Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Kamis, 09 Agustus 2012

Senyuman Lathifa


Sudah dua bulan lebih aku berjibaku dengan  kegiatan pesantren. Kegiatan yang padat, tapi  rasanya tak membosankan. Barangkali itu karena menjadi santri adalah keinginanku sendiri sejak semula. Sehingga sedikit-banyak memotivasiku untuk berusaha menikmati kehidupan pesantren yang terbilang jauh berbeda dengan kehidupanku di rumah sebelumnya: yang dilayani, yang semua terpenuhi. Bagaimanapun, seperti yang dinasihatkan bapak kepadaku, aku harus konsisten dan bertanggung jawab atas keputusan yang telah aku buat sendiri. Tidak ada alasan bagiku untuk mengeluhkan semua itu.

Kalau ada hal yang memberatkan, barangkali yang terutama adalah kerinduanku kepada orang tua. Iya, waktu dua bulan terbilang lama buatku yang baru pertama kali merantau. Tidak cukup untuk menahan gejolak perasaan itu. Apalagi aku dan orang tua tak pernah ada komunikasi pula. Handphone dilarang digunakan para santri. Surat menyurat apalagi, emak dan bapak hanya seorang petani desa yang tidak mungkin sempat-sempatnya menulis surat dan mengantarkannya ke kantor pos. Walau begitu, satu hal yang aku yakini selalu dilakukan mereka: memanjatkan doa untukku.

Kerinduan itu semakin lama terasa semakin dalam. Sementara pesantren baru memberi izin pulang sebulan lagi, di pertengahan Ramadhan. Walau secara lahir aku tidak pernah sepi dari teman-teman santri, tetapi pojok kesunyian hatiku mengatakan berbeda. Bahwa aku butuh untuk segera melepas rindu pada orang yang bermakna. Yah, tetapi itu hanya sekedar naluri yang tak dapat segera aku penuhi. Aku sendiri sudah bertekad untuk tidak melakukan itu sebelum waktunya. “Barangkali saja,” pikirku, “aku akan menemukan suasana baru yang sedikit-dikitnya mengurangi kerinduan itu.”

Pagi hari, seperti hari-hari biasa, matahari terbit dari ufuk timur. Seperti hari-hari biasa pula, aku harus pergi ke sekolah setelah sebelumnya mengikuti serangkaian kegiatan pesantren: salat subuh berjamaah, istighosah, dan mengaji Alquran. Tak cukup di situ, masih ada juga aktivitas pribadi lain yang itu-itu saja. Berangkat sekolah bareng Beji misalnya, dari hari ke hari tak berbeda. Maklum, dia adalah teman seasrama yang aku rasakan paling dekat. Ah, tetapi ada yang berbeda juga. Aku berangkat ke sekolah tanpa membawa tas seperti biasa. Hanya aku bawa pulpen, stipo, dan selembar kartu.

“Sam, sudah kau bawa kartu ujianmu?” tanya Beji sebelum berangkat sekolah.

“Sudah, Ji,” jawabku singkat.

Kami kemudian berjalan menuju SMA Darul Ulum 2. Menuruti jalan setapak menyusur sungai Rejoso yang terus mengalirkan kehidupan. Menyertai udara pagi yang semilir berhembus meniupkan kesegaran. Melewati gedung demi gedung Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang.

Sesampainya di sekolah, aku terus berjalan menuju ruang ujian, demikian juga Beji. Ternyata ada hal yang mengagetkanku. Pelaksanaan ujian tengah semester ganjil itu menggabungkan dua kelas RSBI, kelasku sendiri (kelas putra) dan satu kelas RSBI lainnya (kelas putri). Ah, apa pula maksudnya aku tak tahu. Akan masuk kelas aku merasa canggung juga, tetapi akhirnya aku lakukan itu dan langsung menempati tempat dudukku.

“Permisi!” terdengar suara menyapa telingaku.

Aku memberikan jalan pada si pemilik suara yang kemudian duduk di kursi sebelahku. Ternyata aku sebangku dengan santri putri. “Duh, bagaimana ini?” pikirku. Aku merasa hilang keberanian saat berhadapan dengan lawan jenis. Sejak kecil aku dikenal sebagai orang yang pemalu dan pendiam. Tetapi, apa harus aku diamkan saja teman sebangkuku? Apa yang harus aku lakukan?

“Samsir,” sebuah suara memanggilku. Ternyata dari si santri putri itu.

Aku menoleh ragu-ragu. “Iya.”

“Nanti aku dicontohin ya?” katanya dengan kepala sedikit menunduk.

“Aku lo gak bisa apa-apa,” jawabku merendah.

“Alah! Biasanya nilainya juga bagusan kamu kok!”

Aku hanya diam, tetapi memberi isyarat mengiakan. Sekilas aku pandangi wajahnya yang  hampir selalu ditundukkan. Sebagai laki-laki aku lalu memberikan penilaian: biasa saja, tak ada yang istimewa dari parasnya. Sejurus kemudian Pak Umarok datang untuk mengawasi ujian.

Hari pertama adalah ujian Matematika. Masuk akal jika santri putri itu minta bantuanku, Matematika adalah pelajaran yang aku sukai. Tapi yang membingungkanku, dari mana ia mengetahui namaku? Aku sendiri sama sekali tak mengenalnya. Lebih-lebih ia juga mengatakan nilaiku lebih bagus darinya, aku tak tahu. Atau mungkinkah karena aku sendiri yang kurang pergaulan sehingga tidak mengenalinya? Aku biarkan pertanyaan-pertanyaan itu bergelayutan di serabut otakku. Ini bukan saat untuk memikirkannya.

Dua jam lamanya aku berperang tanding dengan kertas ujian. Setelah menyelesaikannya, aku pandangi langit di luar ruangan yang tampak biru cerah, dengan sinar mentari sebagai porosnya. Udara di ruangan aku rasakan begitu menyegarkan, sesegar embun yang setiap pagi memandikan rerumputan. Alam seakan sedang membuka jalan untukku, jalan yang lapang dan melegakan. Selega hatiku, yang telah dengan lancar menyelesaikan ujian.

Aku bangkit berdiri untuk menyerahkan hasil pekerjaanku pada pak Umarok. Itu setelah sebelumnya aku menunjukkan hasil pekerjaan itu pada teman sebangkuku. Sebelum berjalan, aku sempatkan menengok ke arahnya, untuk memastikan ia tidak membutuhkan jawabanku lagi. Dan tak lupa pula, aku arahkan bola mataku ke lembar jawaban miliknya. Tertulis sebuah nama di atasnya: “Lathifa”. Aku ingat-ingat nama itu. Dan nama itu pula yang sedikit-banyak ikut menyertai perjalanan pulangku ke asrama.

*

Pagi hari sekitar jam setengah tujuh aku sudah siap dengan seragam sekolah. Sambil menunggu Beji, aku berjalan ke gerobak dagang Pakdhe Titot yang setiap pagi selalu siap sedia menjual nasi bungkus di halaman asramaku, Alhusna. Ramai sekali tempat dagangan itu dikerubuti para santri. Namun, rasanya itu tidak lantas membuat Pakdhe Titot senang. Karena kebanyakan santri datang padanya untuk mengutang. Hanya di awal bulan biasanya utang-utang itu akan dibayar. Itupun kadang masih ada yang menunggak juga. Di tempat itu aku membeli sebungkus nasi telor dan kemudian menyantapnya di depan musholla.

Usai sarapan aku samperi Beji yang sudah beberapa saat menungguku. Kami kemudian berangkat bersama-sama santri lain yang satu sekolah. Dalam perjalanan, Beji dan teman-teman lain banyak berbicara mengenai pengalaman UTS pertama kemarin. Sementara aku sendiri lebih banyak diam dan mendengarkan.

“Sam, aku dengar kamu ujian satu bangku sama Lathifa, ya?” tanya Beji padaku.

Sejenak aku terdiam. Sebenarnya nama “Lathifa” sudah mulai aku lupakan. Tetapi ucapan Beji membuatku kembali mengingat sosok santri putri yang sering menundukkan kepala itu.

“Iya, Ji,” kataku kemudian. “Emangnya kamu kenal sama Lathifa?”

“Lho, gimana kamu ini! Anak itu kan seasrama sama kita. Dia satu-satunya santri Alhusna Putri yang masuk kelas RSBI lho!”

Uh, ternyata memang benar aku sangat kurang pergaulan. Aku tercengang oleh perkataan Beji itu.

“Sam, Sam, Lihat itu!” teriak Beji sambil menunjuk pertigaan jalan depan Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum. Mendengar suara itu, aku dan beberapa teman kontan langsung melihat ke arah telunjuknya.

“Itu kan Lathifa, Sam! Teman sebangkumu!” lanjut Beji dengan suaranya yang keras.

Jarak Lathifa dengan tempat keberadaan Beji cukup dekat, sekitar 15 meter. Benar saja, Lathifa juga mendengar suara Beji. Ia pun menoleh ke arah kami, ke arahku juga. Aku merasa malu melihatnya, dan segera menundukkan kepala. Tetapi, ada yang aku rasakan mengganjal hatiku. Sebelum menunduk, sekilas aku sempat melihat Lathifa tersenyum padaku. Senyum yang aku rasakan membuatnya nampak berbeda dari pertemuan sebelumnya. Sayang, aku melihatnya dari kejauhan dan hanya sesaat pula.

Senyum itu tetap tidak mengurangi perasaan maluku. Aku merasa kesal sama Beji. Karena kesal itu, aku lupa kalau lengannya sedang berpenyakit bisul besar. Aku raih lengan itu, lalu menggenggamnya dengan kuat dan erat. Beji mengaduh-aduh kesakitan, dari lengannya berkeluaran darah dan nanah. Setelah menyadari rasa sakit Beji, aku baru melepasnya. Tetapi kurang ajarnya, ia masih juga menertawakanku, diikuti teman-teman yang lain pula. Dan setelah kejadian itu, mereka pun mengolok-olokkanku dengan Lathifa.

*

Pagi hari di hari keempat ujian, aktivitasku sebelum berangkat sekolah sedikit berbeda dari biasanya. Sehabis subuhan dan istighosah bersama Kiai Dhim, aku tak mengaji Alquran bersama, tetapi menyirami tanaman bunga di taman Alhusna. Hal itu memang sudah menjadi piketku setiap Selasa. Selain menyiram bunga, teman yang juga piket lainnya ada yang menyapu halaman, mengambil sampah di asrama putri, dan mendorong gerobak sampah ke tempat pembuangan akhir.

Aku menyirami tanaman bunga dengan melangkah pelan, seperti larva undur-undur ketika berjalan. Kalau ada yang membedakan barangkali cara jalannya. Jenis hewan pemakan semut ini jalannya mundur ke belakang, sementara aku maju ke depan – terus-menerus ke depan. Meskipun begitu, rasanya tidak menjamin bahwa aku lebih tahu arah darinya. Karena aku sendiri seringnya bingung juga: mau jalan ke mana, sampai di mana, dan kapan berhentinya.

Udara pagi bergerak meliuk-liuk menyapa kulitku, bersamaan dengan siraman air yang membasahi lembar demi lembar daun tanaman. Pandanganku aku tujukan ke arah pintu gerbang asrama Alhusna Putri. Aku menjadi teringat sosok Lathifa, teman yang sudah tiga hari ujian sebangku denganku. Bagaimanapun, baru ia satu-satunya santri putri yang aku kenali. Aku berpikir, “Kalau ia berangkat sekolah pasti melewati gerbang itu. Kemudian melewati jalan yang sedang aku injak ini. Ah, tetapi lupakan! Jam segini masih belum saatnya untuk berangkat sekolah.”

Ternyata aku salah. Dari pintu itu nampak olehku seorang santri putri berseragam sekolah lengkap. Ia semakin mendekat, dan lama-lama hanya terpaut beberapa langkah dariku. “Aku rasa mengenali santri itu,” kataku dalam hati. Gaya jalannya, dan terlebih lagi tundukan kepalanya mengingatkanku pada seseorang. “Duh, tidak! Ternyata aku benar-benar mengenalnya. Dia orang yang sempat terngiang di kepalaku sebentar tadi, si Lathifa. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?”

“Assalamualaikum,” ucapku pada Lathifa kemudian. Entah apa yang menggerakkan mulutku yang biasanya lebih suka diam.

Lathifa mengangkat kepala melihatku. Dia tersenyum. “Eh, Samsir. Waalaikumsalam.”.

Aku hanya diam. Sementara Lathifa masih berdiri tepat di hadapanku. Lathifa boleh jadi sedang menunggu pertanyaan dariku. Tapi yang aku lakukan justru lain. Senyumannya membuatku tertunduk, tak kuat rasanya mataku memandanginya lama-lama. Dan mulutku tak dapat berucap satu patah kata pun juga.

“Aku jalan dulu ya, Sam,” kata Lathifa kemudian sambil kembali menyunggingkan senyum.

Untuk beberapa saat aku terhenyak oleh senyuman itu. Rasa-rasaya baru pertama kali ini aku melihatnya dengan terang. Tetapi ada apa dengan senyumannya? Dan kenapa pula aku menjadi terdiam? Aku menjadi teringat kejadian dua hari yang lalu, saat gara-gara Beji ia tersenyum padaku. Ia kelihatan berbeda saat tersenyum. Kalau aku simpulkan, menurutku Lathifa adalah tipe perempuan yang pesonanya terletak pada senyumnya. Senyum yang mampu menggetarkan hati siapa pun yang memandangnya.

Usai menyiram bunga, aku segera balik ke kamar untuk mandi. Aku tidak mengetahui perasaan apa yang sedang meliputi hatiku, sehingga membuatku lebih bersemangat. Ingin rasanya aku cepat-cepat berangkat ke sekolah, duduk sebangku dengan Lathifa, dan lalu melihat kembali indah senyumnya. Ah, benar juga. Rasa-rasanya kini aku sudah dapatkan suasana baru yang sedikit-dikitnya melupakan kerinduanku pada orang tua.

Selesai mandi, aku bergegas ke sekolah setelah sejenak menunggu Beji. Dalam perjalanan, sengaja aku tidak menceritakan padanya pertemuanku dengan Lathifa sebentar tadi. Bisa-bisa dia akan merusak kesenanganku dengan menceritakan semuanya pada teman-teman lain. Cukuplah kiranya senyuman Lathifa aku simpan sendiri dalam bilik hatiku.

Aku pun sampai di sekolah. Dan ternyata aku harus menelan kekecewaan yang sangat di sini. Begitu sampai di depan pintu ruang ujian, seorang teman memanggilku. Ia bilang ruang ujian untuk santri putra dipindahkan ke ruang sebelah. Ia juga bilang, oleh karena aturan pondok, untuk hari ini dan seterusnya sekolah tidak lagi menggabungkan santri putra dan putri dalam satu ruangan. Uh, pupus sudah harapanku untuk kembali melihat senyuman Lathifa yang menawan hati.

Kenapa baru pagi tadi aku menyadari pesona senyuman itu? Kenapa tidak dari kemarin sehingga aku dapat lebih lama menikmati indahnya? Kenapa pula hari ini ada peraturan sekolah yang berubah? Akankah aku bertemu lagi dengan Lathifa dalam suasana yang dekat, mengingat aku sendiri hanya bocah ingusan yang takut menghadapi perempuan? Pertanyaan-pertanyaan lain semacamnya terus berjubal menenuhi isi kepalaku.


Saifuddin Du
Kalimongso, 01 Mei 2012 07:39

0 komentar:

Posting Komentar