah masih tersisa tempat yang hitam pekat
tanpa seberkas pun cahaya? Adakah manusia yang sedia mendiami kegelapan itu
saat segala isi dunia terang dan menyala?
Sam. Barangkali dialah contoh pemuda yang
pekerjaannya bergelut dengan kegelapan. Tiada lain yang dilakukannya setiap
hari kecuali mencari berkas-berkas cahaya. Hanya cahaya, cahaya dan cahaya yang
dipedulikannya, walau hanya setitik yang ia dapatkan, walau hanya sebesar
kunang-kunang, walau cuma sekelebat pandangan.
Saat pemuda yang lain sedang asyik
jalan-jalan ke mall, sibuk dengan berbagai urusan kuliah, aktif di berbagai macam
organisasi, Sam justru tenggelam dengan urusan hatinya. Ia hampir tak pernah menjadi
pemeran dalam sandiwara dunia yang dijalaninya. Ia acapkali hanya menonton
sandiwara itu dari kejauhan. Sesekali kalau memang dibutuhkan, ia akan bersedia
menjadi pemeran pengganti. Sekali waktu saja, tidak lebih. Hal itu ia lakukan
terus-menerus dan tak bosan-bosannya.
“Sam, tak inginkah kamu hidup normal? Bergaul
dengan teman-temanmu yang lain seperti dulu? Bersenang-senang dengan gadis-gadis
sebayamu yang molek dan aduhai?” tanyaku padanya suatu ketika.
“Sudah pernah Kang,” jawab Sam. “Sudah banyak
aku bergaul dengan mereka, merasakan berbagai kesenangan, sendiri atau bersama.”
“Mau sampai kapan kamu akan seperti ini?”
“Aku tidak tahu. Aku ingin sendiri dulu Kang,
paling tidak sampai aku mulai mengenal siapa diriku. Masih banyak cahaya yang
belum aku temukan.”
Selalu saja begitu. Aku pun sebenarnya kasian
kepadanya.
Suatu ketika aku senang melihatnya sering
tertawa-tawa. Wajahnya tampak sumringah. Ia menjadi begitu akrab dengan handphone miliknya. Entah apa yang
membuatnya berbeda. Suatu saat ia berkata padaku:
“Ini harus kuperjuangkan Kang. Barangkali ini
sudah saatnya aku dapatkan cahaya besar dalam duniaku.”
Aku tak tahu apa maksudnya, tapi aku hanya
diam. Pada saat semacam itu sebenarnya tugasku adalah memberi pertimbangan, tapi
tidak aku lakukan. Meskipun sebenarnya banyak pertanyaan yang mengganjal
otakku.
Apakah benar cahaya yang dikatakannya besar
itu adalah memang cahaya yang dicarinya selama ini? Belum tentu. Tapi Sam tampak
meyakininya. Mungkinkah orang yang aku kenal jujur dan tulus hati itu dapat
dibutakan juga?
Sam adalah tipe orang yang rela berkorban.
Tidak harus dengan harta, karena ia memang bukan orang kaya. Setidak-tidaknya
ia pasti akan rela mengorbankan perasaannya. Ia akan rela sakit hati bahkan
menderita demi cahaya yang diidam-idamkannya.
Malam demi malam berlalu dengan suasana hati
yang cerah mengembang. Bulan seakan enggan menghilang dari tempat beredarnya.
Hembusan angin yang biasanya menusuk hingga ke tulang kali ini terasa sejuk
menyegarkan. Tiada lagi malam-malam yang sunyi, karena telah terganti oleh
lamunan-lamunan yang menggairahkan hati.
“Semakin asyik saja kamu dengan handphonemu Sam?” kataku.
“Iya nih Kang. Bagaimana menurutmu? Apa
pendapatmu tentang Dinda?”
“Dinda. Siapa Dinda?”
“Cahaya besar yang beberapa hari yang lalu
pernah aku ceritakan padamu Kang, yang akhir-akhir ini terus membayangi
hidupku. Aku menamainya Dinda,” jawab Sam sambil tersenyum.
“Oh, romantis juga kamu!” kataku sembari
membalas senyumnya. “Kali ini aku tak ingin berpendapat apapun Sam. Aku pun
ingin kamu merasakan kesenangan. Sudah cukup lama kamu bergelut dengan
kegelapan. Apa rencanamu?”
Sam diam sejenak, kemudian menjawab:
“Aku ingin memiliki Dinda Kang. Aku ingin
memegang erat cahaya itu, kemudian menjaga dan menyimpannya di lubuk hati
terdalam. Mulai besok lusa aku ada tugas kampus untuk studi lapangan di Kota
Pahlawan selama sebulan. Aku pikir itu adalah kesempatanku untuk berjuang
mendapatkannya.”
“Hmm.. Selamat berjuang, Sam! Semoga engkau
dapatkan cahaya yang engkau idam-idamkan itu. Sebagai bagian dari hidupmu aku
akan siap membantu kapanpun kamu butuhkan.”
***
Beberapa hari kemudian Sam telah berada di
Kota Pahlawan. Kegiatannya sehari-hari terbilang cukup padat. Pagi hari benar
ia telah bangun, membantu saudaranya membersihkan rumah, mengantar keponakannya
ke sekolah, dan berbagai kegiatan lain. Jam setengah delapan tepat ia sudah
harus berada di Kantor Pajak untuk menjalani studi lapangannya. Ia baru boleh
meninggalkan kantor jam lima sore. Sepulang kerja ia biasanya masih sempatkan
mengunjungi teman-temannya sampai dini hari.
Berbagai kesibukan yang dijalani tidak lantas
menjadikan Sam lupa akan cahaya idamannya. Dinda tetap menjadi yang utama dalam
jejak langkah kehidupannya. Yang suatu ketika membuat hatinya seperti
mendapatkan sesapuan angin segar dari nirwana. Atau yang justru membuatnya
seolah tersemat duri panas tepat di jantung hatinya. Komunikasinya dengan Dinda
tetap berjalan meskipun lebih jarang intensitasnya.
Ah, tapi apalah daya Sam yang hanya manusia
biasa. Orang kebanyakan bisa kuat secara fisik tetapi cenderung kesulitan untuk
kuat hati. Banyak orang yang tetap ingin bertahan hidup walaupun secara fisik
sakitnya sudah komplikasi, tetapi tidak sedikit orang yang seperti ingin mati
hanya karena sakit hati. Orang-orang yang sering menelan pahit-getirnya
hiduplah yang cenderung lebih kaya rasa dan kuat hatinya.
Nampaknya itulah yang juga dirasakan Sam. Seiring
berjalannya waktu intensitas komunikasinya dengan Dinda semakin jarang dan
jarang. Dinda dirasakannya berbeda dari sebelumnya saat ia masih di Kota Metropolitan.
Betapa hati Sam kini sedang tersematkan benih kerinduan.
Rindu tak sekedar bicara inginku.
Jiwaku pun sayup-sayup memanggil
namamu.
Tak sekedar tentang aku dan kamu.
Tetapi juga hatiku dan hatimu.
Hati secara perlahan mengantar
menuju pelabuhan rindu.
Pikiran terbang mengangan saat-saat
bisa bertemu.
Saat hati Sam penuh gelisah itulah Tuhan
memiliki skenario lain terhadap jalan hidupnya.
“Sam, ada kupu-kupu bertandang ke rumahku, adakah
suatu pertanda yang sedang dibawanya?” bunyi pesan singkat di layar handphone pada suatu sore menjelang
malam. Ternyata pesan itu dari Dinda.
“Kupu-kupu menyukai keindahan Dinda. Sedang
engkau adalah cahaya yang selalu memancarkan pesona,” jawab Sam dengan senyum
tersungging di bibirnya.
“Ah, bisa saja kamu Sam!” jawab Dinda melalui
ponselnya. “Mmm.. Kalau aku cahaya, tidak adakah di antara bilik hatimu sedang
meredup sore ini, sehingga aku dapat mengisi gelapnya?”
Dug! Samsir seakan kejatuhan buah Delima
tepat di dadanya. Dinda seolah tahu apa yang sedang dirasakannya. Sejenak Sam terdiam
memikirkan maksud pesan singkat Dinda.
“Dinda. Betapa hariku selama ini penuh gelap.
Alangkah bahagia jika memiliki kesempatan meresap terang cahayamu,” jawab Sam
kemudian.
“Kalau begitu mampirlah ke gubugku barang
sejenak Sam.”
Betapa bunga-bunga sedang bermekaran di hati
Sam. Ruang-ruang gelap yang didiaminya kini digantikan semburat cahaya tujuh
warna. Langit senja pun kini berhiaskan mega yang cerah keemasan warnanya.
Sam yang waktu itu baru pulang kerja segera
mengendarai motor menuju rumah saudaranya. Sesampainya di rumah ia segera
bersiap. Setelah maghrib tepat ia berangkat menuju rumah Dinda. Tak lupa ia
bawa serta kotak berbentuk persegi panjang yang terbungkus kertas kado. Tidak
lain itu adalah kado untuk ulang tahun Dinda yang ke dua puluh dua.
Sebenarnya kado itu sudah dipersiapkan Sam tepat
di hari ulang tahun Dinda seminggu yang lalu. Tetapi Dinda selalu menolak untuk
diajak bertemu. Telah berhari-hari Sam menunggu. Dan sekarang adalah saat yang
tepat untuk memberikan kado itu.
Setengah jam perjalanan Sam menuju rumah
Dinda. Setelah sampai di depan rumahnya, Sam tampak ragu-ragu. Bagaimanapun ia
hanyalah manusia aneh yang sering bergelut dengan kegelapan, yang kini sedang
dihadapkan dengan rumah penuh cahaya. Tetapi, akhirnya ia lawan keragu-raguan
itu dengan mulai berjalan ke halamannya, mengetuk pintunya, dan kemudian
memasuki ruang tamunya. Dinda sendiri yang menyambut kedatangannya di ruang
tamu.
Senja gelisah menjelang pergantian siang menuju
malam. Gemerlap cahaya kuning keemasan memudar perlahan bergantikan petang.
Bintang-bintang mulai bermunculan, disusul cerahnya cahaya rembulan. Angin malam
yang sepoi basah membawa kerinduan menuju syahdunya pertemuan.
“Sudah 4 tahun yang lalu aku terakhir ke sini
Dinda. Sekarang sudah banyak yang berubah – semakin bersinar,” kata Sam memulai
pembicaraan.
“Bagaimanapun yang semakin bersinar itu hanya
rumahnya Sam. Sedang orangnya, semakin redup saja rasanya,” sahut Dinda.
“Tidak tepat itu Dinda. Bagiku kamu adalah
cahaya yang selalu bersinar terang. Kamu adalah inspirasi terbesar dalam
hidupku.”
“Ah, kamu bisa saja Sam! Aku selalu menjadi
begitu berharga di matamu.”
“Tidakkah kamu tahu Dinda, tugasku terlahir
di dunia adalah menjadikan wanita yang berada di dekatku ini sebagai perhiasan
paling berharga.”
Dinda tersenyum-senyum mendengar perkataan
Sam.
Kedua insan itupun bercakap panjang lebar.
Mulai dari kehidupan kuliah, kehidupan di keluarga masing-masing, kehidupan
pribadi, semua diketengahkan. Sesekali diiringi deraian canda dan tawa. Tanpa
terasa waktu telah mengantar kebersamaan mereka sampai jam sembilan malam.
“Sudah malam Dinda, aku sudah harus pulang
nampaknya!” kata Sam sambil membuka tas yang dibawanya.
“Oh, iya Sam. Lain waktu kamu bisa main lagi
ke sini,” sahut Dinda.
“Ini ada kado dariku, Selamat ulang tahun
ya!” kata Sam sambil menyodorkan kadonya. “Maaf! sekedar kado sederhana Dinda.
Kamu boleh membukanya sekarang.” lanjut Sam.
Dinda membuka kado itu. Di dalamnya terdapat
sebuah lukisan sederhana yang terbingkai dalam sebuah pigura. Hanya sosok dalam
lukisan itu barangkali yang sangat istimewa, terutama bagi Sam sendiri. Sosok
yang bercahaya dan mempesona, yang tiada lain adalah sosok Dinda.
“Lukisan ini begitu mirip dengan aslinya. Terima
kasih Sam! Bahkan aku sudah lupa hari ulang tahunmu,” kata Dinda setelah
beberapa saat memandangi lukisan itu.
Sam hanya tertunduk, tak kuasa memandangi
keindahan mata Dinda. Dari air mukanya tampak ia ingin mengatakan sesuatu, tapi
ragu-ragu. Pada saat seperti ini kelihatanlah sosok Sam yang sebenarnya, yang
pendiam dan pemalu.
“Kamu tampak ingin mengatakan sesuatu Sam?”
kata Dinda yang telah berhasil membaca raut wajah Sam. “Katakan saja! Kamu
ingin menginap di sini kah?” lanjut Dinda sambil tertawa-tawa.
“Aku mencintaimu Dinda.” Sam akhirnya
memberanikan diri berkata.
Kali ini Dinda terdiam.
“Aku mencintaimu secara sederhana seperti
lukisan ini. Dimana ada kamu terbingkai dalam hatiku. Sesekali bingkai tak
pernah ada selain untuk menjaga dan melindungi isinya, selain untuk menjadikan
isinya semakin indah dan berharga. Kehidupan layaknya lukisan ini Dinda, banyak
terdapat goresan-goresan. Tetapi karena kesabaran dan keuletan pelukisnya, ia
menjadi demikian indahnya. Maukah kamu menjadikan aku bingkai dalam hidupmu?
Maukah kamu melukis masa depan bersamaku?”
Dinda masih terdiam. Sementara Sam telah
bercucuran keringat dingin dari keningnya.
“Aku ingin berusaha mencintaimu Sam. Tapi aku
belum siap menjadi yang selalu ada buat kamu. Maaf Sam, aku belum siap
memberikan jawaban padamu!”
“Tidak apa-apa. Seperti itupun aku sudah
senang.”
Sam kemudian meninggalkan rumah penuh cahaya
itu setelah mohon diri pada Dinda dan orang tuanya.
Sam berjalan dan terus berjalan. Berhari-hari,
berminggu-minggu. Selama itu ia tak dapatkan lagi pesan singkat dari Dinda.
Bahkan pesan singkat yang dikirimkannya tak berbalas juga. Sam menyadari
betapapun Dinda adalah cahaya yang hanya bisa dinikmati indahnya. Siapa pula
manusia yang dapat memegang cahaya, apalagi memilikinya.
Sam terus berjalan menuju lorong gelap.
Pelan-pelan ia masuki lorong itu, jauh dan semakin menjauh. Sekali waktu ia
sempatkan menengok ke belakang untuk melihat adakah cahaya indah Dinda, tapi
tak didapatkannya. Sambil terus berjalan ia menoleh lagi untuk kali kedua,
ketiga, keempat, dan seterusnya. Cahaya Dinda tetap tak pernah didapatkannya.
Sam
terus berjalan. Lorong bertambah gelap, terus-menerus bertambah gelap. Ia
kembali ke dalam kegelapan itu sepenuhnya.
Saifuddin
Du
Kalimongso,
09 Agustus 2012 21:47


0 komentar:
Posting Komentar