Menulis untuk sebuah pencarian yang tak berkesudahan. Menulis untuk mengaktualisasi yang asalnya cuma bayang-bayang. Menulis untuk merumuskan lintasan-lintasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran. Menulis untuk menyapa lembutnya hati dan dalamnya perasaan. Menulis untuk secara perlahan dan terus-menerus menguatkan keyakinan. Menulis untuk memaknai setiap torehan dan liku kehidupan. Menulis untuk berupaya menggapai hakikat dan kesejatian.

Kamis, 27 Oktober 2011

Terperosok di Genteng Cinta

Malam datang dengan demikian mempesona. Kegelapan telah menjadi terang oleh cahaya bulan yang menyala. Memberikan kehangatan bak mentari saat senja. Sementara sang bintang menatap dengan sinar matanya yang lembut, seperti tatapan bidadari yang mandi saat pagi buta. Pohon-pohon menggerakkan lengan-lengan rantingnya, layaknya lambaian tangan si putri jelita. Jangkrik-jangkrik pun ikut menyanyi dengan suaranya yang merdu, bertemakan asmara dua insan penghuni semesta. Begitulah indah malam ketika dihinggapi oleh cinta.

Aku terlelap dalam keindahan malam itu. Di ndalem-nya Pak Kiai, baru saja aku selesai mengaji Dzurrotu an-Nashihin, namun tidak bisa kuingat lagi nasihat-nasihat yang bermanfaat di dalamnya. Ngaji yang kira-kira sejam lamanya itu seperti angin lalu saja, yang berbekas tinggal coretan-coretan pego di kitab yang tak pernah lagi kubaca. Petuah-petuah ustadz juga telah menguap entah kemana. Itu karena rasa perasaanku sedang dihinggapi bahagia, yang menerbangkanku ke angkasa, dan membawaku mengelilingi hamparan samudra. Saat itu, sedang kudengar suara di ujung telepon dari gadis yang kupuja. Dinda, itulah namanya. Seorang gadis jelita yang sedikit banyak merubah hidupku di asrama yang kadang terasa hampa. Cintanya membuat setiap malam kumemipikannya, ketika terjaga pun selalu kulihat bayang-bayangnya.

Malam itu, ketika aku sedang duduk di kamar lima Alhusna, Dinda meneleponku ke handphone kepunyaan Arfad, salah seorang teman sekamarku. Memang, harusnya di lingkungan pesantren alat komunikasi yang satu itu termasuk yang diharamkan. Tetapi apalah artinya peraturan bagi pemuda yang sedang haus akan kasih sayang. Agaknya itupun seperti yang sedang aku dan beberapa teman rasakan. Dan malam itu, ketika menerima telepon itu, bahagia sekali rasanya, hatiku menjadi berbunga-bunga, anganku pun terbang menjelajah angkasa.

“Hallo. Assalamu’alaikum,” terdengar suara di ujung telepon.

“Wa’alaikumsalam,” jawabku dengan senyum bahagia.

“Subhanallah, lembutnya suara itu,” kataku dalam hati. Aku pun tiada bisa berkata-kata lagi. Aku bayangkan Dinda saat itu duduk di sampingku, memandangku, memelukku, kemudian membisikkan kata-kata cinta di telelingaku dengan suaranya yang mesra dan manja. Begitupun juga aku yang tak mau kalah, kupandangi ia, kudekap dalam pelukku dengan lembutnya, kemudian kujawab bisikannya dengan sajak-sajak asmara yang mempesona. “Ah, seandainya semua itu nyata!”

“Say, kamu kok diam saja?” kata Dinda.

“Oo iya,” jawabku terperangah. “Dinda, aku memang diam tanpa kata, tetapi sejak tadi hatiku telah banyak berbicara. Tidakkah engkau mendengarnya?”

“Ah, masa iya si, Say?”

“Sayang, pohon-pohon yang menjulang tinggi di taman Alhusna pun mendengarnya. Sehingga bunga-bunganya menjadi layu karena tersipu. Kupu-kupu pun menjadi marah padaku karena cemburu.”

“Ah, Say. kamu bisa saja!” kata Dinda dengan mengisyaratkan senyumnya.

“Untukmu, semua akan bisa kulakukan, Sayang. Apa si yang tidak buat kamu?” Kali ini aku tidak bisa lagi menahan tawa, begitu juga Dinda.

“Say-Say, barusan aku mendengar jeritan hatimu.”

“Oiya, apa katanya?”

“Aku melihat mentari menyinari dunia tidak secerah biasanya. Awan-awan di angkasa tampak lebih gelap dengan rintik-rintik air mata yang dikandungnya. Pohon-pohon tampak murung dan lesu. Begitupun burung kutilang yang tiada bisa berkicau dengan merdu. Kamu pasti sedang dirudung rindu padaku? Iya kan, Say? Hehehe.” Kata Dinda senang.

“Tidaklah demikian adanya, Sayang. Kau tau? Jikalau pun mentari sudah tiada mampu menyinari dunia lagi, hatiku tetap akan bersinar terang untukmu. Jikalau awan-awan telah tiada lagi mengandung air hujan, sayangku padamu tidak akan ada kering-keringnya. Pohon-pohon yang lesu itu sebenarnya karena iri padaku yang telah mendapatmu. Begitupun burung kutilang itu, ia sebenarnya menyesali kicauannya yang kalah dengan nyanyian rinduku untukmu.”

“Ah gombal, Say! Hahaha,” kata Dinda dengan gembira. Aku pun ikut tertawa juga.

Waktu aku telepon itu, sebenarnya teman-temanku ada di kamar juga. Pada mulanya mereka memang mengacuhkanku. Mereka sedang asyik dengan aktivitas masing-masing. Mbah sedang menikmati sebatang dji-sam-soe sehingga asapnya mengepul-epul di udara. Dauz sedang menulis surat balasan untuk kekasih hatinya. Qurmo yang malam itu main ke kamarku sedang berada di kamar sebelah, menarik dana segar pada adik kelas buat tambahan beli nasi goreng. Sementara itu, Arfad sedang asyik curhat-curhatan sama Iwan di pagar tangga depan pintu kamar. Setelah mereka ikut juga mendengarkan pembicaraanku yang semakin hangat, barulah mereka tampak iri, terutama Qurmo yang sedang menjomblo tak laku. Kemudian mereka pun beramai-ramai datang menggoda, berteriak-teriak mengganggu dengan kata yang semena-mena, kecuali Arfad dan Iwan yang barangkali sedang terlena dengan curhatannya.

“Sai, sarungnya dipake dulu,” Qurmo berteriak memulai.

Iyo, nek telpon rokok e dipateni disik ta, Sai.” Kali ini Daus yang berteriak sambil tertawa-tawa. Ia tahu Dinda melarangku merokok.

Asu!” ucapku pelan pada mereka, sambil menutup rapat speaker handphone supaya tidak terdengar oleh sang kekasih hati yang berada di belahan bumi lainnya. “Dinda, sebentar ya! Aku tak mencari tempat yang aman dulu,” kataku kemudian dengan penuh perasaan pada sang pujaan.

“Iya, Sayang,” Dinda menjawab dengan begitu lembutnya.

Aku pun terus beranjak dari kamar lima, meninggalkan teman-teman pengganggu itu di dalamnya. Aku sempatkan melihat Mbah, Daus dan Qurmo, mereka pandangi aku dengan tersenyum, tatapan mata mereka seperti tatapan seekor burung elang yang telah berhasil dapatkan mangsa. Aku sempat juga menyaksikan seekor cicak di dinding, ia melihatku dengan tertawa riang, seakan telah tahu musibah yang akan kudapatkan. Sementara di luar angin malam bertiup kencang, mereka berderu-deru tak sabar ingin melihatku ditertawakan oleh teman-teman. Satu tempat yang ada dalam benakku waktu itu, tempat yang akan kugunakan berkasih-kasih dengan Dinda, kekasih hatiku. Ialah di atas genteng tempat wudlu musholla Alhusna.

“Kenapa keluar, Sai?” kata Arfad yang aku dapati ketika keluar kamar. Iwan ada di sampingnya.

“Mau cari tempat yang aman, banyak tikus di dalam,” jawabku pelan. Iwan dan Arfad melihatku dengan tertawa-tawa. Dengan handphone di tangan segera aku lompati pagar tangga di samping mereka, genteng tempat wudlu musholla ada di balik pagar itu.

Di atas genteng aku amati sekitarku. Di atas tampak bentangan cakrawala malam yang demikian indahnya, dengan sinar bulan yang mempesona, juga titik-titik cahaya bintang yang menyala dengan lembutnya. Di kejauhan tampak sawah-sawah dengan padinya yang seolah menari-nari di kegelapan, juga kunang-kunang yang sedang bekejar-kejaran. Sementara tidak jauh dari tempatku tampak bentangan rel panjang, di mana sesekali lewat kereta api dengan peluhnya yang bercucuran karena kecapekan berjalan mengangkuti penumpang. Begitu  indah malam itu, seindah hatiku yang dihiasi bunga-bunga cinta bewarna ungu.

Dengan cekatan aku pun terus berjalan di atas genteng, seperti yang biasa kulakukan. Ah, tapi nahas. Kesenangan hati akan Dinda membuat aku tidak hati-hati berjalan, aku lupa kalau di genteng tempat wudlu itu ada beberapa titik yang berlubang. Aku pun terperosok di salah satu lubangnya. Kaki kananku seluruhnya telah masuk terkatung-katung di bawah genteng, sementara yang kiri tersangkut di atasnya. Duh, sakit sekali rasanya.

Dan ternyata ada yang lebih menyakitkan dari itu. Aku pun tak habis pikir, teman-temanku satu pun tiada yang menolongku. Mereka malah kelihatan senang dengan keadaanku. Begitu melihat aku terjatuh, Iwan dan Arfad yang melihatnya langsung ketawa sejadi-jadinya. Lebih-lebih Qurmo, daus dan Mbah, mereka malah bersorak-sorak gembira tiada hentinya. Sialan memang! Barangkali mereka berpikir aku terlalu sakti untuk kejadian semacam ini.

Yang mengherankan juga sebenarnya adalah sikapku sendiri. Saat kakiku terperosok ke lubang genteng, handphone waktu itu masih terpengang erat di tangan. Setelah kejadian itu, aku sama sekali tidak mempedulikan sakitku yang ternyata baru sembuh setelah seminggu. Aku pun masih melanjutkan telepon juga, bahkan sampai larut malam pula. Oleh karena ingin menjaga perasaan Dinda, aku sama sekali tidak menceritakan kejadian itu padanya, sampai kutuliskan kisah ini kurasa ia belum tahu juga. Dan layaknya pemuda yang sedang dilanda kasmaran lainnya, malam itu pun aku masih ketawa-tawa juga. Ah, cinta! Karenamu, aku telah menjadi sedemikian gila!


Saifuddin Du
Kalimongso, 27 Oktober 2011 18:42

Selasa, 25 Oktober 2011

Sholeh Dzohiron wa Bathinan

Terlebih dahulu saya awali catatan ini dengan menuliskan pengertian “amal”:
“Amal” secara etimologi (bahasa) sering diartikan sebagai perbuatan, tingkah laku atau lakon dalam bahasa jawa. Adapun secara terminologi (istilah), amal ialah gerak badan yang disertai gerakan hati yang mana apabila gerak tersebut sesuai dengan syari’at maka disebut ibadah, dan apabila tidak sesuai dengan syari’at maka disebut maksiat. Dari pengertian tersebut, tulisan ini kemudian mengkhususkan pada amal yang sesuai dengan syari’at.

Berbicara mengenai ibadah (amal yang sesuai dengan syari’at), dalam keilmuan islam sering disebut juga istilah yang mengacu pada pengertian yang sama yaitu amal saleh (laku becik). Sedangkan pelakunya disebut orang saleh. Catatan ini akan menerangkan orang saleh tersebut berikut amalnya, bukan hanya dalam konteks lahiriyah (dzohir) tetapi juga rohaniah (bathin).

Jika sekilas diperhatikan nampaknya mudah memperoleh derajat kesalihan. Hal tersebut dapat digambarkan demikian: ketika seseorang telah melakukan sholat, puasa atau amal saleh yang lain sesuai dengan syari’at yang ditentukan, maka gugurlah kewajiban itu. Dengan demikian orang yang bersangkutan telah dapat dikatakan beramal saleh. Itu jika yang dijadikan acuan sah atau tidaknya suatu amal. Akan tetapi, jika yang dijadikan acuan adalah diterima atau tidaknya, tentu persoalanya menjadi lebih sulit. Itulah sedikit gambaran mengenai perbedaan antara amal dalam konteks lahir dan dalam konteks batin. Sedangkan pada hakikatnya yang dimaksudkan amal saleh itu ialah yang dilakukan dalam konteks lahir maupun batin. Amal itulah yang disebut sholeh dzohiron wa bathinan.

Ada tiga dimensi terkait pencapaian derajat kesalihan: badan (ragawi), hati (kalbu) dan nyawa (ruh). Hal tersebut mengandung pengertian bahwa derajat kesalehan hanya akan dicapai ketika ketiga dimensi tersebut telah menjiwai setiap amal perbuatan manusia. Upaya mencapai derajat kesalehan akan berhubungan erat dengan keilmuan akidah yang didalamnya meliputi maqom iman, islam dan ihsan. Selain itu, hal tersebut juga erat kaitannya dengan keilmuan tasawuf yang antara lain meliputi syari’at, thoriqot dan haqiqot. Berikut adalah sedikit keterangannya:

1. Syari’at
Hubungan ini juga semakna maqom islam dalam keilmuan akidah. Adapun yang dimaksudkan dengan syari'at dalam istilah tasawuf ialah mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya atas dasar mengetahui dan faham terhadap ketentuan-ketentuan hukumnya. Dengan demikian, pengertian tersebut - dalam kaitannya dengan pencapaian derajat kesalehan, mengandung pengertian bahwa seseorang yang melakukan amal, ia hanya memandang telah melakukan amal tersebut sesuai dengan kaidah hukumnya, ia tidak memandang penting khusuk atau tidaknya, hadir atau tidak hatinya, atau juga sampai atau tidak ruh kehadirat-Nya. Inilah yang dimaksud amal perbuatan pada dimensi badan.

2. Thoriqot
Kaitannya dengan keilmuan akidah, hubungan ini semakna dengan maqom iman. Menurut keilmuan tasawuf, thoriqot adalah menjalankan syari’at dengan penuh kehati-hatian. Hal ini mengandung makna bahwasanya seorang yang melakukan amal telah mengetahui tujuannya. Ia tidak sekedar mengerjakan suatu amal dengan anggota badannya saja, tetapi juga menghadirkan hatinya pada kehadirat Allah swt. Inilah yang dimaksud amal pada dimensi hati.

3. Haqiqot
Hubungan ini semakna dengan maqom ihsan dalam keilmuan akidah. Haqiqot menurut tasawuf ialah memandang atau melihatnya hati pada sifat ketuhanan Allah terhadap semua ciptaan-Nya. Terkait dengan amal perbuatan, pengertian ini mengandung makna bahwasanya suatu amal yang dilakukan manusia, secara dzohir sudah tepat, hatinya telah hadir kehadirat Allah, dan juga ruhnya telah naik menghadap-Nya. Inilah yang dimaksud amal pada dimensi ruh, yang mana pada tingkat ini telah sempurnalah derajat kesalihan seorang hamba.

Kemudian pada prakteknya, derajat kesalehan akan dapat dicapai apabila suatu amal telah dilakukan dengan beberapa jalan (cara) yang menjadi syaratnya. Jalan tersebut terbagi dalam dua kategori: jalan secara dzohir dan jalan secara batin. Secara dzohir jalan tersebut antara lain adalah:
  • Taubat
    Suatu amal saleh tentu akan lebih khusuk dan penuh kehati-hatian ketika dilakukan dalam rangka bertaubat kepada Allah swt. Seorang hamba tentu akan mengingat-ingat kesalahannya, membayangkan dosa-dosanya, sehingga timbul pengakuan betapa kotor dan hina dirinya di hadapan Tuhan penguasa alam semesta. Dengan demikian akan lebih sempurnalah amal itu karenanya. Jadi, yang dimaksudkan dengan taubat sebagai jalan mendapatkan derajat kesalehan yaitu dengan cara demikian suatu amal yang dilakukan manusia menjadi lebih hati-hati dan mengilhami keadaan manusia yang hina-dina.
  • Takwallah
    Amal saleh yang dilakukan atas dasar takwa (takut) kepada Allah akan didasari kepasrahan akan kebesaran dan keagungan-Nya. Yang juga perlu diperhatikan dalam hal ini adalah masalah husnu an-niat (suatu amal dilakukan dengan niat yang baik dan mulia).
  • Istiqomah
    Istiqomah yang dimaksudkan di sini, setidak-tidaknya merupakan salah satu dari tiga macam: istiqomah bacaan, istiqomah tempat atau istiqomah waktu. Tentang istiqomah Rasulullah saw pernah bersabda, “Sesungguhnya amal yang paling disukai Allah ialah istiqomah walaupun itu sedikit.”

Sedangkan yang dimaksud jalan secara batin antara lain meliputi:
  • Estu (pasti atau temen)
    Seorang manusia dalam melakukan amal perbuatan haruslah dengan kesungguhan hati tanpa ada sedikitpun keraguan bahwa ia menjalankan perintah Allah; dan kalaupun ia telah melakukannya, ia menyadari dan megakui bahwa itu atas dasar pertolongan dari pada-Nya.
  • Ikhlas
    Amal perbuatan yang dilakukan manusia haruslah tulus semata-mata karena mengharapkan ridho dari Allah swt. Kaitannya dengan estu, Kiai Asrori mendawuhkan: orang yang estu sudah pasti ikhlas, sedangkan orang yang ikhlas belum tentu estu.
  • Tuma’ninah
    Kadangkala suatu amal perbuatan dilakukan dengan tidak sempurna, yaitu telah selesai amal tersebut sebelum dilakukan sampai pada tujuannya, menghadirkan hati kehadirat Tuhan, atau ruhnya belum sampai menghadap-Nya. Di sinilah peran tuma’ninah dalam suatu amal perbuatan. Adapun makna dari tuma’ninah sendiri adalah menyempurnakan laku dzohir karena adanya ketenangan kalbu di dalamnya.

Wallahu a’lam

(Catacan ini dirangkum dari pengajian KH Asrori Al-Ishaqy berjudul “Istighfar” dengan beberapa tambahan penulis. Pengajian kiai Asrori dapat didownload di sini)


Pondok Aren
24 Oktober 2011
20:06

Rabu, 19 Oktober 2011

Katak Bicara Cinta

Di kamar lima Alhusna, aku hanya duduk termangu bertemankan rasa hampa. Mentari senja mulai menarik diri dari peredarannya. Awan-awan kuning keemasan telah menyeruak memenuhi cakrawala. Sinar-sinar mentari menghangatkan suasana dengan lembutnya, menyulamkan benang-benang cahayanya di celah-celah Jendela Cinta. Debu-Debu Asmara yang menempel di kaca pun turut menyuarakan nyanyian sunyi dalam dada.

“Ah, kenapa semarak senja yang menyapa ini tak sampai menjangkau hatiku juga. Kelam rasanya! Ia harusnya mewangi oleh bunga-bunga dari taman Alhusna, yang setiap hari disiram oleh segarnya air telaga. Oh Lathifa, ada apa denganmu pujaan hatiku? Kenapa engkau tak datang juga di hari-hariku yang semakin redup saja? Akankah engkau telah bahagia di sana, di asrama tempat kau cari ilmu serupa intan dan permata?” Suara lamunanku sore itu.

“Mas Sai,” terdengar suara memecah bayang-bayang mimpiku yang membumbung tinggi.

“Mas Sai, dipanggil sama Mbah, ditunggu di depan musholla,” kata adik kelas yang telah berulang kali memanggilku. Ia pun terus pergi setelah aku mengiakannya. Duh Mbah, ada apa pula denganmu memanggilku yang sedang sepi ini! Adakah kabar bahagia atau nestapa yang akan kau bawa?

Aku pun segera turun menuju musholla Alhusna. Ketika lewati tangga aku rasakan hembusan udara senja menyapa kulitku yang sedang dirudung duka, membuat bulunya menari-nari, memberikan kesejukan layaknya belaian sang kekasih hati. Aku bayangkan Mbah, salah seorang teman sekamarku yang berwajah tua, sedang memberiku kejutan. Namun tiada kuberani angankan kebahagiaan ataukah kepedihan kejutan yang dibawanya itu.

Mbah kelihatan telah menunggu ketika aku sampai di depan musholla. Ia duduk pada batu penghubung musholla dan tempat wudlu, bertemankan sunyinya sendiri, juga burung gereja yang sedang bernyanyi. Begitu memandangku yang telah duduk di sampingnya, ia berkata:

“Sai, ada tugas untukmu.” 

“Tugas apa, Mbah?” kataku bertanya.

“Ini permintaan dari si Lathifa, pujaan hatimu itu.”

Ah, Mbah! Belum selesai engkau bicara pikiranku sudah melayang kemana-mana. Ucapanmu yang sedikit itu telah membawaku terbang jauh menjelajah angkasa raya dan mengarungi samudra. Seolah engkau sedang menabuhkan genderang di jantungku, terus saja memacunya cepat dan semakin cepat, sehingga hilang sadarku. Ada apa gerangan dengan diriku ini? Akankah ini yang disebut cinta ketika ia sedang menyala-nyala? Ataukah mungkin ini rindu yang sedang menggebu? Aku tak tahu. Permintaan si Lathifa macam apa pula yang kau bawa padaku, Mbah? Sudah tak sabar lagi rasanya diriku ingin tahu.

“Begini Sai, si Lathifa bilang padaku besok ia ada praktikum. Ia memintamu mencarikan sesuatu,” kata Mbah.

“Apa Mbah, apa yang ia pinta?” tanyaku tak sabar.

Mbah seakan tahu rasaku yang sedang dihujani oleh seribu panah penasaran dari langit. Ia tidak segera melanjutkan perkataan yang telah digenggamnya. Ia malah pandangi aku dengan senyum yang menertawakanku. Senyum yang kurasai sebagai sambaran halilintar tepat di mukaku. Setelah beberapa saat diam tanpa kata, kemudian ia melanjutkan:

“Ia memintamu mencarikan katak, Sai. Besok pagi, sebelum berangkat sekolah, serahkanlah katak itu padanya! Ia akan menunggumu di Garasi Rindu. Kamu pasti bersedia kan?”

Setelah mengatakan itu, tanpa menunggu persetujuan dariku Mbah terus pergi kembali ke alamnya, Dapur Kenangan. Barangkali ia telah yakin aku pasti akan melakukan apapun buat sang pujaan hati. Sedangkan aku sendiri, belum sempat rasanya aku meyakini ucapannya. Bisa saja ia sedang menggoda sebelum nantinya menertawakanku, seperti halnya yang sering dilakukan teman-teman lain terhadapku. Tetapi hatiku selalu ragu, bagaimana kalau tidak, bukankah ini kesempatan buat menunjukkan cinta yang sedang menginginkan secangkir kopi pengorbanan? Sedangkan waktu terus saja berjalan, bahkan semakin cepat. Rasa-rasanya ia pun ingin ikut menertawakanku yang segera akan menyesali keputusan yang kubuat sendiri.

“Ah katak, di mana juga aku harus mencarimu?” suaraku dalam hati. Tiba-tiba aku menjadi teringat nyanyian masa kecilku: kodok ngorek di pinggir kali. “Kalau saja nyanyian itu benar, tentu akan dengan mudah engkau kutemukan di sungai rejoso yang sedang mengalirkan banyak kehidupan itu. Sedangkan aku sekalipun belum pernah melihatmu di sana, di sepanjang sungai yang setiap pagi kulewati berangkat sekolah. Kalau saja nanti engkau benar-benar kutemukan, bagaimana juga aku bisa menangkapmu? Sedang melihatmu saja, geli dan ciut rasanya hatiku. Belum lagi bagaimana aku akan bisa menangkapmu di hari yang telah berada di ambang petang seperti ini? Melihat batang hidungmu saja kayaknya tak mungkin. Sekarang katak, engkau sedang bicara cinta di depanku, cukupkah kiranya nyanyianmu menyuarakan segala isi hatiku yang sedang dirundung rindu?”

Aku masih saja duduk termenung di depan musholla ketika matahari hampir tenggelam ditelan malam. Semakin saja kuterlena akan rasa-perasaanku sendiri, makhluk yang sedang mengiris-iris hatiku untuk kemudian menyematkan duri kegelisahan di dalamnya. Pohon-pohon di halaman Alhusna pun tampak ikut murung, hanya desirannya saja terasa memecahkan suasana. Langit di angkasa tampak diam seribu bahasa, ikut merasai hatiku yang sedang gundah gulana.

“Sai, ngelamun aja lo,” tegur iwan mengagetkanku. Iwan juga salah satu teman sekamarku.

“Ah, kamu wan!”

“Ke Cak Edi yuk! Haus ini kerongkonganku,” ajak Iwan.

Aku diam sejenak sebelum akhirnya menyetujui ajakannya. Dalam perjalanan ia pandangi aku dengan wajah penuh tanya, “ada apa gerangan dengan temanku ini?” Ia seperti sedang menerawang ke pedalamanku, lalu ia temui hatiku yang sedang ditumbuhi benih-benih asmara, tetapi tertutup rapat oleh kabut derita. Ia seolah membaca pikiranku, di mana berjuta-juta kegelisahan bersarang di dalamnya. Kemudian aku pun bercerita tentang permintaan si Lathifa yang dibawa Mbah tadi.

“Hahahahaha, dari dulu sampai sekarang tetap itu saja masalahmu, Sai,” katanya sambil tertawa bahagia.

Aku hanya tersenyum kecut. “Sialan!” gumamku. Tetapi aku pun merasai, siapapun akan menertawakanku setelah mengetahui sepenggal kisah ini. “Nanti bantu aku nyari, Wan ya!” pintaku kemudian. Dan Iwan pun menyanggupinya. Pembicaraan menjadi semakin hangat dan meluas ketika segelas es krakatau memenuhi dahaga kami. Selesai minum kami pun segera meninggalkan warung Cak Edi menuju asrama.

“Susah Sai, nyari katak yang bisa bicara cinta,” kata Iwan sambil berjalan.

Aku pun menyetujuinya. Hal itu sejak semula memang menjadi keberatanku juga. Keberatan yang menyebabkan darahku melambatkan alirannya, paru-paruku menyesakkan nafasnya dan otakku memeras segala isi di dalamnya. Sebentar lagi malam pun segera datang bermadikan cahaya bulan dan bintang. Pasti akan semakin sukar mencarinya, mencari katak yang bisa bicara cinta itu.

“Nanti kita coba cari taman Alhusna Sai, di sekitar pagar ndalem-nya Pak Kiai. Barangkali binatang itu bersembunyi di sana,” kata iwan melanjutkan.

Kami pun berjalan dan terus berjalan. Tiba-tiba di depan Akper PPDU, tepatnya di depan pintu auditorium, terlihat sesuatu melompat-lompat. Kami pun berjalan mendekatinya, semakin berada di kedekatan semakin jelaslah ia. Dialah KATAK, binatang yang sedang kucari-cari, kuimpi-impikan, yang mengerti cinta itu. Sekarang ia melompat-lompat di depanku. Dalam lamunan seolah-olah ia bicara kepadaku: Akulah yang engkau cari-cari Sai, dewa telah mengutusku untuk menemuimu, supaya dapat engkau buktikan cinta sucimu. Ah, bahagianya aku.

“Wan, katak Wan,” kataku pada Iwan. “Inilah yang dinamakan pucuk dicinta, ulam pun tiba.”

Iwan hanya tertawa-tawa. Atas permintaanku kemudian ia mencarikan tempat untuk mewadahi katak itu. Tidak lama, ia pun mendapatkannya. Sementara aku sendiri, tanpa berpikir-pikir lagi segera kukejar binatang itu. Aku juga berhasil menangkapnya. Entah syetan mana yang merasukiku, sehingga tanpa ragu-ragu aku langsung menangkap binatang yang sebenarnya kutakuti itu. Selesai mewadahinya pada tempat yang ada, aku pun bergegas kembali ke Alhusna, dengan hati yang berbunga-bunga tentunya.

Sesampainya di Alhusna, tak kusadari aku masih begitu bersemangat. Belum puas rasanya kalau kudapat katak hanya seekor, apalagi didapatkan dengan mudah pula. Itu belum sebanding dengan besarnya cinta dan rindu dalam dada. Aku pun mencari katak lagi. Kali ini kuturuti keinginan Iwan yang memintaku mencari di sekitar pagar di depan ndalem-nya Pak Kiai. Adzan maghrib yang berkumandang pun tidak kupedulikan. Dalam otakku yang ada hanya katak yang akan kuberikan pada sang pujaan. Akhirnya aku dapatkan juga seekor lagi. Teman-teman se-asrama yang kebetulan melihat tingkahku pun tertawa dengan sendirinya.

Ketika hati berbunga-bunga, malam terasa berjalan kian cepat saja. Dengan tiba-tiba langit pun telah berubah menjadi kegelapan. Bulan yang saat itu bersinar terang seakan mematikan titik-titik cahaya bintang. Di kamar lima, cicak-cicak yang ingin bercengkerama di dinding merasa segan. Mereka merayap keluar mencari angin malam. Di kepalaku sedang tumbuh bayang-bayang indah sang pujaaan. Bayang-bayang itu kemudian menerbangkanku di ketinggian angan dan impian. Teman-temanku saat itu beramai-ramai menggoda. Daus, Iwan, Arfad, Qurmo, Beji dan Mbah melihatku dengan tertawa-tawa. Namun dengan tersenyum aku menganggapnya sebagai angin lalu saja. Tiada sabar rasanya kutunggu esok hari tiba, saat bertemu dan menyerahkan katak pada si Lathifa. Tetapi dibalik itu masih kurasai keraguaan juga, masih belum juga kudapati keberaniaan yang menyala-nyala.

***

Meski dengan berat hati akan kulanjutkan juga kisah ini. Kisah di mana pagi baru saja membuka matanya, sehingga tampak kuning-kemerahanlah mata itu karena ngantuknya, seolah sedang marah ia. Sementara burung-burung tidak berani bernyanyi dengan merdu lagi, karena takut akan amarah sang mentari. Pohon-pohon pun merunduk sedih, sebentar-sebentar ia teteskan air mata embunnya. Langit di angkasa ikut muram juga, tak tega melihat seorang manusia yang dinaunginya, sedang dihinggapi kegelisahan di dalam dada.

Begitulah gambaran suasana hatiku yang serba tak menentu pagi itu. Pagi setelah malam memberiku angan dan impian yang menyenangkan. Senyum bahagia yang aku dapatkan kemarin senja tidak menyapaku lagi dengan kejam. Yang ada padaku tinggal kegelisahan, pikiran yag melayang-layang, dan hati yang dag-dig-dug tak karuan. Dua hal yang sedang memenuhi otakku kala itu: dua ekor katak dan garasi rindu. Sedang pusat semua tetap satu, dialah Lathifa yang kurindu.

Iya, harus kuakui sepenakut itulah aku saat itu. Walaupun ada yang mengira aku pujangga, tapi di hadapan wanita tak dapat kuberkata-kata. Untuk menatap matanya saja, aku takut luar biasa. Apalagi menyentuhnya, memeluknya, menciumnya, bermimpi tentang itu saja aku tak bisa. Semua itu terus kusimpan saja, dan akhirnya menjadi bisul juga.

Pagi itu, di kamarku, aku telah berseragam sekolah, lengkap dengan tas dan dasinya. Kali ini sengaja aku mandi dan bersiap sekolah lebih pagi. Kalau-kalau si Lathifa nanti sewaktu-waktu memanggilku, aku telah siap bertemu dengan seragam dan sepatu. Teman-teman yang melihatku pada heran semua, tak percaya aku bisa siap lebih pagi dari mereka. Sebagian dari mereka menggoda, bahkan ada juga yang menghina. Mereka tak tahu hatiku sedang kacau luar biasa, panas dingin badanku rasanya. 

“Saaai,” tiba-tiba terdengar suara Mbah berteriak memanggil dari bawah.

“Iya mbah,” jawabku sambil menunjukkan muka di Jendela Cinta.

“Lathifa sudah menunggu di Garasi Rindu, cepetan Kau ke sana!” kata mbah kemudian. ia pun terus pergi ke Dapur Kenangan.

Mendengar itu aku langsung terdiam, kepala menjadi pusing bukan kepalang. Tangan dan kakiku bergetar, mengikuti hati yang sedang deg-degan. Dari Jendela Cinta aku butuhkan mengamat-amati Garasi Rindu yang kelihatan dari kamarku, tiada siapa-siapa di sana. “Jangan-jangan memang Mbah mengerjaiku,” ratapku menderita. Di kamar lima aku pun terus duduk, hanya duduk. Dua ekor katak yang ada kubiarkan saja di tempatnya. Tidak tahu aku Lathifa benar ada di Garasi Rindu atau tidak, aku pun tidak berusaha mencari kepastiannya. Ketakutanku menghadapi wanita telah mengalahkan segalanya.

Setelah kira-kira setengah jam terduduk, aku kemudian berdiri. Itupun karena seorang teman telah menghampiriku untuk mengajak berangkat sekolah bersama. Aku kemudian berjalan meninggalkan kamar lima, meninggalkan kedua katak di tempatnya. Ketika melewati halaman aku sempatkan melihat Garasi Rindu untuk kedua kalinya, banyak santri perempuan yang akan berangkat sekolah berlalu-lalang di sana, tapi tidak kutemukan si Lathifa. Kalaupun tadi dia benar menunggu di sana, barangkali ia telah bosan, kemudian kembali ke kamarnya. Aku pun terus berjalan menuju sekolah.

“Ah, bodoh sekali aku ini.” Kalimat itulah yang aku ucapkan dalam hati berulang kali. Sempat juga aku pikirkan si katak, bayangannya nampak begitu jelas, kemudian seakan-akan ia juga menatapku dan berkata: Kamu memang bodoh Sai, melakukan yang begitu saja tak berani! Tidak mengerti cinta kau ini. Ia ucapkan itu padaku berulang kali. Karena tak sabar, aku pun membenarkannya. Aku menjadi teringat tulisan Pramoedya dalam bukunya, “Sepandai-pandai lelaki, kalau sedang gandrung: dia sungguh sebodoh-bodoh si totol.”


Saifuddin Du
Kalimongso, 19 Oktober 2011 14:40

Minggu, 16 Oktober 2011

Manusia Dalam Sungai

Sebagai pengantar akan saya tuliskan terlebih dahulu sedikit historisitas catatan ini:

Pada mulanya, saya tertarik untuk menuliskan tema tulisan ini selelah membaca salah satu isi dari buku Sindhunata berjudul “Anak Bajang Menggiring Angin”. Tema tersebut menarik hati saya karena berisikan pelajaran hidup yang menurut saya berharga dan berguna. Selain itu, yang menarik juga adalah penyajian penulis yang menggunakan bahasa yang indah dan liriknya yang puitis dan ritmis. Akan tetapi, ketertarikan itu kemudian menimbulkan pertanyaan di hati kecil saya, apakah benar itu ketertarikan yang berasal dari hati sanubari ataukah jangan-jangan hanya sekedar dorongan nafsu yang tak terpuji? Pertanyaan tersebut menjadikan suatu keraguan pada diri saya, sehingga saya putuskan untuk menunda menulisnya. Saya pikir apalah artinya catatan itu nanti kalau hanya sekedar sebagai pemuas nafsu pribadi. Hanya beberapa saat saya terkurung dalam jeruji keragu-raguan itu, karena kemudian tidak lama setelah itu saya dapati juga Emha Ainun Nadjib menyampaikan keilmuan tentang tema yang kurang lebih sama. Mungkin itu suatu kebetulan, tetapi hati dan pikiran saya mengatakan lebih dari itu. Setelah saya pikirkan kembali pada akhirnya saya pun meyakini kalau harus menuliskan catatan ini. 

Berbicara mengenai historisitas sebenarnya saya ingin mengatakan satu hal. Bahwasanya proses seperti inilah yang seringkali saya tafsiri sebagai petunjuk (hidayah). Petunjuk (hidayah) sendiri menurut secuil pengetahuan dan sejejak pengalaman saya, mengandung makna proses, baik itu berupa perbuatan, kejadian alam atau lingkungan, yang meyakinkan hati dan pikiran sehingga menjadikan seseorang melakukan sesuatu tanpa keraguan.

Terkait tema sendiri, ada beberapa hal yang ingin saya catat di sini, baik itu dari bukunya Sindhunata ataupun keterangan Emha. Catatan ini berbicara mengenai fenomena alam yang oleh sebagian penghuni semesta disebut “sungai”. Dalam semesta selalulah terkandung makna dalam setiap peristiwa atau fenomena, termasuk di dalamnya sungai sendiri. Rahasia-rahasia dari sungai itulah yang akan coba saya uraikan di sini: tentang hulu-hilirnya, arusnya, isi di dalamnya, dan lain-lain. Dan tentunya dari rahasia-rahasia tersebut, kemudian sebisa mungkin diambil hikmah dan pelajaran untuk selanjutnya digunakan sebagai bekal dalam kehidupan.

Memahami sungai dapat dibayangkan ketika manusia melihat sebuah mata air. Ia mengalir, tetap mengalir dan terus mengalir. Adakalanya arusnya menantang ganasnya air terjun, mengarungi pegunungan dan bukit, juga mengalir damai di sawah-sawah dan hutan. Ia berjalan, tetap berjalan dan terus berjalan, dari tempat ke tempat, desa ke desa, kota ke kota, tetapi akhirnya ia terhenti di hamparan luasnya lautan. Dari sini seakan tiada beda memahami sungai dengan memahami manusia sendiri. Berlatih mengenal sungai sama artinya pula dengan berlatih mengenali manusia sendiri. Manusia memiliki asal dan tujuan layaknya sungai memiliki hulu dan hilir. Arus adalah layaknya peredaran waktunya dalam kehidupan, sedangkan kawah adalah tempat atau ruang keberadaannya.

Kemudian jika memang sungai itu seperti kehidupan manusia, yang jadi pertanyaan adalah apa hikmah dan pelajaran yang dapat di peroleh darinya? Beberapa hikmah dan pelajaran itu saya rangkumkan sebagai berikut:

Pertama. Sungai berhulu di sebuah sumber air kemudian hilirnya pun ke sumber air. Bermula dari mata airnya ia terus saja mengalir, dari waktu ke waktu ia pun semakin mendekati tujuannya. Pada hakikatnya hulu, hilir dan sungai itupun satu: air juga. Ada kalanya sungai terhenti atau diberhentikan, semisal di sawah-sawah, bendungan atau pemandian penduduk, tetapi justru ketika ia berhenti dan tidak mengalir lagi itu ia tidak disebut sungai lagi. Pun demikian harusnya dengan manusia, ia haruslah berani menjadikan Tuhan sebagai asal dan tujuannya. Pada hakikatnya ia pun satu dengan-Nya. Dari detik, ke menit, ke jam dan seterusnya, ia harus senantiasa mendekat untuk kemudian dapat bersatu dengan Tuhannya. Manusia tidak bisa dikatakan manusia ketika ia terhenti dari usaha bersatu itu.

Kedua. Sungai itu berjalan, tetap berjalan dan terus berjalan, tetapi sungai itu tetap berada di sana dan selalu berada di sana. Ia tetap menjadi sungai yang itu-itu juga. Dalam arusnya sungai telah melanglang buana, mengarungi gunung, bukit, lembah, hutan dan sawah. Tetapi ia tetap sungai yang itu-itu juga. Perihal ini mengandung maksud bahwasanya manusia selayaknya tetap menjadi dirinya sendiri. Dimanapun ia berada dan kemanapun tujuannya, manusia haruslah tetap mempertahankan dirinya. Buah kenikmatan apapun yang telah manusia petik, karang kebahagiaan apapun yang telah manusia dapat, harusnya tidak pernah merubah ia menjadi orang lain dan meninggalkan dirinya sendiri.

Ketiga. Di balik kesuciaannya, di kedalaman sungai terletak berbagai kekayaan: beribu-ribu ikan yang berenang di antara bebatuan juga mutiara, intan dan berlian. Tetapi yang ditampakkannya hanyalah secuil kesederhaan, dan juga arusnya yang hanya berada dalam kekeruhan. Kemudian apa yang ia dapatkan? Langit dan angkasa raya pun berkaca padanya dan udara juga berenang-renang menyelami permukaannya. Manusia pun demikian, ketika ia mampu bertahan dalam kesederhanaan diri, ia sembunyikan segala kekayaan dan kelebihan yang ia punyai, semua penghuni langit pun akan melihatnya, berguru dan menirunya, mendoakannya bahkan iri kepadanya.

Keempat. Sungai senantiasa berjalan, tampak ia seperti mencari dan merindui sesuatu. Akan tetapi justru karena pencarian dan kerinduaannya itu, sungai selalu mendapatkan sesuatu yang baru: teman baru, lingkungan baru, kekayaan baru. Perumpamaan ini paling tidak mengandung dua pengertian. Pertama, manusia haruslah senantiasa berjalan supaya selalu bisa ia dapatkan pengetahuan baru, teman baru dan pengalaman baru yang tak lain semua itu merupakan anugrah dan kekayaan yang dimilikinya. Kemudian yang kedua, manusia harus selalu berhijrah dari keburukan-keburukan yang ada padanya sehingga nantinya akan ia temui kebaikan dan kemulyaan dalam dirinya.

Kelima. Berbicara mengenai sungai tak ubahnya berbicara mengenai air. Sungai itupun dalam kenyataannya memang berupa air yang mengalir. Salah satu sifat yang dimiliki air yaitu mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Ini adalah arti tentang kerendahan hati (tawadhu'). Tetapi kemudian air pun akan menjadi lebih tinggi ketika ia menguap menjadi awan. Ini menunjukkan manusia yang bersedia merendahkan hatinya ia akan diangkat derajatnya oleh Tuhan pencipta alam semesta. Selain dari pada itu, banyak juga istilah-perumpamaan berkaitan dengan air yang dapat kita jadikan pelajaran dari padanya. Oleh karena keterbatasan saya, istilah-perumpamaan itu tidak saya tuliskan di sini.

Tentu masih banyak lagi rahasia-rahasia sungai yang belum saya sebutkan di sini. Paling tidak dari kekurangan-kekurangan tersebut, saya harapkan menjadi api semangat pada diri saya pribadi untuk senantiasa belajar dan belajar, belajar tentang manusia juga belajar tentang alam semesta. Bagaimanapun kehidupan manusia di dunia ini diatur oleh hukum alam (sunnatullah). Ketika manusia ingin memenangkan kehidupan, tentu sebelumnya ia harus belajar tentang alam terlebih dahulu. Kemudian dalam keyakinan saya, ketika manusia telah tinggal bersama alam, belajar tentang alam dan juga merasai alam, betapa akan terbuka sejuta rahasia tentangnya. Wallahu a’lam.


Pondok Aren
15 Oktober 2011
20:21

Rabu, 12 Oktober 2011

Ketika Pak Atim Marah

“Saaae,” teriak salah seorang teman memanggilku.
 
Aku masih antri mandi maktu itu. Baru saja aku balik dari pekarang bunga milik pak kiai. Setiap pagi sehabis mengikuti jama’ah subuh dan istighosah biasanya aku memang menyempatkan diri untuk menyirami tanaman-tanaman bunga di halaman depan ndalemnya pak kiai. Saat seperti itu santri-santri yang lain sedang asyik dengan aktivitasnya masing-masing: mengaji Al-Qur’an, menyapu halaman, mengumpulkan dan membuang sampah, mengobrol dan bercanda sana-sini, atau menyiapkan tugas dan pelajaran sekolah. Yang terakhir ini adalah yang paling jarang kutemui pada santri asramaku, Al-husna ponpes Darul Ulum.
 
“Saaae,” kembali terdengar panggilan untukku.
 
Segera kuketok pintu salah satu kamar mandi. “Heh, yang mandi cepetan!” Pintaku sambil berteriak. Mereka yang mandi belakangan biasanya adalah santri dari sekolah yang berbeda denganku: MTs, MA, SMK Telkom, atau SMA Darul Ulum I. Sekolah-sekolah tersebut umumnya memang jam masuknya lebih akhir. Di sekolahku sandiri, SMA Darul Ulum II, jam 06.45 semua santri harus sudah berada di sekolah. Sebelum pelajaran dimulai semua santri diwajibkan mengaji bersama di kelasnya masing-masing.
 
“Sai, sudah nih.” Kata Iwan, salah seorang teman sekamarku. Ternyata dia yang mandi di kamar mandi yang kuketok pintunya tadi.
 
Aku segera mandi. Tidak lama, barangkali cuma semenit aku mengguyur tubuhku dengan air dan sabun. Hal ini telah menjadi kebiasaan hampir semua santri. Mereka yang mandi lama pasti akan digedor-gedor pintunya, diteriaki semena-mena, dilempar pakai bola atau berbagai keusilan lainnya. Lagi pula saat itu aku sudah ditunggu teman-temanku.
 
“Saaae, cepaat!” Kali ini kudengar suara lebih banyak dengan nada yang lebih tinggi.

Aku yang baru selesai mandi segera menuju kamar. Dengan tergesa-gesa aku pakai celana dalam, celana dan kaos dalamku. Baju tidak kukenakan sempurna, kancingnya akan kupasangkan sambil jalan. Begitu juga dengan ikat pinggang, barang tipis-panjang itu kumasukkan ujungnya hanya di satu lubang celana. Segara kuambil tas, kupakai sepatu tanpa kaos kaki, dan bergegas menuju ke kerumunan teman-temanku.
 
“Ayo, Sai! sudah terlambat ini.” Ajak seorang teman yang telah melihat aku jalan.
 
Kami pun mulai berjalan. Tanpa dikomando kami yang berasal dari sekolah yang sama berjalan sambil berderet menyerupai peserta gerak jalan saat tujuh belasan. Sambil menyempurnakan seragamku sempat kuamati barisan kami, ada tiga puluhan santri. Jumlah itu terdiri dari hampir seluruh santri kelas tiga, juga sebagian besar kelas satu dan dua. Kasihan memang, mereka yang adik kelas terpaksa harus ikut terlambat karena ulah kakak kelasnya.
 
Di tengah perjalan saat melewati sungai rejoso, aku baru tersadar banyak yang aku lewatkan suasana pagi itu. Saat sang mentari pagi mulai menebarkan pesonanya. Ia tampakkan sinar yang lembut menyeruak menghangatkan alam raya. Cakrawala pun membentang luas di angkasa. Ia selimuti dunia dengan hamparan keemasan mega. Burung kutilang sedang asyik bernyanyi mengisi heningnya pagi hari. Pohon-pohon menjulang tinggi ingin menggapai langit tapi tak sampai. Ranting-rantingnya yang terdorong hembusan angin pun tampak melambai-lambai. Ah, begitu indahnya suasana pagi seperti ini.

***

Pintu gerbang utama sekolah sudah tertutup saat kami sampai di depan sekolah. Bel tanda masuk memang sudah terdengar sekian menit yang lalu saat berada di perjalanan.
 
“Cepaaat!” Terdengar suara keras dari sebelah kanan kami. Pak Atim, penjaga sekolah, telah berdiri di gerbang samping sekolah. Suaranya yang keras memang telah menjadi tugasnya dalam menghadapi kenakalan anak SMA.
 
“Wah, Pak Atim mengamuk. Alamat hapalan yasin ini.” Salah seorang dari kami berkata sambil diikuti tawa yang tertahan dari teman yang lain.
 
Terlambat memang sudah seringkali kami rasakan, sehingga tidak begitu membebani pikiran kami. Hampir setiap hari, khususnya di tahun ketigaku, kami secara bersama-sama terlambat sekolah. Barangkali karena usia kami yang masih terlampau muda yang menyebabkan ulah kami ini. Menurut peraturan harusnya setiap keterlambatan diganjar dengan satu poin pelanggaran. Ketika seorang siswa poin pelanggarannya telah mencapai angka tiga puluh lima, itu berarti ia harus mencari dan pindah ke sekolah lain alias drop-out. Akan tetapi pada prakteknya tidaklah seketat itu, kadang siswa yang terlambat disuruh lari-lari di lapangan basket, hapalan istighosah atau surat yasin, atau kadang juga tidak di hukum apapun.
 
“Siniii, baris empat banjar!” Sambil menunjuk ke halaman Pak Atim mulai mengomando dengan suaranya yang keras.
 
Kami masih dengan santai mengikuti instruksinya seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak lama berselang aku dan teman-teman pun telah berbaris sesuai keinginannya. Aku ada di barisan kedua dari akhir waktu itu. “Ini tidak seperti biasa,” pikirku, “kalaupun akan dihukum dalam bentuk apapun biasanya tidak disuruh baris seperti ini terlebih dahulu.”
 
“Siapa yang memimpin kalian?”
 
Awalnya kami hanya terdiam.
 
“Kalian tidak dengar? Jawab! Siapa yang memimpin kalian?” Kali ini suara pak Atim lebih kencang sambil memelototi kami.
 
Pertanyaan itu konstan membuat semua teman menoleh ke arahku dengan tersenyum mencurigakan.
 
“Yang benar saja!” gumamku, meskipun sebenarnya aku tahu mereka hanya bercanda. Aku pikir-pikir benar juga mereka, akulah yang paling sering menyebabkan mereka terlambat. Lagi pula di asrama aku menjabat sebagai wakil ketua asrama. Ketuanya sendiri tidak sekolah di sini.
 
“Kamu, siniii!” Pak Atim memanggilku.
 
Dengan berat aku menyeret kakiku ke arahnya. Dihadapanku kemudian Pak Atim berkata:
 
“Aku dengar, keterlambatan anak-anak Al-husna ini ada yang mengkoordinir. Benar itu?”
 
“Maksudnya gimana, Pak?” Kataku. Kuamati wajah Pak Atim saat itu tampak lebih seram dari biasanya.  Ia melotot ke arahku. Tampaknya kali ini ia benar-benar marah.
 
“Ada yang melapor, katanya anak Al-husna yang berangkat sekolah duluan diancam oleh kakak kelasnya? Jangan macam-macam kalian!”
 
Pernyataan itu membuat aku kaget. Aku pikir teman-temanku yang mendengarnya akan demikian juga. Keseraman Pak Atim membuatku sedikit ciut juga. “Keterlaluan memang masalah ini, siapa juga melapor. Kurang ajar! Sialan! Uhaasu! Akan lebih panjang lagi kalau perkara ini nanti sampai ke guru atau kepala sekolah”, kataku dalam hati. Melihat aku hanya diam Pak Atim pun kemudian memberondongku:
 
“Siapa yang mengancam itu? Kamu? Jawab dengan jujur! Jangan diam saja!”
 
“Tidak, Pak. Tidak benar kabar itu." jawabku, "Siapa yang mengatakannya?”, lanjutku kemudian.
 
Kali ini aku pun sedikit naik darah. Siapa juga yang melakukannya, masa aku harus mengakui perbuatan yang tidak pernah kulakukan. Aku yakin teman-temanku kelas tiga yang lain pun demikian juga. Selama ini semua berjalan normal-normal saja, dalam hal ini tidak pernah ada yang memaksa siapa pun. Terserah bagi adik kelas yang ingin berangkat lebih dulu atau menunggu anak kelas tiga. Kalau pun mereka memutuskan untuk menunggu, itu biasanya karena mereka sungkan, bukan karena ancaman.
 
“Jangan bohong kamu! Jawab jujur! kamu yang melakukannya?”
 
“Tidak, Pak. Bukan saya. Tidak benar kabar itu.”
 
Pak Atim kemudian diam sejenak. Tampaknya ia sedang berpikir. Barangkali karena waktu yang sudah tidak memungkinkan ia mengatakan:
 
“Ah, ya sudah. Sekarang semua masuk kelas! Jangan terlambat lagi kalian!” Kemudian kepadaku Pak Atim melanjutkan: “Khusus untukmu, nanti jam istirahat temui aku di depan ruang BP!” Setelah itu ia terus pergi meninggalkan kami.
 
Sambil mendongkol aku berjalan menuju kelas. Teman-temanku yang lain hanya diam, tidak sepatah kata pun mereka ucapkan. Mereka juga langsung berjalan menuju kelas masing-masing. Saat aku masuk kelas, pelajaran pertama sudah dimulai. Aku pun terus duduk mengikutinya.

Pondok Aren
11 Oktober 2011
16:28

Sabtu, 08 Oktober 2011

Catatan dari Sebuah Tembang

(Catatan ini secara khusus saya tujukan kepada teman sekaligus inspirator saya, Johnny Wirjosandjojo.)

Berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, catatan ini lebih berisi ulasan saya atas sebuah tembang yang saya temukan di kitab wayang berjudul “Dewa Ruci”, tepatnya Tembang Pocung. Tembang inipun bukan dalam bahasa aslinya, tetapi merupakan terjemahan dari penggalan Tembang Pocung. Secara kandungan isi, memang tulisan ini masih berhubungan dengan tulisan saya sebelumnya, Mengenal Diri Dengan Mengenali Bayi, yaitu berkaitan dengan usaha pencapaian kesempurnaan hidup manusia. Adapun secara kronologis, penggalan Tembang Pocung yang dimaksudkan di sini sebenarnya adalah salah satu nasihat Dewa Ruci ketika Bratasena sedang manunggal dengan tubuhnya.

Dalam usaha memberi ulasan Tembang Pocung, saya membagi terjemahan syairnya menjadi tujuh bait seperti yang akan dituliskan nanti. Dari setiap bait tersebut kemudian saya akan mencoba memberikan ulasan dan pandangan. Berikut ini adalah setiap bait dari Tembang Pocung berikut ulasannya:

Wahai anak!
Hasratmu senantiasa terpengaruh oleh perasaan.
Jika selalu tenggelam di alam kewibawaan yang timbul karena keramat,
tak ada putusnyalah usaha itu.

Bila demikian,
jiwamu masih tersangkar oleh perasaan
yang tak akan melepas kenikmatan untuk seterusnya.
Pengaruh rasa perasaan yang demikian memang benar juga.
Karena ia memang hanya melaksanakan dharma baktinya
untuk mempertahankan surga kedudukannya.

Sebaliknya bagimu.
Jika memang telah puas
karena menemui kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman yang kamu dapat.
Itupun tiada salah.
Bahkan segenap umat dengan ukuran kedewasaan jiwa masing-masing,
Tujuan cita-citanya memang lazim ke arah itu.

Akan tetapi,
Bagimu yang ingin menyatakan kesempurnaan hidupmu.
Pada taraf ini memang masih terkekang oleh pengaruh segan dan gemar.
Memilih dan menolak.

Perhatikanlah!
Memilih dan menolak memang harus terlaksana.
Akan tetapi pelaksanaan itu harus seirama
dengan alam dan tujuannya.

Atas cita-citamu, ingatlah!
Kamu berasal dari ingsun.
Arah cita-citamu hendahlah menyempurnakan hidup tadi.
Tujuan mutlak harusnya hanya kehadirat tuhan.
Dengan demikian, tetap sempurnalah.

Ketahuilah!
Bagi para bijaksana
yang tekun melaksanakan dharma bakti untuk menuju kesempurnaan hidupnya.
Perkembangan budaya yang tercipta di sepanjang usaha
hanyalah menyerah pada purba wasesa Tuhan
(Dikutip dari “Tafsir Kitab Dewa Rutji”, karangan Ki Siswoharsojo)

Agar memudahkan pemahaman, sebelum mulai memberikan ulasan sebaiknya saya sebutkan terlebih dahulu sebab-musabab nasihat Dewa Ruci di atas. Pada saat Bratasena manunggal dengan wadak Dewa Ruci, ia enggan untuk keluar dari padanya. Itu karena ia telah merasakan kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman di dalam wadak Dewa Ruci. Kemudian Dewa Ruci sebagai sang guru sejati pun memberikan nasihat seperti yang tersebut dalam tembang.

[Bait Pertama] Setiap manusia memiliki nafsu yang berwatak selalu ingin mendapat tempat lebih tinggi. Oleh karena itulah manusia memiliki keinginan dan cita-cita. Termasuk di dalamnya adalah Bratasena yang bercita-cita mendapatkan ilmu kesempurnaan hidup (dalam cerita Dewa Ruci dilambangkan dengan tirta pawitradi). Selain dari pada itu, manusia juga memiliki perasaan yang dalam hal ini bertugas merasai setiap tingkat pencapaian cita-cita manusia. Karena hal inilah perasaan mungkin saja memberikan nilai rasa yang tidak tepat. Tingkat cita-cita yang belum sepenuhnya tercapai ia rasai mulya, nikmat dan nyaman. Kemudian ia pun terlena dan tenggelam di alam itu. Ini seperti yang dirasakan Bratasena, ketika ia masih pada tingkatan bersatu dengan wadak bayinya (Dewa Ruci) ia enggan untuk keluar dari padanya.

[Bait Kedua] Berisi penjelasan bahwasanya jiwa yang masih tersangkar di alam perasaan (ditandai dengan terlena dan tenggelam di alam itu) itu tiada salah. Hal ini disebabkan tugas dari perasaan sendiri setelah ia dapat merasai tingkat pencapaian cita-cita ialah mempertahankan kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman yang didapatkannya. Ini adalah pertanda bahwa si manusia masih dihantui rasa takut dalam dirinya. Sejatinya kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman tidak akan selalu didapat ketika manusia masih berada di alam dunia. Itu hanya akan digapai ketika ia telah mati dan masuk surga.

[Bait Ketiga] Lebih menekankan supaya kita mengintrospeksi diri kita masing-masing. Bila kita amati alam sekitar kita, manusia lebih cenderung untuk mencita-citakan hanya sampai pada tingkatan mendapatkan kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman. Pada hakikatnya itu bukanlah cita-cita sejati manusia.

[Bait Keempat] Manusia seharusnya mencita-citakan kesempurnaan hidup. Seperti halnya Bratasena, yang mana disebutkan dalam cerita tiada yang kurang darinya: sebagai kesatria yang sakti mandraguna, juga sebagai putra raja yang kaya dan dilingkupi dengan keluarga dan lingkungan yang menyayanginya. Secara lahir Bratasena memang kaya, tetapi batinnya masih dilingkupi gelisah dan kecewa. Ilmu kesempurnaan hidup itu lebih pada upaya memperkaya batin manusia. Hanya saja untuk menuju ke arah ini manusia masih dipengaruhi rasa malas (segan) dalam dirinya, juga karena kegemarannya pada dunia yang membabi buta. Pilihan ke arah itu menyebabkan manusia menolak cita-cita sejati untuk menyempurnakan hidupnya.

[Bait Kelima] Kehidupan manusia memang memiliki konsekuensi untuk menentukan pilihan (memilih atau menolak). Manusia sendiri dibebani tugas untuk menjadi kholifah di muka bumi (alam semesta). Maka, jangan salahi itu. Seberapa pun kadar kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman yang telah dicapai manusia, jangan sampai dilupakan juga tugas untuk memberikan manfaat pada alam semesta. Itulah yang dimaksud dengan menentukan pilihan yang seirama dengan alam dan tujuannya. Bratasena memang telah mendapat kemulyaan, kenikmatan dan ketentraman ketika telah bersatu dengan wadak Dewa Ruci, tetapi supaya jangan ia lupa juga tugasnya sebagai manusia.

[Bait Keenam] Asal manusia adalah dari Tuhan, kemudian tujuan hidupnya adalah untuk kembali kepada-Nya. Manusia yang telah mencapai itulah yang telah mendapatkan kesempurnaan hidupnya, yaitu manusia yang telah bersatu dengan Tuhannya. Yang dimaksudkan dengan hidup menuju Tuhan ialah dari setiap tindak-tanduknya, manusia selalu mengarahkan untuk menggapai pada ridlo-Nya.

[Bait Ketujuh] Manusia yang sudah mendapatkan kesempurnaan hidup ketika menjalankan tugasnya sebagai kholifah di muka bumi akan menjadi manusia bijaksana. Ia sadari sepenuhya tidak ada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Tuhan yang Maha Esa. Bratasena pun setelah keluar dari wadak Dewa Ruci demikian, ia menjadi sadar akan tugasnya untuk memberi manfaat pada keluarga, lingkungan dan negaranya. Dari setiap jengkal usahanya, setiap tetes keringat atau darahnya selalu ia sandarkan pada apa yang telah dipilihkan Tuhan untuknya.

Itulah pemikiran sederhana saya dalam memahami sebuah tembang dari dunia pewayangan. Satu hal yang sangat menarik perhatian saya terkait catatan ini, bahwa dari wayang yang notabene termasuk budaya nusantara dapat dipetik sebuah pelajaran yang luar biasa besarnya. Di dalamnya terkandung nilai yang filosofis juga mistis. Namun di balik itu semua, ini juga menunjukkan nilai luhur kita sebagai bangsa yang berbudaya. Sebuah budaya yang patut untuk dikenal dan dilestarikan oleh bangsa dan segenap rakyatnya. Akan sangat disayangkan kalau semua itu nantinya tinggal sejarah yang hilang di telan zaman.


Pondok Aren
08 Oktober 2011
00:57

Selasa, 04 Oktober 2011

Mengenal Diri Dengan Mengenali Bayi

Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Itu salah satu bunyi dari hadits nabi Muhammad saw. Secara umum hadits tersebut mengandung pengertian bahwa ketika baru dilahirkan ke alam dunia setiap manusia adalah suci. Semua manusia terlahir sama, tanpa membedakan agama, suku atau bangsa bapaknya, juga tanpa memandang apakah ia dilahirkan dari hubungan perkawinan yang sah atau bukan. Kata “fitrah” mengandung arti tentang kesucian bayi secara lahir dan batin, sebagai makhluk yang polos dan tanpa dosa. Adapun secara khusus saya juga mempunyai pandangan tentang hal ini, berikut adalah urain saya tentang pandangan tersebut.

Pada mulanya, saya tertarik untuk menuliskan pokok bahasan ini ketika saya mendengarkan pengajian dari salah seorang budayawan, Emha Ainun Nadjib. Dalam sebuah forum beliau mengatakan, “Mendekatlah engkau dengan bayimu, jika engkau ingin mengenali dirimu.” Selain itu, yang juga menginspirasi saya adalah cerita ‘Dewa Ruci’ dalam dunia pewayangan. Dalam cerita disebutkan kisah tentang seorang Bratasena (salah seorang Pandawa) yang mendapatkan kesempurnaan hidup setelah ia mengenal dan bersatu dengan bayinya sendiri. Bayi tersebut dalam cerita dikenal sebagai Dewa Ruci.

Kedua inspirator, baik itu Emha ataupun cerita Dewa Ruci, mengarah pada satu tujuan yang sama yaitu usaha menemukan jati diri. Pun demikian dengan caranya, keduanya berbicara tentang bayi yang tidak lain adalah diri orang yang bersangkutan saat baru saja dilahirkan. Kedua inspirator menyebutkan bahwa jika seseorang ingin menemukan jati dirinya dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup, maka ia harus mendekat atau bahkan bersatu dengan bayinya sendiri. Ia harus mengenal dan kemudian merasai dirinya ketika masih bayi.

Kemudian akan timbul pertanyaan, kenapa untuk menemukan jati diri seseorang harus mendekat atau bersatu dengan bayinya sendiri? Hal ini akan berkaitan dengan kriteria bayi yang akan coba saya sebutkan nanti. Tentu saja mengenali bayi bukan merupakan satu-satunya usaha, tetapi hanya salah satu dari serangkaian usaha pencarian jati diri. Jika merujuk pada cerita Dewa Ruci, mengenal dan bersatu dengan bayi juga hanya merupakan salah satu bagian dari usaha, dimana masih banyak usaha-usaha lain sebelum atau sesudahnya yang tidak saya bahas disini. Demikian juga halnya dengan kriteria bayi yang akan saya sebutkan nanti, itu hanya sebatas usaha yang saya lakukan. Saya pun mengharapkan komentar, masukan atau tambahan dari anda yang membaca tulisan ini.

Pengamatan saya tentang bayi menghasilkan beberapa kriteria tertentu. Kriteria-kriteria tersebut paling tidak akan berubungan dengan salah satu dari tiga hal: tingkah laku, sifat, atau keistimewaan bayi. Berikut adalah beberapa kriteria yang saya dapatkan dari bayi berikut sedikit penjelasan:
  1. Bayi seringkali menangis. Ini merupakan tanda kelembutan hati, dimana semakin lembut hatinya, semakin peka ia. Kemudian jika ia telah peka, semakin mudah baginya merasakan getaran-getaran kelembutan Tuhannya, dan akhirnya semakin mudah pula ia menitikkan air mata.
  2. Bayi merupakan sosok yang lemah. Untuk makan minum ia tidak bisa, bahkan ketika buang air besar atau kecil sekalipun ia membutuhkan orang lain (orang tua atau pengasuh) untuk membersihkannya. Hal ini saya tafsiri dengan bayi sebagai sosok yang merasa dirinya lemah. Ia tiada kuasa (mampu) untuk melakukan apa-apa.
  3. Bayi merupakan sosok yang bodoh. Dengan kata lain, ia merasa dirinya bodoh. Maka ia perlu belajar dan belajar. Mulai dari belajar melihat, minum, berbicara dan lain sebagainya.
  4. Terhadap urusan-urusan dunia, bayi tiada pernah merasa. Oleh orang tuanya, si bayi dibelikan baju, susu, mainan atau yang lain tapi ia tidak pernah merasai itu miliknya. Ketika kehilangan si bayi pun tiada pernah menangisinya.
  5. Bayi mempunyai sifat menerima. Makan dan minum si bayi cukup dengan susu, tidak pernah ia menangis minta selainnya. Dari segi pakaian, bayi selalu menerima apa yang dikenakannya, tidak pernah memilih apalagi memprotesnya.
  6. Dari segi keistimewaannya, bayi merupakan sosok yang paling diperhatikan oleh orang tua. Ketika seorang anak yang masih bayi menangis, orang tua akan sibuk untuk merawat atau menghiburnya. Bayangkan ketika anak tersebut berumur sepuluh tahun atau telah dewasa, orang tua cenderung akan membiarkannya.
  7. Bayi juga selalu dipenuhi semua kebutuhannya. Salah satu contoh real yang ada pada masyarakat asal saya yaitu: setiap ada kelahiran, oarang berbondong-bondong datang untuk menengok. Mereka tak lupa pula membawa bawaan untuk keperluan si bayi, entah itu sabun, minyak telon, detergen atau yang lain. Belum lagi pemenuhan kebutuhan yang dilakukan oleh orang tuanya.

Kritera-kriteria yang saya sebutkan di atas, saya batasi pada kriteria-kriteria yang berkaitan dengan usaha pencarian jati diri. Jika dicermati lagi, selain yang tersebut itu juga akan didapatkan kriteria lain yang merupakan kekurangan si bayi. Akan tetapi, kekurangan itu tidak lain adalah menunjukkan kepolosannya sebagai bayi. Hal ini saya tafsiri sebagai: betapa pun kesempurnaan hidup seseorang masih akan ditemukan kekurangan padanya. Dengan kata lain, kesempurnaan hidup sebagai manusia justru ditunjukkan dengan kekurangan yang dimilikinya.

Sekarang kembali kepada pertanyaan kenapa seseorang harus mengenal atau bersatu dengan bayinya. Pertama, hal ini akan saya hubungkan dengan hakekat kehidupan yang dalam falsafah jawa disebut sebagai “sangkan paraning dumadi” (asal dan tujuan hidup). Istilah tesebut mengandung pengertian bahwa manusia itu berasal dari Tuhan dan kemudian akan kembali kepada-Nya. Dengan kata lain, asal dan tujuan hidup manusia adalah bersatu dengan Tuhannya. Pada saat itulah manusia dikatakan telah menemukan jati dirinya atau telah mencapai kesempurnaan hidupnya. Kemudian akan timbul pertanyaan, kapankah manusia dikatakan paling dekat dengan Tuhannya? Jawabnya tentu ketika masih bayi, ketika seseorang masih dalam keadaan fitrah (suci). Itulah alasan kenapa manusia harus mengenal dan bersatu dengan bayinya sendiri.

Alasan kedua didasarkan pada kriteria-kriteria yang dimiliki si bayi. Jika diamati tingkah laku dan sifat bayi yang telah saya sebutkan, beberapa diantaranya tidak lain merupakan hakekat manusia: fitrah, dlo'if (lemah), jahil (bodoh), dan faqir (membutuhkan pertolongan orang lain). Dengan demikian, mengenali dan merasai sifat dan tingkah laku bayi merupakan jalan untuk mengenali diri sendiri. Setelah dapat mengenali hakekat dirinya sebagai manusialah, baru kemudian seseorang dapat mengenali Tuhannya. Kemudian sebagai akibat dari jalan yang ditempuhnya itu, ketika seseorang telah bersatu dengan bayinya maka ia dapat memperoleh keistimewaan seperti yang dimiliki bayinya itu. Wallahu a’lam.


Pondok Aren
04 Oktober 2011
11:05