Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Rabu, 12 Oktober 2011

Ketika Pak Atim Marah

“Saaae,” teriak salah seorang teman memanggilku.
 
Aku masih antri mandi maktu itu. Baru saja aku balik dari pekarang bunga milik pak kiai. Setiap pagi sehabis mengikuti jama’ah subuh dan istighosah biasanya aku memang menyempatkan diri untuk menyirami tanaman-tanaman bunga di halaman depan ndalemnya pak kiai. Saat seperti itu santri-santri yang lain sedang asyik dengan aktivitasnya masing-masing: mengaji Al-Qur’an, menyapu halaman, mengumpulkan dan membuang sampah, mengobrol dan bercanda sana-sini, atau menyiapkan tugas dan pelajaran sekolah. Yang terakhir ini adalah yang paling jarang kutemui pada santri asramaku, Al-husna ponpes Darul Ulum.
 
“Saaae,” kembali terdengar panggilan untukku.
 
Segera kuketok pintu salah satu kamar mandi. “Heh, yang mandi cepetan!” Pintaku sambil berteriak. Mereka yang mandi belakangan biasanya adalah santri dari sekolah yang berbeda denganku: MTs, MA, SMK Telkom, atau SMA Darul Ulum I. Sekolah-sekolah tersebut umumnya memang jam masuknya lebih akhir. Di sekolahku sandiri, SMA Darul Ulum II, jam 06.45 semua santri harus sudah berada di sekolah. Sebelum pelajaran dimulai semua santri diwajibkan mengaji bersama di kelasnya masing-masing.
 
“Sai, sudah nih.” Kata Iwan, salah seorang teman sekamarku. Ternyata dia yang mandi di kamar mandi yang kuketok pintunya tadi.
 
Aku segera mandi. Tidak lama, barangkali cuma semenit aku mengguyur tubuhku dengan air dan sabun. Hal ini telah menjadi kebiasaan hampir semua santri. Mereka yang mandi lama pasti akan digedor-gedor pintunya, diteriaki semena-mena, dilempar pakai bola atau berbagai keusilan lainnya. Lagi pula saat itu aku sudah ditunggu teman-temanku.
 
“Saaae, cepaat!” Kali ini kudengar suara lebih banyak dengan nada yang lebih tinggi.

Aku yang baru selesai mandi segera menuju kamar. Dengan tergesa-gesa aku pakai celana dalam, celana dan kaos dalamku. Baju tidak kukenakan sempurna, kancingnya akan kupasangkan sambil jalan. Begitu juga dengan ikat pinggang, barang tipis-panjang itu kumasukkan ujungnya hanya di satu lubang celana. Segara kuambil tas, kupakai sepatu tanpa kaos kaki, dan bergegas menuju ke kerumunan teman-temanku.
 
“Ayo, Sai! sudah terlambat ini.” Ajak seorang teman yang telah melihat aku jalan.
 
Kami pun mulai berjalan. Tanpa dikomando kami yang berasal dari sekolah yang sama berjalan sambil berderet menyerupai peserta gerak jalan saat tujuh belasan. Sambil menyempurnakan seragamku sempat kuamati barisan kami, ada tiga puluhan santri. Jumlah itu terdiri dari hampir seluruh santri kelas tiga, juga sebagian besar kelas satu dan dua. Kasihan memang, mereka yang adik kelas terpaksa harus ikut terlambat karena ulah kakak kelasnya.
 
Di tengah perjalan saat melewati sungai rejoso, aku baru tersadar banyak yang aku lewatkan suasana pagi itu. Saat sang mentari pagi mulai menebarkan pesonanya. Ia tampakkan sinar yang lembut menyeruak menghangatkan alam raya. Cakrawala pun membentang luas di angkasa. Ia selimuti dunia dengan hamparan keemasan mega. Burung kutilang sedang asyik bernyanyi mengisi heningnya pagi hari. Pohon-pohon menjulang tinggi ingin menggapai langit tapi tak sampai. Ranting-rantingnya yang terdorong hembusan angin pun tampak melambai-lambai. Ah, begitu indahnya suasana pagi seperti ini.

***

Pintu gerbang utama sekolah sudah tertutup saat kami sampai di depan sekolah. Bel tanda masuk memang sudah terdengar sekian menit yang lalu saat berada di perjalanan.
 
“Cepaaat!” Terdengar suara keras dari sebelah kanan kami. Pak Atim, penjaga sekolah, telah berdiri di gerbang samping sekolah. Suaranya yang keras memang telah menjadi tugasnya dalam menghadapi kenakalan anak SMA.
 
“Wah, Pak Atim mengamuk. Alamat hapalan yasin ini.” Salah seorang dari kami berkata sambil diikuti tawa yang tertahan dari teman yang lain.
 
Terlambat memang sudah seringkali kami rasakan, sehingga tidak begitu membebani pikiran kami. Hampir setiap hari, khususnya di tahun ketigaku, kami secara bersama-sama terlambat sekolah. Barangkali karena usia kami yang masih terlampau muda yang menyebabkan ulah kami ini. Menurut peraturan harusnya setiap keterlambatan diganjar dengan satu poin pelanggaran. Ketika seorang siswa poin pelanggarannya telah mencapai angka tiga puluh lima, itu berarti ia harus mencari dan pindah ke sekolah lain alias drop-out. Akan tetapi pada prakteknya tidaklah seketat itu, kadang siswa yang terlambat disuruh lari-lari di lapangan basket, hapalan istighosah atau surat yasin, atau kadang juga tidak di hukum apapun.
 
“Siniii, baris empat banjar!” Sambil menunjuk ke halaman Pak Atim mulai mengomando dengan suaranya yang keras.
 
Kami masih dengan santai mengikuti instruksinya seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak lama berselang aku dan teman-teman pun telah berbaris sesuai keinginannya. Aku ada di barisan kedua dari akhir waktu itu. “Ini tidak seperti biasa,” pikirku, “kalaupun akan dihukum dalam bentuk apapun biasanya tidak disuruh baris seperti ini terlebih dahulu.”
 
“Siapa yang memimpin kalian?”
 
Awalnya kami hanya terdiam.
 
“Kalian tidak dengar? Jawab! Siapa yang memimpin kalian?” Kali ini suara pak Atim lebih kencang sambil memelototi kami.
 
Pertanyaan itu konstan membuat semua teman menoleh ke arahku dengan tersenyum mencurigakan.
 
“Yang benar saja!” gumamku, meskipun sebenarnya aku tahu mereka hanya bercanda. Aku pikir-pikir benar juga mereka, akulah yang paling sering menyebabkan mereka terlambat. Lagi pula di asrama aku menjabat sebagai wakil ketua asrama. Ketuanya sendiri tidak sekolah di sini.
 
“Kamu, siniii!” Pak Atim memanggilku.
 
Dengan berat aku menyeret kakiku ke arahnya. Dihadapanku kemudian Pak Atim berkata:
 
“Aku dengar, keterlambatan anak-anak Al-husna ini ada yang mengkoordinir. Benar itu?”
 
“Maksudnya gimana, Pak?” Kataku. Kuamati wajah Pak Atim saat itu tampak lebih seram dari biasanya.  Ia melotot ke arahku. Tampaknya kali ini ia benar-benar marah.
 
“Ada yang melapor, katanya anak Al-husna yang berangkat sekolah duluan diancam oleh kakak kelasnya? Jangan macam-macam kalian!”
 
Pernyataan itu membuat aku kaget. Aku pikir teman-temanku yang mendengarnya akan demikian juga. Keseraman Pak Atim membuatku sedikit ciut juga. “Keterlaluan memang masalah ini, siapa juga melapor. Kurang ajar! Sialan! Uhaasu! Akan lebih panjang lagi kalau perkara ini nanti sampai ke guru atau kepala sekolah”, kataku dalam hati. Melihat aku hanya diam Pak Atim pun kemudian memberondongku:
 
“Siapa yang mengancam itu? Kamu? Jawab dengan jujur! Jangan diam saja!”
 
“Tidak, Pak. Tidak benar kabar itu." jawabku, "Siapa yang mengatakannya?”, lanjutku kemudian.
 
Kali ini aku pun sedikit naik darah. Siapa juga yang melakukannya, masa aku harus mengakui perbuatan yang tidak pernah kulakukan. Aku yakin teman-temanku kelas tiga yang lain pun demikian juga. Selama ini semua berjalan normal-normal saja, dalam hal ini tidak pernah ada yang memaksa siapa pun. Terserah bagi adik kelas yang ingin berangkat lebih dulu atau menunggu anak kelas tiga. Kalau pun mereka memutuskan untuk menunggu, itu biasanya karena mereka sungkan, bukan karena ancaman.
 
“Jangan bohong kamu! Jawab jujur! kamu yang melakukannya?”
 
“Tidak, Pak. Bukan saya. Tidak benar kabar itu.”
 
Pak Atim kemudian diam sejenak. Tampaknya ia sedang berpikir. Barangkali karena waktu yang sudah tidak memungkinkan ia mengatakan:
 
“Ah, ya sudah. Sekarang semua masuk kelas! Jangan terlambat lagi kalian!” Kemudian kepadaku Pak Atim melanjutkan: “Khusus untukmu, nanti jam istirahat temui aku di depan ruang BP!” Setelah itu ia terus pergi meninggalkan kami.
 
Sambil mendongkol aku berjalan menuju kelas. Teman-temanku yang lain hanya diam, tidak sepatah kata pun mereka ucapkan. Mereka juga langsung berjalan menuju kelas masing-masing. Saat aku masuk kelas, pelajaran pertama sudah dimulai. Aku pun terus duduk mengikutinya.

Pondok Aren
11 Oktober 2011
16:28

Sabtu, 08 Oktober 2011

Catatan dari Sebuah Tembang

(Catatan ini secara khusus saya tujukan kepada teman sekaligus inspirator saya, Johnny Wirjosandjojo.)

Berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, catatan ini lebih berisi ulasan saya atas sebuah tembang yang saya temukan di kitab wayang berjudul “Dewa Ruci”, tepatnya Tembang Pocung. Tembang inipun bukan dalam bahasa aslinya, tetapi merupakan terjemahan dari penggalan Tembang Pocung. Secara kandungan isi, memang tulisan ini masih berhubungan dengan tulisan saya sebelumnya, Mengenal Diri Dengan Mengenali Bayi, yaitu berkaitan dengan usaha pencapaian kesempurnaan hidup manusia. Adapun secara kronologis, penggalan Tembang Pocung yang dimaksudkan di sini sebenarnya adalah salah satu nasihat Dewa Ruci ketika Bratasena sedang manunggal dengan tubuhnya.

Dalam usaha memberi ulasan Tembang Pocung, saya membagi terjemahan syairnya menjadi tujuh bait seperti yang akan dituliskan nanti. Dari setiap bait tersebut kemudian saya akan mencoba memberikan ulasan dan pandangan. Berikut ini adalah setiap bait dari Tembang Pocung berikut ulasannya:

Wahai anak!
Hasratmu senantiasa terpengaruh oleh perasaan.
Jika selalu tenggelam di alam kewibawaan yang timbul karena keramat,
tak ada putusnyalah usaha itu.

Bila demikian,
jiwamu masih tersangkar oleh perasaan
yang tak akan melepas kenikmatan untuk seterusnya.
Pengaruh rasa perasaan yang demikian memang benar juga.
Karena ia memang hanya melaksanakan dharma baktinya
untuk mempertahankan surga kedudukannya.

Sebaliknya bagimu.
Jika memang telah puas
karena menemui kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman yang kamu dapat.
Itupun tiada salah.
Bahkan segenap umat dengan ukuran kedewasaan jiwa masing-masing,
Tujuan cita-citanya memang lazim ke arah itu.

Akan tetapi,
Bagimu yang ingin menyatakan kesempurnaan hidupmu.
Pada taraf ini memang masih terkekang oleh pengaruh segan dan gemar.
Memilih dan menolak.

Perhatikanlah!
Memilih dan menolak memang harus terlaksana.
Akan tetapi pelaksanaan itu harus seirama
dengan alam dan tujuannya.

Atas cita-citamu, ingatlah!
Kamu berasal dari ingsun.
Arah cita-citamu hendahlah menyempurnakan hidup tadi.
Tujuan mutlak harusnya hanya kehadirat tuhan.
Dengan demikian, tetap sempurnalah.

Ketahuilah!
Bagi para bijaksana
yang tekun melaksanakan dharma bakti untuk menuju kesempurnaan hidupnya.
Perkembangan budaya yang tercipta di sepanjang usaha
hanyalah menyerah pada purba wasesa Tuhan
(Dikutip dari “Tafsir Kitab Dewa Rutji”, karangan Ki Siswoharsojo)

Agar memudahkan pemahaman, sebelum mulai memberikan ulasan sebaiknya saya sebutkan terlebih dahulu sebab-musabab nasihat Dewa Ruci di atas. Pada saat Bratasena manunggal dengan wadak Dewa Ruci, ia enggan untuk keluar dari padanya. Itu karena ia telah merasakan kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman di dalam wadak Dewa Ruci. Kemudian Dewa Ruci sebagai sang guru sejati pun memberikan nasihat seperti yang tersebut dalam tembang.

[Bait Pertama] Setiap manusia memiliki nafsu yang berwatak selalu ingin mendapat tempat lebih tinggi. Oleh karena itulah manusia memiliki keinginan dan cita-cita. Termasuk di dalamnya adalah Bratasena yang bercita-cita mendapatkan ilmu kesempurnaan hidup (dalam cerita Dewa Ruci dilambangkan dengan tirta pawitradi). Selain dari pada itu, manusia juga memiliki perasaan yang dalam hal ini bertugas merasai setiap tingkat pencapaian cita-cita manusia. Karena hal inilah perasaan mungkin saja memberikan nilai rasa yang tidak tepat. Tingkat cita-cita yang belum sepenuhnya tercapai ia rasai mulya, nikmat dan nyaman. Kemudian ia pun terlena dan tenggelam di alam itu. Ini seperti yang dirasakan Bratasena, ketika ia masih pada tingkatan bersatu dengan wadak bayinya (Dewa Ruci) ia enggan untuk keluar dari padanya.

[Bait Kedua] Berisi penjelasan bahwasanya jiwa yang masih tersangkar di alam perasaan (ditandai dengan terlena dan tenggelam di alam itu) itu tiada salah. Hal ini disebabkan tugas dari perasaan sendiri setelah ia dapat merasai tingkat pencapaian cita-cita ialah mempertahankan kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman yang didapatkannya. Ini adalah pertanda bahwa si manusia masih dihantui rasa takut dalam dirinya. Sejatinya kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman tidak akan selalu didapat ketika manusia masih berada di alam dunia. Itu hanya akan digapai ketika ia telah mati dan masuk surga.

[Bait Ketiga] Lebih menekankan supaya kita mengintrospeksi diri kita masing-masing. Bila kita amati alam sekitar kita, manusia lebih cenderung untuk mencita-citakan hanya sampai pada tingkatan mendapatkan kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman. Pada hakikatnya itu bukanlah cita-cita sejati manusia.

[Bait Keempat] Manusia seharusnya mencita-citakan kesempurnaan hidup. Seperti halnya Bratasena, yang mana disebutkan dalam cerita tiada yang kurang darinya: sebagai kesatria yang sakti mandraguna, juga sebagai putra raja yang kaya dan dilingkupi dengan keluarga dan lingkungan yang menyayanginya. Secara lahir Bratasena memang kaya, tetapi batinnya masih dilingkupi gelisah dan kecewa. Ilmu kesempurnaan hidup itu lebih pada upaya memperkaya batin manusia. Hanya saja untuk menuju ke arah ini manusia masih dipengaruhi rasa malas (segan) dalam dirinya, juga karena kegemarannya pada dunia yang membabi buta. Pilihan ke arah itu menyebabkan manusia menolak cita-cita sejati untuk menyempurnakan hidupnya.

[Bait Kelima] Kehidupan manusia memang memiliki konsekuensi untuk menentukan pilihan (memilih atau menolak). Manusia sendiri dibebani tugas untuk menjadi kholifah di muka bumi (alam semesta). Maka, jangan salahi itu. Seberapa pun kadar kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman yang telah dicapai manusia, jangan sampai dilupakan juga tugas untuk memberikan manfaat pada alam semesta. Itulah yang dimaksud dengan menentukan pilihan yang seirama dengan alam dan tujuannya. Bratasena memang telah mendapat kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman ketika telah bersatu dengan wadak Dewa Ruci, tetapi supaya jangan ia lupa juga tugasnya sebagai manusia.

[Bait Keenam] Asal manusia adalah dari Tuhan, kemudian tujuan hidupnya adalah untuk kembali kepada-Nya. Manusia yang telah mencapai itulah yang telah mendapatkan kesempurnaan hidupnya, yaitu manusia yang telah bersatu dengan Tuhannya. Yang dimaksudkan dengan hidup menuju Tuhan ialah dari setiap tindak-tanduknya, manusia selalu mengarahkan untuk menggapai pada ridlo-Nya.

[Bait Ketujuh] Manusia yang sudah mendapatkan kesempurnaan hidup ketika menjalankan tugasnya sebagai kholifah di muka bumi akan menjadi manusia bijaksana. Ia sadari sepenuhya tidak ada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Tuhan yang Maha Esa. Bratasena pun setelah keluar dari wadak Dewa Ruci demikian, ia menjadi sadar akan tugasnya untuk memberi manfaat pada keluarga, lingkungan dan negaranya. Dari setiap jengkal usahanya, setiap tetes keringat atau darahnya selalu ia sandarkan pada apa yang telah dipilihkan Tuhan untuknya.

Itulah pemikiran sederhana saya dalam memahami sebuah tembang dari dunia pewayangan. Satu hal yang sangat menarik perhatian saya terkait catatan ini, bahwa dari wayang yang notabene termasuk budaya nusantara dapat dipetik sebuah pelajaran yang luar biasa besarnya. Di dalamnya terkandung nilai yang filosofis juga mistis. Namun di balik itu semua, ini juga menunjukkan nilai luhur kita sebagai bangsa yang berbudaya. Sebuah budaya yang patut untuk dikenal dan dilestarikan oleh bangsa dan segenap rakyatnya. Akan sangat disayangkan kalau semua itu nantinya tinggal sejarah yang hilang di telan zaman.


Pondok Aren
08 Oktober 2011
00:57

Selasa, 04 Oktober 2011

Mengenal Diri Dengan Mengenali Bayi

Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Itu salah satu bunyi dari hadits nabi Muhammad saw. Secara umum hadits tersebut mengandung pengertian bahwa ketika baru dilahirkan ke alam dunia setiap manusia adalah suci. Semua manusia terlahir sama, tanpa membedakan agama, suku atau bangsa bapaknya, juga tanpa memandang apakah ia dilahirkan dari hubungan perkawinan yang sah atau bukan. Kata “fitrah” mengandung arti tentang kesucian bayi secara lahir dan batin, sebagai makhluk yang polos dan tanpa dosa. Adapun secara khusus saya juga mempunyai pandangan tentang hal ini, berikut adalah urain saya tentang pandangan tersebut.

Pada mulanya, saya tertarik untuk menuliskan pokok bahasan ini ketika saya mendengarkan pengajian dari salah seorang budayawan, Emha Ainun Nadjib. Dalam sebuah forum beliau mengatakan, “Mendekatlah engkau dengan bayimu, jika engkau ingin mengenali dirimu.” Selain itu, yang juga menginspirasi saya adalah cerita ‘Dewa Ruci’ dalam dunia pewayangan. Dalam cerita disebutkan kisah tentang seorang Bratasena (salah seorang Pandawa) yang mendapatkan kesempurnaan hidup setelah ia mengenal dan bersatu dengan bayinya sendiri. Bayi tersebut dalam cerita dikenal sebagai Dewa Ruci.

Kedua inspirator, baik itu Emha ataupun cerita Dewa Ruci, mengarah pada satu tujuan yang sama yaitu usaha menemukan jati diri. Pun demikian dengan caranya, keduanya berbicara tentang bayi yang tidak lain adalah diri orang yang bersangkutan saat baru saja dilahirkan. Kedua inspirator menyebutkan bahwa jika seseorang ingin menemukan jati dirinya dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup, maka ia harus mendekat atau bahkan bersatu dengan bayinya sendiri. Ia harus mengenal dan kemudian merasai dirinya ketika masih bayi.

Kemudian akan timbul pertanyaan, kenapa untuk menemukan jati diri seseorang harus mendekat atau bersatu dengan bayinya sendiri? Hal ini akan berkaitan dengan kriteria bayi yang akan coba saya sebutkan nanti. Tentu saja mengenali bayi bukan merupakan satu-satunya usaha, tetapi hanya salah satu dari serangkaian usaha pencarian jati diri. Jika merujuk pada cerita Dewa Ruci, mengenal dan bersatu dengan bayi juga hanya merupakan salah satu bagian dari usaha, dimana masih banyak usaha-usaha lain sebelum atau sesudahnya yang tidak saya bahas disini. Demikian juga halnya dengan kriteria bayi yang akan saya sebutkan nanti, itu hanya sebatas usaha yang saya lakukan. Saya pun mengharapkan komentar, masukan atau tambahan dari anda yang membaca tulisan ini.

Pengamatan saya tentang bayi menghasilkan beberapa kriteria tertentu. Kriteria-kriteria tersebut paling tidak akan berubungan dengan salah satu dari tiga hal: tingkah laku, sifat, atau keistimewaan bayi. Berikut adalah beberapa kriteria yang saya dapatkan dari bayi berikut sedikit penjelasan:
  1. Bayi seringkali menangis. Ini merupakan tanda kelembutan hati, dimana semakin lembut hatinya, semakin peka ia. Kemudian jika ia telah peka, semakin mudah baginya merasakan getaran-getaran kelembutan Tuhannya, dan akhirnya semakin mudah pula ia menitikkan air mata.
  2. Bayi merupakan sosok yang lemah. Untuk makan minum ia tidak bisa, bahkan ketika buang air besar atau kecil sekalipun ia membutuhkan orang lain (orang tua atau pengasuh) untuk membersihkannya. Hal ini saya tafsiri dengan bayi sebagai sosok yang merasa dirinya lemah. Ia tiada kuasa (mampu) untuk melakukan apa-apa.
  3. Bayi merupakan sosok yang bodoh. Dengan kata lain, ia merasa dirinya bodoh. Maka ia perlu belajar dan belajar. Mulai dari belajar melihat, minum, berbicara dan lain sebagainya.
  4. Terhadap urusan-urusan dunia, bayi tiada pernah merasa. Oleh orang tuanya, si bayi dibelikan baju, susu, mainan atau yang lain tapi ia tidak pernah merasai itu miliknya. Ketika kehilangan si bayi pun tiada pernah menangisinya.
  5. Bayi mempunyai sifat menerima. Makan dan minum si bayi cukup dengan susu, tidak pernah ia menangis minta selainnya. Dari segi pakaian, bayi selalu menerima apa yang dikenakannya, tidak pernah memilih apalagi memprotesnya.
  6. Dari segi keistimewaannya, bayi merupakan sosok yang paling diperhatikan oleh orang tua. Ketika seorang anak yang masih bayi menangis, orang tua akan sibuk untuk merawat atau menghiburnya. Bayangkan ketika anak tersebut berumur sepuluh tahun atau telah dewasa, orang tua cenderung akan membiarkannya.
  7. Bayi juga selalu dipenuhi semua kebutuhannya. Salah satu contoh real yang ada pada masyarakat asal saya yaitu: setiap ada kelahiran, oarang berbondong-bondong datang untuk menengok. Mereka tak lupa pula membawa bawaan untuk keperluan si bayi, entah itu sabun, minyak telon, detergen atau yang lain. Belum lagi pemenuhan kebutuhan yang dilakukan oleh orang tuanya.

Kritera-kriteria yang saya sebutkan di atas, saya batasi pada kriteria-kriteria yang berkaitan dengan usaha pencarian jati diri. Jika dicermati lagi, selain yang tersebut itu juga akan didapatkan kriteria lain yang merupakan kekurangan si bayi. Akan tetapi, kekurangan itu tidak lain adalah menunjukkan kepolosannya sebagai bayi. Hal ini saya tafsiri sebagai: betapa pun kesempurnaan hidup seseorang masih akan ditemukan kekurangan padanya. Dengan kata lain, kesempurnaan hidup sebagai manusia justru ditunjukkan dengan kekurangan yang dimilikinya.

Sekarang kembali kepada pertanyaan kenapa seseorang harus mengenal atau bersatu dengan bayinya. Pertama, hal ini akan saya hubungkan dengan hakekat kehidupan yang dalam falsafah jawa disebut sebagai “sangkan paraning dumadi” (asal dan tujuan hidup). Istilah tesebut mengandung pengertian bahwa manusia itu berasal dari Tuhan dan kemudian akan kembali kepada-Nya. Dengan kata lain, asal dan tujuan hidup manusia adalah bersatu dengan Tuhannya. Pada saat itulah manusia dikatakan telah menemukan jati dirinya atau telah mencapai kesempurnaan hidupnya. Kemudian akan timbul pertanyaan, kapankah manusia dikatakan paling dekat dengan Tuhannya? Jawabnya tentu ketika masih bayi, ketika seseorang masih dalam keadaan fitrah (suci). Itulah alasan kenapa manusia harus mengenal dan bersatu dengan bayinya sendiri.

Alasan kedua didasarkan pada kriteria-kriteria yang dimiliki si bayi. Jika diamati tingkah laku dan sifat bayi yang telah saya sebutkan, beberapa diantaranya tidak lain merupakan hakekat manusia: fitrah, dlo'if (lemah), jahil (bodoh), dan faqir (membutuhkan pertolongan orang lain). Dengan demikian, mengenali dan merasai sifat dan tingkah laku bayi merupakan jalan untuk mengenali diri sendiri. Setelah dapat mengenali hakekat dirinya sebagai manusialah, baru kemudian seseorang dapat mengenali Tuhannya. Kemudian sebagai akibat dari jalan yang ditempuhnya itu, ketika seseorang telah bersatu dengan bayinya maka ia dapat memperoleh keistimewaan seperti yang dimiliki bayinya itu. Wallahu a’lam.


Pondok Aren
04 Oktober 2011
11:05

Kamis, 15 September 2011

Munajat

Digenggammu ada berjuta-juta kasih
Semua kau beri pada cipta-mu tanpa pilih-pilih
Tanpa butuh satu manfaat pun ingin kau raih
Agung dan suci-mu selalu luhur dan bersih

Kau kurnia juga sayang pada jiwa-jiwa yang merintih
Para pengharap ampun-mu tanpa pernah letih
Engkau pun tiada sekali-kali mengabaikan jerih
Tersenyumlah hati mereka tanpa pernah bersedih

Duhai dzat penuntun langkah pengendali nafsu
Di jalanku tiada pernah kumerasa malu
Kemungkaran dan maksiat selalu kujadikan sebagai laku
Seolah diri tiada pernah terima cahya dan ilmu

Duhai dzat penguasa jiwa penunjuk kalbu
maafkan aku ampuni aku kasihi aku
Pantaskan selalu kutuju jalan menuju ridlo-mu
Di setiap hembus nafasku sepanjang waktu

Barangkali keinsyafanku telah sejuta kali
Permohonan ampun pun sudah tak terhitung lagi
Tetapi salah dan dosa masih juga terulang kembali
Engkau golongkanku pada kaum yang merugi

Dalam untaian sepenggal munajat ini
Kuharap pikir dan hati senantiasa jernih dan suci
Kumohon kau tunjuki setiap olah tangan dan langkah kaki
Izinkan juga pada semua salah dan dosa kuperbaiki

Maha sucimu wahai Dzat pencipta
Di waktu pagi buta dan saat senja menyapa
Dari awal ada sampai penghujung masa
Seagung-agungnya seluas-luasnya

Kuucap salam juga pada para arsalal ambiya
Penunjuk jalan dan pembawa berita gembira
Segala puji untuk-mu wahai penguasa
Di hamparan semesta raya serta isinya

Kedinding Lor
Selasa, 13 September 2011
10:41

Jumat, 09 September 2011

Sajak Kenangan

Hampa
Rasa yang terkadang ada
Ketika hati mengingat kata mesra
Meski telah lama diri tak bersama

Sepi
Saat-saat menjalani hari
Tak mampu kutahan kemauan hati
Namun tiada kuasa mengubah jalan diri

Kucari makna lewat kata
Kurangkai peristiwa dengan goresan pena
Belum kutau jua alasannya kenapa
Tak dapat kulupa seorang yang pernah bermakna

Kini
Hanya mampu kuikuti kata hati
Kulalui hari dengan sejuta mimpi
Dengan harap nanti semua kan brarti

Gedung C STAN, 19 April 2010

Ketika kerinduan menyapa diri
Tiada kata dapat mewakili isi hati
Seuntai kata yang datang menghampiri
Mampu menghapus sejuta rindu di hati

Ketika kerinduan menyapa diri
Akankah mampu menjawab pertanyaan hati
Bahwa rindu ini mampu kau mengerti
Bahwa keinginan hati bisa kau pahami

Tetapi
Tak dapat kutau semua bisa terjadi
Mungkinkah karena diri tak bisa mengerti?
Ataukah karena ada ikatan hati?

Kalimongso, 19 April 2010


Layaknya sinar purnama
Indah tapi tak lama
Cahyanya tak kan terlupa
Meski pernah gelap oleh gerhana

Masa suka yang pernah ada
Pada diri memberi warna
Indah hidup karenanya
Saat mimpi saat nyata

Ketika telah habis masa
Rasa telah masuk  ke dalam sukma
Tak bisa terhapus oleh luka
Selalu dinanti saat lagi datangnya

Kini asa semakin jauh terasa
Terhalang dinding-dinding realita
Hanya kuasa yang Esa semata
Yang kan mampu menyatukannya

Jurangmangu, 02 Juli 2010


Minggu, 31 Juli 2011

Tafakkur

Tafakkur adalah memikirkan dan merenungkan makna, hakikat dan hikmat dibalik sesuatu untuk menemukan keagungan Tuhan dan kekuasaan-Nya daam rangka memurnikan keesaan-Nya. Dengan pemikirannya itu akan menambah keimanan manusia kepada Tuhan yang Maha Kuasa, Tuhan penguasa alam semesta, memperkuat keislaman dan keihsanan. Tafakkur (berpikir) penting dilakukan babi setiap manusia yang menginginkan ma’rifat (pengetahuan tentang hakikat Tuhan), sebab tatkala jiwa belajar dan mengolah ilmu lalu kemudian memikirkan dan menganalisisnya akan dapat membuka pintu-pintu keghaiban.

Tafakkur berdasarkan obyek dan sarananya dibagi menjadi enam macam yaitu:

1)  Tafakkur atas kuasa Tuhan
Yaitu memikirkan dan merenungi ke-Maha Kuasa-an Tuhan yang telah menciptakan keindahan yang dapat kita saksikan, dan kuasa Tuhan yang telah menjadikan alam semesta (tujuh langit dan tujuh bumi beserta dengan isinya).

2)  Tafakkur atas nikmat dan karunia Tuhan
Yaitu berpikir tentang apa yang diberikan kepada kita oleh Tuhan yang berupa nikmat dan karunia yang tidak terhitung jumlahnya (karena saking banyaknya)

3)  Tafakkur atas pengetahuan Tuhan
Yaitu bertafakkur atas sifat Tuhan yang Maha Mengetahui. Dia adalah Dzat yang Maha Mengetahui akan segala yang lahir maupun yang batin. Bahwa semua yang dikerjakan oleh hamba-Nya, baik yang dilakukan secara fisik maupun yang dilakukan oleh anggota batin (nafs, qalb, ruh, sirr, khafi, dan akhfa) diketahui oleh Tuhan.

4)  Tafakkur atas nasib di akhirat
Yaitu dengan memikirkan tentang ibadah kita di dunia ini dan bagaimana nasib kita kelak di akhirat yang kekal abadi.

5)  Tafakkur atas sifat kehidupan duniawi
Yaitu berpikir dan merenungkan karakteristik kehidupan duniawi yang sangat fana’ (temporal) dan senantiasa mengajak manusia kepada maksiat dan melupakan Tuhan.

6)  Tafakkur atas datangnya kematian yang pasti dan keadaan seseorang yang telah mati

Dari keenam bentuk tafakkur tersebut, dapat diidentifikasikan model-model orang yang bertafakkur yaitu: tafakkur yang pertama adalah tafakkurnya para ulama; model tafakkur kedua adalah meteri syukur; sedangkan model yang ketiga sampai yang keenam tafakkur dalam rangka memurnikan amal dan peribadatan, ini merupakan tafakkurnya para hamba Tuhan yang tulus (‘abiddin).

Dasar bertafakkur antar lain disebutkan dalam Al-Qur’an dan yang artinya: “Orang-orang yang berdzikir (mengingat) Allah sambil berdiri dan duduk serta dalam keadaan berbaring, mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha suci engkau, maka selamatkanlah kami dari siksa api neraka” (QS Ali Imran: 191). Kemudian Hadits nabi antara lain: "Memandang pada mushaf, berpikir tentangnya dan mengambil ibarat (pelajaran) pada keajaiban-keajaibannya" (HR Ibnu Abid Dunya); dan “Berpikir sesaat lebih baik dari pada beribadah setahun” (HR Ibnu Hibban).

Secara definitif tafakkur juga diformulasikan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitabnya "Ihya’ Ulumuddin" mengungkapkan keutamaan berpikir dengan menceritakan kisah Muhammad bin Wasi’ bahwa orang laki-laki dari penduduk Bashrah naik kendaraan ke tempat Ummi Dzar setelah kematian Abi Dzar, lalu bertanya kepadanya tentang ibadah Abi Dzar, maka Ummi Dzar menjawab: siangnya semua adalah di sudut rumah dan berdzikir. Kemudian dari Hasan, ia berkata: Berpikir itu lebih baik dari mengerjaan shalat malam. Juga dari Fudhail, ia berkata bahwa berpikir adalah cermin yang memperlihatkan kepadamu kebaikan-kebaikan dan kejelekan-kejelekanmu.

Sebagai penutup, ada sebuah syair arab yang berbunyi: idzaa a-lmar’u kaanat lahuu fikroh, fa fii kulli syai’in lahuu ‘ibroh. Artinya: apabila sesseorang mempunyai pikiran, maka pada setiap sesuatu ia dapat mengambil pelajaran.

Sumber:
Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandyiah, Sebuah Tinjauan Ilmiyah dan Amaliyah
Prof. Dr. H. Ismail Nawawi, M.Si

Minggu, 24 Juli 2011

Buka Puasa di Alhusna

Menyambut ramadhan tahun ini aku jadi teringat kenangan ramadhan tahun-tahun sebelumnya: ketika di rumah, pesantren, Surabaya atau tempat-tempat lainnya. Saat itu belum terpikrkan olehku untuk mencatatnya, apalagi menuliskannya dalam bentuk cerita seperti ini. Salah seorang temankulah yang baru-baru ini menginspirasiku untuk menulis.

Bagiku ramadhan memang selalu layak untuk ditunggu. Selain keutamaan-keutamaannya, akan selalu ada hal istimewa yang dilakukan hanya di bulan suci tersebut. Sebut saja puasa sebulan penuh, sholat tarawih, tadarrus Al-Qur’an dan masih banyak lagi. Beberapa diantaranya bahkan bisa jadi merupakan hal baru dan satu-satunya, takkan terulang dan selalu menarik untuk dikenang.

*

Ramadhan empat tahun yang lalu aku masih terdaftar sebagai santri salah satu pesantren di Jawa Timur, tepatnya Ponpes Darul Ulum Jombang. Di tempat itulah untuk pertama kali aku meniggalkan rumah dan keluarga untuk kemudian hidup dengan teman-teman dari seluruh penjuru nusantara. Banyak yang telah aku peroleh dari sana: ilmu, teman, pengalaman dan juga kenangan.

Ponpes Darul Ulum sangatlah luas, di dalamnya berdiri sekolah-sekolah mulai tingkat Madrasah Ibtidaiyah sampai Perguruan Tinggi. Selain sekolah-sekolah pesantren tersebut juga terdiri dari asrama-asrama sebagai tempat mengaji dan istirahat santri. Setiap asrama memiliki pengasuh dan kegiatan masing-masing yang berbeda satu dengan yang lain. Aku sendiri selama tiga tahun bertempat di asrama putra-putri Alhusna.

Setiap sore di bulan Ramadhan telah menjadi aktivitas wajib para santri untuk mengaji kitab di musholla. Semua santri, baik putra maupun putri, setelah shalat asar diharuskan berkumpul di musholla santri putra untuk mendengarkan tausiyah kiai atau ustadz. Agar tidak terjadi kesalahpahaman, sebaiknya aku sebutkan disini bahwasanya saat ngaji tersebut antara santri putra dan putri dipisahkan oleh satir pembatas. Aku masih ingat materi ngaji Ramadhan yang disampaikan di tahun ketigaku itu adalah tafsir jalalain.

“Allah itu Maha Esa, tiada yang lain selain dari pada-Nya. Ketika disebutkan suatu apapun atau dalam bahasa apapun jika itu menunjukkan keesaan Tuhan, maka itu adalah Allah. Bahkan ketika disebutkan Sang Yang Widi ataupun Yesus, kalau itu menunjukkan sesuatu yang Maha Esa, harus ditanamkan dalam keyakinan kita bahwa itu Allah. Tiada lagi yang Maha Esa selain daripada-Nya.” Kurang lebih itu salah satu isi tausiyah yang masih aku ingat dari ngaji Ramadhan saat itu.

Usai mengaji, kira-kira jam lima, mulailah tampak hiruk-pikuk santri mempersiapkan saat berbuka. Santri putri yang baru keluar dari musholla langsung saja menyerbu seorang bapak (santri-santri biasa memanggilnya pakde Titot) di samping jalan masuk asrama. Sementara itu, santri putra bermacam-macam tingkahnya: ada yang mengaji Al-Qur’an, menyapu halaman, kembali ke kamar masing-masing, atau duduk-duduk di depan musholla memandangi santri putri berlalu-lalang di sekitar dagangan pakde Titot. Aku sendiri biasa melakukan hal yang terakhir, hehe.

*

Sore itu, setelah mengaji, seperti kebanyakan hari-hari yang lain aku duduk di depan musholla. Saat itu memang sudah lebih sore, tampak awan di cakrawala sudah mulai bewarna kuning keemasan. Masih bisa kuingat saat-saat seperti itu biasanya semilir angin berdesir pelan menggerakkan daun-daun pepohonan. Bulu-bulu sekujur tubuh pun seakan menari-nari mengikuti desiran. Sementara di halaman samping musholla debu-debu berlarian saling berkejaran. Terasalah olehku ketenangan kalbu didalamnya. Rasa lapar dan dahaga pun kian menambah ketentraman jiwa. Subhanallah, Engkau sedang menunjukkan kepadaku kenikmatan berpuasa.

“Din,” suara panggilan itu membuyarkan lamunanku.

Aku menengok ke arah sumber suara. Iwan, teman sekamarku, kelihatan di tangga kamar lantai dua depan musholla, tempat kamarku berada.

“Ayo beli es, Din!” ajak Iwan.

“Kemana Wan?” sahutku.

“Seperti biasa, warung cak Edi.” Jawab Iwan sambil menuruni tangga bersama Arfad, teman sekamarku juga.

“Ayo,” jawabku sambil memandang ke arah kedua temanku itu. “Kamu yang beli krupuk ya Fad!”

“Iya, ini memang mau beli.” Jawab Arfad.

Aku pun pergi bersama Iwan, sementara Arfad melangkahkan kakinya ke arah penjual kerupuk tidak jauh dari musholla.

Untuk memperjelas cerita, barangkali ada baiknya kuperkenalkan dulu teman-teman sekamarku. Ada lima santri penghuni kamar lima asrama putra Alhusna: Iwan, Arfad, Daus, Mbah, dan aku sendiri. Saat-saat sebelum bedug maghrib tiba, meski tidak pernah dijadwalkan kami biasanya saling berbagi tugas untuk menyiapkan buka puasa. Saat itu, sementara aku, Iwan dan Arfad pergi, Daus sedang membersihkan kamar dan Mbah bertugas di dapur asrama meyiapkan dan mengambil nasi. Hampir setiap hari di bulan Ramadhan, sebelum pulang ke kampung halaman masing-masing kami selalu berbuka bersama.

Kurang lebih telah seperempat jam adzan maghrib berkumandang, Mbah tidak juga kunjung datang. Aku, Iwan, Arfad dan Daus telah berkumpul di kamar saat itu. Sambil menunggu mbah, es teh dan rokoklah yang menjadi santapan pertama, diselingi guyonan-guyonan juga tentunya. Mbah biasanya memang tidak sampai selama itu. Semakin lama menunggu, perut semakin keroncongan dan hisapan rokok kian semakin dalam.

“Kreeek,” terdengar suara pintu kamar terbuka, mbah nampak di depannya. Ia segera masuk sementara kami berempat memandanginya.

“Maaf kawan, ini nasinya.” Kata Mbah dan kemudian duduk di depan kami.

Kami pun tidak lagi melihat senampan nasi yang waktu itu berlaukkan ayam dan sayur lodeh. Terus saja kupandangi Mbah, ia kelihatan beda. Nafasnya agak tersengal-sengal, wajahnya lumayan pucat dan kerutan di keningnya nampak lebih jelas dari biasanya menandakan ia sedang memikirkan sesuatu.

“Ada apa Mbah?” Daus mulai bertanya.

“Kurang ajar memang!” Kata mbah menanggapi pertanyaan Daus.

“Iya, kenapa?” Daus melanjutkan.

“Masalah, Us.” Jawabnya singkat sambil menatap tajam ke arah Daus. Ia memegangi sebatang rokok tapi ragu akan menyulutnya.

“Masalah apa Mbah? Sebaiknya diceritakan dulu.” Pinta Iwan.

Mbah kelihatan berpikir sejenak, ia mengalihkan pandangannya ke arah Iwan, Arfad kemudian aku. Juga nasi di nampan yang sama sekali belum tersentuh tangan salah satu dari kami.

“Sudahlah, ayo kita berbuka dulu! Sebaiknya aku batalkan puasaku dengan nasi saja.” Sahut Mbah kemudian sambil menghembuskan nafas panjang.

Kami saling berpandangan. Dengan ganjalan rasa penasaran kemudian kami memulai makan. Keadaan menjadi sepi, tiada suara di antara kami. Berbuka puasa pun terasa kurang nikmatnya. Kamar menjadi sunyi senyap. Hanya suara gurauan anak kamar sebelah terdengar waktu itu, barangkali juga kumandang puji-pujian yang dilantunkan di musholla dan masjid-masjid.

Tidak lama setelah itu terdengar juga suara iqomah dari musholla asrama menandakan Pak Kyai telah rawuh untuk memulai shalat jamaah. Nasi waktu itu belum sampai habis, juga es teh dan kerupuknya. Kami berlima akhirnya bergegas meninggalkan kamar menuju musholla, meninggalkan untuk sementara semua yang ada di dalamnya. Kecuali yang ada dalam hati dan pikiran kami tentunya.

Ditulis di:
Gedung C STAN