Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Sabtu, 09 April 2011

Musa Mencari Keadilan Tuhan

Terinspirasi dari cerita Cak Nun (Emha Ainiun Nadjib) dalam forumnya Bangbang Wetan di Balai Pemuda Surabaya, saya tertarik untuk menuliskannya. Salah satu ceritanya adalah mengisahkan nabi Musa yang mencari keadilan Tuhan. Terus terang saya sendiri kurang tahu pasti bagaimana alur cerita aslinya. Saya tidak bisa mengatakan juga kalau cerita ini versinya Cak Nun, sangat lemah ingatan dan pendengaran saya untuk menangkap secara detail cerita beliau. Toh bagi saya yang penting bukan itu. Nilai dari kisah ini penting untuk kehidupan saya sehingga menarik bagi saya untuk menuliskannya.

Alkisah seorang nabi bernama Musa ingin tahu kepastian tentang keadilan Tuhan. Musa bertanya kepada Tuhan, “Wahai Tuhan, Engkau menyebutkan bahwa Engkau Maha Adil, dimanakah letak keadilan-Mu itu?” Tuhan pun menjawab pertanyaan nabinya itu, “Musa, apakah kamu tidak percaya dengan Kemahaadilan-Ku?” Musa menjawab, “Bukan begitu Tuhanku, tentu saja hamba percaya dengan Kemahaadilan-Mu, hamba cuma ingin menguatkan keyakinan hamba dan umat-umat hamba.” Tuhan akhirnya memutuskan, “Baiklah Musa, pergilah kamu ke tepi sungai, sembunyi dan tunggulah di sana! Tapi ingatlah, kamu harus bersabar. Tidak akan kamu peroleh jawaban pertanyaanmu itu tanpa kesabaran.”

Musa pun akhirnya menjalankan perintah Tuhannya, beliau pergi ke tepi sebuah sungai dan bersembunyi di bawah sebuah pohon. Tak berselang lama setelah itu, datanglah seorang ksatria berkuda dengan membawa sebongkah emas ke tepi sungai. Rupanya ksatria tersebut ingin mengambil minum dari sungai itu. Setelah itu ksatria pergi dan lupa meninggalkan bongkahan emas miliknya. Beberapa saat kemudian datanglah seorang anak ke tempat yang sama dan dengan maksud yang sama pula. Seorang anak yang notabene belum tahu hukum, begitu melihat  bongkahan emas, diambil dan dibawanya pergilah bongkahan emas itu. Setelah itu, Tuhan pun menjalankan seorang buta ke tempat tersebut dengan maksud yang sama. Datang pula ksatria berkuda tadi yang ternyata telah menyadari kalau sebongkah emas miliknya tertinggal di tempat itu. Ksatria yang saat itu hanya melihat seorang buta di tempat itu langsung bertanya dan terjadilah beberapa percakapan. “Wahai Kisanak, tidakkah kamu melihat bongkahan emas milikku tertinggal di tempat ini?”, tanya ksatria. “Tidak kisanak, saya tidak tahu”, jawab si buta. “Tidak mungkin, engkau pembohong, engkau pasti mengetahuinya”, eyel ksatria. Si buta pun menjawab, “Kisanak kan tahu, saya buta, saya tidak bisa melihat apa-apa, saya tidak melihat bongkahan emas milik Kisanak.” Ksatria tetap tidak percaya dengan penjelasan si buta, dan akhirnya menusukkan pedangnya ke tubuh si buta sampai mati.

Nabi Musa yang melihat kejadian tersebut hampir habis kesabarannya. Tidak selayaknya ksatria membunuh si buta yang memang tidak tahu apa-apa. Yang sebenarnya layak untuk dihukum adalah si anak pencuri bongkahan emas. Beliau segera bertanya kepada Tuhan letak keadilan dari peristiwa tersebut. Tuhan pun menjawabnya, “Musa, kamu itu tidak tahu apa-apa, kamu tidak mengenal siapa ksatria, anak dan si buta. Ksatria itu adalah seorang juragan yang mempunyai banyak pekerja. Anak itu dan bapaknya dulu adalah salah satu dari pekerja ksatria. Selama bertahun-tahun mereka bekerja dan tidak pernah dibayar oleh si ksatria. Dan bongkahan emas itu adalah umpama bayaran yang menjadi hak anak itu dan bapaknya. Sedangkan si buta itu dulunya adalah seorang kejam yang dulu membunuh bapak dari anak itu. Kematian atas si buta itu adalah umpama balasan atas tindakan pembunuhan yang dilakukannya kepada bapak si anak.” Setelah mendengar penjelasan Tuhan musa akhirnya sadar dan mengerti keadilan Tuhan.

Dari cerita di atas, tampak oleh saya suatu kisah yang awalnya menjengkelkan dan menguras emosi dan akhirnya melegakan setelah tahu maksud dan asal-usulnya. Paling tidak ada empat pelajaran yang saya ambil dari kisah ini. Pertama, kesabaran. Kalau saja nabi Musa tidak sabar dan lalu menghukumi pelaku-pelakunya, kisah tersebut tidak akan sampai pada pelajaran dan hikmah yang dapat dipetik darinya. Kedua, pentingnya bertafakkur. Dari kisah tampak cerminan diri saya. Tampak bahwa diri ini terlampau sering mengeluh atas masalah yang ada, padahal sangat mungkin itu karena kesalahan saya sendiri. Ternyata tidak bisa suatu kejadian hanya dilihat dari yang tampak oleh saya saja. Seharusnya ada waktu untuk berfikir dan merenungkannya sehingga saya bisa tahu asal-usul dan maksudnya. Ketiga, pentingnya renda hati. Begitu banyak yang tidak saya ketahui sebagai manusia dan begitu luas ilmu Sang Pencipta. Keempat, arti keadilan Tuhan itu sendiri. Keadilan Tuhan tidak cukup bisa diketahui dengan hanya berpikir linier saja. Begitu banyak faktor yang rasa-rasanya tidak cukup ilmu manusia untuk bisa mengetahuinya. Maka penting bagi diri saya untuk selalu husnudzon kepada Tuhan.

0 komentar:

Posting Komentar